NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan dalam Kegelapan

Gelap total. Bau kabel gosong merayap dari saluran pendingin yang mati, bercampur dengan aroma antiseptik.

Alyssa merunduk di samping ranjang, menggenggam tangan Devan erat-erat. Hanya satu lampu kecil di baterai ventilator yang masih menyala, membiaskan bayangan tiga siluet yang bergerak cepat ke arahnya.

"Target di ranjang," suara rendah salah satu penyusup. "Matikan mesinnya."

Alyssa tidak berpikir. Tangannya menyambar tiang infus besi di sisi ranjang dan mengayunkannya sekuat tenaga ke arah bayangan terdepan.

Brak.

Besi itu menghantam dada pria itu. Ia terjungkal ke troli obat dengan dentuman keras.

"Dia melawan!" Penyusup kedua mengeluarkan pisau lipat dari jaketnya.

Pisau itu belum sempat terayun ketika pintu kaca ditendang dari luar. Berkas senter taktis memotong kegelapan. Vito masuk bersama dua pengawal A-K Capital, senjata terangkat.

"Tiarap! Sekarang!"

Satu tembakan peringatan menghantam plafon. Gema memekakkan di ruangan tertutup. Penyusup ketiga mencoba melompati troli untuk kabur lewat pintu darurat, tapi satu pengawal menerjangnya lebih dulu.

Perkelahian itu singkat. Vito membanting penyusup berpisau ke lantai dan mengikat pergelangan tangannya dengan kabel nilon.

"Lantai lima aman!" serunya ke mikrofon di kerah. "Kunci semua akses!"

***

Lima menit kemudian, lampu darurat kuning berkedip di sepanjang koridor. Polisi menyeret tiga penyusup keluar. Salah satu dari mereka sempat menoleh ke arah Alyssa, dan matanya kosong, seperti orang yang bekerja untuk upah, bukan dendam.

Alyssa membuang tiang infus yang masih ia pegang dan bergegas ke sisi Devan.

Napas Devan tersengal. Ventilator berjalan dengan baterai cadangan, bunyi peringatan daya lemah terdengar berulang. Dokter Arman berlari masuk bersama dua perawat. Ia melepas selang ventilator dari mesin dan memompa kantong udara dengan tangan.

"Saturasi tujuh puluh lima! Tekanannya naik karena guncangan!" katanya. "Kita butuh listrik utama, secepatnya!"

Dua menit kemudian lampu menyala. Monitor berkedip hidup satu per satu, dan angka saturasi merangkak naik. Dokter Arman mengembalikan selang ke mesin. Bahunya turun sedikit.

Pintu terbuka lagi. Gustaf Lindqvist melangkah masuk dengan dua pendamping, wajahnya kaku melihat kekacauan di ruangan.

"Apa yang terjadi di sini?"

Alyssa menegakkan tubuh. Ia berbalik menatapnya, dan tidak ada getaran di suaranya.

"Seseorang baru saja mencoba membunuh salah satu ahli waris yang Anda datang untuk memverifikasi, Tuan Lindqvist. Di lantai yang katanya Anda awasi."

Gustaf terdiam sejenak. "Saya akan mengajukan protes resmi kepada kepolisian." Ia merapikan jasnya. "Tapi akta tidak berubah, Nona Mahendra. Tenggatnya masih berjalan."

Alyssa menoleh ke ranjang. Mata Devan terbuka sedikit, menatapnya.

***

"Dokter," kata Alyssa pelan. "Apakah ada cara supaya Devan bisa bicara satu kalimat?"

Dokter Arman menggeleng, lalu berhenti. Ia mengamati layar EEG yang kini jauh lebih hidup dari beberapa jam lalu.

"Secara teknis, saya bisa melepas selang pernapasannya sementara, dua menit, mungkin tiga. Dia bisa bicara selagi saturasinya terjaga. Tapi risikonya besar. Kalau napasnya gagal, kami harus memasang ulang selang saat itu juga."

"Apa pun yang kamu putuskan, Alyssa," ujar Aris di belakangnya. "Kami akan dampingi."

Alyssa menunduk di dekat telinga Devan. "Kalau kamu bisa, remas tanganku."

Jemari Devan meremas balik. Lemah, tapi jelas.

Dokter Arman menarik napas dalam. "Siapkan peralatan intubasi ulang. Saya lepas selangnya sekarang."

Selang itu ditarik perlahan. Devan terbatuk, dadanya terangkat tidak beraturan, wajahnya menegang. Dokter Arman menempelkan masker oksigen ke wajahnya dan menunggu beberapa tarikan napas.

Asisten Gustaf maju membawa koper perak. Sinar biru dari lensa pemindai berputar pelan di mata kanan Devan.

Layar menyala hijau. Verifikasi retina: terkonfirmasi. Devan Narendra Pratama.

"Sekarang kalimat konfirmasi," kata Gustaf, menyodorkan mikrofon. "Sesuai akta dua ribu enam."

Devan memejamkan mata. Tangannya meremas tangan Alyssa lebih erat. Napasnya patah-patah, tapi saat matanya terbuka lagi, ada sesuatu di sana yang tidak pernah Alyssa lihat selama tiga tahun pernikahan mereka: tidak ada kesombongan, tidak ada jarak.

"Saya... Devan Narendra Pratama," suaranya parau, hampir hilang. "Ahli waris... wali amanat Narendra dan Mahendra. Saya hadir... dan saya menyetujui... pencairan dana... untuk Panti Kasih Bunda."

Bip. Bip. Bip.

Cahaya hijau menyala di layar koper. Notifikasi masuk ke tablet Gustaf. *Konfirmasi ahli waris pertama: berhasil.*

"Sekarang Nona Mahendra," kata Gustaf.

Alyssa maju. Lensa biru menyapu matanya, dan ia mengucapkan kalimat yang sama dengan suara tegas tanpa getar. Layar menyala hijau sekali lagi.

Konfirmasi dua ahli waris: lengkap. Dana wali amanat resmi aktif.

Gustaf menatap tabletnya. Untuk sesaat, ketenangan yang terlatih di wajahnya retak, dan sesuatu seperti kecewa terlintas, terlalu cepat untuk disimpulkan.

"Proses otentikasi selesai," katanya dingin, menutup koper. "Dokumen resmi akan dikirim ke kantor Anda."

Ia membungkuk singkat dan berjalan keluar dengan Aris yang mengikuti untuk menandatangani berkas.

***

Pintu menutup. Di ruangan itu tinggal Alyssa, Dokter Arman, dan Devan, yang matanya mulai terpejam lagi.

"Sudah," kata Dokter Arman. "Saya pasang kembali sekarang, sebelum saturasinya jatuh."

"Tunggu." Devan membuka mata sedikit. Bibirnya bergerak, nyaris tanpa suara.

Alyssa mencondongkan tubuh, telinganya hampir menyentuh bibir Devan.

"Ibu... tidak sendiri," bisiknya, serak seperti kertas kering. "Ada... yang mengatur."

"Siapa?" Alyssa menahan napas. "Devan, siapa?"

Tapi kelopak mata itu sudah jatuh. Tangannya mengendur. Dokter Arman sudah bergerak, dan selang pernapasan itu kembali masuk ke tenggorokan Devan dalam hitungan detik. Monitor stabil kembali.

Alyssa berdiri di sisi ranjang, dengan satu kalimat berputar di kepalanya.

Ada yang mengatur.

***

Pukul enam pagi, fajar merah tipis menyentuh dinding kaca lantai lima.

Alyssa duduk di kursi plastik di samping ranjang. Blazernya belum diganti, dan noda racun serta darah Devan mengering di lengannya. Tangannya masih menggenggam jemari yang dingin itu.

Dokter Arman membawa laporan EEG terbaru. "Responsnya melebihi perkiraan kami. Beliau masih koma, tapi sekarang tingkat sedang, bukan dalam lagi. Kalau terus membaik, kemungkinan sadar permanen dalam beberapa hari cukup tinggi."

Alyssa memejamkan mata. Kelegaan mengalir pelan di dadanya, hangat dan melelahkan sekaligus.

"Terima kasih, Dokter."

Setelah Dokter Arman keluar, Alyssa menempelkan punggung tangan Devan ke pipinya. Ibu jarinya menyentuh pergelangan kirinya sendiri, gelang berukir daun itu, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah ia sadari.

"Panti selamat," bisiknya. "Kamu dengar? Anak-anak itu aman. Kamu yang melakukannya."

Pintu terbuka pelan. Vito masuk dengan tablet di tangan, wajahnya kembali dingin seperti beberapa jam lalu. Ia memastikan pintu tertutup sebelum bicara.

"Tim forensik selesai di lantai lima puluh, Nona."

Alyssa berdiri. "Dan?"

"Mereka menemukan penyadap relai kecil di bawah meja kerja Anda. Dipasang rapi, tersambung langsung ke sistem komunikasi gedung. Itu yang dipakai untuk mengarahkan Sarah malam tadi." Vito berhenti sebentar. "Kami melacak log aksesnya. Kartu akses lantai lima puluh yang membuka pintu itu adalah salinan dari kartu Anda sendiri. Dibuat dari data master yang diperbarui tiga hari lalu."

"Siapa yang bisa memperbarui data master?"

Vito memutar tablet ke arahnya. Di layar, satu baris log administrator bersinar di antara deretan angka.

Akun admin sistem: B.M.

Alyssa menatap dua huruf itu. Ruangan seperti kehilangan udara.

B.M.

Ibu jarinya berhenti di atas gelang di pergelangannya.

.....

.....

Bersambung.

1
Sri Hartati Sinaga
singkat...padat
falea sezi
uda end kah
Kriii: udahh end kakk🙏, belum ada ide untuk ngelanjutin🤭
total 2 replies
falea sezi
🤣biar mati aja nenek sihir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!