Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL MULA PEMBALASAN
"Wah, wah... lihat sampah ini! Beraninya kamu menatapku dengan mata melotot seperti itu, hah?!" cibir Edelyn dengan suara tinggi, melangkah maju.
"Pasti karena tidak ada yang memberimu makan berhari-hari, otakmu jadi ikut membusuk, ya?!" maki Edelyn, tersenyum miring.
Kalyca tetap diam, perlahan dia menurunkan kakinya, berdiri tegak meski tubuh Kalyca masih sedikit limbung.
Di dalam kepalanya, jiwa sang alkemis agung sedang menertawakan kebodohan gadis di hadapannya.
Melihat Kalyca yang hanya diam, Edelyn semakin tersulut emosi.
"Kenapa diam saja, hah?! Bisu?!" bentak Edelyn penuh kebencian, melangkah lebih dekat dan mencengkeram kerah baju Kalyca dengan kasar.
"Dasar anak sialan! Mati saja kau!" marah Edelyn, hendak menusuk Kalyca.
Hap
Gerakan Edelyn kalah cepat dengan gerakan Kalyca, sebelum pisau Edelyn menyentuh nya, Kalyca lebih dulu menangkap tangan Edelyn dan meremasnya keras.
Edelyn terperanjat, matanya membelalak lebar tak percaya, dia menarik tangan nya sekuat tenaga, tapi genggaman Kalyca sang kuat.
"A-apa... apa yang kau lakukan?!" jerit Edelyn panik, mencoba meronta.
"Lepaskan! Lepaskan tangan ku, sialan!" teriak Edelyn, dengan wajah memerah padam.
Kalyca perlahan menarik garis bibir nya, menyunggingkan senyuman miring yang begitu dingin, membuat punggung Edelyn mendadak merinding.
Sorot mata gadis itu sama sekali bukan milik Kalyca yang dulu selalu menangis dan ketakutan, mata itu adalah tatapan predator yang sedang mengamati mangsa bodohnya.
"Lepaskan?" suara Kalyca terdengar rendah, tenang, namun mematikan.
"Kamu pikir setelah bertahun-tahun menyiksa ku, kamu pikir aku akan terus diam saja," desis Kalyca dengan sorot mata dingin nya.
"Tidak bodoh!" lanjut Kalyca, tajam.
"K-kau... matamu..." ucap Edelyn menelan ludah nya kasar, tubuhnya bergidik ngeri melihat kilat aneh di mata Kalyca.
"Kamu bukan Kalyca! Siapa kanu sebenarnya?!" teriak Edelyn, menutupi rasa takut nya.
"Oh, sekarang kamu baru sadar aku bukan gadis bodoh yang bisa kau injak-injak?" ucap Kalyca tertawa kecil, suara tawanya terdengar hampa dan mengerikan di dalam ruangan sempit itu.
BHUK
Tanpa aba-aba, Kalyca menghentakkan tangannya, melepaskan cengkraman tangan nya.
Edelyn yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh ke lantai.
"Aaaaakkkkkhhh!"
Edelyn memekik kaget, mencengkeram ujung gaun mewahnya, mendongakkan kepalanya dengan wajah merah padam karena marah dan malu.
"Beraninya kau melawan, hah?! Kau hanya anak buangan! Sampah! Kalau Ayah dan Ratu tahu kau berani menyentuhku, mereka akan menghanguskan tempat ini beserta tulang-tulang mu!" bentak Edelyn, dengan nafas memburu.
Mendengar nama Raja dan Ratu disebut, senyuman di wajah Kalyca seketika memudar, digantikan oleh kilat api kemurahan.
"Jangan sebut nama mereka dengan mulut kotor mu itu," desis Kalyca tajam.
"Kenapa? Takut?" ejek Edelyn berusaha bangkit, mencoba kembali menegakkan tubuh nya meski kakinya sedikit gemetar.
"Kamu pikir Raja dan Ratu peduli padamu? Selama belasan tahun, mereka bahkan tidak pernah tahu kamu bernapas di gubuk busuk ini! Di mata mereka, aku adalah satu-satunya putri kesayangan, darah daging mereka yang paling berharga!" ucap Edelyn mencibir sinis, mencoba menutupi rasa takutnya dengan kesombongan
"Darah daging?" ulang Kalyca pelan, lalu tertawa renyah.
Suara tawa Kalyca terdengar sangat memilukan sekaligus mengerikan.
"Betapa malangnya orang tua itu, mencintai seekor ular berbisa yang menyamar menjadi anak kandung, sementara anak kandung mereka yang asli ada di sini, disiksa di kandang kotor ini," ucap Kalyca, dingin.
Deg
"K-kau... omong kosong apa yang kau bicarakan?!" bentak Edelyn histeris, suaranya melengking tinggi untuk menutupi kepanikannya.
"Kau mau memfitnahku, hah?! Tidak ada yang akan percaya pada perkataan gadis kotor sepertimu!" teriak Edelyn lagi.
"Benarkah?" ucap Kalyca melangkah semakin mendekat, menatap tajam mata Edelyn.
"Bagaimana jika suatu hari nanti, di hadapan seluruh bangsawan istana, aku membongkar rahasia dari mana asalmu? Bagaimana reaksi Raja yang bijaksana itu saat tahu bahwa kalung, gaun, dan singgasana yang kau injak sekarang adalah hasil dari pencurian yang busuk?" ucap Kalyca, menatap Edelyn dari atas sampai bawah, dengan tatapan mengejek.
"TUTUP MULUTMU!"
Jerit Edelyn panik, benci, dan takut bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Dengan kalap, Edelyn kembali mengangkat tangan nya, berniat menampar wajah Kalyca.
Namun, sebelum tangan Edelyn sempat mendarat, Kalyca bergerak lebih cepat.
Plak
"Aaakkkkhhh!"
BRAKK
Edelyn terpekik kencang, tubuhnya terpental dan jatuh terduduk di atas lantai tanah yang basah, pipi mulusnya seketika membiru, meninggalkan bekas jejak jari yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
Tenaga yang dikerahkan Kalyca bukanlah tenaga gadis lemah, itu adalah sisa kekuatan spiritual jiwa alkemis agung yang membuat kepala Edelyn tersentak ke samping.
Edelyn memegang pipinya yang terasa panas dan berdenyut sakit, dia menatap Kalyca dengan mata melotot lebar penuh ketidakpercayaan.
"K-kau... beraninya... beraninya kau menampar wajahku?!" jerit Edelyn histeris.
"Aku akan membunuhmu! Akan ku perintahkan pengawal istana untuk mencincang mu!" bentak Edelyn, penuh kebencian.
Kalyca tidak takut sama sekali dengan ancaman gadis ular di depan nya itu, dia berdiri tegak menatap Edelyn yang terduduk di tanah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek
"Silakan panggil pengawalmu, teriak lah sepuas mu," ucap Kalyca dengan nada tenang yang merendahkan.
"Tapi ingat satu hal ini, Edelyn..." ucap Aleta.
Kalyca membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Edelyn yang sedang gemetar ketakutan.
"...permainan baru saja dimulai, dan akulah yang akan memegang kendali atas hidup dan mati kalian semua," lanjut Kalyca, tersenyum miring.
Deg
Jantung Edelyn berdegup semakin kencang, entah kenapa dia merasa takut dengan ancaman Kalyca.
Selama belasan tahun hidup di istana, tidak pernah ada satu pun orang yang berani menyentuhnya, apalagi menampar wajahnya, dan yang lebih mengerikan, orang yang melakukannya adalah gadis yang selama ini ia anggap sebagai sampah rendahan.
"K-kau....Kau benar-benar sudah bosan hidup, ya! Beraninya kau... beraninya kau mengangkat tanganmu padaku," ucap Edelyn menunjuk wajah Kalyca dengan jari yang gemetar hebat, matanya melotot tajam penuh kebencian.
Kalyca berdiri tegak dengan tenang, melipat kedua tangannya di depan dada, menatap rendah ke arah Edelyn.
"Kenapa? Suaramu tiba-tiba mengecil, Yang Mulia Putri?" sindir Kalyca, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin.
"Mana teriakan arogan yang tadi kamu banggakan? Mana ancaman untuk mencincang ku? " tanya Kalyca, sinis.
Edelyn menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah, dia mencoba bangkit dengan sempoyongan, merapikan gaun nya yang kotor terkena lumpur, meski tubuhnya masih terasa lemas karena cukup syok dengan perubahan Kalyca, hari ini yang berani melawan nya.
"Jangan besar kepala!" teriak Edelyn histeris, suaranya melengking memecah kesunyian hutan.
makaci crazy up nya 😍👍