Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Langkah Baru di Kota Baru
Beberapa minggu setelah buku keduaku terbit, aku dapat satu kabar yang bikin hatiku campur aduk banget. Ada sebuah majalah kecil yang bergerak di bidang cerita kehidupan, mereka menawari aku posisi penulis tamu selama enam bulan di kota lain. Katanya mereka suka cara aku menulis, suka bagaimana aku menyampaikan hal-hal sederhana jadi terasa berarti. Ini kesempatan yang nggak mungkin aku dapatkan dua kali, tapi sekaligus ini juga berarti aku harus pergi dari tempat yang selama ini jadi rumahku. Tempat di mana setiap sudutnya ada kenangan tentang dia. Setiap jalan yang pernah kita lewati, setiap kedai tempat kita pernah duduk, setiap taman tempat kita pertama kali bertemu — semuanya bakal tertinggal jauh di belakangku.
Aku duduk di meja belajar sampai larut malam, surat tawaran itu terbuka di depanku, diterangi cahaya lampu meja yang agak redup. Di sampingnya ada kalung yang Bima berikan, buku sketsanya, dan foto dia yang diam-diam aku simpan di sela halaman bukuku. Aku tatap foto itu lama banget, seolah dia bisa menjawab keraguanku cuma lewat tatapan senyumnya yang tenang itu. Haruskah aku pergi? Atau tetap di sini karena takut kalau aku pergi terlalu jauh, aku bakal perlahan lupa bagaimana rasanya duduk di sebelahnya? Takut kalau tempat baru ini terlalu asing dan aku nggak akan ada lagi yang mengingatkan aku padanya setiap kali aku menoleh ke kiri atau ke kanan. Rasanya kayak mau meninggalkan separuh dari diriku di kota ini.
Besok paginya aku mampir ke rumah ibunya Bima. Jalan ke sana terasa lebih lama dari biasanya, kakiku terasa berat melangkah, seolah ada yang menahan aku untuk benar-benar memutuskan pergi. Dia sedang menyiram tanaman di halaman depan, dan pas lihat aku berjalan dengan langkah yang pelan dan wajah yang kusut masai itu, dia langsung tahu ada yang sedang aku pikirkan berat. Dia taruh selang airnya, menyeka tangan di celemek, lalu menyapaku dengan senyum yang selalu menenangkan hatiku. Kita duduk di teras seperti biasa, teh hangat dengan uap yang masih mengepul ditaruh di meja di antara kita. Aku cerita semuanya, dari awal sampai akhir, soal tawaran itu, soal ketakutanku kalau pergi berarti aku sedang berusaha lupa, soal perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul setiap kali aku membayangkan diriku hidup di tempat baru tanpa bayang-bayang kenangan tentang dia di sekitarku.
Dia mendengarkan dengan tenang, tidak memotong, tidak terburu-buru memberi jawaban. Tangannya mengelilingi cangkir tehnya pelan-pelan, lalu dia menatapku lembut dan berkata, "Bima selalu ingin kamu hidup sepenuhnya nak. Kalau dia tahu ada pintu yang terbuka untuk kamu melangkah lebih jauh, dia yang akan mendorong kamu untuk masuk ke sana. Kenangan nggak akan hilang cuma karena kamu pindah tempat tinggal. Justru kenangan itu yang akan jadi rumah buat kamu di mana pun kamu berada. Rumah itu bukan di tanah atau di dinding bangunan. Rumah itu di hatimu sendiri. Dan di sanalah dia tinggal kan?"
Kata-katanya menenangkan banget, seperti minuman hangat yang mengalir pelan ke seluruh tubuh dan melegakan dada yang sesak. Sore itu aku juga ketemu Rian di kedai biasa kita. Dia sudah menungguku di meja pojok, dua gelas minuman sudah ada di meja. Dia nggak langsung tanya apa-apa, cuma menunggu aku mulai cerita sendiri. Saat aku selesai bicara, dia diam sebentar, lalu tersenyum pelan sambil menatap keluar jendela. "Kamu tahu kan, Bima itu paling nggak suka kalau orang yang dia sayang terus-terusan nunggu di satu tempat cuma karena dia nggak bisa ikut jalan. Dia pasti mau kamu lihat dunia yang dia belum sempat lihat. Bukan untuk ganti atau lupa, tapi untuk bawa cerita-cerita baru pulang, supaya dia juga ikut tahu seperti apa dunia di luar sini lewat matamu. Itu cara terbaik kamu menghormati kepergiannya — dengan hidup sebaik mungkin."
Malam itu aku mulai berkemas. Nggak banyak barang yang aku bawa, sebenarnya. Sebagian besar isinya buku-buku, catatan, dan barang-barang peninggalan Bima. Aku lipat bajuku pelan, taruh di koper satu per satu, lalu dengan hati-hati aku masukkan kotak kayu, buku sketsa, surat-suratnya, dan semua catatan kecil ke dalam tas kain buatan ibunya Bima, di bagian paling dalam dan paling aman, supaya nggak terguncang di jalan. Kalung itu tetap di leherku, aku sentuh sekali lagi sebelum tidur, merasakan bentuk bunga kecil di ujungnya yang menempel tepat di atas jantungku. Rasanya kayak dia sedang menggenggam tanganku pelan dari sana, bilang jangan takut, aku di sini kok, ke mana pun kamu pergi, aku nggak ke mana-mana.
Hari keberangkatan cuacanya cerah banget. Matahari terbit lebih awal dari biasanya, menyebarkan cahayanya yang keemasan ke seluruh jalan yang aku lewati menuju stasiun. Udara pagi terasa segar dan dingin, menusuk sedikit ke kulit tapi menyegarkan. Ibu Bima dan Rian mengantarku ke stasiun. Rasanya aneh banget, selama ini aku yang selalu mengantar atau diantar orang, sekarang giliran aku yang pergi. Pelukan ibunya terasa hangat banget, seperti pelukan ibuku sendiri, seperti rumah yang sedang memelukku sebelum aku melangkah keluar ke dunia yang lebih luas. "Hati-hati ya nak. Kabari kami sesampainya di sana. Dan ingat, pintu rumahku selalu terbuka untukmu kapan pun kamu pulang. Jangan merasa kamu harus menghadapi semuanya sendirian," katanya pelan di telingaku, suaranya sedikit bergetar tapi dia tetap berusaha kuat. Rian menepuk bahuku pelan, matanya berbinar tapi dia tersenyum lebar. "Tulis cerita yang bagus ya. Kami tunggu kabar darimu. Jangan lupa istirahat juga, jangan terlalu capek."
Aku melambaikan tangan sampai tubuh mereka perlahan menghilang di balik kerumunan orang, lalu aku naik ke gerbong kereta, mencari tempat dudukku di dekat jendela. Saat kereta mulai bergerak perlahan, roda di bawah berbunyi berirama yang menenangkan, pemandangan di luar kaca mulai berubah perlahan. Bangunan-bangunan berubah jadi pepohonan rindang, jalan raya berubah jadi hamparan sawah yang hijau ke mana pun mata memandang, dan kota tempat aku bertemu dan kehilangan Bima perlahan menjauh di belakangku, makin lama makin kecil sampai akhirnya hilang di balik bukit. Aku tarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menyentuh liontin di dadaku.
"Kita pergi ya Bima. Ke tempat baru, ketemu orang baru, lihat hal-hal yang belum pernah kita lihat bareng. Jangan kaget kalau suasananya beda dari yang biasa kita tahu. Tenang aja, aku tetap aku. Dan kamu tetap di sini, di hatiku, di setiap langkah yang kuambil. Ayo kita lihat dunia yang lebih luas bareng-bareng. Semoga kamu senang aku bawa kamu ikut ke mana pun aku pergi."
Perjalanan lumayan lama, hampir empat jam. Aku habiskan waktu dengan melihat ke luar jendela, memperhatikan bagaimana langit tetap sama birunya walau tanah di bawah kakinya terus berubah. Aku lihat langitnya, awannya, cara matahari menyinari dedaunan di kejauhan — semuanya terasa akrab. Di mana pun aku berada, langit yang sama membentang di atas kepalaku dan di atas tempat dia sekarang. Itu pikiran yang menenangkan banget. Aku buka buku catatanku dan mulai menulis di halaman yang baru, pulpenku bergerak di atas kertas yang putih bersih:
"Pergi itu bukan berarti meninggalkan. Itu cuma membuktikan bahwa cinta yang kita bawa cukup kuat untuk menyeberangi jarak dan waktu. Ke mana pun aku pergi, aku nggak pernah sendirian. Karena aku bawa kenangan, doa, dan cinta orang-orang yang aku sayangi. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat mana pun jadi rumah bagiku."
Kereta sampai di tujuan tepat saat. Matahari yang terbenam di sini adalah matahari yang sama yang pernah kita lihat bersama dari puncak bukit itu. Dan itu cukup buat aku merasa bahwa aku berada di tempat yang benar, bahwa aku sedang melangkah ke arah yang benar.
Aku cari penginapan yang sudah aku pesan sebelumnya, nggak susah menemukannya. Kamarnya nggak besar, sederhana banget, ada kasur empuk, meja kecil di dekat jendela, dan rak dinding yang kosong menunggu untuk aku isi dengan buku-bukuku. Jendelanya menghadap ke jalan kecil yang nggak terlalu bising, di luar sana ada pohon rindang yang daunnya bergoyang pelan tertiup angin sore. Aku taruh barang-barangku, rapikan buku-bukuku di rak, letakkan tas kain peninggalan itu di tempat yang paling terlihat dan paling aman, lalu duduk sebentar di tepi kasur sambil menghela napas panjang. Oke Aurora, kamu sampai. Kamu benar-benar sampai di sini sendirian, tapi nggak merasa kesepian. Sekarang waktunya memulai bab yang baru. Nggak perlu terburu-buru, nggak perlu jadi sempurna. Yang penting tulus. Persis seperti yang Bima selalu ajarkan padaku.
Malam pertama di tempat baru ternyata nggak sepi seperti yang aku takutkan. Setelah beres-beres dan mandi air hangat, aku duduk di tepi jendela sambil menikmati segelas susu hangat. Dari bawah terdengar suara orang lewat, tawa orang yang pulang kerja, bunyi sepeda yang lewat pelan. Semua orang di kota ini punya cerita mereka sendiri. Ada yang sedang berjuang, ada yang sedang bahagia, ada yang sedang menunggu seseorang, ada yang baru saja kehilangan. Dan aku di sini, salah satu dari jutaan orang yang sedang berusaha menjalani hari dengan sebaik-baiknya. Rasanya aku kecil banget di tengah kota yang besar ini, tapi sekaligus merasa berarti karena aku bagian dari kehidupan yang luas ini.
Aku tulis di akhir halaman harianku malam itu:
"Langkah pertama di tempat baru selesai. Kakiku sedikit lelah, tapi hatiku terasa ringan. Nggak tahu apa yang menunggu di depan sana. Mungkin ada hari yang berat, mungkin ada momen ragu. Tapi aku siap. Karena aku nggak jalan sendirian. Aku bawa banyak doa dan kasih sayang yang melindungiku dari kejauhan. Selamat malam Bima. Kita lihat matahari terbit di tempat baru besok pagi ya. Tidur yang nyenyenyak di sana. Aku jaga diriku baik-baik di sini."