Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Hasil Dari Kejujuran
Minggu-minggu menunggu hasil beasiswa terasa berjalan sangat lambat, setiap pagi, Laras selalu melirik papan pengumuman begitu ia keluar dari kamar mandi dan berharap namanya sudah tertulis di sana dengan tinta hitam yang jelas. Namun setiap kali, ia harus menelan kecewa dan memberitahu dirinya sendiri bahwa elum waktunya, atau mungkin memang bukan jalannya.
Saat namanya akhirnya belum ada di daftar penerima utama, Laras tersenyum ikhlas kepada teman-temannya yang berteriak gembira melihat nama mereka tertera di sana. Ia memeluk Sari yang menangis bahagia, mengucapkan selamat dengan tulus meski dadanya terasa sesak menahan kecewa. Malam itu ia duduk sendirian di beranda, menatap bintang sambil berbisik pelan.
"Mungkin memang bukan jalanku, tidak apa-apa aku akan cari jalan lain" Batin Laras
Namun kejutan belum berakhir, 3 hari kemudian koordinator beasiswa memanggilnya ke ruang kantor. Jantung Laras berdebar kencang takut ada yang salah dengan berkasnya, takut soal ayahnya akhirnya diketahui dan ia didiskualifikasi. Dengan langkah berat, ia melangkah masuk.
Di ruangan itu, kepala sekolah tersenyum lembut sambil menyodorkan selembar surat resmi.
"Laras, juri sangat terkesan dengan esaimu. Ceritamu tentang bagaimana kamu belajar memaafkan dan bangkit justru saat semua terasa runtuh, menyentuh hati kami semua. Meskipun kuota utama sudah terpenuhi, dewan pengelola menyisakan satu beasiswa khusus untukmu karena kami percaya, orang yang berani jujur pada masa lalunya layak mendapat kesempatan untuk masa depannya. Selamat, Nak." Ucap Kepala Sekolah
Laras terpaku, matanya terasa panas dan kabur. Ia tidak menyangka, ia tidak berani berharap setinggi ini.
"B-Benarkah ? Padahal... kalian tahu soal ayahku kan ?" Tanya Laras
Kepala sekolah mengangguk lembut.
"Kami tahu dan justru karena itu kami semakin yakin memilihmu, kamu tidak menyembunyikannya, kamu tidak memutar balikkan fakta. Kamu menghadapinya dengan kepala tegak, itu keberanian yang jauh lebih berharga daripada nilai sempurna di atas kertas." Jawab Kepala Sekolah
Laras berjalan keluar dengan surat itu di tangannya, kakinya terasa seperti melayang. Begitu ia melangkah ke halaman asrama, semua teman-temannya sudah menunggu di sana seakan mereka tahu sebelum Laras bercerita. Sari yang pertama berlari memeluknya erat, diikuti Dina, Keira, dan yang lain. Tawa dan tangis bahagia menyatu di udara sore itu.
"Aku bilang kan kamu pasti bisa !" Seru Keira sambil tersenyum bahagia.
"Kejujuranmu yang membawamu ke sini, Laras. Bukan keberuntungan." Ucap Dina
Namun kebahagiaan Laras ternyata membuka jalan bagi kebaikan yang lebih besar lagi, beberapa hari kemudian, ia diajak berbicara dengan salah satu anggota yayasan yang membaca esainya. Beliau bukan hanya menawarkan beasiswa, tetapi juga bantuan hukum dan konseling gratis bagi keluarga yang mengalami situasi serupa dengan keluarganya. Laras menyadari rasa sakit yang ia alami selama ini, ternyata bisa menjadi jembatan bagi orang lain agar tidak perlu menderita sendirian seperti yang ia rasakan dulu.
Malam itu, ia menulis surat panjang untuk ayahnya. Bukan sekadar kabar bahagia, tapi juga harapan. Yah, aku dapat beasiswa. Bukan karena aku hebat, tapi karena orang-orang baik percaya padaku. Suatu hari nanti, aku ingin membangun tempat di mana anak-anak yang keluarganya sedang hancur bisa merasa aman. Seperti teman-temanku yang membuatku merasa aman di sini, semoga Ayah bangga, bukan karena aku sukses, tapi karena aku berusaha menjadi orang baik meski dunia tidak selalu ramah padaku
Saat surat itu terlipat rapi di amplop, Laras menatap ke luar jendela ke arah langit malam yang jernih. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa menakutkan. Ia punya mimpi, punya teman-teman yang mendukungnya, dan keyakinan bahwa kejujuran serta kebaikan pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...