"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. Kehancuran Rian, (Revisi)
Satu minggu itu berlalu seperti komidi putar yang rusak bagi Rian. Lambat, memuakkan, tapi dia tidak bisa turun.
Kalimat “orang murahan” yang keluar dari bibir Keysha di ruang audio tempo hari sempat membuat telinga Rian berdengung selama tiga hari penuh. Namun, cowok itu punya semacam bakat sialan: dia terlalu pandai mencari pembenaran untuk Keysha. Mungkin Keysha lagi bad mood. Mungkin Keysha cuma gengsi di depan anak-anak basket.
Maka di sinilah Rian sekarang. Berdiri di sudut aula hotel berbintang tempat pesta ulang tahun Keysha yang ke-17 digelar.
Suasana malam itu sangat glamor. Musik EDM berdentum halus dari pengeras suara, beradu dengan denting gelas kristal dan tawa anak-anak SMA Taruna Bakti yang mengenakan pakaian formal terbaik mereka. Rian merasa seperti coretan spidol hitam di atas kanvas putih. Meski sudah memakai kemeja terbaiknya—yang disetrika dengan sangat rapi hingga lipatannya kaku—dia tetap terlihat asing di antara gaun-gaun desainer ternama.
Namun, fokus Rian malam itu bukan pada kemewahan di sekelilingnya. Fokusnya ada pada paper bag kecil yang dia peluk erat di dadanya.
Di dalam kantong itu, ada sebuah syal rajutan berwarna merah marun. Rian menghabiskan waktu enam bulan untuk belajar merajut dari YouTube, hanya demi membuat syal ini. Jari-jarinya bahkan sempat kapalan dan tertusuk jarum berkali-kali. Rian tahu Keysha tidak butuh barang mahal dari dia—gadis itu bisa membeli satu toko baju jika dia mau. Jadi, Rian memilih memberikan waktu, tenaga, dan sisa kewarasannya yang dia pintal menjadi selembar benang.
"Gila, lo beneran datang?"
Suara Marvel memecah lamunan Rian. Kapten tim basket itu berjalan mendekat dengan segelas minuman di tangan, ditemani dua anteknya. Marvel malam itu terlihat sangat matang dengan setelan tuksedo kasual tanpa dasi.
Rian tidak menjawab. Dia hanya menggeser posisinya, mencoba menghindari konfrontasi.
"Gue kira lo punya harga diri yang tersisa setelah insiden macaron, Yan," sindir Marvel lagi, tersenyum meremehkan. "Tapi selera humor lo emang boleh juga. Nyali lo gede."
Tepat saat Rian hendak melangkah pergi, perhatian seluruh aula mendadak teralih. Lampu sorot utama bergerak lambat ke arah tangga besar di tengah ruangan.
Keysha Mariela turun.
Dunia Rian seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Keysha malam itu sangat cantik hingga rasanya tidak nyata. Gadis itu mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna merah pekat—warna yang sama dengan pita memori dua tahun lalu. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini digerai bergelombang, membingkai wajahnya yang angkuh namun memikat. Dia tampak seperti seorang ratu yang siap menerima sembah sujud dari rakyatnya.
Rian menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menciptakan rasa sakit yang familier di dadanya. Ini malamnya, bisik Rian dalam hati. Tepat dua tahun. Malam ini gue harus bilang.
Acara tiup lilin dan potong kue berlangsung meriah. Setelah formalitas keluarga selesai dan suasana mencair menjadi pesta dansa kasual, Rian tahu ini adalah kesempatannya sebelum Keysha dikerumuni oleh lingkaran sosialnya yang eksklusif.
Dengan keberanian yang dia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya, Rian berjalan memotong kerumunan.
"Key," panggil Rian.
Keysha, yang sedang mengobrol dengan beberapa anak cheerleader, menghentikan kalimatnya. Dia menoleh. Begitu melihat Rian, binar di matanya langsung meredup, digantikan oleh tatapan dingin yang luar biasa flat.
"Lo lagi?" desis Keysha pelan, cukup untuk membuat teman-temannya langsung diam dan menonton.
"Gue cuma minta waktu dua menit. Di teras samping," kata Rian. Suaranya tidak bergetar. Dia sudah terlalu sering ditolak untuk merasa takut di tahap ini. "Ada yang mau gue kasih ke lo."
Keysha menghela napas panjang, seolah menghadapi balita yang keras kepala. Namun, di luar dugaan, dia melangkah mendahului Rian menuju teras samping yang agak sepi. Bisik-bisik mulai menjalar di aula seperti api menyiram bensin. Anak-anak lain mulai bergeser ke dekat pintu kaca teras, bersiap menonton tontonan gratis.
Angin malam hotel menusuk kulit. Keysha berbalik, bersedekap. "Dua menit, Rian. Mulai dari sekarang."
Rian maju selangkah. Dia mengeluarkan syal rajutan merah marun itu dari dalam paper bag, lalu mengulurkannya dengan kedua tangan.
"Selamat ulang tahun yang ke-17, Keysha," ucap Rian. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu, mencari sisa-sisa kehangatan dari masa lalu yang mungkin tersembunyi. "Gue tahu ini gak sebanding sama kemewahan pesta lo. Tapi gue bikin ini sendiri. Enam bulan. Gue rajut tiap malam sambil mikirin gimana cara buat lo senyum lagi."
Keysha melirik syal itu. "Syal? Di Jakarta yang panasnya kayak neraka ini?"
"Gue tahu lo bakal kuliah ke London akhir tahun ini," balas Rian lembut. "Gue cuma pengen... syal ini bisa nemenin lo di sana. Biar lo gak kedinginan."
Rian menarik napas dalam, memantapkan hatinya untuk melompat dari tebing. "Gue suka sama lo, Key. Bukan cuma sebagai cowok yang ngejar cewek populer. Gue suka lo karena... lo adalah alasan gue tetep hidup setelah malam itu. Gue mau jadi orang yang ada di samping lo, jagain lo, kayak gimana lo pernah selamatin gue dulu."
Keheningan malam itu terasa mencekam. Di balik pintu kaca, puluhan mata menatap mereka dengan antusias. Marvel berdiri paling depan di antara kerumunan itu, tersenyum penuh arti.
Keysha terdiam sejenak. Dia menatap syal di tangan Rian, lalu menatap wajah Rian. Untuk satu detik yang menipu, Rian mengira dia melihat kilatan rasa bersalah di mata Keysha.
Namun, detik berikutnya, Keysha justru mendengus. Hidungnya berkerut geli.
Lalu, Keysha tertawa.
Suara tawa itu tidak keras, tapi rasanya lebih menyakitkan daripada tamparan di wajah. Itu adalah tawa ejekan yang murni.
"Gila ya," kata Keysha di sela tawanya, menggeleng-gelengkan kepala. "Lo beneran delusional, Rian. Lo pikir ini drama Korea? Lo pikir dengan modal benang murah dan cerita melankolis masa lalu yang bahkan gue gak ingat, lo bisa masuk ke hidup gue?"
Keysha maju satu langkah, merebut syal itu dari tangan Rian.
Rian sempat merasakan kehangatan jemari Keysha, sebelum sedetik kemudian, Keysha mencengkeram syal itu dengan kedua tangannya, dan dengan sentakan kuat, dia merobek rajutan di bagian ujungnya.
Sret!
Benang-benang yang dipintal Rian berbulan-bulan mulai terurai. Keysha menariknya lagi dengan kasar, merusak pola rajutan itu hingga menjadi gumpalan benang kusut yang tak berbentuk, lalu menjatuhkannya begitu saja ke lantai teras yang basah oleh embun.
"Gue gak butuh sampah di London, Rian. Dan gue gak butuh cowok menyedihkan kayak lo di hidup gue," kata Keysha, suaranya tajam seperti belati.
Tepat saat Rian merasa dunianya runtuh untuk kedua kali, pintu kaca teras bergeser terbuka. Marvel berjalan keluar dengan langkah santai.
Keysha tidak menoleh ke arah Rian lagi. Dia langsung memutar tubuhnya menghadap Marvel. Detik itu juga, topeng dingin di wajah Keysha mencair. Dia tersenyum sangat manis—jenis senyuman yang selama dua tahun ini hanya ada dalam mimpi buruk Rian.
Tanpa ragu, Keysha melangkah maju dan melingkarkan kedua lengannya di leher Marvel, memeluk cowok itu dengan erat di depan semua orang yang menonton dari balik kaca.
"Makasih ya udah dateng, Vel," ucap Keysha dengan nada manja yang sengaja dikeraskan, sengaja agar Rian mendengar setiap hurufnya.
Marvel membalas pelukan itu, menepuk pinggang Keysha lembut, sambil melemparkan tatapan penuh kemenangan ke arah Rian yang berdiri mematung di bawah lampu teras yang temaram.
Rian menatap ke bawah. Di sela sepatunya, syal merah marun buatan tangannya kini tampak seperti bangkai yang mati mengenaskan, perlahan terurai ditiup angin malam. Di depannya, gadis yang menjadi alasan jantungnya berdetak, sedang memeluk cowok lain dengan senyum paling bahagia di dunia.
......................
...****************...
Tbc,