Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
"*Gue tandain lo!" Gumam Nadia Safira saat menatap Jayden Mahendra dengan tajam.*
Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
*"Setuju tidak setuju, kalian sudah di jodohkan sejak kalian masih kecil, dan kita selaku sama-sama orang tua Nadia, memberikan kepercayaan pada Jayden untuk melindungi Nadia sebagai calon istri dan tinggal bersama," ucap Bramasta. Sang ayah dri Nadia*
*"Apa!!!???" Sontak Nadia terkejut dengan pernyataan papanya itu.*
"Apaan sih papa? Masa belum apa-apa udah tinggal bareng! Papa nggak takut apa kalau anak semata wayangnya papa ini di apa-apain sama cowok ini? Bahkan aku aja baru ketemu hari ini, masa papa busa segampang itu sih?" Protes Nadia mengoceh.
Tapi ocehan yang Nadia lontarkan malah membuat keluarga dua belah pihak terkekeh, mereka merasa lucu saat melihat Nadia marah.
*"Nggak ada yang lucu tau, kenapa pada ketawa?" Tukasnya kesal.*
*"Apa kita nikahkan aja secepatnyanya? Biar nanti pestanya menyusul," ucap Jodi Mahendra yang tak lain adalah papa dari Jayden." Gimana jay? Kamu setuju? Kalau kamu setuju kita nikahkan besok, tidak perlu banyak mengundang, cukup kita kedua keluarga besar saja yang hadir, asal kalian sah terlebih dahulu." Tanya Jodi pada anaknya yang juga semata wayang.*
Nadia semakin terperangah saat mendengar perkataan Jodi. Nadia jadi merasa bahwa suaranya di ruangan itu tak akan di dengar.
*"Aku ikut aja Pa," jawab Jayden santai, dan itu membuat Nadia semakin kesal.*
Nadia merasa frustasi dengan keadaan kali ini, bagaimana dia bisa mengutarakan isi hatinya nanti pada Kevin sang kekasih, jika dirinya besok akan sah menjadi istri orang.
Nadia mengerti bahwa kedua orang tuanya tak pernah menyetujui hubungannya dengan Kevin. Dengan alasan bahwa dirinya dari kecil sudah di jodohkan.
*"Terserah kalian, aku mau ke kamar."*
Nadia begitu lesu, melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Tapi sang Mama yang mengerti perasaan anak perempuannya itu kini meminta izin pada kedua belah pihak untuk menyusul putrinya.
*"Sayang," panggil Mama Nagita pada Nadia.*
*"Mama kalau kesini cuma mau ngehibur mending Mama Keluar deh, aku nggak apa-apa kok, ini kan yang kalian mau?"*
Nagita menggeleng dan memeluk tubuh Nadia.
*"Maaf sayang, bukanya Mama nggak ngerti perasaan kamu, tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana adat istiadat keluarga kita? Kita hanya ingin yang terbaik buat kamu sayang."*
*"Mama tahu kan kalau aku itu punya pacar, Kevin Ma, Kevin! Dia pacar aku, trus gimana lusa kalau aku ketemu sama dia? Aku harus bilang apa ke dia Ma? Aku cinta sama Kevin Ma, bukan cowok yang di bawah," Nadia hampur menumpahkan buliran bening yang sudah memupuk di matanya.*
*"Iya Mama tahu sayang, tapi kan kalian juga masih SMA. Nanti kalian juga akan kuliah kan? Kamu akan ketemu degan cowok lain mungkin, dan Jayden cowok itulah yang kita pilih untuk kamu sayang, perlahan, dengan perlahan, Mama yakin kalau kamu akan bisa melupakan Kevin."*
*"Please aku mohon, mama keluar dari kamar aku sekarang, aku lagi pengen sendiri, sorry to say, Ma."*
Nagita mengangguk pelan, ia mengerti dengan keadaan hati anaknya yang mungkin kacau saat ini, dan keluar dari kamar Nadia.
Brak!!!
Nadia menutup pintu dengan kencang, ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri di balik pintu, buliran bening yang sudah tak tertahan lagi kini lolos membasahi pipinya yang sedikit chuby.
*"Gila! Semuanya gila! Nggak ada yang ngertiin perasaan gue! Semuanya egois! Mentingin keinginan mereka sendiri tanpa tanya apa yang gue mau!*
Jahat!!" Pekik Nadia.
Tok.. tok.. tok..
Nadia kembali kesal karena pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang lagi,
*"Pergi!! Gue pengen sendiri!" Nadia tak mau membuka pintu.*
*"Buka atau gue dobrak!" Suara tegas dari balik pintu membuat Nadia tahu siapa pemilik suaranya tersebut.*
Nadia memutar bola matanya dengan malas, mengusap air matanya dengan kasar dan terpaksa membuka pintu.
*"Ap...!!?" Perkataan Nadia tertahan karena Jayden sudah mendaratkan bibirnya di bibir Nadia.*
*"I I don't like you crying over another man," bisik Jayden dengan tatap matanya yang menyeramkan.*
Plak!! Suara begitu nyaring saat Nadia melayangkan telapak tangannya ke pipi Jayden.
*"Berani - beraninya lo... Em..." Belum selesai Nadia bicara. Jayden kembali mendaratkan bibirnya.*
*"Gue bilang gue nggak suka! Apa lagi sampai lo ngelawan kaya gini, gue lebih suka cewek yang nurut, karena pada saat Lo nurut, apa yang lo pengen gue bisa kabulin semuanya."*
*"Gue nggak butuh!" Dengan kekuatan yang Nadia miliki, cewek itu mendorong badan Jay keluar dari kamarnya.*
Brak!
Nadia kembali menutup pintu kamar dengan kencang dan cepat cepat menguncinya.
*"Jangan lupa besok kita akan nikah, dan jangan sampai berani lo kabur, karena mau kemana pun Lo pergi, gue akan bisa tau keberadaan lo! Baby."*
Unncchh.. bahkan Jayden tak segan untuk men cium daun telinga milik Nadia.
"Psycho! Bisa bisanya papa jodohin gue sama orang gila kaya dia! Gue yakin kalau dia pasti pake pelet biar ortu gue suka sama dia," oceh Nadia.
Jayden kembali ke ruang tamu bersama kedua keluarga besar.
*"Jangan di takut in anak orang Jay," kata Jodi yang tahu bagaimana sifat anaknya.*
"Nggak kok pa, tenang aja, cuma ngasih tanda aja dikit tadi, biar Nadia tahu kalau besok kita akan dah jadi suami istri."
*"Wahh.... nak Jay. Di tahan dikit ya, nanti kalau udah nikah bisa kan pakai pengaman dulu, biar kalian sama-sama lulus sekolah dulu, setelah itu. Kalian bebas mau ngelakuin apa aja," ucap Bramasta.*
Semuanya terkekeh di bawah sana. Sedangkan Nadia seorang diri merasa kesal dan di ruangan.
Karena malam semakin larut, keluarga Mahendra pamit undur diri untuk pulang.
*"Jay nggak mau nginep?" Goda Bramasta.*
*"Kata papa kan suruh sabar dulu, besok juga Jay sudah sah pa, jadi Jay ikut pilang aja dulu." Sahutnya yang di balas kehebohan oleh Bramasta dan keluarga Mahendra.*
Sedangkan Nadia mengintip dari jendela. la kesal melihat kedua keluarga itu tertawa bahagia di atas penderitaannya.
---
---
---
Nadia menggenggam ponsel yang ia senyap kan, begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Kevin sang kekasih.
*"Gimana gue harus jelasin besok di sekolah sama Kevin?" Gumam Nadia benar benar merasa frustasi.*
*"Sayang, kamu gugup?" Tanya Nagita yang datang menghampiri Nadia yang sedang di make up sederhana.*
"Ngapain gugup? Nikah doang kan? Biasa aja!" Ketus Nadia menjawab. la jadi merasa kesal juga pada Mama nya.
*"Nanti, di kemudian hari, kamu akan bahagia ketika kamu tahu alasan kita menikahkan kamu sama keluarga Mahendra*."