Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Langkah kaki mereka menggema pelan di sepanjang koridor lantai tiga apartemen studio Ester. Begitu pintu kayu tua itu terbuka dan tertutup rapat di belakang mereka, suasana langsung berubah menjadi begitu intim, dipenuhi aroma vanila manis yang berpadu dengan wangi maskulin Dominic.
Sebelum Dominic sempat melepaskan jasnya atau menyalakan lampu dinding, Ester bergerak dengan kecepatan kilat.
Gadis 22 tahun itu melangkah maju, merengkuh leher Dominic, dan langsung menempelkan bibirnya dengan penuh tuntutan.
Ciuman panas itu meledak seketika—sebuah inisiatif liar yang belum pernah ditunjukkan Ester sebelumnya. Bibir mereka saling beradu, melumat dengan penuh gairah di tengah temaram cahaya kota New York yang menembus kaca jendela.
Dominic terkesiap.
Napasnya langsung memburu.
Namun, di tengah pusaran hasrat yang hampir meruntuhkan akal sehatnya, pria 32 tahun itu menggunakan sisa-sisa kewarasannya untuk mendorong pelan bahu Ester, melepaskan ciuman tersebut.
"Kumohon... Ester, aku tidak datang untuk itu," bisik Dominic parau, napasnya naik turun dengan dada yang bergemuruh.
Ester menatapnya dengan mata sayu yang diselimuti kabut keputusasaan yang sengaja ia buat-buat.
Jemari lentiknya dengan cepat melucuti kancing kemejanya sendiri, lalu menjatuhkan pakaiannya hingga tak bersisa. Ia berdiri di hadapan Dominic tanpa sehelai benang pun—menampilkan lekuk tubuh mulusnya yang telanjang bulat di bawah pendar lampu malam.
"Bukankah pagi tadi kau memberiku uang itu untuk ini?" suara Ester bergetar, lirih dan menyayat hati. "Mari kulayani, Tuan. Uang pemberianmu tidak akan cuma-cuma..."
Melihat kepasrahan terselubung di balik kalimat sinis itu, dada Dominic seperti dihantam palu berat.
Tanpa ragu sedikit pun, pria itu menyambar selimut tebal dari atas sofa terdekat, lalu membebatkannya rapat-rapat ke tubuh Ester yang polos, mendekap gadis itu erat-erat ke dalam pelukan hangat dadanya.
"Aku sama sekali tidak ingin tidur denganmu, kumohon percaya padaku, Ester..." bisik Dominic lembut, membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
"Florence masih ada di mansion utama, membuatku hampir gila dengan drama dan darahnya. Aku hanya ingin ditemani olehmu malam ini. Tanpa tuntutan. Tanpa paksaan. Kumohon, percayalah padaku."
Ester terdiam kaku di dalam dekapan erat itu. Manik matanya menatap kosong ke dinding kamar.
Hatinya sempat bergetar mendengar ketulusan yang terpancar dari suara Dominic. Namun, sedetik kemudian, ia mengangguk kecil, membiarkan dirinya ditenangkan.
Lalu, dengan sengaja memancing emosi pria di hadapannya demi menjalankan babak berikutnya dari rencananya, Ester berbisik pelan, "Iya... saya sadar. Tubuh saya memang tidak semenarik itu dibandingkan wanita-wanita kalangan atas Anda..."
Deg!
Kata-kata itu bekerja seperti racun yang memicu ledakan instan di kepala Dominic. Pria itu tidak terima—tidak terima direndahkan oleh wanita yang kini telah merangsek masuk ke dalam relung jiwanya.
Tanpa aba-aba, Dominic mengangkat tubuh Ester, membawanya ke atas tempat tidur, dan langsung menyerangnya dengan ciuman yang menuntut serta penuh ampunan yang membara.
Penyatuan panas itu terjadi begitu cepat, liar, dan penuh keputusasaan.
"Jangan pernah... sekali pun mengatakan hal bodoh seperti itu lagi, Ester!" racau Dominic di sela-sela napasnya yang memburu, menghujani leher dan bibir gadis itu dengan ciuman posesif.
"Aku tidak pernah suka jika kau merendahkan dirimu sendiri! Dengar aku!"
Di tengah hantaman ritme yang makin mendalam dan membakar akal sehat, Ester menggigit bibir bawahnya, menahan desahan hebat, lalu dengan sengaja melontarkan kalimat provokatif tepat di telinga Dominic.
"Katakan padaku, Tuan..." desis Ester terengah-engah di bawah kungkungannya. "Lebih indah mana? aku... atau Florence?"
Dominic menghentikan gerakannya sedetik, menatap tajam manik mata cokelat gadis itu dengan napas tersengal.
"Jangan gila! Aku tidak pernah membandingkan kalian! Aku hanya pernah menidurimu!"
Deg.
Ester terpaku seketika.
Hah?! batin Ester menjerit tertahan di tengah gempuran tubuh Dominic yang begitu kuat. Ia berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya yang hampir melayang.
Percakapan dan kalimat pancingan yang sengaja ia lontarkan sejak tadi sebenarnya memiliki satu tujuan mutlak: membuat Dominic kehilangan fokus, terbakar emosi, dan melupakan pengaman.
Dan ya... target utamanya malam ini adalah ia harus hamil anak pria ini. Ester tidak punya cara lain untuk mengikat mutlak seorang pewaris Ashford selain membawa darah daging pria itu di dalam rahimnya.
"Aku akan menghukummu karena omong kosongmu ini, Ester..." geram Dominic dengan suara serak yang penuh gairah, kembali menghantam pertahanan gadis itu tanpa ampun. "Kau selalu saja mencoba memancing amarahku..."
BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!
Tepat di puncak pergulatan panas dan liar itu, ponsel milik Ester yang tergeletak di atas nakas berdering hebat, memecah kesunyian ruangan dengan suara getaran yang nyaring.
Dominic mendengus kesal, hendak meraih ponsel itu untuk mematikannya, namun Ester dengan sigap menahan tangan pria itu.
"Angkatlah!" bisik Ester dengan mata menyala penuh kemenangan.
BINGO! batin Ester berteriak girang.
Waktu yang ia tunggu akhirnya tiba.
Ponsel itu memajang nama satu-satunya pria yang paling ingin ia hancurkan: Tristan Enver—kekasihnya .
Dengan tangan yang sedikit bergetar namun penuh perhitungan dingin, Ester meraih ponsel tersebut di tengah penyatuan panas yang masih terus berlangsung tanpa henti. Ia menekan tombol hijau dan langsung mengarahkannya ke dekat telinga.
"Halo..."
Ucap Ester dengan suara bergetar, sengaja membiarkan erangan dan desahan napas beratnya terdengar jelas di mikrofon.
Di seberang sana, suara Tristan langsung membahana dengan nada kemarahan yang luar biasa tinggi.
"Ester! Sialan! Uang dari mana itu, hah?! Katakan padaku, uang dari mana yang kau gunakan untuk melunasi tagihan rumah sakit ayahmu selama setahun ke depan?! Jangan bilang... kau melacur?!"
Ester sama sekali tidak berusaha menutupinya. Ia justru melengkungkan punggungnya ke atas, menyambut hantaman Dominic sambil membiarkan desahan kenikmatannya meledak tanpa saringan.
"Ya... Ahh... Kau benar..." rintih Ester sengaja mendesah keras ke arah telepon, memastikan suara gesekan dan desahan basah itu terekam sempurna di telinga Tristan.
"Aku memang sedang... melayani seorang pria..."
Di seberang sana, Tristan meraung murka bagai kesurupan.
"Kau berbohong! Kau pikir aku akan percaya, sialan?! Katakan padaku siapa pria bajingan yang berani menyentuh milikku, hah?!"
Dominic, yang berada di atas tubuh Ester, menghentikan gerakannya sejenak.
Pria itu mengernyitkan keningnya dalam-dalam, menatap Ester dengan tatapan penuh kebingungan dan selidik.
Siapa yang sedang diteleponnya? batin Dominic.
Ester tidak langsung menjawab pertanyaan Tristan. Ia menatap lurus ke dalam mata abu-abu Dominic, menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan, lalu berkata dengan suara lantang ke arah ponselnya, "Dia... adalah kekasihku."
Deg.
Dominic terdiam membeku.
Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat mendengar pengakuan gila dari gadis di bawah kungkungannya.
Pria 32 tahun itu mendadak tersadar dari kabut gairah. Ia baru mengingat kembali posisinya—ia sendiri masih terikat secara status dengan Florence, dan gadis di bawahnya ini... ya, mungkin saja memang memiliki seorang kekasih di luar sana.
Kenapa ia baru menyadari betapa berbahayanya situasi ini?
Namun, insting kepemilikan seorang Ashford tiba-tiba mendominasi kewarasannya.
Alih-alih marah atau merasa jijik, Dominic justru mendengus kecil di dalam hati, tersenyum sinis mengingat fakta bahwa dialah orang pertama yang merenggut dan menyentuh gadis ini sepenuhnya.
Kekasih mana pun di luar sana tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa tubuh Ester telah menjadi miliknya.
Sebelum Dominic sempat merespons lebih jauh, Tristan di seberang sana meraung histeris.
"Sambungkan ke panggilan video! Aku ingin melihat wajah bajingan yang sudah berani menyentuh milikku!"
Tanpa ragu sedikit pun, Ester langsung menekan ikon video call.di layar ponselnya. Kamera belakang ia arahkan tepat ke wajah dan tubuh bagian atas Dominic yang sedang berada di atasnya.
Dominic tidak menolak.
Pria itu justru melayani permainan gila yang disetir oleh Ester.
Di dalam kepalanya, Dominic mengagumi keberanian luar biasa dari gadis muda di bawahnya ini—keberanian untuk menghadapi kekasihnya dengan cara yang paling brutal dan menantang.
Dominic menduga, mungkin saja kekasih Ester selama ini telah menghianati nya, dan momen ini digunakan Ester sebagai ajang pembalasan dendam yang sempurna.
Hanya butuh waktu tiga hingga lima detik bagi layar ponsel untuk menampilkan wajah Tristan Enver di seberang sana—pria berwajah merah padam dengan mata melotot penuh amarah di sebuah kamar.
Ester dengan cepat memutar balik kamera ponsel itu ke arah wajahnya sendiri, menampilkan ekspresi pasrah bercampur nikmat yang tak beraturan.
Tristan di layar ponsel berteriak histeris, melotot menatap layar.
"Bitch! Kau benar-benar wanita jalang! Aku akan membunuhmu dan pria bajingan itu begitu aku menginjakkan kaki di New York!"
Melihat ancaman itu, Dominic tidak tinggal diam.
Dengan gerakan cepat, pria itu merebut ponsel dari tangan Ester. Ia menghentikan sebentar aktivitas fisik mereka, mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, dan menatap lurus pada wajah Tristan Enver dengan senyuman dingin yang mengerikan.
"Datanglah kemari," ucap Dominic dengan suara bariton yang berat, tajam, dan penuh ancaman mutlak. "Aku sangat menunggumu... karena aku ingin menguliti bibirmu yang berani mengumpati milikku."
Deg.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏