“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kembali ke Keluarga Qin
Ketika Qin Xuan meninggalkan Pagoda Pemakaman Langit, cahaya matahari pagi sudah menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Tanpa terasa, malam telah berlalu selama ia mempelajari warisan alkimia Maha Guru Taixu.
Hari ini merupakan hari pelaksanaan Upacara Besar Keluarga Qin.
Qin Xuan merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju kamar ibunya. Namun, begitu memasuki ruangan, ia langsung menyadari perubahan pada Liu Qingyue.
Wajah wanita itu tampak jauh lebih segar. Kulitnya yang sebelumnya pucat kini kembali sehat, sementara kerutan halus di wajahnya mulai memudar. Bahkan rambutnya terlihat lebih hitam daripada sebelumnya.
Yang lebih mengejutkan, Qin Xuan merasakan aliran energi dari tubuh ibunya.
“Ibu sudah mulai berkultivasi?”
Liu Qingyue menoleh ketika mendengar suara putranya. Senyum hangat segera muncul di wajahnya.
“Xuan'er, kau sudah bangun?”
Qin Xuan mendekat sambil memperhatikan perubahan tersebut. Ia segera memahami bahwa Pil Pembersih Sumsum yang diberikannya kemarin telah menunjukkan khasiat luar biasa.
Meskipun Liu Qingyue tidak memiliki dasar kultivasi yang kuat sebelumnya, tubuhnya kini telah mencapai Alam Penguatan Tubuh.
Kekuatan fisiknya bahkan setara dengan sekitar dua ribu kilogram.
Bagi seorang wanita yang selama ini menjalani kehidupan biasa, peningkatan tersebut sungguh menakjubkan.
“Bagaimana keadaan Ibu sekarang?” tanya Qin Xuan.
“Jauh lebih baik.” Liu Qingyue tersenyum sambil menggenggam tangan putranya.
“Tubuh Ibu terasa lebih ringan. Bahkan rasa lelah yang biasanya muncul setiap pagi sudah hilang.”
Qin Xuan mengangguk puas. Melihat ibunya kembali sehat membuat beban di hatinya sedikit berkurang.
Ia kemudian menoleh ke arah tempat tidur Qin Ling'er.
Adiknya masih terlelap, tetapi wajahnya tidak lagi pucat. Napasnya teratur, sementara aliran energi kehidupan dalam tubuhnya telah kembali stabil.
Pil Pemulih Jiwa ternyata bekerja dengan sangat baik.
Qin Xuan mendekati tempat tidur dan memeriksa keadaan adiknya dengan saksama. Setelah memastikan tidak ada masalah, ia kembali tersenyum.
“Ling'er sudah jauh lebih baik, Bu. Sepertinya tidak lama lagi dia akan bangun.”
Mata Liu Qingyue langsung berkaca-kaca. Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusap pipi Qin Ling'er dengan penuh kasih sayang.
“Syukurlah, Ling'er akhirnya bisa sembuh,” ucapnya lirih. “Ibu sampai takut jika melihatnya tidak bisa membuka mata lagi.”
Qin Xuan memahami perasaan ibunya. Selama ini, Liu Qingyue hampir tidak pernah Tidur dengan tenang karena terus memikirkan keadaan Ling'er. Melihat ibunya kembali memiliki harapan membuat hatinya ikut lega.
Namun, kegembiraan itu perlahan memudar ketika Liu Qingyue mengingat sesuatu.
“Xuan'er, hari ini Upacara Besar Keluarga Qin akan dilaksanakan.”
Qin Xuan mengangguk. “Aku tahu, Bu.”
Liu Qingyue menatapnya dengan khawatir. Ia mengetahui bahwa hubungan putranya dengan keluarga utama sudah tidak mungkin kembali seperti dahulu.
Terlebih lagi, Qin Xingqiong telah kembali.
“Ibu tidak ingin kau pergi ke sana. Kita sudah mendapatkan obat untuk Ling'er. Apa tidak lebih baik membiarkan urusan mereka?”
Qin Xuan memahami kecemasan ibunya.
Ia duduk di samping Liu Qingyue dan berbicara dengan tenang.
“Aku harus datang, Bu. Ada urusan yang belum selesai.”
“Tapi mereka tidak akan membiarkanmu begitu saja.”
“Aku tahu.”
Qin Xuan menggenggam tangan ibunya sebentar.
“Justru karena itulah aku harus menyelesaikannya. Kalau terus menghindar, mereka akan menganggap kita bisa diperlakukan sesuka hati.”
Liu Qingyue terdiam. Ia mengenal sifat putranya dan tahu bahwa Qin Xuan tidak akan mengubah keputusan setelah mempertimbangkannya dengan matang.
Akhirnya, ia hanya menghela napas.
“Kalau begitu, berhati-hatilah. Ibu tidak ingin kehilanganmu.”
Qin Xuan tersenyum.
“Aku akan pulang, Bu.”
Setelah berpamitan, ia meninggalkan kediaman mereka dan berjalan menuju pusat wilayah Keluarga Qin.
Sejak pagi, kediaman utama Keluarga Qin sudah dipenuhi kesibukan.
Upacara Besar Klan merupakan acara tahunan yang sangat penting. Selain untuk menghormati para leluhur, acara tersebut juga menjadi kesempatan menentukan kedudukan anggota keluarga serta pembagian sumber daya kultivasi.
Karena itu, hampir seluruh anggota keluarga hadir.
Bahkan para pemimpin keluarga besar lainnya turut menerima undangan.
Bangunan yang sebelumnya rusak akibat keributan Qin Xuan sekitar setengah bulan lalu telah diperbaiki. Halaman luas di depan aula leluhur kembali terlihat megah, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sebuah panggung kayu besar didirikan di tengah halaman. Di tiga sisinya tersedia deretan tempat duduk untuk para tamu dan anggota keluarga.
Qin Shan duduk di posisi utama bersama Qin Xingqiong dan Tetua Agung Qin Cangming.
Kedatangan Qin Xingqiong menjadi perhatian banyak orang.
Pemuda itu duduk dengan sikap angkuh, seakan seluruh acara hari ini memang diselenggarakan untuk menyambutnya.
Namun, tidak semua tamu memandangnya dengan kagum.
Pemimpin Keluarga Sun dan Pemimpin Keluarga Xia saling bertukar pandang setelah merasakan perubahan kekuatan para petinggi Keluarga Qin.
Mereka menyadari bahwa aura Qin Shan kini jauh lebih kuat daripada sebelumnya, bahkan melampaui Qin Cangming.
Sementara itu, kekuatan yang terpancar dari Qin Xingqiong membuat keduanya semakin waspada.
Pemuda tersebut tampaknya sudah mendekati Alam Bintang Langit.
Namun, ada sesuatu yang lebih mengganggu mereka.
Di balik kekuatan Qin Xingqiong, tersimpan aura haus darah yang samar tetapi mengerikan.
Kedua pemimpin keluarga itu telah cukup lama berkultivasi untuk memahami arti aura tersebut. Biasanya, aura semacam itu hanya muncul pada seseorang yang telah membunuh banyak orang.
Mereka mulai merasa bahwa peningkatan kekuatan Keluarga Qin tidak sesederhana yang terlihat.
Meski demikian, tidak seorang pun berani membicarakan kecurigaan tersebut secara terbuka.
Ketika para tamu mulai menempati kursi masing-masing, seorang pemuda berjubah hitam memasuki halaman.
Langkahnya tenang. Wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun meskipun hampir seluruh anggota Keluarga Qin berada di tempat itu.
Pemuda tersebut adalah Qin Xuan.
Kedatangannya segera menarik perhatian.
“Qin Xuan datang?”
“Untuk apa dia masih berani muncul di sini?”
Beberapa anggota keluarga mulai berbisik.
Tidak sedikit yang langsung menunjukkan wajah menghina.
“Bukankah Dantiannya sudah hancur? Apa yang bisa dilakukan orang cacat seperti dia di upacara ini?”
“Aku dengar dia juga terlibat dalam kematian beberapa tetua.”
“Dia mungkin datang untuk meminta Pil Pemulih Roh bagi adiknya.”
Ucapan terakhir itu membuat beberapa orang tertawa.
Menurut mereka, Qin Xuan sudah tidak memiliki kedudukan apa pun dalam keluarga. Jika ingin memperoleh pil berharga, ia harus memohon kepada Qin Shan atau Qin Xingqiong.
Namun, Qin Xuan sama sekali tidak mempedulikan ejekan tersebut.
Ia terus berjalan melewati halaman dengan wajah tenang.
Beberapa tamu dari keluarga lain justru memandangnya dengan perasaan berbeda.
Mereka masih mengingat Qin Xuan sebagai pemuda berbakat yang pernah menjadi kebanggaan Kota Tianfeng. Meskipun memiliki kemampuan luar biasa, Qin Xuan dahulu tidak pernah bersikap sombong kepada orang lain.
Karena itu, melihatnya diperlakukan seperti sekarang membuat sebagian tamu merasa iba.
Di kursi utama, Qin Xingqiong akhirnya mengalihkan perhatian kepada Qin Xuan.
Senyum mengejek muncul di wajahnya.
“Qin Xuan, kau masih berani datang?”
Qin Xuan berhenti dan menatapnya.
“Kenapa tidak?”
Qin Xingqiong tertawa kecil.
“Jangan lupa, Pil Pemulih Roh yang kau inginkan masih berada di tanganku.”
Qin Xuan tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
Ia bahkan tidak berniat menjelaskan bahwa dirinya sudah mendapatkan Pil Pemulih Jiwa untuk menyembuhkan Ling'er.
“Aku justru senang kau ada di sini,” jawabnya tenang. “Dengan begitu, aku tidak perlu mencarimu.”
Senyum Qin Xingqiong perlahan menghilang.
“Apa maksudmu?”
“Aku datang untuk membunuhmu.”
Suasana di sekitar mereka langsung berubah.
Beberapa anggota keluarga tertegun sebelum akhirnya tertawa mengejek.
Mereka menganggap Qin Xuan sudah kehilangan akal sehat.
Qin Xingqiong sendiri menatapnya dengan mata menyipit.
“Bagus. Aku juga sudah lama menunggumu. Nanti akan kubuat kau menyesali setiap perkataanmu.”
Qin Xuan tidak membalas ancaman itu.
Ia telah merasakan kekuatan Qin Xingqiong. Pemuda tersebut memang jauh lebih kuat daripada sebelumnya, dengan kekuatan fisik setidaknya mencapai tiga puluh banteng.
Namun, dibandingkan kekuatan sembilan puluh sembilan banteng yang dimilikinya, peningkatan itu tidak membuat Qin Xuan gentar.
Ia kemudian berjalan menuju tempat duduk yang telah disediakan.
Sebagai anggota keluarga yang sudah kehilangan kedudukan, Qin Xuan ditempatkan di bagian paling ujung.
Ia tidak mempermasalahkannya dan langsung duduk.
Tidak lama kemudian, Qin Qianqian mendekatinya.
“Qin Xuan, sebenarnya kau tidak perlu membuat keadaan semakin buruk.”
Qin Xuan meliriknya sekilas.
Qin Qianqian melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Kalau kau bersedia menyerahkan seluruh warisan yang kau dapatkan dari Sekte Bintang Langit, aku bisa mencoba membujuk Kakek agar memberikan Pil Pemulih Roh kepadamu.”
Qin Xuan tidak menjawab.
Ia bahkan kembali mengalihkan pandangan ke arah panggung.
Sikap tersebut membuat Qin Qianqian merasa dipermalukan.
“Kau masih saja keras kepala!”
Namun, Qin Xuan tetap tidak menanggapinya.
Qin Qianqian akhirnya pergi dengan wajah kesal.
Seorang pemuda yang semula duduk tidak jauh dari Qin Xuan juga segera berpindah tempat, seolah takut dianggap memiliki hubungan dengannya.
Beberapa anggota keluarga kembali tertawa.
Mereka mulai membicarakan kehebatan Qin Xingqiong, termasuk hubungannya dengan Liu Chengfeng dan Akademi Bela Diri Tianyuan.
Menurut mereka, masa depan Keluarga Qin kini berada di tangan Qin Xingqiong.
Sementara itu, Qin Xuan hanya duduk dengan tenang.
Ia memandangi orang-orang yang dahulu pernah disebutnya sebagai keluarga, tetapi tidak lagi merasakan kedekatan apa pun.
Baginya, hubungan tersebut sudah berakhir sejak mereka memilih mengorbankan dirinya dan Ling'er demi kepentingan keluarga utama.
Hari ini, ia datang bukan untuk meminta pengakuan.
Ia hanya ingin menyelesaikan semuanya.
......................
Bersambung...