NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Ikrar di Atas Bara Cinta

"Ya, aku jatuh cinta"

Suara deru hujan gerimis yang mengetuk kaca jendela kamar utama mansion mewah milik Aris terdengar begitu lembut, berirama menenangkan di tengah kesunyian pagi yang masih remang-remang.

Langit di luar berangsur-angsur terang, membiaskan cahaya keperakan yang menerangi ruangan luas berlapis karpet wol tebal tersebut.

Di kamarnya, Aris terbangun lebih awal dari biasanya, di kamar khusus yang memang ia tempati selama ini demi menjaga batasan dan kehormatan Raya sebelum ikatan pernikahan yang sah menyatukan mereka.

Pria itu baru saja merapikan kemejanya, lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan air hangat.

Meskipun mereka tinggal di bawah satu atap yang sama dan dunia luar mengira mereka adalah pasangan yang hidup bersama, Aris memegang teguh prinsip moralnya.

Baginya, Raya adalah wanita terhormat yang harus dijaga kesucian dan harga dirinya. Sebelum ijab kabul terucap di hadapan penghulu dan saksi, Aris tidak akan pernah melewati batas norma agama maupun susila. Ia ingin memberikan kehormatan penuh kepada Raya sebagai seorang istri yang sah kelak.

Tak lama kemudian, Raya melangkah turun dari tangga utama mengenakan gaun rumah sederhana berpotongan sopan. Rambut hitam gelombangnya tergerai rapi di bahunya. Begitu melihat Aris berdiri di dekat pulau dapur, senyuman manis langsung terukir di bibirnya.

"Pagi, Aris," sapa Raya lembut, seraya berjalan mendekat.

Aris membalikkan badan dan menyambut kehadiran wanita itu dengan tatapan teduh dan penuh puja. "Pagi, Raya. Tidurmu nyenyak semalam?"

"Sangat nyenyak," jawab Raya tersenyum manis. "Kamu sendiri? Apakah kamarmu nyaman?"

"Sangat nyaman," balas Aris. Ia mengambil cangkir teh chamomile hangat yang baru diseduhnya, lalu menyerahkannya kepada Raya dengan penuh perhatian.

Melihat bagaimana Aris selalu memperlakukannya dengan penuh rasa hormat, kesopanan, dan batasan yang sangat terpuji, rasa kagum Raya terhadap pria itu makin membuncah.

Di mata Raya, Aris bukan hanya seorang kekasih yang tampan dan sukses, melainkan seorang pria berintegritas tinggi yang benar-benar menghargai harga diri seorang wanita.

Suasana di ruang makan utama pagi itu tampak begitu cerah dan hangat. Suster Santi membawa Cyla yang sudah rapi mengenakan gaun katun kuning cerah ke ruang makan, disambut oleh tawa renyah dari Raya yang sedang menata piring sarapan.

Aris menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Raya, menjaga jarak duduk yang sopan di meja makan. Cyla yang duduk di baby chair langsung merentangkan kedua tangan kecilnya sambil berteriak cadel, "Papa! Papa!"

Aris tersenyum lebar. Ia menghampiri baby chair, mengangkat Cyla tinggi-tinggi ke udara hingga balita itu tertawa kegirangan, lalu mendaratkan kecupan gemas di pipi gembul Cyla sebelum mendudukannya kembali.

"Pagi, Papa ganteng," sapa Raya manis dari tempat duduknya di seberang meja. "Hari ini kelihatannya mood-mu sedang sangat bagus. Ada berita baik dari kantor?"

Aris kembali ke tempat duduknya, lalu menyeruput kopi hitamnya dengan pelan. Ia kemudian tersenyum simpul menatap wanita di seberangnya. "Kantor selalu berjalan seperti biasa, Raya. Tapi mood ku bagus karena aku tahu hari pernikahan kita makin dekat."

Raya menundukkan pandangannya sejenak, pipinya merona merah muda secara alami. Ia merasa sangat terhormat mendengar keseriusan Aris. "Aku sangat bersyukur, Aris... Terima kasih karena kamu selalu memperlakukanku dengan begitu terhormat dan penuh kesabaran."

Aris menatap lurus ke dalam manik mata Raya. Sorot matanya berubah menjadi jauh lebih serius dan teduh.

"Sudah kewajibanku untuk melindungimu dan menghormatimu, Raya," ucap Aris. "Aku ingin memastikan bahwa kamu adalah istriku yang sah di hadapan hukum dan agama. Dan aku berjanji padamu, setelah hari pernikahan itu tiba, aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini."

Kata-kata itu diucapkan Aris dengan kejujuran. Itu bukan sekadar janji manis, melainkan sumpah seorang pria yang menebus dosanya dengan memberikan seluruh penghormatan tertinggi kepada wanita yang dicintainya.

**

Siang menjelang sore, suasana di mansion terasa sangat hangat. Karena hari ini adalah akhir pekan dan cuaca gerimis di luar tidak memungkinkan mereka pergi ke luar rumah, Aris memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Raya dan Cyla di ruang keluarga.

Cyla sedang tidur siang di kamarnya di lantai atas. Sementara Aris dan Raya duduk di sofa ruang keluarga yang luas, namun dengan jarak duduk yang tetap sopan dan terjaga, masing-masing menempati sisi sofa yang berbeda namun saling berhadapan hangat.

"Aris," panggil Raya pelan, seraya menatap nyala api buatan dari perapian elektrik di sudut ruangan.

"Hm?" gumam Aris rendah.

"Kadang-kadang, ketika aku merenung, aku merasa hidupku sekarang seperti mimpi yang terlalu indah," bisik Raya. "Kamu memberiku rumah, perlindungan, dan rasa hormat yang luar biasa. Bahkan, kamu selalu menjaga batasan diri dengan tidur di kamar tamu terpisah selama kita tinggal di sini, demi menghormati aku yang belum sah menjadi istrimu. Tidak banyak pria di dunia ini yang memiliki moral sebaik kamu, Aris."

Mendengar pujian itu, dada Aris justru berdesir perih. Ia menundukkan pandangannya sejenak. "Bukan karena aku pria bermoral tinggi, Raya... melainkan karena aku merasa begitu kotor di hadapanmu," batin Aris pilu. "Aku tidak pantas menyentuhmu sebelum ikatan suci itu benar-benar mengampuni dosaku."

Namun Aris segera mengangkat wajahnya dan memasang senyuman hangat terbaiknya. "Itu sudah seharusnya, Raya. Seorang wanita berharga sepertimu layak mendapatkan penghormatan tertinggi sebelum ikatan pernikahan resmi menyatukan kita."

Raya tersenyum manis, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang mendalam. Ia merasa sangat aman berada di dekat pria yang begitu menjunjung tinggi harga dirinya.

Keesokan harinya, di kantor pusat konsorsium Prakasa, Aris memanggil Hendra ke ruang kerjanya untuk membahas persiapan pernikahan rahasia yang akan diselenggarakan secara privat namun megah di sebuah vila pribadi tepi tebing di Bali.

Di balik meja marmer hitamnya, Aris memeriksa berkas rancangan pengamanan dan dekorasi.

"Hendra," panggil Aris tanpa mengalihkan pandangannya. "Pastikan lokasi vila benar-benar steril. Tidak boleh ada gangguan apa pun."

"Baik, Pak Aris. Tim pengamanan khusus sudah saya koordinasikan," lapor Hendra sigap. "Bagaimana tanggapan orang tua Anda mengenai jadwal acara?"

"Papa dan Mama sepenuhnya menyerahkan keputusan teknis kepadaku," jawab Aris. "Pastikan semuanya berjalan sempurna."

Hendra menunduk hormat. "Saya mengerti, Pak. Saya yakin pernikahan ini akan berjalan lancar."

Malam harinya, kembali ke mansion Aris. Setelah Cyla tertidur, Raya dan Aris duduk di sofa ruang keluarga. Di atas meja kopi terbentang katalog gaun pengantin eksklusif dari desainer Paris yang dikirimkan khusus oleh Lidya Prakasa.

Raya membolak-balik halaman katalog tersebut dengan mata berbinar-binar. "Wah... gaun-gaun ini semuanya cantik sekali, Aris."

Aris mendekat, dan duduk di sisi sofa yang berjarak aman, lalu ikut menatap halaman katalog yang ditunjuk. "Apa pun yang kamu kenakan, Raya, kamu akan selalu terlihat luar biasa."

Raya tertawa kecil, menutup katalog tersebut lalu menatap Aris dengan mata penuh cinta. "Aris... terima kasih banyak untuk semuanya."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!