NovelToon NovelToon
ASI Untuk HOT CEO

ASI Untuk HOT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:221.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arran Lim

Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenzo & Naya [Bab 7]

Setelah beberapa menit, Nayara pun mulai tenang dan berhenti menangis.

"Sekarang mau tahu car4nya bu4t anak?" Kenzo kembali bertanya.

Nayara mengangguk, masih sesenggukan.

"Begini caranya, Sayang," ucap Kenzo, lalu mulai mem4ju-mundurkan pinggulnya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Ahhh... ahhh... perih... Tapi agak enak dikit," ucap Nayara, mencoba mendeskripsikan sensasi yang ia rasakan.

Kenzo tersenyum penuh gair4h. "Nanti bakal nggak ada sakitnya, Sayang. Ini namanya bukan cuma bu4t anak, tapi ada nama lainnya juga, yaitu ηgεηtοt atau ηgεωε..." ucap Kenzo, memberikan edukasi sesatnya.

"Ngέηtοt. Euungghh... Ngεωε, ahhh," desah Nayara, mengulangi kata-kata itu.

"Yes, baby," ucap Kenzo, terus menggerakkan tubuh Nayara dengan lembut.

"Cuma Kak Kenzo yang boleh ηgεηtόtίη kamu. Cuma aku yang bisa κοηt•lin kamu... Mengerti, baby?"

"I... iya! Euungghh, Kak! Ahhh!" dεsαh Nayara tak karuan.

"Enak, kan, baby? Mau nggak kalau mέmεκ kamu Kakak κοηtοlίη tiap hari?" tanya Kenzo.

"M-mau... Ahhh, euungg," desah Nayara.

"Mau sampai hamil?" tanyanya lagi.

"Hamil anak Kak Ken?" tanya Nayara, matanya memancarkan harapan di tengah sensasi yang membanjiri.

"Yes, baby," erang Kenzo.

"Mau! AHHHHHHH!!!! Mau hamil anak Kak Ken!" Dέsάh Nayara kuat kala Kenzo meningkatkan ritme gerakannya.

"Kakak hamilin kamu, Sayang. Kakak hamilin... Ahhhh. Euunggg... Ahh, baby, kamu jepit κοηtοl Kakak, baby, aahh, euungghhh," erang Kenzo.

"Baby, Kakak sekarang lagi apain kamu, hmm?" tanya Kenzo, meminta konfirmasi.

"Kak Ken κοηtοlίη Naya! Euungghhh, ahhh!" dεsαh Nayara keras.

"Naya suka Kakak κοηtοlίη?"

"Suka! Ahhh, euungg!" jawab Nayara, bahkan merέmάs ραγυdαrαnya sendiri karena kenikmatan yang memuncak.

"Baby, euunggghhhhh, my baby Naya! Ahhh!" desah Kenzo.

Kenzo lalu menarik tengkuk Nayara, lalu melumat bibir Nayara tanpa menghentikan gerakannya.

"Kakak, ini ciuman ya, namanya?" tanya Nayara di sela-sela lumatan keduanya.

"Iya, baby. Ini yang buat nambah kegiatan ηgεηtοt kita makin enak," ucap Kenzo, menjίlάt bibir Nayara.

Kenzo menghentikan gerakannya, ia menarik Nayara ke depan cermin full body yang ada di kamar itu.

"Mau lihat κοηtοl Kakak masuk ke mεmεκ kamu?" tanya Kenzo, sembari mengangkat paha kiri Nayara.

Nayara mengangguk, terpesona oleh pemandangan yang akan tersaji.

"Lihat baik-baik, Sayang," ucap Kenzo. Ia lalu memasukkan ρεηίsnya dari belakang.

"Ahhhh! Euungghhh! Eunmm..." dεsαh Nayara kencang.

"Besar banget κοηtοl kak Ken, ssttt," ringisnya.

"Iya, Sayang. Itu yang bikin enak. Kalau κοηtοl kecil, enggak berasa," ucap Kenzo, lalu memaju-mundurkan pinggulnya, mengisi tubuh Nayara.

"Ahhh! Ahh! Euungghh! Aahhh! Euungghhh! Euungghh!" Nayara meηdεsάh tak karuan. Ia harus mengakui, kegiatan ini benar-benar membuatnya ketagihan.

"Sssttt, ahhh, baby," erang Kenzo, semakin mempercepat gέηjόtαηηγα.

Hingga....

CROTTT!!! CROTTT!

Tubuh Nayara tersentak-sentak, tembakan itu membuat tubuhnya bergetar hebat.

"Ahh, euungghh, enak," gumam Nayara, merasakan kehangatan yang membanjiri lύbάng ναgίηαnya.

Kenzo tersenyum penuh kemenangan, melihat cairan beningnya memenuhi lubαηg ναgίηα Nayara, bahkan merembes keluar.

"Ahh, euungghh," dέsαh Kenzo, sambil merέmάs lembut ραγυdαrα Nayara.

"Aku bakal sering ηgεηtόtίη kamu, Sayang. Kalau perlu sampai hamil," batin Kenzo, ia sedikit menggerakkan pinggulnya sampai semua cairannya keluar tak tersisa, mengunci Nayara dalam ikatannya.

.

.

Satu jam kemudian 

Keheningan menyelimuti kamar megah milik Kenzo. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, berpadu dengan detak jantung dua insan yang masih terbuai dalam sisa-sisa badai kenikmatan. Kenzo menatap Nayara yang tertidur lelap di pelukannya. Wajah gadis itu tampak begitu tenang, seolah beban dunia tak pernah menyentuhnya. Keduanya masih terjebak dalam kεiηtίmάη yang nyata; kulit mereka bersentuhan tanpa pembatas apa pun, hanya selembar selimut sutra tebal yang menyelimuti tubuh polos keduanya dari udara malam.

"I love you, baby," bisik Kenzo dengan suara yang hampir menyerupai desiran angin. Ia mengecup kening Nayara lama, menghirup aroma rambut gadis itu yang selalu membuatnya candu.

Kenzo menarik napas panjang. Di balik rasa puas yang membuncah, ada secuil pemikiran yang mengusik logikanya. Ia tidak pernah menyangka akan sampai di tahap ini—mέηγεtυβυhί Nayara tanpa status hubungan yang jelas. Namun, bagi Kenzo, ini bukan sekadar nafsu. Ini adalah strategi.

Ia tahu betul siapa Narendra. Sahabatnya itu sangat protektif terhadap adiknya. Jika Kenzo datang dengan cara baik-baik untuk melamar, Narendra pasti akan tertawa atau justru marah besar, mengingat Naya masih begitu muda. Kenzo sadar Narendra tidak akan semudah itu menyerahkan satu-satunya harta berharganya.

"Maaf, Ren... Tapi lo nggak perlu khawatir. Gue bakal tanggung jawab, dan adik lo bakal bahagia sama gue. Gue bakal jadi pelindung yang lebih baik buat dia," batin Kenzo, menatap kegelapan kamar dengan tatapan bertekad. Ia telah mengunci takdir Nayara pada dirinya malam itu juga.

*******

Dua Bulan Kemudian

Lorong rumah sakit yang biasanya terasa sunyi dan steril, kini seolah bergetar oleh derap langkah sepatu pantofel yang terburu-buru. Narendra berlari sekuat tenaga, wajahnya pucat pasi seolah-olah seluruh darah telah tersedot dari tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, menciptakan dentuman di telinganya yang menyakitkan.

Sekitar 1 jam yang lalu, di tengah rapat direksi yang krusial, ia mendapat telepon dari Gaby. Suara gadis itu terdengar pecah oleh tangis, mengabarkan bahwa Naya pingsan di tengah jam kuliah. Saat itu juga, dunia Narendra seolah runtuh. Tanpa memedulikan tatapan heran rekan bisnisnya, ia meninggalkan kantor dan menyerahkan segala tanggung jawab pada kedua sekretaris kepercayaannya, Tania dan Juna.

Gaby yang sedang duduk lesu di depan pintu ruang rawat Nayara langsung berdiri tegak begitu melihat sosok Narendra yang berantakan. Rambut pria itu acak-acakan, kemejanya basah oleh keringat dingin.

"Bang Naren..." panggil Gaby dengan suara bergetar.

"Naya... Naya gimana? Dia kenapa sampai pingsan?! Apa dia belum makan? Apa dia terlalu capek?!" tanya Narendra beruntun, suaranya meninggi karena kepanikan yang tak terkendali.

"I-itu, Bang... A-anu..." Gaby menunduk, lidahnya terasa kelu. Bagaimana cara memberitahu seorang kakak yang sangat galak bahwa adiknya yang polos kini tengah membawa nyawa lain di rahimnya?

Sebelum Narendra mendesak lebih jauh, seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan tersebut. "Anda wali dari pasien bernama Nayara?"

"Iya, Dok. Saya kakaknya. Gimana keadaan adik saya? Dia sakit apa?"

Dokter itu menghela napas, memberikan isyarat agar Narendra mengikutinya.

"Mari ikut saya ke ruangan sebentar," ajak dokter itu dengan wajah serius.

Di dalam ruangan yang berbau antiseptik itu, dokter tersebut meletakkan sebuah map hasil pemeriksaan.

"Baik, langsung saja... Kondisi fisik adik Anda sedang sangat menurun. Hal ini wajar terjadi karena perubahan hormon kehamilan yang cukup drastis. Namun, masalah utamanya adalah kandungannya terbilang lemah. Kami sangat menyarankan agar Nayara melakukan bed rest total selama seminggu ke depan. Dan ini kami sudah menyiapkan surat izin untuk kampusnya."

DEG!

Dunia seolah berhenti berputar bagi Narendra. Telinganya berdenging hebat. "A-apa, Dok? Anda bilang apa barusan? Adik saya...?"

"Adik Anda sedang hamil, Pak. Usia kandungannya sudah memasuki minggu kedelapan," ucap dokter itu dengan nada profesional namun penuh simpati.

Kalimat itu menghantam dada Narendra layaknya palu besar yang menghancurkan tulang rusuknya. Ia menggeleng lemah, matanya menatap kosong ke arah surat izin yang ada di depan mejanya. "Nggak mungkin... Naya nggak pernah dekat sama cowok mana pun. Dia cuma pergi kuliah dan pulang ke rumah..."

Namun, di tengah rasa syok itu, satu nama muncul di benaknya bagai kilat yang menyambar.

KENZO!

Satu-satunya orang yang ia percayai untuk menjaga Naya saat ia berada di luar kota. Satu-satunya pria yang sering berinteraksi dengan Naya di luar pengawasannya. Amarah yang dingin dan mematikan mulai merayap di pembuluh darah Narendra. Jika benar Kenzo pelakunya, maka persahabatan mereka akan berakhir dengan pertumpahan darah.

1
D_wiwied
aduuh licik jg ya kamu Gab.. 😆😆cuus lgs gas aja Lang 🤭
D_wiwied
lanjut kak
Elsker
🙈🙈🙈🙈🙈🙈
mil_oy cantik
up terus thor
Elsker
makasih udah kembali update
Elsker
Anna adalah mangsa yang empuk 🙈🙈🙈
sahabat pena
Luar biasa
yulia afadz
kpn up lagi ka
panjul man09
pasti ulah sepupunya nico
panjul man09
cinta dalam diam
J
kak lanjut dong kak
Arbaati
sampai sini belum ada kabar si sopir yg dulu katanya sama" krisis.
Niken Dwi Handayani
Leo ember ach
Maya Lara Faderik
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!