Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PREDATOR YANG BERGERAK
Ivan menegakkan tubuhnya perlahan, tulang-tulangnya berbunyi pelan, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Renzo yang tenang namun tak pernah benar-benar damai. Di antara mereka, udara sel yang pengap seakan berhenti mengalir.
"Kau tidak menghakimiku?" tanyanya, suaranya rendah, penuh keraguan yang tak biasa terselip di balik nada bicaranya yang kasar.
Renzo hanya tersenyum tipis, lalu meraih sepotong roti kukus di piringnya. Ia mengunyah dengan santai, seakan tak ada beban berat yang menggantung di pundaknya.
"Untuk apa? Kau sudah menerima hukumanmu, bukan?" jawabnya tenang, menatap balik tanpa kemarahan, tanpa penghakiman.
Ivan terdiam sejenak, menatap wajah itu lekat-lekat, seakan mencari jejak kebohongan di sana. Tak menemukannya, tawa kerasnya pun meledak, memantul dari dinding ke dinding, memecah kesunyian lorong penjara yang mengerikan.
"Hahaha... Kau menarik, Renzo. Aku mulai suka berbicara denganmu."
"Bagus. Karena kita akan tinggal di sini cukup lama, lebih baik punya teman bicara." ucap Renzo pelan, kembali menunduk menatap sisa makanannya.
Belum lama hening menyelimuti, suara langkah kaki berat terdengar mendekat — berirama, tegas, tak bisa dielakkan. Kemudian pintu besi tua itu berderit nyaring, menampakkan sosok sipir yang berdiri tegak di ambang cahaya remang.
"Ivan, kau dipanggil ke ruang interogasi," ucapnya singkat, tanpa nada ramah.
Ivan menyeringai, melompat bangkit dari tempat duduknya dengan gerakan luwes, seakan tubuhnya tak memikul luka sedikit pun. "Sepertinya mereka belum selesai denganku," ucapnya ringan, lalu melangkah keluar tanpa keraguan.
***
Malam pun tiba — malam yang panjang, dingin, dan penuh bisik-bisik tak kasat mata. Ketika bayang-bayang kegelapan sudah menelan seluruh penjara, pintu sel kembali terbuka. Ivan melangkah masuk, wajahnya tak berubah banyak, namun ada sesuatu yang baru tertanam di tatapannya.
Renzo berbaring santai di atas ranjang yang tipis, kedua tangannya melipat di belakang kepala, seakan tak cemas sedikit pun selama Ivan pergi.
"Apa yang ditanyakan kepala penjara padamu?" tanyanya pelan, tak menoleh.
Ivan duduk di tepi ranjang, menatap lurus ke arah pintu besi yang tertutup rapat. "Hanya pertanyaan tak berbobot dan tak penting. Mereka menanyakan kondisiku setelah bertarung denganmu. Dan sepertinya mereka mulai mewaspadaimu... kepala sipir memintaku untuk mengawasimu. Katanya, hanya aku yang mampu menahanmu.."
Renzo terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. "Jadi mereka juga memberitahumu berita adikku diperkosa oleh anak Ramon? Lalu memerintahkanmu mengawasiku karena takut aku akan meledak dan berusaha kabur?"
"Tepat. Mereka mengira aku adalah rantai yang mampu mengikatmu," Ivan berbalik menatapnya, matanya tajam namun jujur. "Namun janji tetaplah janji. Aku akan menuruti semua permintaanmu — termasuk menjadi bidak caturmu, agar dirimu bisa keluar dari sini."
Renzo bangkit duduk, menatap lurus ke arah kegelapan lorong di luar pintu sel. "Tidak ada tempat bagi dua raja dalam satu hutan. Namun di sini, di tempat yang dilupakan dunia, kita butuh satu sama lain. Aku memang berniat kabur dan menuntut balas — bukan sekadar lari, melainkan membinasakan mereka yang berani menyakiti keluargaku. Tapi kabur butuh persiapan matang, kekuatan yang tak bisa dihancurkan begitu saja. Pertama, kita harus menundukkan mereka yang merasa paling berkuasa. Enam penguasa di gedung-gedung utama — Taring Serigala, Cakar Harimau, Naga Neraka, Darah Buaya, Singa Perkasa, dan Kuda Hitam — harus tunduk di bawah satu komando, mau sukarela atau terpaksa."
Ivan tertawa, suaranya berat, penuh kegilaan yang tertahan lama di dalam dada. "Sial! Tanganku sudah gatal ingin menghancurkan tengkorak seseorang! Sudah lama sekali aku tak merasakan darah segar menetes di tanganku!" Ia meregangkan otot-otot lengannya yang kekar, urat-urat menonjol di balik kulit yang tebal. "Jadi kita mulai bergerak sekarang? Aku tak akan menahan diri lagi."
"Bersabarlah..." jawab Renzo datar, tenang, namun tegas. "Kita tak boleh bergerak sembarangan. Mulai dari yang terlemah dulu, perlahan, tak menimbulkan kecurigaan. Biarkan para sipir berpikir kita hanya bertarung demi hiburan, pengusir rasa bosan, sekadar melampiaskan amarah — bukan menyusun kekuatan untuk menghancurkan seluruh sistem penjara ini dari dalam."
Ivan mengangguk perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh harapan gelap. Matanya berkilat menantang. "Hahaha... Aku sungguh tak sabar menundukkan mereka semua satu per satu! Terutama bajingan intel manipulatif itu — pria yang mengira ia melihat segalanya... aku ingin sekali merobek mulut liciknya itu."
Tak lama kemudian, suara bel berbunyi, memanggil semua penghuni gedung ke kafetaria. Renzo dan Ivan berjalan berdampingan, di antara deretan wajah-wajah yang penuh ketakutan maupun kebencian. Di sudut ruangan yang luas dan pengap itu, mereka berdiri diam sejenak, mengamati mereka yang menyebut diri pemimpin di tempat ini.
Di meja paling tengah, duduk Darren — pria berwajah datar, dingin dan mati seperti batu nisan yang tak pernah tersenyum. Di sekelilingnya duduk anak buahnya, menunduk hormat, tak berani mengalihkan pandangan. Di sisi lain, Axel yang bertubuh raksasa menyantap makanannya dengan lahap, tak peduli apa pun di sekelilingnya, seakan ia satu-satunya makhluk hidup di ruangan itu. Lebih jauh, Lucas beserta dua orang bawahan Pangeran Kael berbisik pelan, mata mereka sesekali melirik tajam ke arah Renzo dan Ivan, menilai ancaman.
Ivan mendekatkan bibirnya, suaranya nyaris tak terdengar di antara riuh rendah suara sendok dan piring. "Bagaimana? Dari siapa kita mulai?"
Renzo tetap menatap ke depan, wajahnya tak berubah. "Sebelum menundukkan pemimpin gedung lain, kita harus menguasai gedung Naga Neraka lebih dulu. Kaneo... aku penasaran padanya. Apakah ia layak menjadi bawahan yang setia, atau lebih pantas dikirim ke alam baka. Sayang sekali, ia masih dirawat di rumah sakit penjara setelah dipukuli Darren."
Sambil meneguk air minumnya, Ivan berucap pelan, "Penjara ini sebenarnya sederhana. Para terpidana mati di sini sudah kehilangan harapan hidup. Mereka hanya menunggu hari dijemput maut. Jika kita menanamkan kembali harapan kebebasan di hati mereka, mereka akan mengikuti kita tanpa perlawanan."
Renzo mengangguk perlahan. "Hmm... Baiklah. Bagaimana kalau kita mulai dari orang-orang di lantai lima gedung kita sendiri?"
"Bukan ide yang buruk. Ayo hampiri mereka sekarang."
Keduanya berjalan menyusuri lorong meja, menuju sekelompok delapan belas tahanan yang duduk berkumpul di ujung ruangan. Mereka menatap keduanya mendekat, tubuh mereka menegang, masih teringat betapa dahsyatnya kekuatan yang ditunjukkan kedua orang ini.
"Saudara Renzo... Saudara Ivan..." salah seorang di antara mereka berbicara ragu-ragu, penuh hormat. "Apakah kalian ingin bergabung?"
Renzo dan Ivan duduk di kursi yang dikosongkan dengan tenang. "Ada sesuatu yang sangat penting ingin kukatakan pada kalian semua," ucap Ivan, suaranya rendah namun terdengar jelas oleh setiap orang di sana. "Nanti aku akan meminta izin kepada sipir agar kita boleh berkumpul sebentar di lorong lantai lima..."
Salah satu tahanan menelan ludahnya, bertanya pelan, "Memangnya... apa yang ingin dibicarakan?"
Renzo menatap mereka satu per satu, matanya tajam namun tak mengancam, melainkan menjanjikan sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupan mereka.
"Kebebasan," sahutnya lirih, namun kata itu terasa berat menekan dada setiap orang yang mendengarnya. "Kalian sadar, di sini kalian hanya menunggu hari eksekusi. Tak ada yang akan datang menjemput kalian. Tak ada pengampunan. Daripada diam menunggu maut datang, bagaimana kalau kita berusaha kabur dari sini? Bukankah itu terdengar lebih layak bagi seorang laki-laki? Para sipir memang bersenjata lengkap, tembakan siap meluncur kapan saja — tapi kita bisa mengakalinya, menyusun rencana yang tak bisa mereka duga. Rencana itulah yang akan kubahas nanti di pertemuan itu... pastikan kalian semua datang. Atau kalian akan tahu sendiri apa akibatnya jika ada yang tak hadir.." Ucapannya tenang, dingin, dan tak terbantahkan.
Delapan belas orang itu menelan ludah serentak. Mereka paham — ini bukan pilihan melainkan pemaksaan.
Sang intel seorang pria berkulit gelap, matanya menyipit menatap sosok Renzo dan Ivan bergantian. Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh kepuasan dingin.
"Benar dugaanku... ia pasti akan mencoba kabur... Hehe, aku jadi tak sabar mendengar rencananya. Sungguh bodoh — prajurit terkuat dan pemimpin organisasi besar tak menyadari ada mata yang mengawasi setiap langkahnya. Segala sesuatu yang ia katakan, segala sesuatu yang ia rencanakan... semuanya sudah menjadi milikku." Batin sang intel yang bernama Albion itu.