NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka yang Namanya pernikahan

Sebelum otak Naya sempat mencerna rasa terkejutnya, pria di sampingnya mulai mengucapkan kalimat ijab kabul dengan suara yang sangat tegas, berat, dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Saya terima Nikah dan kawinnya Kania Putri binti Rahmad dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

"Bagaimana Para Saksi? Sah?"

"SAH!"

Gema kata SAH' menyambar ke seluruh penjuru ruangan, disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu undangan dan keluarga. Namun bagi Naya, dunia di sekitarnya seketika berhenti berputar. Udara di dalam paru-parunya seolah disedot habis. Statusnya baru saja berubah dalam waktu kurang dari lima menit. Ia kini resmi menjadi istri sah dari seorang pria.

"Silakan pengantin wanita mencium tangan suaminya sebagai tanda bakti," pimpin penghulu dengan senyum ramah.

Dengan jemari yang bergetar hebat sampai nyaris hilang kendali, Naya perlahan mengulurkan tangannya menuju tangan pria itu.

Pria itu menyerahkan punggung tangannya tanpa gairah, sangat kaku. Saat kulit tangan mereka bersentuhan, rasa hangat terhantar ke kulit Naya, namun genggaman jemari pria itu terasa sangat dingin dan penuh dominasi.

Naya membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya untuk menempelkan dahi dan bibirnya ke punggung tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya.

Pada detik itulah, sebuah aroma khas menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Naya.

Wewangian maskulin yang sangat spesifik—perpaduan antara sandalwood yang hangat, kayu cedar, dan sentuhan citrus tajam yang sangat elegan. Itu bukan aroma parfum pasaran yang bisa ditemukan di toko biasa. Itu adalah aroma parfum mewah rakitan khusus yang pernah dihirup Naya setiap hari selama dua tahun terakhir.

Aroma parfum yang selalu meninggalkan jejak ketakutan di koridor lantai teratas kantor Mahendra Group.

Aroma milik bos iblis yang paling ia benci di muka bumi.

Naya menahan napasnya secara mendadak. Tubuhnya kaku dalam posisi membungkuk. Tidak. Ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk!

Dengan sisa keberanian yang ada, Naya perlahan menegakkan tubuhnya dan mendongakkan kepala di balik lapisan kain veil putih yang menutupi wajahnya.

Pada saat yang bersamaan, pria di sampingnya perlahan menolehkan kepalanya, memiringkan wajahnya untuk menatap wanita yang baru saja ia nikahi.

Mata mereka beradu secara langsung.

Dari balik keremangan kain tipis itu, Naya bisa melihat dengan sangat jelas garis rahang yang tegas, hidung mancung yang simetris, dan sepasang mata elang yang sangat tajam, dingin, serta dipenuhi keangkuhan tanpa batas.

Pria di hadapannya ... pria yang baru saja mengucapkan janji suci dan menjadi suami sahnya ... memang benar-benar Raka Mahendra.

CEO Mahendra Group. Bos muda bertangan dingin yang dikenal tidak punya belas kasihan. Pria yang baru saja memecat Naya secara brutal di depan puluhan karyawan di ruang rapat utama hanya karena kesalahan ketik kecil pada dokumen presentasi tajam saat menangkap raut wajah di balik kain penutup itu. Sebagai seorang pria dengan pengamatan yang sangat tajam, Raka dengan cepat menyadari keanehan dari ekspresi pengantin wanitanya. Ada keterkejutan yang teramat sangat, kepanikan, dan rasa benci yang murni memancar dari sepasang mata Naya.

Raka memiringkan tubuhnya mendekati Naya. Suasana riuh para tamu yang sedang berfoto tidak menghalangi jarak mereka yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter.

Raka mendekatkan bibirnya ke telinga Naya yang terbungkus hijab dan kain gaun, lalu berbisik dengan suara berat yang teramat dingin dan penuh penekanan:

"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu pikir kamu sedang berada di acara pernikahan impianmu, gadis ceroboh?"

Naya menghentikan napasnya. Suara itu ... nada bicara yang meremehkan itu ... tidak salah lagi. Pria yang paling ia benci di dunia ini kini telah sah menjadi suaminya. Dan Naya tahu, neraka dalam hidupnya baru saja dimulai.

Naya masih menatap pria di sampingnya dengan pandangan tidak percaya. Rasanya, jika seseorang mengatakan bahwa hari ini ia akan menikah dengan Raka Mahendra, CEO paling menyebalkan di muka bumi, Naya pasti akan tertawa terbahak-bahak sebelum menyuruh orang itu memeriksakan kesehatan mentalnya.

Namun, kenyataan di hadapannya sungguh tidak masuk akal.

Pria itu benar-benar Raka Mahendra. Bos yang telah memecatnya dengan kejam beberapa hari lalu. Bos yang bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan kesalahan kecil dalam dokumen presentasi. Dan sekarang, pria itu justru menjadi suaminya!

Ya Tuhan, dosa apa yang sudah kulakukan sampai harus menerima cobaan seberat ini?

"Kamu masih mau menatapku seperti itu sampai kapan?" bisik Raka, menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. "Jangan bilang kamu baru menyadari siapa pria yang menikahimu."

Naya mengepalkan jemarinya di atas pangkuan. "Kalau saya tahu dari awal bahwa pria yang akan menikahi saya adalah Anda, saya lebih memilih kabur lewat jendela daripada duduk di sini!"

Raka mengangkat sebelah alisnya.

"Oh, ternyata pengantin wanitaku bisa bicara juga. Kukira kamu akan pingsan karena terlalu bahagia."

"Bahagia?" Naya nyaris mendelik. Ia buru-buru menundukkan wajah ketika menyadari beberapa tamu sedang mengarahkan kamera ke arah mereka. "Jangan terlalu percaya diri, Pak Raka. Kalau bukan karena keadaan yang memaksa, saya bahkan tidak sudi berdiri satu ruangan dengan Anda!"

Raka terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar begitu tenang, seolah ia baru saja mendengar lelucon paling menghibur hari itu.

"Sayangnya, sekarang kamu bukan lagi karyawan yang bisa kupecat sesuka hati."

Naya menoleh tajam. "Memangnya Anda pikir saya senang menjadi istri Anda?"

"Entahlah." Raka meliriknya sekilas. "Kamu yang sejak tadi terus memperhatikanku."

"ASTAGA!"

Naya hampir saja berseru keras. Untungnya, ia segera menutup mulut dan kembali tersenyum kaku ketika seorang kerabat mendekat untuk memberikan ucapan selamat.

Dari kejauhan, keduanya justru terlihat seperti pasangan pengantin yang sedang bertukar bisikan mesra. Raka bahkan sempat membetulkan ujung veil Naya dengan gerakan perlahan, sementara Naya tersenyum tipis demi menjaga penampilan di depan para tamu.

Padahal, di balik senyum itu, keduanya sedang berperang.

"Jangan menyentuh saya sembarangan!" desis Naya ketika tangan Raka kembali menyentuh bahunya.

Raka mencondongkan tubuhnya, mempertahankan senyum ramah yang dipamerkannya kepada para tamu.

"Kurasa kamu perlu belajar memahami situasi, Naya. Kita baru saja menikah. Kalau kamu terus memasang wajah seperti orang yang menghadiri pemakaman, semua orang akan bertanya-tanya."

"Kalau begitu, berhentilah membuat saya ingin menangis!"

"Menangis? Silakan. Aku tidak menyediakan tisu."

Naya menatapnya dengan mata membelalak.

Laki-laki tidak berperasaan! Bahkan setelah menikah pun mulutnya masih sama tajamnya dengan pisau!

"Tenang, Sayang," bisik Raka tiba-tiba, sengaja menekankan kata terakhir dengan nada mengejek. "Jangan sampai orang-orang tahu bahwa istri baruku ternyata tidak menyukaiku."

Naya langsung menegang mendengar panggilan itu.

"Jangan panggil saya sayang!"

"Memangnya aku harus memanggilmu apa?

Naya menggigit bibir bagian dalam, berusaha keras menahan diri agar tidak mencubit lengan pria itu.

"Terserah, toh sudah nikah juga ."

Senyum Raka semakin lebar.

"Bagus. Berarti setelah ini kamu bisa belajar menjadi istri yang baik."

"Dan Anda bisa belajar menjadi manusia yang baik!"

Keduanya saling menatap tajam. Namun, karena posisi wajah mereka begitu dekat dan senyum yang terus dipertahankan di depan tamu, perdebatan itu justru terlihat seperti percakapan romantis sepasang pengantin baru.

Pak penghulu yang masih duduk tidak jauh dari mereka akhirnya terkekeh sambil menggelengkan kepala.

"Wah, wah, pengantinnya mesra sekali. Dari tadi berbisik terus. Mas Raka, Mbak Naya, sabar, ya. Masih ada banyak waktu untuk berduaan setelah acara selesai."

Beberapa tamu langsung tertawa kecil. Bahkan seorang kerabat perempuan yang berdiri di dekat mereka ikut menggoda.

"Benar sekali! Pengantin baru memang biasanya begitu. Sampai lupa kalau masih banyak tamu!"

Wajah Naya seketika memanas di balik veil.

Sementara itu, Raka justru terlihat begitu santai. Ia bahkan mengangguk sopan kepada Pak penghulu.

"Baik, Pak. Mohon doanya agar rumah tangga kami langgeng."

Naya nyaris tersedak mendengar jawaban itu.

("Rumah tangga langgeng? Dengan pria seperti ini? Lebih baik saya memelihara buaya!")

Raka meliriknya dari sudut mata, seolah bisa membaca isi pikirannya.

"Ada yang ingin kamu sampaikan, Sayang?"

Naya tersenyum manis dengan rahang mengeras.

"Ada. Saya berharap Anda segera tersedak oleh ucapan Anda sendiri."

Raka menahan tawa. "Romantis sekali."

"Anda memang menyebalkan!"

"Terima kasih. Aku menganggapnya sebagai pujian."

Sebelum Naya sempat membalas, penghulu kembali mempersilakan keduanya berdiri untuk melanjutkan rangkaian acara setelah akad nikah. Raka bangkit lebih dahulu, kemudian mengulurkan tangan kepada Naya.

Naya menatap tangan itu seakan sedang melihat seekor ular berbisa.

Namun, puluhan pasang mata sedang memperhatikan mereka. Dengan terpaksa, ia menyambut uluran tangan suaminya.

Raka menggenggam tangannya erat, lalu membantunya berdiri.

"Jangan berpikir untuk kabur," bisiknya tanpa mengubah senyum.

Naya membalas genggaman itu dengan tekanan yang cukup kuat hingga Raka sedikit mengernyit.

"Jangan berpikir saya akan diam saja menghadapi Anda."

"Bagus. Aku suka istri yang berani."

"Sayangnya, saya tidak suka suami yang menyebalkan."

"Kalau begitu, kita impas."

Naya menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh kesabarannya yang tersisa.

Akad telah selesai. Para saksi sudah menyatakan sah, penghulu telah memberikan nasihat pernikahan, dan para tamu sibuk mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru.

Di mata semua orang, Naya dan Raka tampak serasi. Sang pengantin pria yang tampan dan berwibawa menggenggam tangan istrinya dengan penuh keyakinan.

Namun, hanya Naya yang mengetahui kenyataan pahit di balik semua itu.

Ia baru saja menikah dengan pria yang paling dibencinya.

Dan melihat senyum tipis Raka yang seolah menyimpan seribu rencana, Naya mulai merasa bahwa pernikahan ini bukanlah akhir dari masalahnya.

Justru sebaliknya.

Pernikahan ini mungkin akan menjadi awal dari perang paling melelahkan dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!