Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Kesepakatan Terakhir
Pagi itu, suasana kantor Mahendra Group terlihat sibuk seperti biasanya.
Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen, beberapa kepala divisi keluar masuk ruang rapat, dan suara telepon terdengar hampir di setiap sudut lantai eksekutif.
Di balik pintu ruangannya, Adrian Mahendra sedang membaca laporan keuangan yang baru saja diserahkan oleh salah satu manajer.
Kemeja putih yang dikenakannya tampak rapi, sementara kedua matanya terus bergerak mengikuti angka-angka pada layar laptop.
Ketukan terdengar di pintu.
"Masuk."
Daniel muncul sambil membawa sebuah map hitam.
"Selamat pagi, Pak."
Adrian tidak langsung mengangkat kepala.
"Ada apa?"
"Dokumen perjanjian sudah selesai diperiksa. Saya juga sudah menghubungi Nona Alisha untuk mengatur pertemuan hari ini."
Barulah Adrian meletakkan laporan yang sedang dibacanya.
"Dia bisa datang?"
"Bisa, Pak. Beliau akan datang setelah menyelesaikan pekerjaannya."
"Baik. Atur waktunya agar tidak terlalu lama. Saya masih punya rapat siang nanti."
"Baik, Pak."
Daniel meletakkan map di atas meja.
"Satu hal lagi, Pak. Ada beberapa ketentuan yang perlu dibaca dan disepakati kembali oleh kedua belah pihak sebelum penandatanganan."
Adrian membuka map tersebut sekilas.
"Pastikan semuanya jelas. Saya tidak ingin ada masalah setelah pernikahan."
"Tentu, Pak."
"Kalau begitu, kamu bisa kembali bekerja."
Daniel mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Adrian kembali menatap layar laptopnya.
Baginya, pernikahan itu merupakan urusan yang harus diselesaikan dengan benar, sama seperti urusan perusahaan. Dia tidak ingin ada persoalan yang mengganggu pekerjaannya di kemudian hari.
Setelah dokumen selesai ditandatangani, dia berharap semuanya berjalan sesuai kesepakatan.
Tidak lebih dari itu.
---
Menjelang pukul sebelas, Alisha tiba di kantor Mahendra Group.
Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya pagi itu dan langsung berangkat setelah memastikan tidak ada tugas lain yang tertunda.
Di lobi, seorang petugas keamanan menanyakan keperluannya.
"Saya ada janji dengan Pak Daniel."
"Atas nama siapa, Bu?"
"Alisha Amanda."
Petugas itu memeriksa daftar tamu, kemudian mempersilakannya menunggu sebentar.
Tidak lama kemudian, Daniel datang menjemputnya.
"Selamat siang, Nona Alisha."
"Selamat siang, Pak."
"Mari, saya antar ke ruang pertemuan."
Alisha mengikuti Daniel menuju lift.
Ketika mereka tiba di lantai eksekutif, dia sempat melihat beberapa karyawan keluar dari sebuah ruangan sambil membicarakan pekerjaan mereka.
Segalanya terlihat teratur dan profesional.
Alisha sedikit gugup, tetapi dia berusaha tidak menunjukkannya.
Ini bukan pertama kalinya dia datang ke kantor tersebut. Meski begitu, suasananya masih terasa asing baginya.
"Pak Adrian sudah ada?" tanyanya ketika mereka berjalan melewati koridor.
"Beliau sedang menyelesaikan pekerjaan. Saya akan menghubunginya setelah kita siap."
Alisha mengangguk.
"Baik."
Daniel membawanya masuk ke ruang pertemuan kecil.
Di atas meja sudah tersedia dua salinan dokumen, beberapa lembar kertas, dan alat tulis.
"Silakan duduk, Nona."
Alisha mengambil tempat duduk di seberang Daniel.
"Terima kasih."
Daniel membuka map dan mengeluarkan dokumen yang telah dipersiapkan.
"Sebelum Pak Adrian bergabung, saya akan menjelaskan bagian-bagian yang perlu Anda periksa. Silakan baca dengan teliti. Jika ada yang kurang jelas, Anda bisa bertanya."
Alisha menerima dokumen tersebut.
Dia membaca halaman pertama dengan saksama.
Beberapa bagian berisi ketentuan administratif, sedangkan bagian lainnya menjelaskan kesepakatan yang telah mereka bicarakan sebelumnya.
Alisha tidak ingin terburu-buru memberikan tanda tangan hanya karena ingin urusannya segera selesai.
Dia membaca setiap bagian dengan hati-hati.
Setelah beberapa menit, jarinya berhenti pada salah satu ketentuan.
"Pak Daniel, saya ingin memastikan satu hal."
"Silakan, Nona."
"Setelah menikah nanti, saya tetap diperbolehkan bekerja seperti biasa, kan?"
"Tentu. Selama pekerjaan Anda tidak bertentangan dengan ketentuan yang telah disepakati, Anda tetap bisa menjalani pekerjaan Anda."
"Dan saya tidak harus berhenti bekerja hanya karena tinggal di rumah Pak Adrian?"
"Tidak ada ketentuan seperti itu dalam rancangan ini."
Alisha mengangguk pelan.
Dia merasa lebih tenang setelah mendapatkan jawaban yang jelas.
Pekerjaannya merupakan salah satu sumber penghasilan yang dia miliki. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena statusnya berubah menjadi seorang istri.
Terlebih lagi, ibunya masih membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan.
"Baik, Pak. Itu saja yang ingin saya pastikan."
Daniel mencatat sesuatu pada lembar pemeriksaannya.
"Apakah ada bagian lain yang ingin Anda tanyakan?"
Alisha kembali membaca dokumen itu.
"Untuk saat ini tidak ada."
"Baik. Kita tunggu Pak Adrian."
---
Beberapa menit kemudian, pintu ruang pertemuan terbuka.
Adrian masuk dengan membawa ponsel dan sebuah tablet.
Dia mengenakan setelan kerja berwarna gelap. Wajahnya terlihat serius seperti biasa, seolah pikirannya masih tertinggal pada pekerjaan yang baru saja ditinggalkannya.
"Maaf menunggu," katanya singkat.
Alisha menoleh.
"Tidak apa-apa, Pak."
Adrian mengambil tempat duduk di sebelah Daniel.
Dia melihat dokumen di atas meja.
"Sudah diperiksa?"
"Sudah, Pak. Nona Alisha juga telah memeriksa sebagian besar ketentuannya."
Adrian menoleh kepada Alisha.
"Ada masalah?"
"Tidak ada masalah besar. Saya hanya memastikan bahwa saya tetap bisa bekerja setelah menikah."
Adrian mengangguk tanpa menunjukkan keberatan.
"Silakan lanjutkan pekerjaanmu seperti biasa. Saya tidak punya alasan untuk melarangnya."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Alisha, kejelasan tersebut cukup berarti.
"Baik. Terima kasih."
Adrian kembali menghadap Daniel.
"Apa lagi yang perlu diselesaikan?"
Daniel menjelaskan beberapa bagian terakhir dari dokumen tersebut, termasuk prosedur administrasi dan jadwal yang harus mereka ikuti.
Adrian mendengarkan sambil sesekali memeriksa halaman yang dimaksud.
Tidak ada percakapan pribadi di antara dirinya dan Alisha.
Mereka hanya berbicara ketika ada hal yang perlu dikonfirmasi.
Setelah penjelasan selesai, Daniel menggeser dokumen ke tengah meja.
"Kalau kedua pihak sudah memahami seluruh ketentuannya, kita bisa melanjutkan ke tahap berikutnya sesuai prosedur."
Adrian mengambil salinan dokumennya.
"Saya sudah membacanya."
Dia membubuhkan tanda tangan pada bagian yang telah disediakan.
Setelah itu, dia meletakkan pena dan mendorong dokumen tersebut ke arah Alisha.
Alisha tidak langsung mengambil pena.
Dia kembali membaca bagian terakhir, memastikan tidak ada ketentuan yang terlewat.
Adrian melirik jam tangannya.
"Saya ada rapat sebentar lagi," katanya.
Alisha mengangkat wajah.
"Kalau begitu, saya bisa menyelesaikannya setelah membaca semuanya."
Adrian menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk.
"Silakan. Saya tidak meminta kamu menandatangani sesuatu yang belum kamu pahami."
Setelah mengatakan itu, Adrian berdiri.
"Daniel, selesaikan administrasinya setelah semuanya lengkap."
"Baik, Pak."
Adrian kemudian meninggalkan ruang pertemuan.
Tidak ada ucapan tambahan kepada Alisha. Dia kembali menuju ruangannya karena rapat yang dijadwalkan tidak lama lagi akan dimulai.
Alisha memperhatikan pintu yang tertutup, lalu menunduk kembali pada dokumennya.
Sikap Adrian memang dingin dan terkesan tidak tertarik dengan urusan pernikahan mereka.
Namun, setidaknya dia tidak memaksa Alisha mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Bagi Alisha, itu sudah cukup.
Setelah memastikan seluruh ketentuan yang dibicarakan sesuai dengan pemahamannya, dia menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Daniel memeriksa kembali dokumen tersebut.
"Terima kasih, Nona Alisha. Saya akan memastikan semua berkas tersimpan dengan benar."
"Sama-sama, Pak."
"Untuk persiapan berikutnya, saya akan menghubungi Anda kembali."
Alisha mengangguk.
Setelah berpamitan, dia meninggalkan ruang pertemuan.
Hari itu, satu urusan penting telah selesai.
Namun, semakin banyak hal yang diselesaikan, semakin dekat pula hari yang akan mengubah status kehidupannya.
---
Sore harinya, Alisha kembali ke rumah sakit.
Dia membeli makanan untuk dirinya sendiri sebelum masuk ke kamar rawat ibunya.
Ratih sedang duduk bersandar di ranjang ketika Alisha tiba.
"Kamu baru datang, Nak?"
"Iya, Bu. Tadi ada urusan yang harus diselesaikan."
Alisha meletakkan tasnya di kursi, lalu mendekati ranjang.
"Bagaimana keadaan Ibu?"
"Baik. Dokter bilang Ibu harus tetap banyak beristirahat."
Alisha tersenyum kecil.
"Bagus, kalau begitu. Ibu harus mengikuti semua anjuran dokter."
Ratih memperhatikan putrinya yang mulai merapikan barang-barang di meja kecil.
"Alisha."
"Hm?"
"Kamu sudah benar-benar memikirkan keputusanmu?"
Gerakan Alisha terhenti.
Dia tahu ibunya masih menyimpan kekhawatiran yang sama.
"Iya, Bu."
"Kamu tidak perlu melakukan semuanya sendirian hanya demi Ibu."
Alisha mendekati ranjang dan duduk di sampingnya.
"Alisha tahu, Bu. Tapi Alisha juga ingin membantu Ibu."
Ratih menggenggam tangan putrinya.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia."
Alisha tersenyum tipis meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Aku akan berusaha, Bu."
Dia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai kesepakatan pernikahannya dengan Adrian.
Bukan karena ingin berbohong kepada ibunya, melainkan karena dia sendiri belum tahu bagaimana kehidupan mereka setelah menikah nanti.
Dia hanya bisa memastikan bahwa dirinya akan tetap berusaha menjalani kehidupan dengan baik.
Dan untuk sekarang, itu satu-satunya hal yang bisa dia janjikan.
---
Malam semakin larut ketika Adrian akhirnya meninggalkan kantor.
Sepanjang perjalanan pulang, dia menerima beberapa pesan dari Daniel mengenai pekerjaan dan jadwal untuk hari berikutnya.
Dia membalas pesan yang berkaitan dengan perusahaan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Pernikahannya tinggal menunggu waktu.
Tetapi Adrian tidak merasa perlu membicarakannya dengan siapa pun malam itu.
Sesampainya di rumah, dia langsung menuju ruang kerja untuk memeriksa beberapa berkas yang dibawa pulang.
Rumah itu masih terasa sama seperti biasanya.
Tenang, luas, dan tidak banyak berubah.
Adrian duduk di kursinya, membuka laptop, lalu kembali bekerja.
Sementara itu, di rumah sakit, Alisha sedang membantu ibunya bersiap untuk tidur.
Dua kehidupan yang berbeda itu masih berjalan dengan kesibukannya masing-masing.
Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan mereka setelah resmi menikah nanti.
Tidak ada pula yang tahu apakah kesepakatan yang mereka buat akan tetap berjalan tanpa masalah.
Untuk sekarang, Adrian hanya ingin mempertahankan pekerjaannya.
Alisha hanya ingin membantu ibunya pulih.
Dan pernikahan yang semakin dekat itu akan menjadi awal dari sebuah hubungan yang belum mereka pahami sepenuhnya.