Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Langit di luar jendela lorong rumah sakit sudah berubah gelap, lampu-lampu kota mulai berkelap-kelip dari kejauhan. Heru duduk sendirian di bangku panjang depan ruang rawat putrinya, punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Pikirannya terus berputar, bertanya-tanya dalam keheningan, apa sebenarnya yang terjadi pada rumah tangga putrinya yang terlihat begitu sempurna dari luar.
Langkah kaki terdengar mendekat, cepat dan terburu. Rafael muncul di ujung lorong, kemejanya kusut dan kancing atasnya terbuka. Wajahnya tampak lelah namun matanya menyala cemas saat melihat pintu ruangan itu. Ia berjalan cepat mendekat.
"Pa..." suaranya terdengar terengah sedikit. "Alina sudah sadar, aku..."
Belum sempat ia melangkah mendekat ke pintu, Heru sudah berdiri dan berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya. Tatapannya lembut namun tegas.
"Rafael," ucapnya pelan namun tak terbantahkan. "Papa ingin bicara berdua denganmu."
Rafael tertegun sejenak, lalu Heru berkata lagi dengan nada yang lebih lembut namun tegas, "Ikut Papa."
Rafael hanya mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Heru yang berjalan menuju halaman belakang rumah sakit yang lebih sepi.
Sesampainya di sana, suasana hening sejenak. Hanya terdengar desir angin malam di antara pepohonan dan dengung pelan mesin AC dari gedung rumah sakit. Rafael menelan ludah, merasa gelisah.
"Pa, ada apa?" tanyanya akhirnya memecah keheningan. "Apa yang sebenarnya ingin Papa katakan?"
Heru menatap ke atas, menatap langit malam yang bertabur ribuan bintang. Ia menghela napas panjang, napas yang terdengar begitu berat dan lelah. Perlahan ia berbalik, menatap menantunya tepat di mata.
"Katakan sejujurnya, Rafael... apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kamu dengan Alina?"
Rafael terdiam, menunduk dalam. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, tak mampu menatap mata ayah mertuanya itu.
Heru menunggu sejenak, lalu suaranya terdengar lebih lembut, namun setiap katanya menekan tepat di dada Rafael.
"Papa melihat Alina tumbuh. Dari kecil, kalau dia takut, dia akan mencari Mamanya. Kalau dia sedih dan ingin sesuatu, dia mencari Papa. Seumur-umur, dia tidak pernah mencari orang lain."
Ia menjeda, menatap menantunya itu dalam-dalam.
"Tadi tadi, saat pertama kali dia membuka mata setelah hampir kehilangan nyawanya... yang dia cari bukan Papa, bukan Mama, bukan kamu suaminya... tapi Revan. Asistenmu."
"Jadi Papa tanya sama kamu sebagai suaminya, Rafael... sehancur apa Alina di rumah kalian, sampai di saat dia paling lemah, yang dia percaya justru Revan, asisten kamu?"
Rafael menunduk dalam, bahunya merosot perlahan. Tak ada sanggahan yang mampu ia ucapkan. Kata-kata Heru terasa begitu berat, menekan setiap sudut hatinya.
Heru membiarkan keheningan menyelimuti mereka sejenak, lalu berkata dengan nada yang lembut namun tidak bisa ditawar.
"Sebaiknya kamu jangan temui Alina dulu, Rafael. Dia baru sadar, kondisinya masih lemah. Jangan buat emosinya tidak stabil."
"Tapi Pa..." Rafael mencoba membujuk, mendongak dengan mata yang memohon.
Heru langsung memotongnya dengan tenang.
"Setelah Alina keluar dari rumah sakit nanti, dia akan pulang ke rumah Papa dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Heru berjalan melewati Rafael, meninggalkannya berdiri sendirian di halaman belakang yang mulai terasa semakin dingin. Rafael memejamkan matanya rapat, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, merasa seolah-olah ia baru saja kehilangan segalanya.
-
-
-
Di sisi lain kota, di waktu yang hampir bersamaan.
Suara ketukan pintu terdengar pelan namun tegas. Wanita berambut blonde pendek itu hanya melirik sekilas saat pintu terbuka, lalu pelayan di ambang pintu menunduk hormat.
"Nyonya, Tuan Muda sudah kembali. Dia sekarang ada di kamarnya."
Vera meletakkan ponselnya di atas meja dengan tenang, berdiri dengan anggun, lalu berjalan melewati pelayan itu tanpa banyak bicara. Langkahnya teratur, mantap, hingga ia tiba di depan pintu kamar putranya. Ia mengetuk pintu itu dua kali, lalu langsung memutar gagang pintu dan masuk.
Revan baru saja melepas jaketnya, ia menoleh seketika saat mendengar pintu terbuka. Matanya bertemu dengan tatapan ibunya.
Vera berdiri di sana, menatap putranya sekilas dari ujung kepala hingga kaki, lalu berkata dengan nada yang datar namun menusuk.
"Akhirnya... kamu tahu juga caranya kembali."
Revan meletakkan jaketnya perlahan di atas punggung sofa, lalu menjawab singkat tanpa menoleh ke belakang.
"Aku sudah berjanji."
Vera tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang punggung putranya, lalu melipat kedua tangannya di atas perut.
"Ini sudah cukup," ucapnya tenang namun tegas. "Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi mencari pria itu dan terlibat dengannya. Karena sejak awal... tempatmu bukan di sana, Revan."
Revan memejamkan matanya rapat sejenak, menghela napas pelan yang terasa berat di dadanya. Ia perlahan berbalik menghadap ibunya, tatapannya tegas namun penuh perjuangan yang tak terlihat.
"Tapi aku masih harus kembali. Ada hal yang belum aku selesaikan."
Vera menyunggingkan senyum tipis di wajahnya, senyum yang menyimpan ribuan ketegasan.
"Ibu mengizinkan kamu masuk ke lingkaran keluarga Mahendra karena kamu bilang kamu ingin mengenal lebih dekat seperti apa sosok ayah kandung kamu," ucapnya tenang namun tajam, setiap kata diucapkan dengan jeda. "Ibu tidak pernah mengizinkanmu untuk merebut milik putranya."
Ia melangkah setengah lingkaran, menatap wajah putranya yang menegang.
"Alina itu istri Rafael. Kakakmu, Revan. Sekalipun kalian tidak sedarah dari Ibu, dia tetap darah daging ayahmu."
Revan mengangkat wajahnya perlahan, matanya menatap lurus ke mata ibunya, tidak lagi ragu.
"Maaf, Bu. Kali ini aku tidak akan menuruti Ibu."
Vera tertegun, sedikit terkejut mendengar nada tegas dari putranya yang biasanya selalu menurut.
"Perasaanku pada Alina bukan sesuatu yang bisa aku kemas lalu kubuang begitu saja," lanjut Revan, suaranya rendah namun mantap. "Aku tahu siapa aku. Aku tahu posisiku. Tapi melihatnya terluka sendirian di rumah yang seharusnya jadi tempat ternyamannya... itu jauh lebih menyakitkan daripada aku harus pergi."
Ia menjeda sejenak, menelan rasa getir di tenggorokannya.
"Aku tidak bermaksud merebut. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura tidak peduli saat dia butuh seseorang. Kalau harus ada yang menyesal nanti, biar itu aku. Tapi kali ini... aku tidak akan pergi."
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰