NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9.Kedatangan Sang Penguasa

Pintu ganda ruang VVIP mendadak terbuka tanpa ketukan, memutus aliran hangat yang sedang tercipta di antara tangan Tera dan Sean.

Tera reflek menarik tangannya mundur dengan wajah sedikit merona merah karena terkejut atas kedatangan orang asing.

Dari balik pintu, melangkah masuk dua sosok yang memiliki aura keagungan yang jauh lebih masif daripada Profesor Baskoro.

Pria paruh baya yang berjalan di depan memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Sean, namun dengan rambut yang sudah memutih di pelipis dan sorot mata yang sedalam samudra, EVan Eagle Nugraha, salah satu anggota keluarga besar Nugraha generasi saat ini.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya yang tampak luar biasa cantik dan anggun dalam balutan gaun satin biru tua berjalan dengan langkah tergesa-gesa namun tetap elegan Dryana Mozart, sang mommy dari Sean.

"Sean! Demi Tuhan, anakku!" Dryana langsung berlari mendekati brankar, memeluk putranya dengan wajah penuh kecemasan seorang ibu.

"Mommy mendengar mobilmu diserang klan hitam dan meledak di jembatan! Bagaimana kondisimu? Di mana yang terluka? Dokter! Mana dokternya?!" Sang Mommy heboh sendiri.

"Aku baik-baik saja, Mom," jawab Sean lembut, membalas pelukan ibunya dengan menepuk-nepuk bahunya perlahan.

"Luka di kepalaku sudah ditangani dan tidak ada cedera serius lainnya."

Evan Eagle Nugraha berdiri di kaki brankar. Sorot matanya yang tajam langsung menyapu seluruh ruangan, sebelum akhirnya pandangan matanya tertuju sepenuhnya pada sosok gadis muda yang berdiri di samping tempat tidur.

Evan menatap pakaian Lentera yang kotor, sepatu flatnya yang lecet, dan tas lamaran kerja yang didekap erat di dadanya.

Namun, yang paling menarik perhatian Evan adalah bagaimana sisa-sisa energi hangat di ruangan itu berpusat pada tubuh gadis tersebut.

"Siapa nona muda ini, Sean?" tanya Evan dengan suara berat yang berwibawa, memecah keheningan ruangan.

Dryana melepaskan pelukannya, ikut menoleh dan menatap Tera dengan pandangan bertanya-tanya.

"Dia Lentera. Dokter yang menarik ku dari dalam mobil tepat sebelum meledak," jawab Sean dengan nada datar namun penuh penekanan pada setiap suku katanya.

"Dia juga orang yang menghentikan kejang ku di UGD rumah sakit pusat kota setahun lalu."

Mendengar penjelasan Sean, perubahan ekspresi yang luar biasa terjadi pada wajah Evan dan Dryana, Kedua orang tua itu saling berpandangan selama beberapa detik. Di dalam hati mereka, badai keterkejutan dan kebahagiaan yang luar biasa meledak seketika.

Selama bertahun-tahun, mereka telah mencari berbagai cara, mendatangkan ahli medis terbaik dari seluruh dunia, bahkan menemui para tetua supranatural kuno untuk menyembuhkan cacat kekuatan Sean, namun semuanya gagal.

Dan sekarang, anak mereka mengatakan bahwa gangguan itu bisa diredam oleh seorang gadis muda bernama Lentera.

"Lentera" Dryana bergumam dalam hatinya. Sebuah senyuman manis dan tulus perlahan terukir di bibir sang mommy.

Apakah ini jawaban dari doa-doa malamku? Sebuah lentera yang dikirimkan Tuhan untuk menerangi kehidupan anakku yang dingin dan penuh kegelapan?

Evan, melembutkan sorot matanya, lalu memberikan senyum pada Lentera.

Dia melangkah mendekati Lentera, membuat gadis itu reflek mundur setengah langkah karena merasa sedikit terintimidasi oleh wibawa sang penguasa Nugraha itu.

"Nona Lentera," ucap Evan dengan nada suara yang sangat ramah, sesuatu yang jika didengar oleh para direksi perusahaan Nugraha akan membuat mereka menganga tidak percaya.

"Atas nama seluruh keluarga besar Nugraha, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas keberanian dan ketulusan Anda menyelamatkan putra kami. Hutang nyawa ini, tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup kami."

Lentera yang merasa canggung dengan situasi formal dan mewah ini hanya bisa menundukkan kepalanya sedikit, mencoba bersikap se sopan mungkin sebagai seorang anak petani yang tahu tata krama.

"Anda tidak perlu berlebihan, Tuan, saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang dokter. Jiwa medis saya tidak akan membiarkan siapa pun mati di depan mata saya jika saya masih memiliki kemampuan untuk menolong."

Mendengar jawaban Lentera yang begitu jujur, cerdas, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memanfaatkan situasi demi keuntungan materi atau mendekati keluarga kaya, senyuman di wajah Dryana semakin melebar.

Sang mommy melangkah maju, langsung menggenggam kedua tangan Tera dengan kelembutan seorang ibu.

"Wanita yang manis, hatimu begitu baik dan hangat," ucap Dryana dengan mata berkaca-kaca karena haru.

"Dan panggil saya Mommy Dryana, jangan panggil Tuan atau Nyonya. Kamu sudah menyelamatkan separuh nyawa saya hari ini."

Lentera merasakan ketulusan yang murni dari genggaman tangan Dryana, sangat berbeda dengan cara pandang merendahkan yang dia terima dari keluarga pemilik Rumah Sakit Medika Utama kemarin.

Namun, kelelahan fisik setelah berlari di jembatan, memapah Sean, dan berdebat di dalam mobil, ditambah dengan perutnya yang kosong karena efek metabolisme tubuhnya yang terkuras setelah menyalurkan energi hangat misterius tadi, mendadak membuat kepala Tera terasa sangat pening.

Pandangan matanya sedikit mengabur, dan tubuhnya limbung ke depan.

"Eh, Nona Tera?!" Dryana panik saat merasakan tubuh Tera mendadak melemas dalam genggamannya.

Sebelum tubuh Tera sempat menyentuh lantai dingin marmer, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal dari atas brankar.

Sean, dengan kekuatan supranaturalnya yang baru saja pulih sempurna, telah melompat turun dan menangkap tubuh ramping Tera di waktu yang tepat.

Pria itu mendekap tubuh Tera yang pingsan ke dalam pelukan dadanya yang kokoh, wajahnya yang biasanya tenang mendadak memancarkan kepanikan yang nyata.

"Profesor Baskoro! Masuk!" teriak Sean dengan suara menggelegar ke arah luar pintu.

"Siapkan kamar perawatan VVIP terbaik di sebelah kamar saya sekarang juga! Rawat dia sampai sembuh total!"

***

Keheningan malam melingkupi selasar VVIP Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa. Lentera masih tertidur pasca-kelelahan hebat yang menderanya.

Sementara itu, beberapa meter di sebelahnya, di dalam ruang paviliun utama tempat Sean dirawat, ketegangan baru justru sedang tercipta antara orang tua dan anak.

Evan Eagle Nugraha berdiri membelakangi jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, sementara Dryana Mozart duduk di sofa kulit dengan tatapan mata yang tidak lepas dari putra sulungnya.

Sean sendiri duduk di tepi tempat tidur sudah mengenakan kemeja kasual baru, tampak segar bugar seolah kecelakaan maut beberapa jam lalu hanyalah dongeng pengantar tidur.

"Namanya Lentera, Sean. Kamu dengar sendiri tadi, bukan?"

Dryana membuka suara, memecah kesunyian dengan nada yang bergetar menahan luapan emosi.

"Lentera kehidupan. Bukankah itu sebuah pertanda yang sangat nyata dari Tuhan?"

Sean menghela napas panjang, merapikan lengan kemejanya yang sedikit terlipat.

"Mom, itu hanya sebuah nama. Di Indonesia ada ribuan wanita yang memiliki nama atau panggilan serupa. Jangan menghubungkan takdir medis dengan takdir mistis."

"Jangan naif, Sean!" potong Evan dengan suara beratnya yang berwibawa, membuat suasana ruangan mendadak terasa lebih berat.

"Kita sudah mencari ke seluruh penjuru dunia. Tetua supranatural di Tibet, master energi di Pegunungan kutub, hingga profesor saraf terbaik di Jerman. Semuanya angkat tangan menghadapi cacat energi di tubuhmu. Tapi gadis ini, gadis yang sangat sederhana dan mampu meredam gejolak energimu dalam hitungan detik hanya dengan sebuah genggaman tangan. Dua kali, Sean! Di UGD setahun lalu, dan di jembatan tadi siang. Ini bukan kebetulan!"

"Benar, Sayang," sambung Dryana, bangkit dari sofa lalu mendekati Sean.

Yuk komen ya, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!