NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Laju taksi akhirnya terhenti di pelataran area keberangkatan bandara internasional.

Dengan langkah gontai dan hati yang hancur berkeping-keping, Gladys turun dari mobil.

Ia menyeret langkahnya memasuki gedung terminal yang padat, matanya menyapu setiap sudut hingga akhirnya menangkap sosok Praduta yang berdiri bersandar di dekat gerbang boarding, menunggunya dengan senyuman penuh kemenangan.

Namun, sebelum Gladys sempat mendekati pria itu, sebuah suara teriakan yang sarat akan kepedihan dan keputusasaan memecah kebisingan lobby bandara, menghentikan detak jantung Gladys seketika.

"Gladys! Gladys, jangan pergi!! Jangan tinggalkan aku!!"

Gladys tersentak kaget. Ia memutar tubuhnya, dan pemandangan di hadapannya membuat dunianya seolah runtuh total.

Raka—suaminya yang seharusnya berada di kantor—berdiri terengah-engah di tengah kerumunan, pakaiannya sedikit berantakan, dan air mata tampak menggenang di pelupuk matanya. Pria itu mengejarnya sampai ke sini.

Raka menerobos kerumunan, langsung merengkuh pergelangan tangan Gladys dengan erat, seolah tak ingin membiarkan wanita itu terbang meninggalkannya.

"Aku mohon, jangan pergi, Gladys." suara Raka bergetar hebat, memohon di hadapan istrinya tanpa peduli harga diri.

"Kita bisa selesaikan semua ini sama-sama. Jangan tinggalkan aku."

Gladys merasakan dadanya dirobek-robek oleh rasa bersalah yang teramat sangat.

Air matanya tumpah semakin deras membasahi pipinya.

Untuk melindungi Raka dari ancaman skandal, ia harus menjadi algojo bagi hatinya sendiri.

Dengan seluruh sisa tenaga dan benteng pertahanan terakhirnya, Gladys menarik paksa tangannya dari genggaman Raka.

"Aku harus pergi, Mas. Aku tidak mencintaimu," ucap Gladys dengan suara parau yang bergetar hebat, sementara jemarinya mencengkeram erat telapak tangannya sendiri hingga kuku-kukunya menancap di kulit demi menahan tangis yang hendak meledak.

Raka mematung, terpukul telak oleh kalimat kejam yang meluncur dari bibir wanita yang sangat dicintainya.

Di dekat mereka, Praduta melangkah mendekat dengan seringai dingin yang mengerikan terukir di wajahnya. Ia merangkul bahu Gladys posesif, menikmati setiap detik kehancuran di mata Raka.

Praduta tersenyum tipis, lalu berbisik dengan nada mengejek yang ditujukan langsung kepada kakaknya.

"Jangan menangis, Kak Raka."

Deg!

Raka terkesiap. Ia menatap tajam ke arah Praduta, menyadari ada sesuatu yang sangat salah dari cara pria asing itu memanggilnya.

"Jangan terkejut seperti itu," lanjut Praduta dengan tawa kecil yang sinis.

"Aku juga mempunyai darah Devandra. Aku adik tirimu, Raka."

Wajah Raka memucat pasi. Otaknya berputar keras mencerna pengakuan mengejutkan itu.

"Ibuku dibuang, dan ayah kita tidak pernah mengakuiku," desis Praduta, sorot matanya berubah tajam menyiratkan kebencian yang mendalam.

"Jadi, aku berhak untuk mendapatkan istrimu. Jangan serakah, Kak. Kalau mau protes, langsung saja protes ke Devandra, papa kita."

Sebelum Raka sempat meluapkan kemarahan, keterkejutan, atau merespons kenyataan pahit tersebut, Praduta menarik pinggang Gladys dan membawanya berbalik.

"Waktunya berangkat, Sayang," bisik Praduta penuh kemenangan.

Praduta membawa Gladys melangkah melewati gerbang pemeriksaan, meninggalkan Raka yang terduduk lemas di lantai bandara, dikelilingi oleh puing-puing kebenaran dan kehancuran rumah tangga yang direnggut dalam sekejap mata.

"GLADYS!!! AKU BISA MATI KALAU KAMU PERGI!!"

"Tidak, kamu harus hidup untuk mendapatkan ku kembali," ucap Gladys.

"GLADYS!!"

Teriakan Raka yang sarat akan keputusasaan menggema untuk terakhir kalinya di lorong bandara.

Gladys tidak menoleh sedikit pun. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya, dan air mata mengalir terus tanpa bisa dibendung, membasahi pipinya yang pucat.

Setiap langkah yang ia ambil terasa bagaikan menapak di atas serpihan kaca.

Mereka akhirnya masuk ke dalam kabin pesawat. Suasana di dalam terasa tenang dan eksklusif, sangat bertolak belakang dengan gemuruh kehancuran di dalam dada Gladys.

Praduta menarik Gladys untuk duduk di sampingnya.

Pria itu menatap Gladys dengan tatapan penuh kemenangan yang memabukkan.

Tanpa ragu, Praduta mendaratkan kecupan di pipi Gladys, menikmati setiap detik dari kekuasaan yang baru saja ia rebut dari keluarga Devandra.

"Aku mencintaimu, Gladys," bisik Praduta hangat, merangkulkan tangannya di bahu Gladys.

Gladys menahan napasnya. Rasa mual dan perih bergejolak di dadanya, namun ia memaksa sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang sangat palsu untuk menutupi rencana nekat di otaknya.

"Aku, ke kamar mandi dulu, aku sedang datang bulan," cicit Gladys pelan, memberi alasan agar bisa terlepas dari cengkeraman pria itu.

Praduta tersenyum puas, sama sekali tidak menyimpan curiga. Ia menganggukkan kepalanya.

"Jangan lama-lama, Sayang."

Gladys bangkit dan melangkah perlahan menyusuri lorong menuju bagian belakang pesawat.

Di tengah jalan, ia sempat melirik ke belakang. Melalui celah kursi, ia melihat Praduta duduk bersandar dengan santai, menyesap segelas champagne untuk merayakan kemenangannya yang menurutnya sudah sempurna.

Melihat Praduta yang mulai lengah, jantung Gladys berdegup liar.

Kesadaran dan keberanian mendadak menyengat seluruh tubuhnya.

Kata-kata Nayla kembali menggema: Kamu bukan cintanya, tapi balas dendamnya.

Ia tidak boleh menjadi budak dari dendam kotor ini!

Dengan gerakan cepat dan tanpa menimbulkan suara, Gladys berbalik arah.

Bukannya masuk ke kamar mandi, ia memanfaatkan kepanikan lalu-lalang petugas kabin yang sedang mempersiapkan penerbangan. Gladys menerobos pintu pesawat yang masih terbuka, melangkah cepat turun melalui garbarata, dan berlari sekuat tenaga keluar dari area boarding gate!

Sementara itu, di lorong luar bandara. Raka berjalan sempoyongan.

Pandangannya buram oleh air mata yang tak henti menetes.

Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah bumi yang dipijaknya baru saja dihantam gempa dahsyat.

"Jangan menangis, Kak Raka. Aku juga darah Devandra. Aku adik tirimu, Raka."

Ucapan Praduta terus berdengung di telinganya bagaikan suara petir yang tak henti menyambar.

Kenyataan bahwa istrinya direnggut oleh saudara sedarah yang tak pernah ia ketahui keberadaannya, serta kebusukan rahasia masa lalu ayahnya, menghantam ketahanan mental dan fisiknya hingga ke titik nadir.

Dada Raka terasa sesak luar biasa. Napasnya tercekat, hingga akhirnya pandangannya menggelap total.

Brak!

Tubuh Raka ambruk, jatuh pingsan di atas lantai dingin bandara.

Beberapa calon penumpang berteriak kaget, dan dalam hitungan detik, petugas keamanan bandara segera berlari menghampiri tubuh Raka yang tak sadarkan diri.

"Pak! Pak, bangun!" panggil seorang petugas panik sambil memeriksa denyut nadinya.

"Cepat panggil tim medis! Hubungi ambulans sekarang!"

Di luar gedung terminal, Gladys berlari dengan napas terengah-engah.

Rambutnya berantakan dan pakaiannya kusut, namun ia tidak peduli.

Ia melihat sebuah taksi kuning baru saja menurunkan penumpang di area kedatangan.

Gladys langsung menyambar pintu taksi itu dan melompat masuk ke kabin belakang.

"Pak, ayo jalan! Tolong antarkan saya ke luar kota ini!" seru Gladys panik, suaranya gemetar hebat sambil sesekali melirik ke arah pintu keluar bandara, takut melihat bayangan Praduta menyusulnya.

Supir taksi yang kaget melihat ekspresi ketakutan di wajah penumpang wanitanya itu segera menganggukkan kepalanya.

"B-baik, Mbak!"

Taksi itu langsung tancap gas, melaju kencang meninggalkan kawasan bandara internasional.

Di dalam kabin yang bergerak menjauh, Gladys menyandarkan dadanya yang naik-turun memburu.

Ia memejamkan mata erat-erat, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar, dan berdoa di dalam hati agar Praduta masih belum menyadari bahwa ia telah kabur dari pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.

Di saat taksi yang membawa Gladys melaju kencang meninggalkan kawasan bandara, dari arah berlawanan, sebuah mobil ambulans dengan lampu sirene yang berputar merah membelah jalan raya.

Suara raungan sirine itu memekakkan telinga, membawa Raka yang masih tak sadarkan diri di dalam bak belakang menuju unit gawat darurat rumah sakit terdekat.

Taksi Gladys dan ambulans itu berpapasan sekilas di tikungan jalan tol bandara, bergesekan dalam kecepatan tinggi tanpa satupun dari mereka menyadari bahwa jiwa yang paling mereka rindukan berada tepat di sisi yang berlawanan.

Sementara itu, di dalam kabin kelas eksekutif pesawat terbang yang sebentar lagi akan lepas landas

Suara mesin pesawat mulai menderu nyaring, menggetarkan lantai kabin.

Para pramugari berjalan cepat memeriksa sabuk pengaman para penumpang.

Salah seorang pramugari dengan senyum ramah melangkah ke bagian depan untuk memberikan isyarat kepada rekannya.

"Pintu kabin utama akan segera ditutup, Kapten," lapor pramugari itu melalui interkom internal.

Di kursi VVIP-nya, Praduta duduk bersandar dengan sebelah kaki disilangkan, menyesap sisa champagne di gelasnya sambil tersenyum tipis.

Pikirannya dipenuhi rasa puas yang luar biasa. Baginya, kemenangan ini adalah pembalasan sempurna untuk meremukkan sisa-sisa harga diri keluarga Devandra.

Namun, jarum jam terus berputar, dan Gladys sudah terlalu lama berada di kamar mandi.

Praduta melirik arloji di pergelangan tangannya. Dahinya mulai berkerut.

Ia menoleh ke arah lorong kosong menuju toilet khusus di bagian belakang.

Rasa curiga yang tiba-tiba mencuat membuat ketenangannya terusik.

Dengan gerakan cepat, Praduta bangkit dari kursinya.

Seorang pramugari yang hendak menutup pintu utama kabin segera menegurnya dengan sopan.

"Maaf, Tuan, silakan duduk kembali. Pintu akan segera ditutup dan pesawat mau lepas landas."

Praduta mengabaikan teguran itu. Ia menepis tangan pramugari tersebut dengan kasar lalu berjalan cepat menyusuri lorong kabin.

"Minggir!" bentaknya dingin.

Praduta tiba di depan pintu kamar mandi pesawat. Ia mengetuknya dua kali dengan tidak sabar.

Tok! Tok!

"Gladys?" panggil Praduta dengan suara berat, raut wajahnya mulai menegang.

"Kamu di dalam? Waktunya lepas landas."

Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya suara dengung mesin pesawat yang terdengar pekak.

Dihantam firasat buruk yang mendesak, Praduta langsung memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka lebar.

Ruangan di dalam toilet itu kosong melompong. Kursi toilet tertutup rapat, dan wastafel terlihat kering. Tidak ada Gladys di sana.

Mata Praduta membelalak lebar. Darahnya mendesak naik ke kepala dalam sepersekian detik.

"Sial!!" umpat Praduta dengan suara menggelegar yang membuat pramugari di dekatnya terpekik kaget.

Ia telah ditipu. Wanita itu memanfaatkan celah untuk mempermainkannya.

Tanpa memedulikan prosedur keselamatan penerbangan, Praduta berbalik dan berlari kencang menuju pintu utama pesawat yang sedang ditarik rapat oleh petugas.

"Buka pintunya! Kubilang buka!" teriak Praduta murka, mencengkeram lengan petugas bandara yang bertugas di pintu garbarata.

Tanpa menunggu persetujuan, Praduta menerobos keluar, berlari menuruni tangga darurat garbarata dengan napas memburu dan mata yang menyala-nyala oleh amarah yang siap meledak.

Ia langsung turun ke landasan pacu, meneriakkan nama wanita itu di tengah terpaan angin mesin pesawat yang menderu, bertekad memburu Gladys sampai ke ujung dunia mana pun.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!