Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12. Punya Kesempatan
Dea berdiri di depan ruangan Profesor Adam dengan beberapa lembar dokumen di tangannya.
Sejak mendapatkan informasi dari petugas keamanan, ia berusaha mencari jalan agar bisa memeriksa rekaman CCTV pada hari Linjaryani masuk IGD. Sayangnya, ia tidak izin untuk mengakses rekaman tersebut begitu saja. Ia membutuhkan izin resmi dari pihak rumah sakit.
Dan orang yang paling mungkin membantunya mengurus permohonan itu adalah Profesor Adam.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk.”
Dea membuka pintu, lalu melangkah masuk.
Profesor Adam yang sedang membaca berkas di mejanya mengangkat wajah. Begitu melihat Dea, ia meletakkan dokumen yang dipegangnya.
“Dea? Ada apa? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu.”
Dea mengangguk kecil.
“Maaf mengganggu, Prof. Saya ingin meminta bantuan.”
“Bantuan apa?”
Dea menarik napas sebelum menjelaskan maksud kedatangannya.
“Saya ingin memeriksa rekaman CCTV rumah sakit pada hari pasien Linjaryani masuk IGD rumah sakit ini. Saya sudah bertanya kepada petugas keamanan, tetapi mereka mengatakan saya harus mendapatkan izin dari pihak yang berwenang.”
Profesor Adam terdiam sejenak.
“Rekaman itu berkaitan dengan kasus kematian pasien Linjaryani?”
“Benar, Prof. Saya ingin mengusut kebenaran.”
Dea menundukkan pandangan sesaat sebelum kembali menatapnya.
“Saya masih tidak mengerti mengapa semua kesalahan ditimpakan kepada saya. Ada beberapa hal yang ingin saya pastikan. Saya tidak ingin terus menuduh siapa pun tanpa bukti, tetapi saya juga tidak bisa diam jika ada sesuatu yang belum terungkap.”
Profesor Adam memperhatikan wajah mahasiswinya itu.
Ia tahu Dea telah melewati banyak hal. Tuduhan yang diterimanya bukan perkara ringan, terlebih setelah kehidupan pribadinya ikut menjadi bahan pembicaraan orang-orang.
Namun, Dea masih berusaha berdiri tegak.
“Baiklah,” ujar Profesor Adam akhirnya. “Saya akan mencoba membantu mengajukan permohonan kepada direktur rumah sakit. Tetapi kamu harus ingat, semua pemeriksaan rekaman tetap mengikuti prosedur yang berlaku.”
Dea mengangguk cepat.
“Tentu, Prof. Saya hanya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kalau begitu, siapkan semua informasi yang kamu ingat tentang hari itu. Waktu kejadian, perkiraan jam Linjaryani masuk IGD, dan bagian rekaman yang ingin diperiksa. Itu akan membantu proses pencarian.”
“Baik, Prof. Terima kasih banyak.”
Profesor Adam tersenyum tipis.
“Jangan berterima kasih dulu. Kita belum tahu apakah rekamannya masih tersedia.”
Dea mengangguk. Meski belum mendapatkan hasil apa pun, setidaknya kini ia memiliki jalan untuk memulai penyelidikan.
Namun, tanpa mereka sadari, seseorang berdiri tidak jauh dari pintu ruangan tersebut.
Stella.
Awalnya, ia hanya berniat mencari salah seorang dosen. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Dea keluar dari ruangan Profesor Adam dengan raut wajah yang tampak lega.
Profesor Adam bahkan ikut mengantarnya sampai ke depan pintu.
Mereka berbicara sebentar. Dea mengangguk beberapa kali, sementara profesor itu menepuk ringan berkas yang dibawa Dea seolah sedang memberikan arahan.
Bagi orang lain, pemandangan itu mungkin biasa saja.
Namun, bagi Stella, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa panas.
'Lagi-lagi Dea. Kenapa sih, selalu saja anak petani itu?'
Mahasiswi yang selalu mendapat pujian dari para dosen itu kembali menjadi pusat perhatian. Bahkan Profesor Adam pun terlihat selalu saja membantunya.
Padahal, Stella merasa dirinya tidak kalah hebat dibanding Dea. Padahal, dia juga bekerja keras, tetapi mengapa orang-orang selalu lebih memperhatikan Dea?
Belum lagi Adityo. Pria yang disukainya itu justru lebih memilih Dea.
Rasa iri yang selama ini dipendamnya kembali membara.
Stella segera mengeluarkan ponsel. Ia mengarahkan kamera ke arah Dea dan Profesor Adam, lalu merekam kedekatan mereka dari kejauhan.
Senyum tipis terbit di bibirnya. “Menarik sekali,” gumamnya.
Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Ia juga tidak tahu bahwa Dea dan Profesor Adam tengah berusaha menyelidiki kejadian yang berkaitan dengan kematian Linjaryani.
Yang Stella lihat hanyalah kesempatan untuk kembali menjatuhkan Dea.
“Lihat saja nanti,” bisiknya.
Setelah menyimpan rekaman itu, ia berbalik pergi.
.
.
Beberapa hari kemudian, permohonan pemeriksaan CCTV akhirnya mendapatkan persetujuan dari direktur RSUD Kota Dingin.
Berkat bantuan Profesor Adam yang memiliki hubungan profesional dengan direktur rumah sakit tersebut, Dea memperoleh kesempatan untuk memeriksa rekaman yang masih tersimpan. Namun, akses itu tetap dibatasi sesuai prosedur dan hanya untuk kepentingan pemeriksaan yang telah disetujui.
Pagi itu, Dea datang dengan perasaan campur aduk. Ada harapan, tetapi juga diiringi rasa takut.
'Bagaimana kalau aku tak menemukan apa-apa?'
'Terus ternyata semuanya keliru?'
Ia mencoba menepis pikiran tersebut. Setidaknya, ia harus berusaha.
Di ruang pemantauan CCTV, seorang petugas mengoperasikan komputer, membuka daftar rekaman berdasarkan tanggal dan waktu yang telah diberikan Dea.
“Ini tanggal yang Mbak maksud?” tanyanya.
Dea mengangguk. “Iya. Pada tanggal ini pasien bernama Linjaryani dibawa ke IGD.”
Petugas itu mulai memeriksa daftar rekaman.
Namun, beberapa saat kemudian, dahinya berkerut. “Wah, Mbak... Gawat, Mbak.”
Kening Dea mengerut. “Masalah apa, Pak?” Jantungnya berdegup dengan cepat. Takut, apa yang ia khawatirkan menjadi nyata.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella