NovelToon NovelToon
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan

Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.

​Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.

​Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.

​Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.

​Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan

​

​Aroma parfum khas Prancis yang elegan masih menyerbak lembut di ruang tengah saat deru mobil Gibran terdengar memasuki pelataran rumah. Hari baru beranjak sore, namun dari cara langkah kakinya menjejak lantai marmer yang keras, aku tahu suamiku pulang membawa badai.

​Beberapa kantong belanjaan bermerek internasional masih bertumpuk anggun di dekat sofa ruang keluarga, sementara Mbok Nah sedang sibuk menata kotak-kotak perhiasan berbalut bludru di atas meja kaca. Penampilanku masih sama seperti saat pergi ke mall tadi gaun sutra krem nude dengan hijab yang tertata sempurna, memancarkan pesona sosialita kelas atas yang tak tersentuh.

​Gibran melangkah masuk dengan rahang terkatup rapat. Jas kerjanya sudah ia lepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sembarangan hingga ke siku. Di tangan kanannya, ia menggenggam gulungan lembaran kertas notifikasi transaksi kartu kredit Black Card dan laporan penarikan dana yang langsung masuk ke ponsel serta surel pribadinya secara berturut-turut sepanjang siang tadi.

​"Kirana!" panggilnya dengan suara berat yang tertahan.

​Ia melemparkan lembaran-lembaran notifikasi itu ke atas meja kaca, tepat di samping kotak berlian terbaruku. Kertas-kertas itu tersebar, memperlihatkan deretan angka dengan digit fantastis yang dihabiskan hanya dalam waktu kurang dari tiga jam.

​"Apa-apaan ini?!" gertak Gibran, matanya membelalak menatap deretan belanjaan di sekeliling ruangan. "Ratusan juta rupiah melayang dalam hitungan jam?! Kau gila, Kirana?."

​Aku menatapnya sangat tenang, menyilangkan kaki dan mengusap pelan cincin berlian baru yang melingkar cantik di jari manisku. Pendar cahayanya memantul tajam, seolah sengaja menyilaukan pandangan suamiku.

​"Kenapa kau berteriak di rumah sendiri, Gibran?" tanyaku halus, suara alusku mengalun datar tanpa getaran sedikit pun. "Bukankah ini hal yang biasa? Aku hanya belanja untuk memenuhi kebutuhanku sebagai istri seorang CEO NexTech Group."

​"Kebutuhan?!" Gibran tertawa getir, suaranya sarat akan rasa frustrasi dan kemarahan yang meluap. "Belanja perhiasan berlian zamrud, busana haute couture, tas mewah, sampai membelikan asisten rumah tangga barang-barang mahal itu kau sebut kebutuhan?! Ini bukan kebutuhan, Kirana! Ini pemborosan! Kau sengaja membalas dendam padaku, kan?."

​"Pemborosan?" kuulang kata itu dengan sunggingan senyum paling elegan. "Lucu sekali mendengar kata pemborosan keluar dari mulut pria yang baru saja menyewa apartemen penthouse mewah di kawasan pusat kota untuk wanita simpanannya."

​Wajah Gibran seketika berubah kaku. Tatapan matanya yang semula beringas mendadak goyah, terpukul oleh kenyataan bahwa rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat telah kubongkar tanpa cela.

​"Kau... dari mana kau tahu?" bisiknya dengan nada yang mendadak merendah.

​"Aku Kirana, Gibran," sahutku pelan, mendongak menatap matanya yang mulai kehilangan pijakan. "Aku yang memegang dan mengurus seluruh pembukuan keuangan pribadimu selama belasan tahun sebelum kau menyewa manajer keuangan pribadi. Kau pikir kau bisa menyembunyikan transaksi puluhan miliar untuk apartemen atas nama Melani itu dari mataku?"

​Aku bangkit berdiri perlahan, merapikan lipatan gaun sutraku dengan keanggunan seorang Ratu yang tak tertandingi.

​"Kau menghamburkan miliaran rupiah untuk wanita yang baru kau kenal beberapa bulan hanya demi membeli rasa bangga dan validasi usiamu yang makin tua," lanjutku seraya melangkah satu tapak mendekatinya. "Sementara aku? Aku menghabiskan belasan tahun masa mudaku, hidup prihatin di kontrakan sempit, mencuci pakaianmu dengan tangan hingga jemariku lebam, dan makan nasi seadanya demi memastikan bisnismu bisa berdiri. Jika hari ini aku mengambil beberapa ratus juta untuk mempercantik diri dan berinvestasi pada berlian... apakah itu bisa kau sebut pemborosan?"

​Gibran mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dadanya naik turun menahan malu, amarah, dan rasa bersalah yang saling bertabrakan di dalam dadanya.

​"Tapi tidak begini caranya, Kirana!" kilihnya, berusaha keras memutar balik keadaan agar tidak terlihat semakin terpojok. "Keuangan perusahaan sedang fokus pada ekspansi proyek baru! Aku butuh arus kas yang stabil! Kau tidak bisa seenaknya menguras limit kartu kredit keluarga cuma untuk melampiaskan kekesalanmu."

​"Kalau begitu, tutuplah kartunya," tantangku sangat tenang, memiringkan kepala dengan senyuman tipis yang sangat menusuk. "Tutup kartu kredit itu, blokir rekening atas namaku, dan biarkan besok pagi seluruh media bisnis dan rekan-rekan sosialita kita tahu bahwa CEO NexTech Group yang terhormat mendadak bangkrut hingga tega membatasi fasilitas istri sahnya sendiri."

​"Kau... kau benar-benar mengancamku?!" bentak Gibran dengan napas memburu.

​"Aku tidak pernah mengancam, Sayang," balasku lembut, suara bisikanku begitu halus namun rasanya lebih dingin dari es. "Aku hanya mengingatkanmu pada posisimu. Nama baikmu di mata publik dan para investor besar dibangun di atas citra keluarga harmonis yang kubantu rawat selama ini. Sekali saja kau berbuat gegabah yang merusak citra itu, kita lihat berapa banyak investor yang akan menarik saham mereka dari perusahaanmu."

​Gibran tertegun membisu. Pria yang biasanya begitu mendominasi di ruang rapat perusahaan itu kini berdiri kaku di depannya, tak mampu mengeluarkannya sepatah kata pun untuk membalas argumenku. Ia tahu betul bahwa apa yang kikatakan adalah kebenaran yang telanjang.

​Di saat ketegangan mencapai puncaknya, suara langkah kaki dari arah pintu utama kembali memecah hening. Kayla dan Evan baru saja pulang dari sekolah.

​Kayla yang pertama kali melangkah masuk, menghentikan langkahnya saat melihat atmosfer panas di ruang tengah. Matanya melirik bergantian antara Papi-nya yang berdiri tegang, Mami-nya yang tampil begitu memukau, dan deretan kertas notifikasi tagihan yang berserakan di meja.

​"Ada apa ini?" tanya Kayla datar, suaranya dingin tanpa menyisakan sedikit pun kehangatan untuk ayahnya.

​Gibran dengan cepat berusaha menguasai raut wajahnya, merapikan kerah kemejanya dan berdeham pelan. "Tidak ada apa-apa, Kayla. Papi cuma sedang bicara urusan pekerjaan dengan Mami."

​Evan yang berjalan di belakang Kayla menyunggingkan senyum sinis yang sangat mirip dengan senyumanku. Ia mengabaikan Gibran sepenuhnya, melangkah mendekatiku lalu mengecup pipiku hangat.

​"Mami hari ini cantik banget," puji Evan tulus, matanya berbinar melihat penampilan anggunku. "Mami habis dari mana?"

​Aku tersenyum teduh, merengkuh bahu putra laki-lakiku dan mengusap lembut kepala Kayla. "Mami habis jalan-jalan sama Mbok Nah, Sayang. Belanja sedikit untuk menyegarkan pikiran."

​Kayla melirik kotak-kotak perhiasan di atas meja, lalu menyunggingkan senyum bangga pada Mami-nya. Ia tahu betul permainan apa yang sedang kumainkan.

​"Bagus dong, Mi," sahut Kayla sengaja dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh Gibran. "Mami berhak dapat semua yang terbaik di dunia ini. Daripada uangnya dipakai buat hal-hal yang nggak jelas atau dikasih ke orang lain yang nggak tahu diri, mending Mami yang pakai semuanya."

​"Kayla!" tegur Gibran dengan nada tertahan, wajahnya kembali memerah padam.

​Kayla menatap ayahnya lurus-lurus, tanpa rasa takut sedikit pun. "Kenapa, Pi? Kayla salah bicara? Kan memang benar, Mami yang nemenin Papi dari nol, jadi Mami yang paling berhak menikmati semuanya."

​"Kalian berdua masuk ke kamar sekarang!" perintah Gibran, berusaha keras mempertahankan sisa wibawanya yang kian terkikis habis di depan anak-anaknya. "Mandi dan bersiap untuk makan malam."

​Evan tidak membantah. Ia memegang jemariku sebentar, memberikan cengkeraman protektif yang menenangkan. "Evan ke atas dulu ya, Mi. Kalau Mami butuh apa-apa, panggil Evan."

​"Iya, Jagoan. Terima kasih," balasku lembut.

​Setelah kedua anakku melangkah naik ke lantai atas dengan sikap kepala tegak, keheningan kembali menghujam ruang tengah. Gibran memandangi tangga tempat anak-anaknya menghilang, lalu menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi rasa frustrasi yang amat mendalam.

​"Kau lihat sendiri kan, Kirana?" bisik Gibran, suaranya terdengar sangat lelah dan terdesak. "Anak-anak makin tidak menghormatiku. Mereka makin lancang. Semua ini karena sikapmu yang sengaja memanjakan rasa benci mereka padaku."

​Aku melangkah mendekati meja kaca, merapikan lembaran-lembaran notifikasi transaksi yang berserakan, lalu menumpuknya dengan sangat rapi tepat di depan dada Gibran.

​"Rasa hormat itu didapatkan dari perbuatan yang terhormat, Gibran... bukan dituntut dari kekuasaan atau uang," ucapku sangat pelan, menatap lurus ke dalam netra cokelatnya yang kini tampak begitu kuyu dan cemas. "Kau yang memilih menghancurkan rasa hormat mereka dengan pengkhianatanmu. Jangan salahkan aku jika anak-anak lebih memilih berdiri di samping Ratu yang menjaga rumah ini, daripada mengekor pada Raja yang sibuk mengejar ilusi di luar sana."

​Gibran menelan ludahnya yang terasa pahit. "Kirana... please, mari kita selesaikan ini di pengadilan secara baik-baik. Jangan siksa aku dengan cara seperti ini."

​Aku menyunggingkan senyum paling anggun, mengusap bahu kemeja putihnya dengan lembut seolah sedang merapikan debu yang menempel.

​"Menyiksamu?" batinku berbisik sembari menatap wajahnya yang makin panik. "Ini baru permulaan, Sayang."

​"Gugatan perceraianmu akan tetap ada di atas meja itu, Gibran," ucapku keras, suaraku bergema tenang di dalam ruangan yang luas itu. "Dan aku akan tetap berada di rumah ini, sebagai istri sahmu, sebagai ibu dari anak-anakmu, dan sebagai pemilik setengah dari kerajaan bisnis yang kau banggakan. Selamat menikmati malammu, CEO NexTech Group."

​Aku memutar tubuhku dan melangkah anggun menuju kamar utama, meninggalkan Gibran yang berdiri terpaku sendirian di tengah kemewahan istana kami yang makin terasa mencekam.

1
merry
gibran tu katarak y gk dukung bisnis mu lah modal bgn perusahaan dr mn gibran 🤭🤭🤭 trs manjain selingkuhan mu uang dr mn bhkn modal bgn usha ajj lbh bnyk mntn istri mu yg kluarkn,, sdgkn kmu kluarin dikit,, kmu enk enk kn selingkuh mntn mu rawat mmu dan ankmu
Muft Smoker
orang yg terpojok terkadang bisa ceroboh dlm segala hal ,,
yx seperti Gibran ni ,, dg ikhlas lahir batin dy mengakui semua kebusukan ny bersama nyai lampir ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Lilik Lailiyah
mantap akhirnya kirana yg menang
Mundri Astuti
good Kirana....hempaskan laki" ngga tau diri dan ngga tau diuntung, ditolong malah mentung
Ilfa Yarni
aaaass akhirnya kirana me dapatksn lg semua hartsnya long lempar tub di mokondo gibran kejalanan Dr Kantor yg dia pimpin itu
Noey Aprilia
Mantappp.....
slmt buat kirana,krna udh brhsil bkin mreka malu plus kismin....mngkn abs ni mreka bkln jd rakyat jelata....😛😛😛
Ariany Sudjana
bagus Kirana, kamu tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri. kamu akan bangkit lagi, dan tunjukkan kelas kamu jauh di atas pelacur murahan kesayangan Gibran itu
Ariany Sudjana
maklum sih pelacur murahan kesayangan Gibran 🤣🤣😂😂 hanya bisa bermimpi dan bodohnya kebangetan dan ga bisa menyaring setiap perkataan yang keluar dari mulutnya 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
skak mat kamu Gibran 🤣🤣😂😂 si pelacur murahan kesayangan kamu itu lagi-lagi buat ulah, yang membuat posisi kamu semakin sulit. tapi ya terima saja, kan kamu sudah memilih membuang batu permata demi pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Hary Nengsih
👍👍👍👍
Heni Setiyaningsih
Kirana,,,,, mantap & keren 👍👍
Ariany Sudjana
ga seru ah, pelacur murahan itu harusnya di tarik keluar sama security. gimana ceritanya, pelacur murahan kok bisa hadir di acara sosialita? kalau begini, kelihatan bodohnya kamu Melanie 😂😂🤣🤣 tapi cocok sih, pelacur murahan kan hanya bisa menghabiskan uang dan bermimpi jadi istri konglomerat 😂😂🤣🤣 di
Muft Smoker
aduuh2 mimpii ny ketinggian mbaaa baju biruuu ,,
nanti kalo jatuh bukan cuma sakit ,, tp malu ny tu looo ,, gx bisa d tampung dmna2🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Dfnisi trsngka yg brsa jd korban....
gmna ga stia,duitnya msh bnyak trs pnya jbatan jg...cba kl nnti udh ga pnya apa2,plingn jg bkln kabur.....🙄🙄🙄
Hary Nengsih
lanjut makin penasaran
Muft Smoker
POV Gibran to melani : no comment tu sih derita eloo ,, masa bodo gx mau tau ,, no comment tu siih derita elooo ,, aduhh ,, aduuh kasihan deh loo,,

🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lilik Lailiyah
ya allah bagus sekali ceritanya tiap hari nungguin lanjutannya kak semangat trs kak karyamu selalu si tunggu
Lilik Lailiyah
luar biasa
Lilik Lailiyah
sukurin lo melani jadi malu sendiri kan
Ilfa Yarni
mampoooos syukurin lo dasar parasit lo gibran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!