sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Harga Sebuah Tanda Tangan
Pulpen di tangan Sari terasa beratnya seperti batu karang.
Di depannya, Lina menyodorkan kertas fotokopian surat tanah itu di atas punggung Kevin yang digendongnya. Kevin, bayi sempurna itu, tertidur pulas, tidak tahu bahwa ibunya sedang memeras seorang perempuan yang baru melahirkan.
Di belakang Lina, pintu IGD terbuka. Perawat mendorong brankar Johan yang sudah tidak sadarkan diri, wajahnya pucat, selang infus sudah terpasang, tapi darah di pelipisnya masih merembes.
"Bu, cepat! Pasien harus segera CT Scan! Pendarahannya makin banyak! Kalau tidak sekarang, bisa koma permanen!" teriak perawat itu pada Sari.
"2,5 juta dulu, Bu! Kasir tunggu!" teriak perawat lain dari loket.
Lina tersenyum tipis, senyum menang. "Tanda tangan di sini, Sari. Di bawah sini. Tulis: Saya setuju menjual tanah saya kepada Lina seharga 50 juta. Tanda tangan, uang CT Scan langsung aku bayar. Johan selamat."
Sari menatap kertas itu. Tulisan tangan Lina yang meniru tulisan Sari di atas materai palsu. Tanah 2 hektar ladang garam itu adalah satu-satunya peninggalan bapaknya. Di tanah itu ada kuburan bapak dan mamanya. Di tanah itu ada gubuk tempat ia dilahirkan. Di tanah itu ia berencana membesarkan Bintang, meskipun miskin.
Kalau ia tanda tangan, ia dan Bintang tidak punya apa-apa lagi. Mereka benar-benar menjadi pengemis di desa sendiri.
Tapi kalau ia tidak tanda tangan, Johan mati. Dan jika Johan mati, tidak ada tanda tangan untuk operasi gratis kaki Bintang. Bintang akan cacat selamanya. Bintang akan memikul garam dengan kaki bengkok seumur hidupnya, dihina seumur hidupnya.
Air mata Sari jatuh menetes ke atas kertas fotokopian itu, membuat tintanya luntur sedikit.
Ia ingat wajah Bintang pagi tadi. Kaki kecilnya yang bengkok, tangannya yang terkepal, tapi matanya yang mencari wajah ibunya.
Ia ingat janji yang ia ucapkan di gubuk bocor saat badai, saat melahirkan sendirian: "Ibu tidak akan hilang seperti bapakmu. Ibu janji."
Janji seorang ibu bukan janji untuk memberi rumah mewah. Janji seorang ibu adalah janji untuk memberi masa depan, meskipun ibunya sendiri harus tidak punya masa depan.
Sari menarik napas panjang. Dengan tangan yang masih berlumuran darah kering Johan, ia menempelkan pulpen itu ke kertas.
Tangannya gemetar hebat.
Ia menulis.
Bukan tanda tangan.
Ia menulis kalimat lain di bawah kertas fotokopian Lina, dengan huruf besar-besar yang berantakan karena gemetar.
*SAYA TIDAK JUAL TANAH SAYA. SAYA SUMBANGKAN DARAH SAYA UNTUK SUAMI SAYA. AMBIL DARAH SAYA.*
Semua orang yang ada di IGD itu terdiam.
Lina mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?!"
Sari berdiri, mengembalikan pulpen itu ke Lina, dan berjalan ke arah perawat IGD.
"Dok, ambil darah saya," kata Sari pada dokter UGD, suaranya tegas. "Saya istri dia. Darah saya sama, O. Tadi di Puskesmas Mama Leni bilang darah saya O. Ambil darah saya untuk Johan. Jangan pakai uang perempuan itu. Saya tidak jual tanah saya. Tapi saya kasih darah saya. Darah saya gratis."
Dokter UGD itu kaget, lalu langsung memeriksa. "Bu, Ibu baru melahirkan tadi malam! Ibu pendarahan sendiri! Ibu tidak bisa donor!"
"BISA!" bentak Sari, pertama kalinya ia membentak seorang dokter. "Kalau saya tidak donor, suami saya mati! Kalau suami saya mati, anak saya cacat selamanya! AMBIL DARAH SAYA, DOK!"
Ruangan IGD itu sunyi. Bahkan pasien-pasien lain yang sedang diinfus menatap Sari.
Dokter itu akhirnya luluh melihat mata Sari. Mata seorang ibu yang sudah tidak punya apa-apa lagi selain tubuhnya sendiri untuk ditukar demi anaknya.
"Oke, Bu. Kita coba ambil 250 cc saja. Kalau Ibu pingsan, kita stop."
Sari langsung berbaring di brankar sebelah Johan. Selang transfusi dipasang. Darah merah segar Sari, darah seorang ibu yang baru melahirkan, yang seharusnya untuk memulihkan tubuhnya sendiri, kini mengalir pelan-pelan masuk ke tubuh Johan, suami yang mengkhianatinya, yang mau menjual tanahnya.
Lina yang melihat itu, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Rencananya gagal. Ia tidak dapat tanah.
"Dasar bodoh! Mati saja kalian berdua!" teriak Lina, lalu pergi lagi dengan Kevin, meninggalkan RSUD.
Satu jam kemudian, CT Scan selesai. Dokter keluar dengan wajah lega.
"Pendarahan berhenti! Donor darah istrinya berhasil! Pasien selamat, tapi masih koma. Butuh 2 hari untuk sadar."
Sari yang juga pucat karena baru donor 250 cc setelah melahirkan dan pendarahan, tersenyum lemah di brankar sebelah. Ia berhasil. Johan selamat.
Tapi perjuangannya belum selesai.
Ia dengan sisa tenaga menarik lengan dokter UGD itu.
"Dok... tolong... satu lagi... anak saya... Bintang... di Puskesmas Kolorai... butuh tanda tangan ayahnya... untuk operasi gratis..."
Dokter itu mengerti. Ia mengambil kertas persetujuan operasi dari Yayasan Senyum Anak Sumba yang tadi pagi dikirim Dokter Anya lewat WA. Kertas yang butuh tanda tangan Ayah Kandung.
Dokter itu mendekati Johan yang masih koma, memegang tangan Johan yang lemah, yang masih ada bercak darah Sari di tangannya.
"Pak Johan, kalau Bapak dengar saya, ini untuk anak Bapak, Bintang. Bapak harus tanda tangan."
Tentu saja Johan yang koma tidak bisa tanda tangan.
Dokter itu menatap Sari. "Bu, secara hukum, cap jempol juga bisa kalau pasien koma, disaksikan istri sah. Tapi harus ada KTP suami."
Sari merogoh saku jaket Johan yang tadi ia bawa. KTP Johan ada di sana.
Dengan tangan Johan yang masih koma, dokter itu menempelkan ibu jari Johan ke tinta, lalu menempelkannya ke kertas persetujuan operasi Bintang di atas materai.
*JEMPOL DARAH.*
Cap jempol Johan, dengan sedikit darah Sari yang masih menempel di jarinya, tercetak jelas di kertas itu.
Sah.
Sari memegang kertas itu seperti memegang emas. Kertas itu adalah kaki baru untuk Bintang.
Ia langsung menelepon Dokter Anya dengan HP perawat. "Dok! Dok! Saya dapat tanda tangannya! Cap jempol darah! Johan selamat! Tolong bawa Bintang ke sini sekarang! Pakai ambulans!"
Dokter Anya di seberang sana menangis mendengarnya. "Sari! Kamu luar biasa! Saya langsung bawa Bintang ke Waingapu sekarang juga! Bertahan ya! 3 jam lagi kami sampai!"
Sari terduduk lemas di lantai IGD RSUD Waingapu, memegang kertas cap jempol darah itu di dadanya. Di brankar sebelah, Johan masih koma. Di Puskesmas 3 jam jauhnya, Bintang sedang demam dan menunggu.
Ia telah memberikan darahnya untuk menyelamatkan pengkhianatnya, demi menyelamatkan masa depan anak cacatnya.
Ia pikir perjuangannya selesai hari itu.
Ia tidak tahu, 3 jam kemudian, saat ambulans Puskesmas yang membawa Bintang melaju kencang di tengah kegelapan padang sabana menuju Waingapu, ambulans itu akan dihadang di tengah jalan.
Bukan oleh warga. Bukan oleh Lina.
Tapi oleh sebuah mobil polisi.
Dan dari mobil polisi itu, turun seorang polisi yang membawa surat penangkapan atas nama Sari, dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap suaminya sendiri, Johan, yang dilaporkan oleh Lina satu jam yang lalu.