Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Jembatan rantai besi yang menghubungkan gunung utama dengan Puncak Kesembilan membentang sepanjang tiga ratus tombak di atas jurang awan yang curam.
Begitu menyeberangi jembatan tersebut, suasana bising dan megah dari puncak-puncak lain langsung lenyap, berganti dengan keheningan kuno yang sunyi.
Puncak Kesembilan tampak seperti gunung yang pernah terbelah dua oleh satu tebasan pedang raksasa di zaman purba. Di sepanjang lereng hingga ke halaman sebuah paviliun kayu sederhana di puncaknya, tertancap puluhan ribu pedang patah dan berkarat dari berbagai zaman—membentuk sebuah Kuburan Pedang yang luas!
Saat melangkah memasuki area kuburan pedang tersebut, Pedang Abu Hitam di punggung Lin Xuan serta Tungku Abu Takdir di dalam Dantian-nya bergetar pelan karena gembira!
Bagi kultivator biasa, ribuan pedang patah di puncak ini hanyalah tumpukan besi tua yang memancarkan hawa kematian dan kesedihan yang mengganggu meditasi. Namun bagi Lin Xuan yang berlatih Kitab Pedang Abu Nirwana, sisa-sisa Esensi Besi Kuno dan Fragmen Niat Pedang yang membusuk di dalam ribuan pedang patah ini adalah harta karun kultivasi yang tak ternilai harganya!
Tetua Jian Chen berhenti di depan paviliun kayu yang atapnya ditumbuhi rumput liar, lalu menoleh menatap Lin Xuan dengan mata yang kini sama sekali tidak terlihat mabuk.
"Semua orang di Sekte Awan Biru mengira Puncak Kesembilan adalah tempat pembuangan sampah," ujar Tetua Jian Chen dengan suara tenang namun dalam. "Tetapi kau memilih datang kemari karena pedang di punggungmu dan teknik yang kau latih membutuhkan hawa kehancuran dari Kuburan Pedang ini, bukan?"
Lin Xuan menangkupkan tangannya dengan hormat. "Mata Guru sangat tajam."
Tetua Jian Chen meneguk araknya, lalu tersenyum tipis. "Aku tidak menerima murid resmi lagi sejak tiga puluh tahun lalu, jadi panggil saja aku Tetua Jian. Di Puncak Kesembilan ini hanya ada dua aturan: pertama, jangan ganggu tidur siangku; kedua, seluruh pedang patah di lereng gunung ini bebas kau gunakan sesuka hatimu. Adapun urusan dendammu dengan anjing-anjing dari Puncak Ketiga... selama lawanmu masih berada di bawah Alam Inti Emas, tebas saja mereka sendiri. Jika ada tetua tua tak tahu malu di atas tingkat itu yang berani ikut campur, biar aku yang mematahkan tulang tua mereka."
Hati Lin Xuan menghangat mendengar jaminan singkat namun penuh wibawa tersebut.
Malam itu juga, Lin Xuan duduk bersila di tengah-tengah Lembah Kuburan Pedang di belakang paviliun.
Ia menancapkan Pedang Abu Hitam di tanah di depannya, lalu mengaktifkan teknik Napas Abu Nirwana bersama daya hisap Tungku Abu Takdir.
WUUUUUNG!
Fenomena luar biasa pun terjadi di tengah malam yang sunyi.
Seratus bilah pedang kuno yang tertancap dalam radius sepuluh tombak di sekeliling Lin Xuan tiba-tiba bergetar serempak! Sisa-sisa esensi logam bintang dan jejak semangat bertarung para pendekar masa lalu yang terkunci di dalam pedang-pedang berkarat itu mengalir keluar bagaikan ratusan sungai cahaya kelabu, masuk ke dalam Tungku Abu Takdir!
Di dalam tungku, energi pedang kuno yang tajam itu dilebur menjadi Cairan Abu Pedang Murni yang langsung mengalir menggempur gerbang Meridian Utama Keenam di tubuh Lin Xuan!
Sementara sebagian lainnya diserap oleh bilah Pedang Abu Hitam, membuat garis-garis bara di punggung pedangnya semakin menyala terang dan meningkatkan kualitas senjatanya mendekati Senjata Roh Tingkat Dua!
KRAK — BOOOOM!
Menjelang terbitnya matahari di hari ketiga, gerbang Meridian Utama Keenam di tubuh Lin Xuan hancur terbuka sepenuhnya!
Alam Pembukaan Meridian — Lapis Enam!
Bahkan lebih dari itu, di sekeliling tubuh Lin Xuan kini berputar hembusan angin pedang tak kasatmata yang sanggup membelah dedaunan yang jatuh sebelum menyentuh bahunya—tanda bahwa ia telah menyentuh ambang Niat Pedang Abu.