NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18

Angin di puncak Tangga Penekan Tulang mendadak mati.

Tekanan aura Core Formation yang menguar dari tubuh Instruktur Yan begitu pekat hingga kabut merah dari formasi tangga di bawah mereka terbelah dua. Ratusan peserta ujian yang masih merangkak di pertengahan tangga terpaksa berhenti, menempelkan dada mereka ke batu dingin karena kesulitan bernapas.

Di pelataran puncak, Pengurus Zhao sudah pucat pasi seperti mayat. Lutut pria tua korup itu bergetar hebat, keringat dingin bercucuran membasahi jubah pengurusnya. Ia tahu betul reputasi Instruktur Yan di Akademi Kekaisaran seorang mantan komandan garis depan yang lebih suka memenggal kepala daripada mendengar alasan.

Namun perhatian Instruktur Yan sama sekali tidak tertuju padanya. Mata tajam pria paruh baya itu masih mengunci wajah Qin Mu yang berlumuran darah dan debu.

"Jawab aku, Bocah," suara Instruktur Yan turun satu oktaf, berat dan serak bagaikan gesekan dua batu karang. "Dari mana kau mendapatkan plakat milik Luo Tua? Dan mengapa ada bau abu Pil Pembakar Kehidupan di pakaianmu?"

Qin Mu menatap lurus ke mata sang pengawas. Tidak ada ketakutan atau usaha untuk menjilat di sorot matanya, hanya ketenangan yang dingin dan kelelahan yang dalam.

Perlahan, tangan kiri Qin Mu yang terluka merogoh ke balik kerah jubahnya bukan ke arah Cincin Giok Retak, melainkan ke sebuah kantung kain kecil yang terikat erat di dekat jantungnya. Ia melonggarkan sedikit ikatan kantung itu, memperlihatkan sejumput abu putih keperakan yang bersih di dalamnya.

"Empat malam yang lalu, di saluran pembuangan selatan Kota Linlang," ucap Qin Mu dengan suara parau yang terdengar jelas di keheningan puncak bukit. "Wei Canglan dari Klan Wei menutup pintu air dan mengepung kami dengan dua puluh pemanah spiritual. Dia mengatakan akan mematahkan kedua kaki Penatua Luo dan merantainya di ruang bawah tanah seumur hidup untuk memurnikan pil bagi Klan Wei."

Napas Instruktur Yan tertahan. Bekas luka pedang di alis kirinya berkedut keras.

"Kakekku terluka parah, dan aku terlalu lemah untuk membuka jalan," lanjut Qin Mu datar, jemarinya kembali mengikat erat kantung abu itu dan menyimpannya ke dalam dada. "Penatua Luo tidak sudi menjadi budak. Dia mengeluarkan dua butir Pil Pembakar Kehidupan yang belum pernah dicobanya. Dia dan kakekku menelannya bersama-sama. Mereka menyerahkan plakat ini padaku, menghancurkan langit-langit terowongan untuk melempar tubuhku keluar... lalu membakar habis nyawa serta tulang mereka sendiri menjadi abu untuk melelehkan jeruji besi itu."

Keheningan yang mencekam turun menyelimuti Gerbang Dalam.

Han Lie yang berdiri di samping Qin Mu mengepalkan tinjunya di atas gagang martil sambil menundukkan kepala.

Instruktur Yan berdiri mematung selama tiga tarikan napas. Pria yang dikenal memiliki hati sekeras besi di medan perang itu perlahan memejamkan matanya. Ingatannya melayang ke delapan tahun silam, ketika dirinya sekarat di perbatasan utara akibat racun miasma yang membusukkan organ dalamnya. Saat semua tabib istana menyerah, seorang kakek tua berambut sarang burung yang cerewet dan mata duitan mendobrak masuk ke tendanya, menyelamatkan nyawanya selama tiga hari tiga malam, lalu pergi begitu saja setelah mencuri dua kendi arak terbaiknya.

Luo Tua... kau bahkan tidak menyisakan tulang untuk kukuburkan, batin Instruktur Yan, dadanya bergemuruh oleh amarah dan duka yang tertahan.

Ketika Instruktur Yan membuka matanya kembali, udara di puncak bukit serasa membeku. Ia memutar kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah Pengurus Zhao.

Bruk!

Pengurus Zhao langsung ambruk berlutut di atas ubin batu, kepalanya membentur lantai hingga berdarah.

"I-Instruktur Yan! Ampun! Saya tidak tahu bocah ini utusan Tabib Iblis!" jerit Pengurus Zhao dengan suara melengking ketakutan. "Tuan Muda Wei dari Kota Linlang yang memberi tahu saya bahwa bocah ini adalah pencuri dan pembunuh pengawalnya! Saya... saya hanya ditipu oleh Klan Wei!"

"Ditipu?"

Instruktur Yan melangkah maju satu tindak. Hanya satu langkah, namun ubin batu di bawah sepatu botnya hancur menjadi debu.

"Kau mengenakan jubah Akademi Kekaisaran Tianhe selama lima belas tahun, Zhao Tua," desis Instruktur Yan dingin. "Namun hanya demi sekantung Batu Roh, kau bersedia menjadi anjing suruhan keluarga pejabat perbatasan dan mencoba membunuh pewaris yang dikirim oleh penyelamat nyawaku tepat di depan mataku sendiri."

"Instruktur Yan, jangan—!"

Pengurus Zhao mencoba mengerahkan Qi tahap Foundation Establishment miliknya untuk melompat mundur, namun di hadapan seorang ahli Core Formation, gerakannya tampak selambat kura-kura.

Instruktur Yan mengayunkan telapak tangannya dari jarak tiga langkah.

BOOM!

Sebuah hantaman Qi berwarna hitam legam menghantam dada Pengurus Zhao. Tanpa sempat menjerit, terdengar suara letupan tumpul dari bagian bawah perut pria tua itu Dantian dan fondasi kultivasinya dihancurkan secara paksa dalam satu pukulan! Pengurus Zhao memuntahkan darah segar dan jatuh terkulai dengan mata melotot, berubah menjadi orang cacat seketika.

Para peserta ujian yang baru mencapai anak tangga bagian atas menggigil ngeri melihat ketegasan brutal sang pengawas.

Namun Instruktur Yan belum selesai. Dengan satu tarikan jarinya ke udara, aliran Qi tak kasat mata menyambar kerah baju Pengurus Zhao yang sekarat dan mengangkat tubuh Su Heng yang masih merintih dengan tangan serta kaki lumpuh di anak tangga bawah.

Instruktur Yan berjalan ke tepi balkon puncak bukit yang menghadap langsung ke alun-alun luar, tempat ratusan kereta bangsawan masih menunggu hasil ujian.

Di luar tirai formasi Gerbang Luar, suasana sedang dipenuhi ketegangan.

Wei Canglan berdiri di samping kereta perang hitamnya dengan tangan kanan mencengkeram gagang pedang. Di sekelilingnya, dua belas pengawal Qi Gathering Klan Wei sudah bersiaga. Ia yakin, dengan Su Heng di dalam ujian dan Pengurus Zhao yang menjaga puncak tangga, bocah berjubah hitam itu pasti akan dilempar keluar sebagai mayat dalam waktu dekat.

Di sisi timur lapangan, Su Ruyan berdiri di bawah payung kertas yang dipegang pelayannya. Matanya yang tenang tak lepas menatap puncak tangga yang tertutup kabut merah.

Tiba-tiba, langit di atas Gerbang Luar bergetar.

Dua bayangan manusia melesat turun dari puncak bukit bagaikan meteor yang dilempar dari langit, menembus tirai formasi biru keemasan, lalu menghantam batu alun-alun tepat tiga langkah di depan kereta perang Wei Canglan!

BRAAAK!

Batu jalanan pecah berhamburan. Debu dan cipratan darah mengotori sepatu sutra Wei Canglan.

Kerumunan di alun-alun menjerit kaget dan mundur serentak. Ketika debu menipis, mata kanan Wei Canglan membelalak lebar melihat dua tumpukan daging yang mengerang di dekat kakinya.

Yang satu adalah Pengurus Zhao yang pakaian akademinya telah robek dan kultivasinya telah lenyap. Dan yang satunya lagi adalah Su Heng tuan muda kebanggaan Cabang Pertama Keluarga Su yang keempat anggota tubuhnya telah terpotong uratnya hingga terkulai seperti lumpur!

"Heng-er!!"

Seorang tetua dari rombongan Cabang Pertama Keluarga Su menjerit histeris dan berlari menghampiri tubuh Su Heng, wajahnya pucat pasi melihat pewaris cabangnya telah menjadi cacat permanen.

Belum sempat Wei Canglan mencerna apa yang terjadi, sosok Instruktur Yan muncul melayang di atas menara gerbang. Suara sang ahli Core Formation itu menggelegar bagaikan petir di siang bolong, menekan seluruh alun-alun hingga kuda-kuda spiritual meringkik ketakutan dan berlutut ke tanah!

"Dengarkan baik-baik, kalian semua yang berada di luar gerbang!" raung Instruktur Yan, matanya yang tajam mengunci lurus ke arah wajah bertopeng Wei Canglan. "Akademi Kekaisaran Tianhe adalah tanah milik Yang Mulia Kaisar, bukan halaman belakang klan daerah mana pun! Pengurus Zhao terbukti menerima suap untuk mencampuri ujian dan telah kuhancurkan kultivasinya!"

Instruktur Yan mengibaskan lengan bajunya, mengirimkan gelombang tekanan Qi yang secara spesifik menghantam kereta perang Klan Wei hingga kayu hitamnya retak berderak!

"Mulai detik ini, Qin Mu dan Han Lie telah resmi tercatat di buku induk sebagai murid Gerbang Luar Akademi Kekaisaran!" lanjut Instruktur Yan dengan nada membunuh yang tak disembunyikan. "Wei Canglan! Kembali dan beri tahu ayahmu di Kota Linlang! Jika ada satu saja anjing Klan Wei yang berani menyentuh sehelai rambut murid akademi di luar aturan pertarungan resmi, aku sendiri Yan Zhen yang akan membawa pedangku ke Kota Linlang dan meratakan kediaman kalian dengan tanah!"

Wajah Wei Canglan di balik topeng besinya memerah hingga ke telinga, lalu berubah menjadi biru pucat.

Di depan ribuan pasang mata dari berbagai kota di Provinsi Cangzhou, Klan Wei baru saja ditampar habis-habisan oleh seorang petinggi Core Formation Akademi Kekaisaran! Luka di dadanya kembali berdenyut nyeri akibat tekanan aura Yan Zhen, membuat setetes darah merembes dari sudut bibirnya.

"Tuan Muda... kita harus mundur," bisik kepala pelayannya dengan suara gemetar hebat, menarik lengan Wei Canglan yang kaku. "Instruktur Yan adalah orang gila dari faksi militer. Jika kita melawan di sini, dia benar-benar akan menebas kita!"

Wei Canglan menatap ke puncak tangga di balik kabut. Ia tidak bisa melihat Qin Mu dari bawah sana, namun ia tahu pemuda itulah yang baru saja membalikkan seluruh papan caturnya. Dengan geraman rendah yang terdengar seperti binatang terluka, Wei Canglan melompat masuk ke dalam keretanya yang retak.

"Jalan!!" bentaknya gila. Kereta perang Klan Wei berbalik arah dengan tergesa-gesa, meninggalkan alun-alun diiringi bisik-bisik cemoohan dari para pelamar lainnya.

Di sisi timur, Su Ruyan menatap kepergian kereta Klan Wei dan tubuh lumpuh Su Heng yang sedang digotong pergi oleh rombongan Paman Pertamanya. Senyum tipis yang sangat indah perlahan terukir di bibir gadis itu.

"Bukan hanya meloloskan kuota dagangku di peringkat pertama," gumam Su Ruyan pelan dengan mata berbinar tajam, "dia juga mematahkan kaki Su Heng dan memaksa Instruktur Yan menampar wajah Klan Wei. Dua puluh Batu Roh untuk menyewa harimau seperti ini... benar-benar transaksi paling menguntungkan dalam hidupku."

Satu jam kemudian, di Paviliun Samping tempat pengurusan kuota dagang di batas Gerbang Luar, suasana jauh lebih tenang.

Instruktur Yan telah kembali ke kediamannya di bagian dalam akademi setelah menyerahkan lempeng identitas murid berwarna perunggu kepada Qin Mu dan Han Lie, serta berpesan singkat agar Qin Mu datang menemuinya jika membutuhkan sesuatu.

Kini, di dalam paviliun kayu cendana yang harum, Qin Mu dan Han Lie berdiri berhadapan dengan Su Ruyan.

Qin Mu telah mengganti jubahnya yang robek dengan pakaian murid luar Akademi Kekaisaran berwarna abu-abu gelap yang bersih, meski aroma darah samar masih menempel di kulitnya. Luka di tubuhnya telah tertutup rapat berkat pemadatan tulang dari terobosan tahap Menengah Penempaan Tubuh.

Su Ruyan tidak duduk di kursinya. Gadis itu berdiri sejajar dengan mereka, lalu meletakkan dua kantung beludru di atas meja.

"Di masing-masing kantung ini terdapat tiga puluh keping Batu Roh tingkat rendah, sepuluh keping lebih banyak dari perjanjian awal kita," ucap Su Ruyan lembut sambil menatap Qin Mu. "Sepuluh keping tambahan itu adalah tanda terima kasihku karena kalian telah 'membersihkan' batu sandungan Cabang Ketiga di atas tangga tadi."

Han Lie tersenyum lebar dan langsung mengambil satu kantung tanpa sungkan. "Nona Su memang pengusaha yang tahu cara menghargai keringat orang!"

Qin Mu mengambil kantung satunya dan menyimpannya ke dalam saku jubahnya. "Transaksi selesai. Kami tidak berutang apa-apa lagi padamu, Nona Su."

"Secara kontrak ujian, memang selesai," Su Ruyan tersenyum tipis, tidak tersinggung oleh sikap dingin Qin Mu. Ia melangkah maju setengah tindak, suaranya merendah menjadi serius. "Tapi sebagai rekan dagang yang baik, aku ingin memberikan satu informasi gratis untukmu, Tuan Qin Mu."

Qin Mu mengangkat alisnya sedikit. "Katakan."

"Instruktur Yan memang telah menutup mulut Wei Canglan dari luar akademi," bisik Su Ruyan, matanya yang jernih menatap lurus ke mata Qin Mu. "Tapi kau tadi mendengar kalimat Instruktur Yan, bukan? Dia bilang Klan Wei tidak boleh menyentuhmu di luar aturan pertarungan resmi."

Qin Mu langsung menangkap maksud gadis itu. "Wei Canglan punya orang di dalam akademi."

"Lebih tepatnya, kakak sepupu kandungnya," jawab Su Ruyan tenang. "Namanya Wei Tian, seorang murid elit Gerbang Luar yang sudah berada di akademi ini selama dua tahun. Saat ini dia berada di Tahap Akhir Qi Gathering, dan merupakan salah satu pengikut dari faksi bangsawan di dalam akademi. Selama seseorang menggunakan aturan duel atau misi akademi, bahkan Instruktur Yan pun tidak bisa ikut campur setiap saat."

Su Ruyan mengeluarkan sebuah kepingan giok kecil bergambar bunga anggrek dan meletakkannya di atas meja.

"Keluarga Su memiliki paviliun dagang di jalan utama Kota Provinsi Cangzhou, tepat di luar akademi. Kau memiliki pengetahuan tentang racun dan herbal yang bahkan tabib tuaku tidak miliki," lanjut Su Ruyan. "Jika kau membutuhkan bahan ramuan langka, atau ingin menjual pil dan material hasil buruan tanpa dilacak oleh mata-mata Klan Wei, tunjukkan giok ini di paviliunku. Aku berinvestasi pada masa depanmu, Qin Mu."

Qin Mu menatap gadis berusia lima belas tahun di depannya itu selama beberapa detik. Su Ruyan tidak menawarkan belas kasihan; ia menawarkan jaringan dan perkembangan yang jelas.

Tanpa banyak bicara, Qin Mu mengambil giok anggrek tersebut dan memasukkannya ke dalam saku. "Jika aku butuh, aku akan datang."

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat ketika Qin Mu dan Han Lie melangkah melewati Gerbang Dalam menuju Lembah Murid Baru kawasan hunian berbentuk ratusan deret gubuk kayu sederhana yang dibangun di lereng gunung belakang akademi.

Karena berhasil menduduki peringkat pertama dan kedua di Tangga Penekan Tulang, Qin Mu dan Han Lie mendapatkan gubuk yang berdampingan di area lereng tengah yang memiliki kerapatan Qi alam lebih baik dibandingkan kaki lembah.

"Aku akan tidur selama sehari penuh, lalu besok aku akan melihat tempat penempaan senjata akademi!" ujar Han Lie sambil menguap lebar dan menepuk bahu Qin Mu sebelum masuk ke gubuknya sendiri. "Istirahatlah, Qin Mu. Setidaknya malam ini tidak ada yang akan membakar atap kita."

Qin Mu mengangguk pelan dan masuk ke dalam gubuk kayunya.

Ruangan itu sederhana namun bersih, hanya berisi satu ranjang kayu, meja tulis, dan sebuah bantal meditasi. Begitu menutup dan mengunci pintu kayu dari dalam, kewaspadaan Qin Mu tidak lantas mengendur. Ia memeriksa jendela, lalu duduk bersila di atas bantal meditasi.

Untuk pertama kalinya sejak malam berdarah di Desa Canglan, ia memiliki tempat bernaung yang sah. Kekayaannya kini telah bertambah menjadi lebih dari delapan puluh Batu Roh tingkat rendah, cukup untuk menopang kultivasinya selama beberapa bulan ke depan.

Namun, tepat ketika Qin Mu mengeluarkan Kantung Penyimpan Mo Tu dan Kompas Pelacak Perunggu yang ia rampas dari pengintai di atap Kota Linlang untuk memeriksanya di bawah cahaya lentera, sesuatu yang ganjil terjadi.

Kompas perunggu yang selama lima hari ini mati dan tidak bergerak sama sekali, mendadak bergetar halus di telapak tangannya.

Namun yang membuat bulu kuduk Qin Mu meremang bukanlah kompas itu, melainkan Pecahan Logam Hitam peninggalan ayahnya, Qin Long, yang terikat bersama Cincin Giok Retak di dadanya!

Kepingan logam hitam misterius yang selama empat belas tahun tidak pernah bereaksi terhadap darah maupun Qi itu tiba-tiba menjadi panas, bergetar pelan seirama dengan jarum kompas perunggu di tangannya.

Jarum kompas itu berputar perlahan, lalu berhenti mengarah lurus ke satu titik bukan ke arah luar akademi, melainkan menunjuk miring ke bawah lantai gubuknya, lurus menuju ke kedalaman perut gunung tempat Akademi Kekaisaran Tianhe berdiri!

Qin Mu mencengkeram logam hitam di dadanya dengan napas tertahan.

Ada sesuatu di bawah akademi ini yang memanggil logam milik Ayah?

Belum sempat ia menyelidiki fenomena tersebut lebih jauh, telinga tajam Qin Mu menangkap suara langkah kaki yang sangat ringan di atas rumput basah di luar gubuknya. Seseorang baru saja berhenti tepat di depan pintunya, tanpa mengeluarkan napas sedikit pun, lalu menyelipkan selembar kertas hitam melalui celah bawah pintu sebelum melesat pergi bagaikan bayangan hantu yang menyatu dengan malam.

1
ibarumbung
👍👍👍👍👍
Liang Hou
pake Sreettt aja tor kalo ranting, sring! lebih cocok suara besi 🙏
Sang_Imajinasi: siap terimakasih sarannya
total 1 replies
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!