NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:44.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Mobil keluarga Abyakta melaju perlahan menyusuri jalan pegunungan yang berkelok menuju kota kecamatan. Dari balik jendela, hamparan kebun teh yang hijau membentang sejauh mata memandang. Udara sejuk masuk melalui celah kaca yang sedikit terbuka, membuat suasana di dalam mobil terasa nyaman.

Gavin duduk di balik kemudi dengan kedua tangan mantap menggenggam setir. Sesekali ia melirik kaca spion untuk memastikan keadaan di belakang. Sementara itu, Juragan Darmawan duduk di kursi belakang bersama Dara. Pria tua itu tampak santai sambil sesekali mengajak Dara mengobrol ringan sepanjang perjalanan menuju tempat terapi.

Beberapa jam kemudian, mereka pun selesai menjalani terapi.

Saat keluar dari ruang terapi, langkah Juragan Darmawan tampak lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Meski masih berjalan perlahan, raut wajahnya terlihat jauh lebih segar.

"Hmm ...," gumamnya sambil memutar pelan pinggangnya. "Badan Kakek rasanya lebih enteng."

Pria tua itu tersenyum puas, lalu menoleh kepada Dara yang berdiri di sampingnya. "Minggu besok kita terapi lagi, ya."

Dara mengangguk sambil tersenyum hangat. "Iya, Kek. Yang penting Kakek cepat sembuh."

Juragan Darmawan tertawa kecil. "Kalau begini, semangat Kakek buat terapi jadi bertambah."

Gavin tidak banyak bicara. Namun, hatinya senang melihat perhatian Dara kepada kakeknya. Istrinya begitu sabar dan telaten dalam mengurus orang tua.

Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam mobil untuk pulang. Perjalanan pulang berlangsung tenang. Jalanan tidak terlalu ramai sehingga mobil melaju dengan nyaman.

Beberapa menit kemudian, Juragan Darmawan yang duduk di kursi belakang mulai mengantuk. Kepalanya perlahan bersandar ke sandaran kursi, lalu tak lama kemudian terdengar dengusan napas halus. Pria tua itu tertidur lelap.

Melihat kakeknya sudah terlelap, Gavin sengaja mengecilkan volume musik yang sejak tadi diputar pelan di dalam mobil. Suasana pun berubah menjadi lebih hening.

Sesaat kemudian, Gavin melirik Dara yang duduk di kursi penumpang. "Ada yang ingin kubicarakan."

Dara yang sejak tadi menikmati pemandangan di luar jendela segera menoleh. "Soal apa, Aa?"

"Soal kuliah."

Dahi Dara langsung berkerut. Ia sempat mengira dirinya salah dengar. "Kuliah?"

"Iya." Gavin tetap fokus memandang jalan di depan. "Aku ingin kamu melanjutkan pendidikan."

Mata Dara membulat. Bibirnya sedikit terbuka karena terkejut. "Aku kuliah?"

"Iya."

"Tapi aku kan sudah menikah." Dara tersenyum kikuk sambil menundukkan kepala.

Gavin sekilas melirik istrinya, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Memangnya kenapa kalau sudah menikah?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Dara terdiam. Ia benar-benar tidak pernah memikirkan kemungkinan tersebut.

Sejak kecil hidupnya dipenuhi perjuangan. Setelah kakek dan neneknya meninggal, ia tumbuh bersama paman dan bibinya. Sepulang sekolah, ia membantu pekerjaan rumah dan bekerja buruh harian di rumah tetangga. Setelah lulus SMA, ia tidak punya pilihan selain bekerja memetik daun teh untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Baginya, kuliah adalah impian yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang hidup berkecukupan.

Melihat Dara terdiam cukup lama, Gavin kembali membuka pembicaraan. "Aku tidak pernah meminta istriku bekerja mencari nafkah."

Nada suaranya tetap tenang. "Itu tugasku sebagai suami."

Dara menoleh perlahan. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Gavin dengan penuh perhatian.

"Aku hanya ingin kamu terus belajar."

"Kenapa, Aa?" tanyanya pelan.

Gavin tersenyum tipis. "Karena ilmu tidak akan pernah sia-sia. Pendidikan bukan hanya untuk mencari pekerjaan. Ilmu akan menemani seseorang seumur hidup."

Pria itu berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Aku juga ingin istriku menjadi perempuan yang percaya diri. Perempuan yang berwawasan luas. Yang kelak bisa menjadi ibu terbaik untuk anak-anak kami."

Ucapan terakhir itu membuat napas Dara tercekat. Pipinya perlahan memerah. Tanpa sadar ia menundukkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya. Entah mengapa, membayangkan dirinya memiliki anak bersama Gavin membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

Beberapa saat kemudian Gavin kembali bertanya. "Dulu, apa kamu punya cita-cita?"

Pertanyaan itu membuat Dara tersenyum tipis. "Ada."

"Apa?"

"Aku ingin menjadi guru. Guru SD."

Gavin mengangguk pelan. "Kenapa memilih jadi guru?"

Dara menatap hamparan kebun teh di balik jendela mobil. Senyum kecil menghiasi wajahnya, seolah sedang mengenang masa kecil yang jauh.

"Aku suka anak-anak. Waktu SD dulu, guru aku baik sekali. Beliau sabar mengajari murid-muridnya. Kalau ada yang tidak bisa membaca, beliau tidak pernah marah."

Mata Dara berkaca-kaca mengingat sosok yang berperan penting dalam hidupnya.

"Aku waktu itu berpikir, kalau sudah besar,naku juga ingin menjadi guru seperti beliau." Namun, senyum itu perlahan memudar. "Tapi setelah nenek meninggal aku sadar keadaan sudah berbeda. Aku tidak mungkin kuliah. Jadi, cita-cita itu saya simpan sendiri."

Suasana di dalam mobil kembali hening. Tak ada suara selain deru mesin dan hembusan angin dari luar.

Beberapa saat kemudian Gavin berkata dengan suara mantap. "Kalau begitu kita wujudkan."

Dara spontan menoleh. "Maksud Aa?"

"Kalau memang itu cita-citamu, aku akan mendukung."

Mata Dara mulai berkaca-kaca penuh rasa haru. Selama ini tidak pernah ada yang menanyakan apa impiannya. Apalagi mengatakan ingin membantunya mewujudkan mimpi itu. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Terima kasih, Aa." Suara Dara begitu lirih, hampir tak terdengar.

Senyum kecil yang muncul di wajah Gavin sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Sore harinya, sebelum pulang ke rumah, Gavin mengajak Dara mampir ke perkebunan teh milik keluarganya.

Sore hari merupakan jadwal pembagian upah bagi para pemetik teh. Halaman depan gudang penyimpanan hasil panen tampak ramai dipenuhi para pekerja yang mengantre menerima bayaran. Beberapa orang bercanda sambil menghitung uang yang baru mereka terima sesuai seberapa banyak hasil memetik teh, sementara yang lain segera pulang membawa hasil jerih payah mereka.

Selain ingin mengecek administrasi pembayaran upah, Gavin juga berniat melihat langsung hasil panen minggu ini sebelum dikirim ke pabrik produksi di kota.

Mobil berhenti tepat di depan gudang. Gavin turun lebih dulu, lalu menghampiri Pak Rahmat yang sedang sibuk memanggil nama para pekerja dari daftar.

"Pak Rahmat, sudah beres semua?"

Mandor tua itu segera menoleh. "Iya, Den Gavin."

"Ayo kita cek hasil panen di gudang yang akan dikirimkan ke kota."

"Baik, Den." Pak Rahmat langsung menutup buku catatannya sejenak, lalu mengikuti Gavin masuk ke dalam gudang.

Sementara itu, Dara memilih tetap berada di dekat mobil. Ia berdiri sambil memperhatikan para pekerja yang masih mengantre menerima upah. Tanpa disadarinya, di antara kerumunan itu ada sepasang mata yang sejak tadi terus memperhatikannya.

Tina baru saja menerima upah hariannya. Setelah memasukkan uang ke dalam saku bajunya, pandangannya tidak sengaja menangkap sosok Dara yang berdiri sendirian. Matanya langsung menyipit.

"Itu Dara."

Rama yang berdiri di sampingnya ikut menoleh ke arah yang sama. Begitu melihat Gavin berjalan masuk ke gudang bersama Pak Rahmat, senyum perlahan mengembang di bibirnya.

"Akhirnya ada kesempatan."

Tina ikut tersenyum tipis. Tanpa membuang waktu, ia segera berjalan menghampiri keponakannya.

"Dara."

Mendengar namanya dipanggil, Dara langsung menoleh. Wajahnya spontan tersenyum.

"Bibi."

Belum sempat Dara bertanya, Tina sudah lebih dulu meraih pelan pergelangan tangannya. "Ikut Bibi sebentar. Ada yang harus kita bicarakan."

Dara tampak ragu. "Di sini saja, Bi?"

Tina langsung menggeleng. "Tidak! Sebentar saja."

Melihat Gavin tidak berada di sekitar mereka, Dara akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah."

Mereka berjalan menjauh dari keramaian hingga berhenti di bawah sebuah pohon besar yang cukup rindang. Begitu memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat, senyum di wajah Tina langsung menghilang. Tatapannya berubah tajam.

"Mana uang maharnya?"

Pertanyaan itu membuat Dara terdiam. Ia menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap bibinya.

"Bibi ...."

"Jangan pura-pura lupa." Nada suara Tina mulai meninggi. "Uang satu miliar itu mana?"

Dara menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. "Maaf, Bi. Tapi itu mahar pernikahanku. Itu bukan milik siapa pun selain aku."

Ucapan itu membuat wajah Tina seketika memerah. "Apa?! Bibi tidak salah dengar, kan?"

Dara menggeleng pelan. "Aku tidak bisa memberikannya. Aku juga tidak pernah setuju kalau pernikahan aku ini dijadikan jalan untuk mendapatkan uang."

Tina melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah. "Kamu sekarang berani melawan Bibi, hah?!"

"Bukan begitu." Suara Dara tetap lembut, tetapi kali ini terdengar jauh lebih tegas. "Aku hanya ingin melakukan yang benar."

"Yang benar?" Tina mencibir sinis. "Kalau bukan karena kami yang membesarkanmu, kamu tidak akan hidup sampai sekarang!"

Dara menggenggam kedua tangannya erat untuk menahan gemetar. "Seumur hidupku tidak pernah melupakan semua kebaikan Paman dan Bibi. Makanya dahulu, semua uang hasil kerjaku selalu aku kasih ke Bibi. Tapi kali ini aku tidak bisa memberikan sesuatu yang memang bukan menjadi hak Bibi."

"Dasar anak tidak tahu balas budi!" Bentakan Tina terdengar cukup keras hingga beberapa pekerja yang masih berada di sekitar gudang mulai menoleh ke arah mereka.

Tanpa bisa lagi menahan amarahnya, Tina mengangkat tangan, seolah hendak menarik Dara secara paksa. Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh lengan Dara sebuah suara berat terdengar dari belakang.

"Ada masalah apa ini?!"

Tubuh Tina langsung menegang. Wajahnya yang semula merah perlahan berubah pucat. Dengan gerakan kaku, ia membalikkan badan.

Beberapa langkah di belakang mereka, Gavin berdiri dengan wajah datar. Sorot matanya begitu dingin hingga membuat Tina merasakan hawa yang berbeda. Dia melihat kemarahan yang benar-benar terpancar dari tatapan pewaris keluarga Abyakta itu.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
astagaahhhb
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
apa2an itu
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!