Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
"Udahlah, Karin, Mbak Siska. Kalau mau jalan duluan ya tinggal jalan aja, kan jalannya udah dikasih. Lagian mending naik motor butut daripada harus jalan kaki." cetus Aira. Jujur, dadanya udah sesak setengah mati menahan gedek sama tingkah adik dan kakaknya sendiri.
Ingin rasanya Aira menyemburkan makian paling pedas ke muka mereka. Tapi ya sudahlah, Aira memilih mengalah. Toh, mau sejelas apa pun kesalahannya, Bu Ismi pasti bakal membela dua anak kesayangannya itu. Selalu.
"Dih, ogah banget ya gue naik motor butut begitu. Nggak level!" ledek Karin tajam, lalu tanpa rasa salah langsung menancap gas.
Begitu Karin dan Siska melaju pergi, Devan menoleh ke Aira. "Di sekitar sini ada tukang urut nggak?"
"Ada, Mas. Dekat kok dari sini, nanti aku tunjukin." sahut Aira. Devan cuma mengangguk pelan.
Baru juga Aira mau naik ke boncengan Devan, mendadak beberapa tetangga yang lagi nongkrong langsung pasang mata tajam. Tanpa aba-aba, cemoohan langsung menyengat telinga.
"Eh, liat tuh! Pasangan mesum berani juga keluar rumah. Nggak punya muka apa ya habis digerebek warga?"
"Ih, kalau gue jadi Aira sih udah ikutan ngurung diri di kamar, malu-maluin!"
"Padahal tadinya gue kira Aira ini cewek alim yang polos. Eh, ternyata suhu! Pinter banget main halus."
Aira mengelus dada, napasnya tertahan mendengar celotehan julid itu. Dengan sisa kesabarannya, dia memutar tubuh dan menunjukkan kakinya.
"Ibu-ibu, tolong ya! Lihat nih, kaki saya lecet-lecet sama keseleo gara-gara ditabrak motor semalam. Saya bahkan sempat pingsan karena kepala terbentur nih, lihat sendiri benjolannya masih memar! Wajar dong kalau Mas Devan ini nuntun dan menolong saya? Kenapa malah dituduh yang enggak-enggak? Ingat ya, Bu, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!" cerocos Aira meluapkan kejengkelannya.
Devan pun ikut angkat bicara agar suasana tidak makin keruh. "Iya, Bu. Semalam itu murni salah paham. Saya yang nggak sengaja nabrak Aira sampai dia pingsan. Mau saya bawa ke rumah sakit juga nggak bisa, karena saya cuma naik motor."
Penjelasan logis itu langsung membuat kasak-kusuk tetangga berubah arah. Mereka mulai celingukan dan memperhatikan kondisi Aira yang memang mengenaskan.
"Eh, iya juga ya... Kaki Aira lecet-lecet gitu, jalannya aja pincang."
"Waduh, berarti semalam kita beneran salah paham dong?"
"Kasihan banget dong si Aira, kagak salah apa-apa tapi malah dipaksa nikah sama cowok asing."
Seketika riuh julid berubah jadi nada merasa bersalah.
"Ya udah, Ibu-ibu. Aira mau ke tukang urut dulu ya." pamit Aira dingin.
"Eh, iya, Neng Aira... Moga cepat sembuh ya kakinya." balas salah satu warga, memasang muka kasihan melihat Aira berjalan terseok-seok.
"Duh, kayaknya kita harus minta maaf deh sama Aira. Asal nuduh aja semalam."
"Iya, setahu gue Aira kan emang anak baik-baik. Nggak mungkin lah berbuat serendah itu."
"Jatuhnya kita jahat banget ya, langsung ngehakimi tanpa bukti."
"Tapi eh, denger-denger... Pacarnya Aira malah baru aja melamar si Karin, kan?"
"HAH?! Jadi maksudnya si Aira ditikung sama adiknya sendiri?!"
"Anjir... Udah jatuh, tertimpa tangga, digilas truk pula rasanya!"
...****************...
Selesai dari tukang urut, Devan langsung mengantarkan Aira pulang ke rumah. Setelahnya, Devan pamit pergi untuk mengurus pekerjaannya. Kaki Aira memang sudah lumayan mendingan, meski kalau dipakai jalan masih agak pincang dan cenat-cenut.
Namun baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, pemandangan di meja makan langsung membuat perut Aira yang kosong makin melilit. Bu Ismi sedang asyik makan enak sendirian.
"Ibu masak?" tanya Aira polos, mengira ibunya sempat mengolah sesuatu di dapur.
Bu Ismi mendelik. "Nggak masak! Ibu terpaksa beli bungkus di luar karena gak sempat. Dari pagi capek nyuci sama bersih-bersih rumah. Habis ini gantian kamu yang ke dapur, masak!"
Gila. Aira cuma bisa melongo. Ibunya benar-benar tega. Padahal tahu anaknya baru tertimpa musibah dan kakinya sakit, tapi tetap saja diperas tenaga.
Selesai mengunyah, tanpa merasa bersalah sedikit pun, Bu Ismi langsung cuci tangan di wastafel. Bekas bungkus makanan dan piring kotor dibiarkan teronggok begitu saja di meja.
"Oh iya, nanti kamu masak rendang ya, favoritnya Karin. Sama bikin sambal cumi kesukaannya Siska. Kasihan mereka berdua udah capek kerja seharian, masa pas pulang nggak ada makanan." titah Bu Ismi santai.
Selalu begini. Sejak dulu, cuma Karin dan Siska yang ada di kepala Bu Ismi. Dua saudaranya itu selalu disayang, dimanja, dan diperlakukan seperti ratu. Sementara Aira? Cuma dianggap pembantu yang wajib menuruti semua perintah.
"Tapi, Bu... Kaki Aira kan masih sakit." ujar Aira pelan, berharap kali ini saja ada sedikit rasa iba di hati ibunya.
"Halah! Nggak usah manja deh! Cuma terkilir gitu doang lebay banget. Lagian kamu masih bisa jalan kan?" semprot Bu Ismi tanpa beban. Pilih kasihnya sudah sampai ke tulang. Jangankan urusan rumah, pacar Aira saja dipaksa direlakan untuk adiknya!
"Ibu mau ke pasar dulu. Berhubung kaki kamu sakit, kali ini biar Ibu yang beliin bahan-bahan buat bikin kue." lanjut Bu Ismi.
Mata Aira seketika membola. "Maksud Ibu... Aira tetap harus bikin kue hari ini?"
"Ya iyalah! Enak aja mau libur! Terus kita dapet pemasukan dari mana? Masa mau minta uang terus sama kakak dan adik kamu? Mereka juga punya kebutuhan sendiri! Siska itu lagi hamil, butuh biaya banyak. Karin juga sebentar lagi mau nikah, pasti butuh dana gede. Nggak kayak kamu, nikah cuma asal sah doang!" cerocos Bu Ismi pedas.
Selesai menyayat hati anaknya, Bu Ismi langsung melongos pergi begitu saja tanpa merasa berdosa.
Air mata Aira menetes menembus pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Itu artinya, dengan kaki pincang dan kepala yang masih berdenyut nyeri, dia tetap dipaksa ngaduk adonan kue dan menyetorkannya ke toko-toko.
*Ya Tuhan... Kenapa Ibu selalu pilih kasih? Aku lagi sakit begini masih diperas kerja, sedangkan Karin sama Mbak Siska selalu ditimang-timang. Apa aku ini emang bukan anak kandungnya?* batin Aira meratapi nasib.
Rasa iri dan cemburu itu selalu menggerogoti dadanya. Sejak kecil, Aira selalu dituntut untuk mengalah. Mengalah untuk Siska, mengalah untuk Karin. Bahkan sampai masa depannya sendiri pun harus dikorbankan.
Tiba-tiba, suara batuk berat dari arah kamar memecah lamunan Aira.
Aira tersadar. Bapak!
Aira buru-buru mengusap air matanya dan berjalan cepat menuju kamar Pak Bambang. Dia lupa memberikan sarapan untuk bapaknya. Dan melihat bungkus makanan di meja makan tadi cuma satu, Aira yakin seratus persen ibunya cuma membeli makanan untuk dirinya sendiri.
"Ya ampun, Bapak... Pasti Bapak belum sarapan ya?" gumam Aira lirih seraya mendorong pintu kamar.
Pak Bambang terbaring lemah di ranjang.
"Bapak, maafin Aira ya, Pak. Aira belum sempat masak. Bapak pasti lapar... Tadi Aira ke tukang urut dulu," panggil Aira merasa bersalah.
Pak Bambang tersenyum tipis, suaranya parau. "Ndak apa-apa, Nak. Ke tukang urut itu lebih penting. Gimana kaki kamu, udah mendingan?"
Di rumah ini, memang cuma Pak Bambang yang benar-benar peduli dan menganggap Aira ada. Biarpun digerogoti komplikasi penyakit jantung, gula, kolesterol, sampai asam urat, Pak Bambang tidak pernah rewel. Beliau cuma bisa berdiam diri di kamar, dan hanya keluar sesekali kalau tenaganya benar-benar dipaksa.
"Alhamdulillah udah, Pak. Tapi masih agak nyeri kalau dipakai jalan." jawab Aira lembut.
"Pelan-pelan aja, nanti juga sembuh."
"Iya, Pak. Kalau gitu Aira masak sebentar ya buat sarapan kita."
Pak Bambang menggeleng cepat. "Jangan, Nak. Kaki kamu masih sakit, nggak usah maksain masak buat Bapak. Lagian Bapak belum lapar-lapar banget kok."
"Tapi Bapak harus minum obat."
Pak Bambang menghela napas. "Ya udah, kalau gitu kamu beli nasi bungkus aja di warung depan."
Mendengar saran bapaknya, kepala Aira langsung tertunduk dalam. Tenggorokannya tercekat. Di kantongnya saat ini... cuma tersisa uang 15 ribu rupiah.
"Tapi, Pak..."
"Nggak pegang uang ya?" potong Pak Bambang lembut. "Ya sudah, pakai uang Bapak aja."
Pak Bambang sudah paham betul. Uang Aira pasti selalu ditarik habis oleh ibunya. Pak Bambang sendiri bisa pegang sedikit uang cuma kalau Aira diam-diam menyisihkan rezeki untuknya itu pun harus sembunyi-sembunyi seperti pencuri, karena kalau sampai kelihatan Bu Ismi, rumah bisa berubah jadi neraka.