Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Disembunyikan
Pagi datang jauh lebih cepat dari yang Alya harapkan.
Cahaya matahari yang terik menyelinap masuk melalui celah tirai kamar hotel suite-nya, jatuh tepat di atas meja nakas di samping tempat tidur.
Alya membuka matanya perlahan.
Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar yang tinggi. Otaknya masih mengumpulkan kesadaran.
Kemudian, memori tentang malam sebelumnya membanjiri kepalanya.
Makan malam pecel lele. Arka. Obrolan santai mereka. Dan janji sederhana yang dipenuhi pria itu tanpa banyak basa-basi.
Alya langsung tersenyum tipis dan meraih ponselnya di atas meja.
Rentetan notifikasi langsung memenuhi layarnya.
Beberapa berasal dari grup koordinasi kerja. Beberapa dari asistennya. Dan satu deret pesan dari Mbak Rini, manajernya, sukses membuat ekspresi Alya berubah tegang seketika.
Mbak Rini (Manajer): Pagi, Al.
Mbak Rini (Manajer): Kita perlu bicara serius soal foto kamu dengan Arka semalam. Ada yang ngirim candid HD kalian makan berdua ke pihak agensi.
Alya menghela napas berat dan memijat pelipisnya.
Belum sempat ia mengetik balasan, pesan berikutnya dari sang manajer masuk menyusul.
Mbak Rini (Manajer): Media gosip mulai sniffing dan nanya-nanya lagi ke PR kita. Kali ini mereka punya bukti kalau cowok itu nungguin kamu syuting sampai malam.
Alya meletakkan ponselnya kembali ke atas kasur dengan gerakan lemas.
"Cepat banget sih nyebarnya..." gumamnya frustrasi.
Ia sangat paham bagaimana mesin industri hiburan ini bekerja. Satu foto kabur bisa diubah menjadi puluhan artikel clickbait. Satu pertemuan kebetulan bisa dipelintir menjadi rumor perselingkuhan. Dan satu rumor gosip bisa dikembangkan menjadi naskah drama utuh yang bahkan tidak pernah terjadi di dunia nyata.
Namun anehnya... di tengah ancaman skandal karier yang mengintai pagi ini, hal yang paling membebani pikiran Alya bukanlah respons media atau kemarahan agensinya.
Melainkan Arka.
Alya masih mengingat dengan jelas bagaimana pemuda itu rela duduk menunggunya berjam-jam sendirian di kampus yang gelap dan dingin, hanya karena mereka sudah berjanji makan.
Tidak ada tuntutan. Tidak ada kamera. Tidak ada maksud tersembunyi untuk panjat sosial. Setidaknya, sejauh yang Alya rasakan.
Alya mengambil ponselnya lagi, mengabaikan chat manajernya, dan justru membuka ruang obrolan dengan Arka.
Jarinya mengetik pelan.
Alya: Pagi, Ka.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada balasan. Statusnya masih abu-abu.
Alya tersenyum kecil menertawakan dirinya sendiri. "Mungkin anak itu masih tidur pulas."
Di tempat lain, tebakan Alya sepenuhnya salah.
Arka justru sudah tiba di kampus sejak jam tujuh pagi.
Pria itu sedang duduk di salah satu meja kubikel dekat jendela kaca perpustakaan pusat Universitas Bina Bangsa.
Laptop menyala. Buku-buku metodologi penelitian tersusun berantakan di sampingnya.
Namun fokus matanya tidak sepenuhnya berada pada draf skripsi. Pikirannya terus terbagi antara ancaman chat dari nomor jurnalis kemarin sore, dan memori obrolannya dengan Alya semalam.
Ponselnya bergetar di atas meja. Arka melirik layarnya.
Alya: Pagi, Ka.
Sebuah senyum tipis otomatis terbit di wajahnya. Ia segera membalas.
Arka: Pagi juga, Al.
Balasan datang sangat cepat, seolah Alya memang sedang menunggunya.
Alya: Tumben udah bangun. Udah di kampus?
Arka: Udah dari jam tujuh tadi.
Alya: Rajin banget sih mahasiswa tingkat akhir ini.
Arka mendengus geli.
Arka: Biar cepat lulus dan keluar dari neraka revisi ini.
Tiga titik 'typing' muncul agak lama di layar Alya sebelum pesan berikutnya masuk.
Alya: Emangnya kalau kamu udah lulus nanti, rencananya mau ngapain dan kerja di mana?
Arka menghentikan jempolnya di atas keyboard virtual. Gerakannya membeku.
Pertanyaan Alya terdengar sangat sederhana dan wajar untuk diutarakan antarteman.
Namun bagi Arka, jawabannya tidak pernah sesederhana kelihatannya.
Karena ada satu rahasia masif dalam hidupnya yang tidak pernah ia ceritakan kepada Alya. Bahkan kepada hampir seluruh teman kampusnya, termasuk Rendy.
Setelah ia lulus dan melepas status mahasiswanya nanti, dunia bisnis keluarganya sudah berdiri menunggunya di depan pintu. Cepat atau lambat, ia harus mengambil alih posisi strategis dan tidak bisa terus bersembunyi di balik tameng kehidupan 'mahasiswa biasa'.
Arka menarik napas panjang, lalu mengetik jawaban paling aman.
Arka: Belum tahu pasti.
Alya membalas:
Alya: Seriusan belum tahu?
Arka: Serius.
Alya: Masa mahasiswa tingkat akhir jurusan manajemen belum punya rencana karir mau ke mana?
Arka: Bukannya itu normal ya? Namanya juga fase bingung quarter-life crisis.
Alya yang sedang tiduran di kamarnya tertawa membaca alasan klise itu.
Alya: Iya sih, ada benarnya juga. Nikmatin aja masa bingungnya.
Arka kembali menatap layarnya lega. Namun sedetik kemudian, pesan susulan Alya masuk dan membuat jantung Arka sedikit berdebar.
Alya: Ngomong-ngomong, aku tiba-tiba jadi agak penasaran sama keluargamu deh, Ka.
Jari Arka terhenti. Senyumnya perlahan memudar.
Siang itu, mereka bersepakat untuk bertemu di sebuah coffee shop kecil indie yang lokasinya agak tersembunyi di gang dekat area kampus.
Alya datang lebih dulu bersama asistennya yang kemudian menunggunya di mobil. Ia memakai pakaian kasual tertutup, topi bisbol, dan masker gelap.
Ketika lonceng pintu berbunyi dan Arka melangkah masuk, Alya langsung mengangkat tangannya sedikit. "Di sini, Ka."
Arka menghampiri mejanya di sudut yang sepi. "Udah nunggu lama?"
"Enggak kok, baru lima menitan."
Arka menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Mau pesan apa?"
"Es kopi susu gula aren."
"Lagi?"
Alya mengangkat sebelah alisnya. "Lah? Kamu sendiri juga hampir tiap hari minum kopi hitam kan?"
"Oke. Fair point."
Arka beranjak memesan minuman mereka lalu kembali ke meja.
Beberapa menit pertama, obrolan mereka mengalir hangat seperti biasanya.
Mereka menertawakan penderitaan revisi skripsi Arka. Membicarakan keruwetan jadwal syuting Alya. Membahas review nasi uduk semalam.
Sampai akhirnya, Alya meletakkan gelas kopinya di atas meja dan menatap mata Arka lekat-lekat.
"Arka."
"Hm?"
"Aku boleh tanya sesuatu yang agak personal enggak?"
Arka menghentikan sedotannya. Ia menatap mata wanita itu, sudah bisa menebak arah pembicaraannya. "Boleh. Tanya aja."
"Keluargamu itu... orang yang seperti apa sih?"
Pertanyaan yang diketik Alya tadi pagi akhirnya disuarakan secara langsung.
Arka terdiam.
Tidak lama. Hanya jeda tiga detik. Tapi keterdiaman itu cukup kentara untuk membuat Alya menyadari perubahan bahasa tubuh pria itu.
"Eh, maaf. Kalau pertanyaanku terlalu privacy atau sensitif, enggak usah dijawab kok. Aku cuma penasaran aja karena kamu jarang cerita," ralat Alya cepat, merasa tidak enak.
"Enggak," Arka menggeleng pelan, memaksakan senyum santai. "Enggak masalah kok."
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi. "Keluargaku... biasa aja, Al. Sangat standar."
Alya mengerutkan keningnya, tidak puas dengan jawaban diplomatis itu. "Biasa aja gimana maksudnya?"
"Ya... orang tuaku ayah dan ibu masih ada."
Alya tersenyum. "Terus? Punya saudara kandung?"
"Ada, tapi enggak banyak." Arka berhenti sebentar memilih kata. "Kami tipe keluarga inti yang lumayan dekat, walau sibuk masing-masing."
Jawabannya terdengar sangat normal.
Tapi justru karena terlalu normal dan tertata itulah, radar akting Alya yang terbiasa membaca ekspresi lawan mainnya, menangkap sesuatu.
Alya memperhatikan sorot mata pria itu. Tidak ada kebohongan yang terpancar di sana. Namun jelas ada sepotong besar kebenaran yang sengaja disensor rapat-rapat.
"Memangnya orang tua kamu kerja di bidang apa, Ka?" kejar Alya dengan nada santai.
Kali ini Arka tidak langsung membalas tatapan Alya. Ia justru menatap permukaan es kopi di depannya.
"Ayah... kebetulan punya bisnis sendiri."
"Oh ya? Bisnis di bidang apa?"
"Macam-macam."
Alya tertawa kecil menyandarkan sikunya di meja. "Jawabanmu aman dan ngambang banget sih, Ka."
Arka ikut tersenyum tipis menutupi ketegangannya. "Memang sengaja begitu."
"Kenapa?"
"Karena aku dari dulu memang enggak terlalu suka membicarakan soal latar belakang keluarga ke orang luar."
Alya terdiam sejenak. Ia tidak ingin memaksa dan melewati batas privasi pria itu. Namun sebagai seorang wanita, rasa penasarannya justru semakin mendidih mendengarnya.
"Berarti... orang tuamu tajir melintir ya?" goda Alya to the point.
Mendengar tebakan langsung itu, Arka hampir tersedak es kopinya. Ia terbatuk kecil.
Alya langsung tertawa puas melihat reaksi panik itu. "Tebakanku benar kan?"
"Kenapa tiba-tiba kesimpulannya nembak langsung ke situ?" protes Arka sambil mengelap mulutnya pakai tisu.
"Ya karena dari tadi kamu jawabnya muter-muter nyari aman kayak politisi. Jadi, beneran tajir kan?"
Arka menghela napas pasrah. "Cukup."
"Cukup apa? Cukup kaya?"
"Cukup buat hidup dan makan enak tiap hari."
Alya mengangguk-angguk perlahan dengan senyum penuh kemenangan. "Oke. Berarti fiks emang orang kaya."
Arka hanya tersenyum kecut.
Ia tidak membenarkan tebakan itu secara eksplisit. Tapi ia juga tidak mungkin menyangkalnya.
Karena jika ia menjelaskan lebih jauh apa arti kata 'macam-macam bisnis' milik ayahnya... itu berarti ia harus membuka pintu besi yang selama ini sengaja ia kunci rapat-rapat dari kehidupan mahasiswanya.
Pintu yang menuju pada rentetan nama perusahaan multinasional. Menuju pada sorotan media ekonomi nasional.
Menuju pada Skysea Group.
Sebuah nama besar konglomerasi yang selama ini setengah mati ia jauhkan dari setiap percakapan dengan siapa pun di kampus ini. Termasuk dari Alya Renata.
"Aku mengerti kok," ucap Alya akhirnya, mengangkat gelasnya kembali. "Intinya, kamu ini sebenarnya anak keluarga berada yang merantau kuliah."
"Kurang lebih begitulah kesimpulannya."
"Pantesan."
Arka menatapnya was was. "Pantesan apa?"
"Pantesan kamu kelihatannya santai banget dan enggak pernah terlalu mikirin atau pusing soal uang pas kita makan bareng."
Arka tertawa kecil. "Bukan berarti aku bisa buang-buang uang sembarangan juga kali, Al."
"Terus kenapa kamu kelihatannya nutupin banget identitas 'anak sultan' kamu ini di kampus? Penampilanmu sederhana banget, motor juga biasa."
Arka memutar-mutar gelas plastiknya. "Aku cuma enggak terlalu suka pamer harta orang tua."
Alya menopang dagunya, menatap Arka dengan pandangan menelisik yang lembut.
"Justru fakta itu yang bikin aku makin penasaran sama kamu, Ka."
"Penasaran kenapa?"
"Karena kebanyakan orang di luar sana, apalagi anak muda... kalau mereka punya sesuatu yang berharga, punya privilege, atau punya uang banyak, naluri alami mereka pasti ingin flexing supaya orang lain tahu dan tunduk sama mereka." Alya menjeda kalimatnya. "Tapi kamu? Kamu malah seolah mati-matian nyembunyiin itu semua supaya dianggap biasa aja."
Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, senyum santai di wajah Arka perlahan memudar. Berganti dengan sorot mata yang jauh lebih waspada.
Namun Alya tidak menyadari perubahan mikro ekspresi itu.
"Kenapa sih, Ka? Kenapa kamu pilih jalan repot ini?" tanya Alya tulus.
Arka mengalihkan pandangannya ke luar jendela cafe yang menatap jalanan gang.
"Karena... aku cuma ingin orang-orang di sekitarku mengenalku karena diriku sendiri. Karena isi kepalaku. Bukan karena apa yang dimiliki oleh nama belakang keluargaku."
Alya terdiam kaku di kursinya.
Kalimat barusan... terasa sangat familier menghantam ulu hatinya. Sangat familier.
Bukankah selama bertahun-tahun ini... kalimat itulah yang terus ia teriakkan dalam hati setiap malam?
Alya dikenal oleh publik karena visual wajahnya. Karena popularitas namanya. Karena deretan film box office-nya.
Bahkan ketika ada laki-laki atau rekan bisnis yang mengatakan menyukainya, Alya sering kali dihantui rasa muak karena tidak pernah tahu—apakah mereka murni menyukai Alya sebagai manusia, atau hanya ingin memuaskan ego bisa bersanding dengan Alya Renata Sang Superstar?
Alya menatap wajah Arka dari samping dengan sorot mata yang kini sepenuhnya berubah empati.
"Arka... ternyata tebakanku kemarin malam memang benar."
Arka menoleh. "Tebakan soal apa?"
"Kita berdua ini... memang punya kesamaan yang sangat menyedihkan ya."
Arka memiringkan kepalanya. "Dalam hal apa?"
"Kita sama-sama sangat benci dinilai oleh dunia dari sesuatu... yang sebenarnya bukan diri kita yang asli."
Arka terpaku menatap mata Alya. Tidak ada lagi candaan di antara mereka saat ini.
Sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa saling pengertian (mutual understanding) akhirnya terbit di bibir pria itu.
"Iya, Al. Kamu benar."
Percakapan mereka setelah titik itu berlanjut jauh lebih santai dan berbobot.
Alya tidak lagi mencecar pertanyaan mengenai keluarga Arka. Ia sangat menghormati dinding batas privasi yang dibangun pemuda itu, karena ia sendiri juga memiliki dinding yang sama.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!