Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03: Nama di Layar Ponsel
____🌺
Layar ponsel itu perlahan meredup, kembali menjadi gelap pekat. Namun, kata yang baru saja tertera di sana, seolah tercetak tebal di dalam kepala Nayara.
Aku merindukan malam kita yang terakhir, Sayang.
Tangan wanita itu gemetar hebat, saat ia meletakkan kembali ponsel suaminya ke atas meja. Ia mengusap dadanya yang terasa begitu sesak untuk bernapas.
Tidak, Nay. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, bisik nuraninya, berusaha menyangkal.
Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Selena ... nama itu terdengar tidak asing, tapi Nayara tidak bisa langsung mengingatnya.
Mungkin Selena adalah rekan kerja baru di kantor Adrian. Atau mungkin saja itu cuma klien luar kota yang kurang sopan, salah kirim pesan, atau bahkan berniat mengganggu rumah tangga orang. Bukankah di dunia bisnis hal seperti itu sering terjadi?
Nayara mencoba merebahkan tubuhnya di samping Adrian. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, membelakangi suaminya, lalu memejamkan mata rapat-rapat.
Ia ingin percaya bahwa suaminya adalah pria setia yang sama seperti dua tahun lalu. Pria yang berjanji di depan almarhum ayahnya untuk selalu menjaganya.
Namun, makin ia berusaha memejamkan mata, makin keras jantungnya berdebar. Kalimat dari pesan itu terus terngiang. Panggilan 'Sayang' dan sebutan 'malam terakhir' bukanlah kalimat biasa yang di kirim, oleh seorang rekan bisnis, di jam satu malam.
____🌺
Setengah jam berlalu, dan Nayara sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Rasa curiga dan sakit hati merayap cepat, menggerogoti pikirannya. Ia tidak bisa berpura-pura tenang, jika dadanya terasa seperti dihantam batu besar.
Nayara membalikkan badannya perlahan. Ia menatap punggung Adrian yang tertutup selimut. Pria itu tidur dengan begitu nyenyak, seolah tidak baru saja membawa badai ke dalam rumah tangga mereka.
Dengan tangan yang masih dingin dan sedikit gemetar, Nayara meraih kembali ponsel Adrian dari atas meja. Layarnya terkunci rapat oleh kata sandi. Nayara menarik napas panjang, lalu menyentuh pelan lengan suaminya.
"Mas ...," panggil Nayara dengan suara bergetar. "Mas Adrian, bangun sebentar."
Adrian tidak bergeming. Ia hanya bergumam pelan dan menggeser posisinya.
"Mas, bangun ..." Nayara mengguncang lengan Adrian sedikit lebih kuat. "Ada yang mau, aku tanyakan."
"Hmmm ..."
Adrian terganggu dari tidurnya. Pria itu mengerang kesal, membalikkan badan, lalu membuka matanya yang masih menyipit karena kantuk. Sinar lampu tidur yang temaram membuat wajahnya terlihat sangat gusar.
"Kenapa lagi sih, Nay?" keluh Adrian dengan suara serak. "Ini sudah jam berapa? Aku baru aja, tidur sepuluh menit yang lalu!"
Nayara menunjukkan ponsel yang dipegangnya dengan jari-jarinya yang gemetar. "Siapa Selena, Mas?"
Seketika itu juga, raut wajah Adrian berubah total. Kantuk yang tadinya menyelimuti pria itu mendadak menguap tanpa sisa. Matanya membelalak kaget menatap ponsel di tangan Nayara.
Tanpa aba-aba, Adrian langsung menyambar ponselnya dengan gerakan kasar dan cepat dari genggaman Nayara, hingga ujung jarinya tak sengaja menggores punggung tangan istrinya.
"Kamu ngapain pegang-pegang ponsel aku?!" bentak Adrian tajam. Suaranya meninggi, menggema di dalam kamar yang tenang.
Nayara terperanjat kaget oleh reaksi defensif suaminya. "Aku ... aku tidak sengaja lihat notifikasinya tadi, Mas. Layarnya menyala ...."
"Lancang sekali kamu!" Adrian langsung duduk tegak di atas ranjang, memegang ponselnya erat-erat. "Sejak kapan kamu punya kebiasaan memeriksa ponsel suami malam-malam begini?"
Rasa sakit di dada Nayara kian meluas melihat kepanikan di mata suaminya. Jika tidak ada apa-apa, kenapa Adrian harus bereaksi berlebihan seperti itu?
"Aku tidak sengaja memeriksanya, Mas! Pesannya muncul di layar kunci!" balas Nayara, suaranya mulai bergetar menahan tangis.
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia panggil kamu 'Sayang'? Kenapa dia bilang rindu malam terakhir kalian?"
Wajah Adrian mendadak pucat, namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi kemarahan murni. Pria itu memijat keningnya dengan kasar sambil mendengus keras.
"Kamu ini benar-benar tidak jelas, ya!" cecar Adrian dengan nada menyudutkan. "Itu cuma rekan kerja! Dia klien lama dari perusahaan partner yang semalam tidak sengaja salah kirim pesan! Kamu mengerti tidak, salah kirim?!"
"Salah kirim?" Nayara tertawa sumbang, "Masa ada orang salah kirim pesan mesra jam satu malam, ke suami orang, Mas? Kamu pikir aku bisa percaya, gitu aja?"
"Ya ,harusnya kamu percaya sama suami kamu sendiri!" bentak Adrian semakin keras.
"Kamu itu terlalu banyak diam di rumah, jadi otak kamu cuma diisi sama hal-hal negatif dan pikiran curigaan! Semua orang di mata kamu salah, semua pesan di mata kamu perselingkuhan! Kamu tidak tahu betapa pusingnya aku mengurus pekerjaan di luar, dan sampai rumah malah dituduh macam-macam!"
"Aku tidak menuduh kalau tidak ada buktinya, Mas!" suara Nayara memekik pelan, menumpahkan seluruh kekecewaan yang ia taha.
"Kalau memang dia cuma rekan kerja dan salah kirim, kenapa kamu panik sekali sewaktu menyambar hp ini dari tanganku? Kenapa kamu tidak jelaskan baik-baik tanpa harus membentak aku?!"
"Karena aku capek, Nayara!" jerit Adrian frustrasi, melempar ponselnya ke atas kasur dengan kasar.
"Aku capek dituntut ini-itu! Tadi malam kamu marah karena aku lupa hari peringatan pernikahan, sekarang kamu marah-marah cuma gara-gara pesan salah kirim! Kamu mau buat aku gila di rumah ini, ya?!"
Nayara membisu, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Setiap kali ada masalah, Adrian selalu menggunakan rasa lelahnya sebagai alasan untuk membalikkan keadaan dan menyalahkan dirinya.
"Kalau kamu terus-terusan bersikap paranoid seperti ini, lama-lama aku yang malas pulang ke rumah!" ancam Adrian dingin.
Pria itu menyambar bantalnya dari atas kasur. "Sudah lah, aku tidur di kamar tamu saja. Pusing aku bicaranya sama kamu!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Adrian berjalan lebar keluar dari kamar utama dan membanting pintu kamar mandi luar sebelum akhirnya mengunci diri di kamar tamu.
BRAKKK!
Suara dentuman pintu yang keras itu meninggalkan Nayara dalam kehampaan.
Perempuan itu meremas selimut erat-erat, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara di atas kasur yang terasa begitu dingin.
Pernikahan mereka yang tadinya ia kira kokoh, ternyata sangat rapuh. Dan jawaban Adrian, bukannya menenangkan, melainkan justru memperjelas bahwa ada sebuah kebohongan besar yang sedang disembunyikan.
____🌺
Pagi harinya, suasana di dalam rumah terasa sangat canggung dan dingin bagaikan es.
Nayara terbangun dengan mata sembap dan kepala yang berat. Meskipun hatinya hancur, kebiasaannya selama dua tahun terakhir membuat kakinya tetap melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan menyeduh kopi hitam kesukaan suaminya.
Sekitar pukul tujuh pagi, Adrian keluar dari kamar tamu.
Pria itu sudah mengenakan setelan jas kerja yang rapi, lengkap dengan dasi dan sepatu kulit yang mengkilap. Wajahnya datar, tidak ada sisa-sisa rasa bersalah atau niat untuk menyapa istrinya.
Adrian berjalan melewati ruang makan tanpa melirik sedikit pun ke arah piring nasi goreng dan cangkir kopi yang sudah disajikan Nayara di atas meja.
"Mas, minum kopinya dulu ...," panggil Nayara pelan saat melihat Adrian langsung menuju ke ruang tamu untuk menyambar tas kerjanya.
"Tidak usah. Aku sarapan di kantor saja," jawab Adrian singkat dan dingin tanpa menoleh.
Nayara menyusul langkah suaminya hingga ke dekat pintu depan. "Mas, soal yang semalam ... kita belum selesai bicara."
Langkah Adrian terhenti. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Nayara dengan tatapan malas dan penuh kebosanan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Nay. Aku sudah katakan semalam, itu cuma salah paham. Jangan mulai lagi pagi-pagi begini kalau kamu tidak mau kita berantem lagi."
"Aku cuma minta kamu jujur, Mas—"
Ucapan Nayara terputus seketika saat ponsel di saku jas Adrian berdering nyaring.
Tut tut tut!
Adrian langsung merogoh sakunya dan mengambil ponsel tersebut. Begitu melihat nama yang tertera di layar kunci, ekspresi wajah pria itu berubah tegang dalam sekejap.
Matanya melirik cepat ke arah Nayara dengan pijar kecemasan yang berusaha ia sembunyikan.
Bukannya menolak panggilan itu atau menjawabnya di depan sang istri, Adrian justru berbalik dan melangkah cepat menjauh, berjalan ke sudut ruang tamu di dekat jendela besar yang agak tersembunyi dari jangkauan pandangan Nayara.
Nayara berdiri membeku di tempatnya, namun matanya tetap mengawasi punggung suaminya.
Adrian menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia menundukkan kepala, membelakangi istrinya, dan menurunkan volume suaranya hingga menjadi bisikan pelan yang sangat hati-hati.
"Halo ... Iya, aku tahu. Jangan menelepon dulu jam segini," bisik Adrian gusar, matanya melirik waspada ke belakang.
Terdengar suara ramah seorang perempuan berbicara agak cepat dari seberang telepon, meski kata-katanya tidak terlalu jelas terdengar oleh Nayara.
Adrian menghela napas panjang, merendahkan suaranya lebih dalam lagi, hampir tak terdengar jika suasana ruang tamu tidak begitu sunyi.
"Iya, jangan panik. Aku akan menemui mu, malam ini. Jangan bilang siapa-siapa."
emang lu doang yang bisa 🤣🤣