Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Kediaman Maxnore.
Adam Lorenzo Maxnore sudah bersiap untuk membawa Giana Bianca Conti ke kediaman keluarga Conti. Setelah memastikan bahwa kondisi Gia cukup stabil untuk melakukan perjalanan, ia meminta pelayan menyiapkan mobil dan menghubungi dokter untuk memastikan tidak ada larangan bagi perempuan itu meninggalkan rumah sakit.
Namun, sebelum keberangkatannya, Adam memilih menunggu seseorang di ruang tamu kediamannya.
Diah duduk di sofa berwarna gelap dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Wajahnya terlihat dingin seperti biasa. Di atas meja, seorang pelayan baru saja meletakkan secangkir kopi hitam kesukaannya.
“Silakan, Tuan,” ucap pelayan itu sopan.
Adam hanya mengangguk tipis. Ia baru saja mengangkat cangkirnya ketika suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Marco muncul dengan sebuah map hitam di tangan. Wajah anak buah kepercayaannya itu tampak lebih serius daripada biasanya.
Adam meliriknya sekilas sebelum menyesap kopi.
“Ada apa? Kau terlihat seperti baru saja menemukan sesuatu yang menarik.”
Marco berhenti beberapa langkah di hadapan tuannya.
“Benar, Tuan. Saya menemukan sesuatu mengenai Amerda dan hubungannya dengan Tuan Sadam.”
Gerakan tangan Adam terhenti sesaat, “Bicaralah.”
Marco meletakkan map hitam itu di atas meja, tepat di hadapan Adam.
“Setelah Tuan memerintahkan saya menyelidiki latar belakang Amerda, saya mulai memeriksa catatan keluarga, dokumen lama, serta beberapa arsip yang berkaitan dengan masa lalunya. Awalnya, saya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Identitasnya sebagai anak angkat keluarga Conti tercatat dengan cukup rapi dan di adopsi di panti asuhan."
“Terus apa yang menarik?”
“Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan catatan yang kami temukan.”
Adam meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan. Marco membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Amerda, memang tercatat sebagai anak angkat keluarga Conti. Akan tetapi, setelah saya menelusuri identitas ibu kandungnya, saya menemukan bahwa perempuan tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuan Sadam pada masa lalu.”
Tatapan Adam berubah tajam, “Seberapa dekat?”
Marco tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan selembar dokumen yang memuat identitas seorang perempuan, kemudian menggesernya ke arah Adam.
“Ini identitas ibu kandung Amerda.”
Adam menunduk, membaca nama yang tercetak di sana. Wajahnya masih tenang, tetapi matanya menyipit ketika melihat beberapa keterangan mengenai perempuan tersebut.
"Dari mana kau mendapatkan dokumen ini?”
“Dari arsip lama yang berkaitan dengan keluarga ibu kandung Amerda. Sebagian dokumennya sudah tidak mudah ditemukan, tetapi saya berhasil mencocokkan beberapa informasi. Saya juga menemukan sebuah foto lama saat di mana Tuan Sadam datang pada persalinan ibunya Amerda,"
Marco mengeluarkan foto berwarna pudar dari dalam map. Foto itu memperlihatkan seorang pria yang jauh lebih muda berdiri di samping seorang perempuan. Keduanya tampak akrab. Tangan pria itu bahkan bertengger di pinggang perempuan tersebut, sementara perempuan itu tersenyum ke arah kamera.
Adam mengambil foto itu. Hanya perlu beberapa detik baginya untuk mengenali pria di dalamnya, Sadam Conti.
Adam memperhatikan wajah perempuan yang berdiri di samping Sadam. Ia lalu membandingkan foto tersebut dengan identitas yang baru saja diberikan Marco. Nama yang tercantum di dokumen itu sama dengan nama ibu kandung Amerda.
Kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyuman ramah, melainkan ekspresi dingin seseorang yang baru saja menemukan potongan teka-teki yang selama ini tersembunyi.
“Jadi, ini alasannya,” gumamnya.
Marco menunggu dengan sikap tegak. Adam meletakkan foto itu di atas meja, lalu bersandar di sofa. Selama ini Sadam selalu mengatakan bahwa Amerda hanyalah anak angkat yang diterimanya karena belas kasihan. Ketika aku mengirim orang untuk mencarinya, dia bahkan berani menyalahkan Gia demi melindungi perempuan itu.”
Tatapan Adam kembali tertuju pada foto tersebut.
“Sekarang aku mengerti mengapa dia begitu bersikeras membela Amerda.”
“Menurut dugaan saya, hubungan antara Tuan Sadam dan ibu kandung Amerda mungkin menjadi alasan di balik perlindungannya selama ini,” jawab Marco berhati-hati.
Adam mengangkat tangannya, menghentikan penjelasan Marco.
“Aku tidak meminta dugaanmu. Aku meminta kebenaran.”
“Baik, Tuan.”
Adam mengambil cangkir kopinya, tetapi tidak jadi meminumnya. Perhatiannya kembali tertuju pada foto lama tersebut. Ia kini memiliki alasan untuk memahami mengapa Sadam begitu bernafsu menyelamatkan Amerda, bahkan dengan mengorbankan putri kandungnya sendiri. Namun, satu hal masih mengganggunya.
"Marco, sepertinya Amerda adalah anak kandung Sadam. Aku butuh hasil DNA untuk ini, apa kau bisa mendapatkannya?" tanya Adam, Marco mengangguk.
"Bisa, secepat mungkin aku akan membawanya kepada Anda, Tuan."
Adam mengangguk, ketika ingin mengatakan sesuatu ponselnya berdering, dia segera mengangkatnya.
"Katakan,"
[Tuan, Nona Gia sudah siap. Dan Dokter telah memastikan kondisinya telah membaik,]
"Baik, kami segera ke sana."
Panggilan terputus, lalu Adam meminta Marco untuk ikut bersamanya untuk menjemput Gia di rumah sakit, setelah itu mereka akan berangkat ke kediaman Conti.
salam kenal yaa pak....,, jangan galak2 sama gia🤭