Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 [18+]
Perlahan eca membuka matanya satu persatu, sontak ia terkaget kedapatan wajah theo tepat di depannya dengan sangat dekat hingga hembusan nafasnya theo terasa. Dengan gugup ia mengulang perkataanya lagi perlahan.
"Gu-gue, su-suka sama lo"
"Lo, su-suka sama gue nggak?"
Suara terbata-batanya yang menggetarkan udara sunyi membuat debar di rongga dadaku kian tak keruan. Alih-alih mundur memberi ruang bernapas, jemariku justru terangkat santai menyentuh pipinya yang memanas, merasakan degup nadi di pelipisnya yang berpacu liar mengimbangi kegilaan situasi ini. Arogansi yang biasa kubanggakan terasa begitu rapuh di hadapan kejujuran tanpa tedeng aling-aling dari perempuan ceroboh ini.
Kutahan senyum yang nyaris merekah sempurna, menggantinya dengan tatapan lurus yang menuntut kepatuhan. Ujung jariku perlahan turun membelai lembut garis rahangnya yang kaku karena tegang.
"Masih nanya lagi setelah semua yang gue lakuin seharian ini?"
suaraku mengalun berat, teramat pelan di sela helaan napas kami yang berbaur hangat.
"Kalau gue nggak naruh rasa, mana sudi gue minjamin jaket, nungguin lo tidur berjam-jam, apalagi nyium lo terang-terangan di aula depan semua orang."
Aku mencondongkan wajah sedikit lebih dalam, membiarkan ujung hidung kami nyaris bersentuhan tanpa ada lagi keraguan tersisa.
"Lo udah kepalang masuk ke hidup gue, Suster. Jangan harap gue bakal lepasin lo setelah omongan barusan."
Ruang belajar tua ini mendadak kehilangan seluruh suaranya, menyisakan deru napas kami yang berbaur di antara pendar sore temaram.
Keheningannya yang membeku tak ubahnya pengakuan tak terucap, terpantul jelas dari binar matanya yang menatapku tanpa daya alih. Dentum di balik dadanya begitu liar, seakan hendak menerobos dinding pemisah di antara kami.
Rasa bangga yang membakar perlahan meluruh, menyisakan kehangatan asing yang mendesak dadaku sendiri. Tanganku yang semula bertumpu di tepi meja bergerak mantap, menyusup ke balik jaketku yang tersampir di tubuhnya, lalu merengkuh pinggang ramping itu mendekat hingga tak ada celah tersisa. Ibu jariku mengusap sudut bibirnya yang ranum dengan sentuhan lambat dan posesif.
"Napas lo berat banget,"
bisikku serak, seringai tipis terbit di bibirku melihatnya tak mampu lagi berkutik. Jarak di antara kami tinggal sehelai benang saat tatapanku turun mengunci bibirnya.
"Jangan cuma diam kayak patung gini kalau nggak mau gue bikin makin sesak napas."
Eca yang tak bisa menahannya lagi dengan perlahan melingkarkan tangannya memeluk leher theo dan ia memberanikan diri sambil menutup mata perlahan mencium theo tanpa ragu.
Sentuhan mendadak di tengkukku meluluhlantakkan sisa kendali diri yang sejak tadi kupertahankan. Keberaniannya menyatukan bibir kami tanpa ragu menyulut api yang seketika membakar habis seluruh akal sehatku. Alih-alih terkejut, eratan lenganku di pinggangnya kian mengunci, menariknya hingga dada kami bertubrukan tanpa sekat di tengah keheningan ruang belajar berdebu ini.
Kubiarkan jemariku menyusup ke sela-sela rambut panjangnya, menahan kepalanya agar tak bisa menjauh barang sejenak. Pagutan lembut yang awalnya ragu kubalas dengan lumatan dalam yang menuntut kepatuhan mutlak, menyesap setiap helaan napas hangatnya yang bergetar pasrah.
Seluruh rasa gengsi dan pertahanan yang kubangun bertahun-tahun runtuh tak bersisa hanya demi menikmati manisnya kepemilikan ini.
Ketika ciuman itu perlahan terurai demi memberi jeda bagi udara yang menipis, dahi kami masih saling menempel. Napasku memburu, menyapu bibirnya yang basah dan memerah akibat ulahku sendiri.
"Lo yang mulai duluan,"
bisikku serak, seringai angkuh kembali merekah di wajahku seraya mengusap tengkuknya posesif.
"Sekarang tanggung jawab, jangan harap gue bakal lepasin lo pulang sore ini."
Dengan napas yang masih terengah dan tangan eca yang masih di tengkuk theo semakin membuatnya masih belum ingin menyudahi ini, dengan lembut ia menyusupkan jemarinya di sela rambut belakang theo.
"Gue tau!"
"Sekarang mari kita lanjutkan ciuman ini!"
Gerakan jemarinya yang menyisir rambut belakangku bekerja layaknya pemicu yang meledakkan sisa kesabaran. Tantangan terangnya menyapu bersih keraguan, memicu darah mudaku mendidih dalam gelombang gairah yang tak terbendung. Tanpa memberi jeda sedetik pun, kedua tanganku mencengkeram pinggulnya dengan mantap, mengangkatnya sedikit agar duduk di tepi meja kayu tua yang berderit pelan.
"Nantang gue, hm?"
desisku rendah tepat sebelum meraup bibirnya kembali dengan intensitas dua kali lipat lebih membakar.
Kali ini, aku tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Pagutanku menuntut penyerahan total, menghisap manis bibirnya seiring lenganku yang mengunci punggungnya rapat ke dadaku.
Aroma debu ruangan dan wangi manis dari tengkuknya memabukkan indraku, menenggelamkan suara decit perabot tua di bawah kendali cengkeraman kami yang kian tak terkendali. Napasku yang panas membakar kulit wajahnya, mengaburkan batasan antara arogansi dan kebutuhan mendesak untuk memilikinya seutuhnya.
"Jangan nyesel kalau gue nggak berhenti sampai malam,"
gumamku serak di sela cumbuan, menggigit pelan bibir bawahnya sebagai penanda mutlak kekuasaanku atas dirinya.
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊