Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Cahaya matahari pagi yang terang memaksa Dewi membuka matanya yang masih lengket.
Dia meraba sisi tempat tidur di sebelahnya yang terasa kosong dan dingin.
Guling pembatas mereka sudah jatuh mengenaskan di atas karpet.
"Syukurlah bos es batu itu sudah bangun duluan, kalau tidak canggungnya bisa sampai tahun depan," gumam Dewi sambil menguap.
Di atas bantal Raka, terdapat selembar kertas memo berwarna kuning neon.
"Aku berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Jangan lupa hadapi teman-teman ibuku nanti sore. Raka."
Dewi membaca tulisan tangan yang sangat rapi dan tegak bersambung itu dengan senyum tipis.
"Dasar pria kaku, menulis memo untuk istrinya saja gayanya seperti memberi perintah pada bawahan," cibir Dewi pelan.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu yang tidak sabaran terdengar dari luar.
"Dewi! Cepat bangun dan turun ke bawah! Teman-temanku akan datang jam tiga sore nanti!" teriak Widyawati dari lorong.
Dewi buru-buru melompat dari kasur yang super empuk itu.
"Iya Mama Mertua! Sepuluh menit lagi saya turun ke dapur!" balas Dewi dengan suara kencang.
Siang harinya, dapur utama Mansion Mahardika mendadak sibuk seperti dapur restoran yang sedang kebanjiran pesanan.
Tapi anehnya, hanya Dewi sendirian yang bergerak kesana kemari meracik adonan dan merebus air.
Para pelayan hanya berdiri di pinggir ruangan karena Dewi melarang mereka membantu sedikit pun.
"Nona Dewi, biarkan kami yang mengaduk adonan kuenya, tangan Anda nanti bisa pegal," tawar Dina dengan wajah cemas.
Dewi yang wajahnya sedikit terkena tepung menoleh dan tersenyum lebar.
"Tidak usah Dina, kue untuk tamu super VIP ini harus dibuat dengan sentuhan penuh kasih sayang dari tangan sendiri."
Ding!
Suara sistem berbunyi nyaring menyela kegiatan memasak Dewi.
[Misi Harian: Taklukkan Lidah Para Sosialita Kolot!]
[Kondisi: Tiga teman Nyonya Widyawati datang dengan niat meremehkan menantu baru keluarga Mahardika.]
[Misi: Sajikan hidangan penutup kelas atas dan gunakan Item Teh Penenang Mertua!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +25 dan Skill Senyum Penakluk Gosip (Permanen)!]
Dewi menyeringai puas membaca misi yang sangat menguntungkan ini.
"Sistem, keluarkan Item Teh Penenang Mertua sekarang juga ke dalam teko porselen ini," perintah Dewi dalam hati.
Cring.
Sebuah kilatan cahaya kecil yang tidak terlihat oleh para pelayan muncul di dalam teko teh mewah itu.
Daun teh kering berwarna keunguan dengan aroma yang luar biasa wangi tiba-tiba sudah berada di dalam sana.
Tepat pukul tiga sore, bel pintu utama mansion berbunyi.
Tiga orang wanita paruh baya dengan gaya rambut sasak tinggi dan perhiasan berkilauan melangkah masuk ke ruang tamu.
"Jeng Widya! Ya ampun, sudah lama kita tidak minum teh bersama sejak kau pulang dari Eropa," sapa wanita berbaju sutra hijau bernama Nyonya Rina.
Widyawati menyambut teman-temannya dengan cipika-cipiki gaya sosialita yang khas.
"Iya Jeng, aku terlalu sibuk mengurus rumah ini sejak Raka tiba-tiba menikah tanpa sepengetahuanku," keluh Widyawati sengaja memancing obrolan.
Nyonya Susan yang membawa tas edisi terbatas langsung menutup mulutnya dengan gaya pura-pura kaget.
"Astaga Jeng Widya, gosip di luar itu benar ya? Raka menikahi mantan pengasuh Elvan?" tanya Susan dengan nada merendahkan.
Widyawati mendesah pelan dan duduk di sofa tunggal andalannya.
"Begitulah. Namanya juga anak muda, gampang tertipu oleh wajah lugu wanita dari kalangan bawah."
Nyonya Merry yang memakai kalung berlian sebesar biji kelereng ikut menimpali.
"Kau harus hati-hati Jeng. Wanita seperti itu biasanya tidak mengerti tata krama dan hanya mengincar harta keluarga Mahardika."
"Makanya hari ini aku mengundang kalian. Aku ingin kalian melihat sendiri seberapa kampungannya menantu baruku itu," ucap Widyawati dengan senyum licik.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang sangat teratur dan anggun terdengar mendekati ruang tamu.
Semua mata sosialita itu langsung tertuju pada lorong yang menghubungkan ruang tamu dan ruang makan.
Dewi muncul membawa nampan perak besar berisi teko teh dan rak kue tiga susun.
Penampilan Dewi sore ini sangat sederhana namun memancarkan keanggunan yang luar biasa.
Dia memakai gaun selutut berwarna biru dongker dengan rambut yang dicepol rapi ke belakang.
Bukan penampilan murahan seperti yang dibayangkan oleh teman-teman Widyawati.
"Selamat sore, Tante-tante semua. Mohon maaf membuat Anda menunggu lama," sapa Dewi dengan suara lembut dan berkelas.
Nyonya Rina, Susan, dan Merry saling berpandangan dengan dahi berkerut.
Mereka mengira akan melihat wanita berpenampilan norak yang kebingungan membawa nampan.
Dewi meletakkan nampan perak itu di atas meja kaca dengan gerakan yang nyaris tanpa suara.
Trak.
"Ini adalah kue macaron rasa lavender dan scone mentega asli dari resep rahasia keluarga," jelas Dewi sambil menyajikan piring-piring kecil.
"Dan untuk minumannya, saya menyeduhkan Teh Bunga Penenang Jiwa khusus untuk Tante-tante yang cantik hari ini."
Dewi menuangkan teh dari teko porselen ke dalam empat cangkir mungil.
Wush.
Asap tipis mengepul dari cangkir, membawa aroma wangi bunga yang sangat eksotis dan manis.
Hanya dengan mencium aromanya saja, otot-otot tegang di leher para wanita paruh baya itu mendadak terasa rileks.
Nyonya Susan yang biasanya paling cerewet langsung terdiam dan menatap cangkirnya dengan takjub.
"Wangi teh ini... unik sekali. Aku bahkan belum pernah mencium aroma ini di kedai teh mana pun di London," gumam Susan pelan.
Widyawati sedikit tersentak mendengar pujian dari temannya yang terkenal paling pemilih itu.
"Tentu saja Jeng Susan, menantuku ini memang sedikit pintar kalau urusan menyeduh teh," balas Widyawati dengan gengsi yang mulai terusik.
"Silakan dicicipi selagi hangat, Tante," persilakan Dewi dengan senyum sangat sopan.
Ketiga sosialita itu mengangkat cangkir mereka secara bersamaan dan menyesap teh tersebut.
Glek.
Mata Nyonya Rina langsung membulat sempurna, bahkan tas Hermes yang ada di pangkuannya nyaris terjatuh.
"Ya ampun! Jeng Widya, teh apa ini? Rasanya luar biasa enak dan langsung membuat hatiku tenang!" jerit Rina heboh.
Nyonya Merry mengangguk setuju dengan mata berbinar-binar.
"Benar! Rasa pahit dan manisnya sangat seimbang. Aku merasa seperti sedang melakukan spa mahal hanya dengan meminumnya."
Widyawati yang awalnya berniat ikut mencibir terpaksa menelan ludahnya sendiri.
Dia juga menyesap teh itu dan seketika merasakan kehangatan ajaib yang memijat seluruh beban pikirannya.
Ini pasti sihir, batin Widyawati tidak percaya bahwa gadis jalanan ini bisa membuat teh sekelas kaisar.
"Coba kuenya Tante, sangat pas dimakan bersama teh ini," tawar Dewi yang sedari tadi hanya berdiri anggun di samping meja.
Susan langsung mengambil satu gigitan kue macaron berwarna ungu muda itu.
Kress.
Tekstur luar yang renyah dan isian krim yang meleleh di mulut membuat Susan memejamkan mata keenakan.
"Astaga, macaron ini jauh lebih enak dari buatan koki bintang Michelin langgananku di Paris!" puji Susan tanpa malu-malu lagi.
"Jeng Widya, kau benar-benar beruntung memiliki menantu yang sangat berbakat seperti Dewi," ucap Merry memandang Widyawati dengan tatapan iri.
"Iya, tidak seperti menantuku yang hanya tahu cara menghabiskan uang suaminya di pusat perbelanjaan," keluh Rina ikut memuji.
Widyawati terdiam mematung mendengar puji-pujian yang bertubi-tubi itu.
Niat awalnya untuk mempermalukan Dewi malah berbalik menjadi ajang pamer menantu secara tidak langsung.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭