NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Pertama di Bawah Langit Gerimis

Pagi hari di halaman gedung Pengadilan Agama disambut oleh tetesan rintik hujan yang jatuh berulang-ulang, menciptakan kabut tipis di udara dan aroma basah tanah yang khas. Langit kelabu membentang lesu di atas atap gedung berlantai dua itu, seolah ikut meratapi setiap hati yang datang membawa beban perpisahan.

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, sebuah sepeda motor bebek tua berwarna hitam legam memasuki pelataran parkir. Seorang pria turun dengan sigap. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika rapi, celana panjang bahan hitam, serta jaket kain sederhana untuk melindunginya dari gerimis pagi.

Itu adalah Dimas.

Ia melepas helmnya, menyisir rambut hitam pendeknya dengan jemari tangan, lalu menarik napas panjang. Tidak ada raut gentar di wajahnya. Langkah kakinya mantap, menapaki lantai teras gedung pengadilan menuju ruang tunggu utama. Di dalam dada kirinya, meskipun ada sisa-sisa kenangan masa lalu yang sesekali berkelebat, tersimpan ketenangan jiwa yang luar biasa—hasil dari keikhlasan yang ia pupuk selama berminggu-minggu di bawah bimbingan doa dan kerja keras.

"Mas Dimas..."

Sebuah suara lembut memanggil namanya dari arah kursi tunggu dekat pintu masuk utama.

Dimas menoleh. Di sana, duduk bersandar tenang sambil memegang sebuah map dokumen berwarna biru, berdiri Pak Joko dan Sari. Sari mengenakan busana muslimah berwarna abu-abu muda dengan jilbab senada, membawa termos kecil berisi teh hangat di tangannya. Kehadiran mereka di tempat itu bukanlah tanpa alasan; Pak Joko dan Sari sengaja datang mendampingi Dimas sebagai bentuk dukungan moral agar pria itu tidak merasa berjalan sendirian menghadapi hari bersejarah dalam hidupnya.

Dimas tersenyum hangat, melangkah mendekati mereka. "Pak Joko... Mbak Sari. Terima kasih banyak sudah repot-repot datang pagi-pagi begini."

"Sama sekali tidak repot, Mas Dimas," ucap Sari tulus, menyodorkan sebuah cangkir kecil berisi teh hangat yang ia tuang dari termosnya. "Minum dulu air hangatnya, udara di luar agak dingin."

Dimas menerima cangkir itu dan meneguknya perlahan. Hangatnya teh jahe itu merayap turun ke tenggorokannya, meredakan ketegangan fisik yang sempat melanda. "Alhamdulillah, terima kasih, Mbak."

"Bagaimana, Dim? Pihak panitera sudah memanggil namamu untuk masuk ke ruang mediasi?" tanya Pak Joko sambil menepuk bahu tegap Dimas.

"Belum, Pak. Jadwal sidang baru dimulai jam sembilan lewat," jawab Dimas tenang. "Kita tunggu sebentar lagi."

Sementara Dimas dan kedua pendampingnya menunggu di ruang tunggu, di belahan kota yang lain, suasana di dalam unit apartemen mewah Green Heights Residence terasa jauh dari kata tenang.

Arini terbangun kesiangan. Sinar matahari pagi tertutup rapat oleh tirai otomatis kamar tidur utamanya. Ia meraba sisi ranjang sebelah kiri—kosong dan dingin. Rian sudah pergi sejak subuh tadi tanpa meninggalkan sepatah kata pamit pun, persis seperti kebiasaannya belakangan ini.

Arini bangkit dengan kepala yang terasa agak pening. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil ponselnya untuk memeriksa apakah ada pesan masuk dari Rian. Layar ponsel menyala, menampilkan beberapa pesan dari teman-teman arisannya yang mengajak berkumpul, namun tidak ada satu pun pesan dari Rian selain pemberitahuan transaksi kartu kredit yang kian menipis limitnya.

Rasa cemas yang sempat mencuat di malam sebelumnya kini kembali merayap, menghantam dinding keangkuhannya.

"Kenapa Rian jadi begitu dingin akhir-akhir ini?" batin Arini gelisah, menggigit bibir bawahnya. "Apakah bisnisnya benar-benar sedang bermasalah besar? Tapi... dia kan pengusaha kaya. Tidak mungkin perusahaannya bangkrut begitu saja."

Untuk menepis rasa gelisah yang menggunung di dadanya, Arini memutuskan untuk keluar kamar. Ia berjalan menuju ruang tamu, berniat menyalakan televisi atau memesan makanan mewah melalui layanan kamar. Namun, saat langkahnya melintas di dekat meja kerja kecil milik Rian yang terletak di sudut ruangan, pandangannya tak sengaja menangkap selembar kertas surat beramplop cokelat resmi yang setengah terbuka di atas tumpukan berkas.

Di bagian kop surat amplop tersebut, tercetak jelas logo instansi hukum negara: PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN.

Jantung Arini seketika berdegup kencang seolah dihantam palu godam. Darahnya berdesir naik ke kepala. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar amplop tersebut dengan tangan gemetar. Ia menarik keluar lembaran kertas di dalamnya dan membaca baris demi baris tulisan dengan mata terbelalak lebar.

Itu adalah Surat Panggilan Sidang Pertama (Relaas Panggilan) atas nama perkara permohonan cerai talak yang diajukan oleh suaminya: DIMAS KURNIAWAN melawan termohon ARINI WULANDARI.

Tanggal sidang tertera dengan jelas: Hari Kamis, pukul 09.00 pagi—hari ini.

Kertas di tangan Arini mendadak terasa bagaikan lembaran es yang membakar kulitnya. Napasnya memburu seketika. Selama dua minggu terakhir, di tengah kelimpahan fasilitas apartemen mewah dan janji-janji manis harta yang ditaburkan Rian, ia seolah lupa bahwa ikatan pernikahannya dengan Dimas di mata hukum dan agama belum sepenuhnya putus secara resmi. Ia mengira Dimas akan meratap, mengejar-ngejarnya, atau menangis meminta rujuk seperti lelaki lemah pada umumnya.

Tetapi kenyataan berbicara lain: Dimas tidak mengejarnya. Dimas justru bergerak diam-diam, menyusun berkas hukum sendiri, dan mendaftarkan gugatan cerai talak ke pengadilan tanpa sekalipun memohon-mohon kepadanya.

"Tidak... tidak mungkin!" teriak Arini histeris di dalam ruang tamu yang kosong itu.

Air mata geram dan rasa tersinggung mendadak tumpah berbarengan di pipinya. Ego tingginya terluka parah. Ia merasa diabaikan, direndahkan, dan dilangkahi oleh pria yang selama ini ia anggap sebagai pecundang tak berdaya. Di dalam pikirannya yang kalut, ia mengira Dimas berani melakukan ini karena sudah mendapatkan wanita lain—bayangan tentang Sari atau wanita lain langsung berputar liar di kepalanya, membakar amarahnya hingga ke ubun-ubun.

Arini melirik jam dinding di ruang tamu. Pukul delapan lewat lima belas menit.

Jika ia bergegas sekarang, memesan taksi online, dan menerobos kemacetan pagi kota Jakarta, ia masih punya waktu untuk tiba di gedung Pengadilan Agama sebelum pukul sembilan.

Dorongan untuk datang ke pengadilan bukanlah karena ia ingin menyelamatkan rumah tangganya atau merindukan Dimas; dorongan itu murni berasal dari rasa gengsi yang luar biasa besar. Ia ingin mendatangi sidang itu untuk membuktikan pada Dimas bahwa dirinya kini adalah wanita sukses yang hidup bergelimang harta, wanita mahal yang tidak boleh diceraikan begitu saja oleh seorang kuli miskin.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arini berlari kembali ke kamarnya. Ia merobohkan isi lemari, menarik gaun desainer berwarna hitam elegan berpotongan formal, mengenakan sepatu hak tinggi terbaiknya, dan memoles wajahnya dengan riasan tebal dalam waktu kilat.

Lima belas menit kemudian, Arini menyambar tas kulit mewahnya, keluar dari unit apartemen, dan berlari menuju lift dengan napas memburu dan amarah yang siap meledak.

Kembali ke gedung Pengadilan Agama, jarum jam dinding di lorong utama menunjuk tepat pukul sembilan kurang sepuluh menit.

Seorang panitera pengganti keluar dari pintu ruang sidang utama, memanggil pengeras suara kecil bernada nyaring.

"Panggilan untuk perkara nomor empat ratus lima puluh garis miring Pdt.G garis miring dua ribu dua puluh enam atas nama Pemohon Dimas Kurniawan dan Termohon Arini Wulandari. Silakan memasuki ruang sidang."

Dimas berdiri dari kursi tunggunya. Ia merapikan kerah kemeja putihnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya.

"Mas Dimas, bismillah ya..." bisik Sari lembut dengan mata penuh dukungan, menyerahkan map dokumen kepada Dimas.

"Insya Allah, Mbak Sari. Doakan saya," balas Dimas tersenyum tipis.

Pak Joko menepuk bahu Dimas erat-erat. "Masuklah dengan kepala tegak, Dim. Tunjukkan bahwa kamu melangkah dengan kebenaran."

Dimas menganggukkan kepalanya penuh hormat. Ia melangkah tenang melewati daun pintu kayu ruang sidang yang besar, siap menghadapi babak awal penyelesaian lembaran masa lalunya di hadapan hukum dan takdir.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!