Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Gladys menempelkan papan pengumuman “Tutup Sementara 2 Hari” di pintu depan kafe minimalisnya.
Kertas putih bersih berhias tulisan tangan yang rapi itu kini menjadi penanda bahwa ritme tenang kafe kecil ini akan berganti sementara menjadi kesibukan penuh dedikasi.
Suasana kafe berubah total menjadi dapur produksi penuh kesibukan sejak matahari terbit.
Aroma gurih mentega, tepung terigu yang baru diayak, serta semerbak kopi hangat mulai memenuhi setiap sudut ruangan, mengusir dinginnya udara pagi di kota kecil itu.
Di dapur lantai dua yang cukup luas, Bima membantu Gladys dengan penuh semangat.
Dengan cekatan dan bertenaga, Bima menguleni dan mencetak ratusan adonan donat gula agar mengembang sempurna sebelum digoreng dalam kuali-kuali besar bersuhu stabil.
"Tenang Bu Gladys, lipatan adonannya sudah pas presisi. Donat-donat ini bakal mengembang cantik dan empuk banget begitu dicelup ke minyak panas!" seru Bima bangga sambil memamerkan loyang penuh adonan bundar yang tertata rapi.
Sementara itu, Elsa fokus menyiapkan puluhan cangkir, gelas take-away ramah lingkungan, dan kemasan kopi espresso yang sudah di-sterilisasi untuk pesanan rapat besar di hotel bintang lima besok lusa.
Ia mengelap setiap permukaan wadah hingga mengilap dan menempelkan logo stiker kafe kecil mereka di bagian tengahnya.
Gladys sendiri sibuk menyiapkan kopi bubuk racikannya.
Ia menakar kombinasi biji kopi pilihan dengan komposisi rahasia, lalu mengemasnya dalam kantung-kantung kedap udara agar besok tim kitchen hotel tinggal menyiapkan air panasnya sesuai standar yang ditentukan.
Di tengah candaan ringan Bima dan Elsa tentang rencana sederhana pernikahan mereka—mulai dari menghitung sisa tabungan hingga perdebatan soal warna seragam panitia—Gladys tersenyum tipis. Kehangatan sejoli itu selalu sanggup meluluhkan kesepian di dadanya.
Namun, di tengah-tengah tawanya, Gladys mendadak mematung.
Jemarinya yang sedang merapatkan kantung kopi terhenti di udara saat aroma racikan kopi yang kuat menyengat indra penciumannya.
Harum pahit berpadu manis yang khas itu menguar kuat, langsung menembus benteng ingatan yang selama satu tahun ini coba ia pertahankan rapat-rapat.
Ingatannya melayang pada kebiasaan Raka. Pria itu selalu menyukai kopi buatannya di pagi hari sebelum berangkat ke kantor.
Raka yang selalu menyesap kopi itu sambil menatapnya hangat, lalu membisikkan kata terima kasih dan mendaratkan kecupan lembut di dahinya.
"Mas Raka," bisik Gladys di dalam hatinya, matanya mendadak berkaca-kaca.
Racikan kopi ini masih memiliki rasa dan aroma yang sama persis dengan yang biasa ia suguhkan untuk suaminya.
Gladys menggigit lipatan bibirnya bawah, menahan getaran kepedihan yang mendadak menyergap dadanya di tengah kesibukan dapur lantai dua itu.
Elsa yang sedang menempelkan stiker di gelas take-away menyadari perubahan raut wajah Gladys.
Senyum hangat di bibir wanita itu mendadak hilang, digantikan oleh tatapan kosong yang dihiasi genangan air mata di pelupuk matanya.
Elsa menghentikan kegiatannya, lalu melangkah menghampiri Gladys.
Ia merangkul pelan bahu wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri itu.
"Bu Gladys. Ibu tidak apa-apa?" tanya Elsa lembut dengan nada khawatir.
Gladys tersentak pelan dari lamunannya. Ia buru-buru menyeka sudut matanya yang basah dengan punggung tangan, lalu memaksakan seulas senyum tipis untuk menutupi gejolak di dadanya.
"Ah, tidak apa-apa, Elsa. Cuma sedikit perih di mata, mungkin kena aroma serbuk kopi yang terlalu menyengat," alibi Gladys halus.
Elsa mengangguk-angguk percaya, mengusap bahu Gladys untuk memberikan ketenangan. Selama satu tahun ini, baik Elsa maupun Bima hanya mengetahui cerita yang Gladys sampaikan saat pertama kali datang ke kota terpencil ini: bahwa suaminya bekerja dan tinggal menetap di Kanada, serta tak pernah kembali lagi padanya.
Gladys memang sengaja menyimpan rapat-rapat rahasia tentang konflik kekeluargaan Devandra, Raka, dan Praduta.
Ia tidak ingin menyeret Elsa dan Bima—orang-orang baik yang tulus ini—ke dalam pusaran bahaya dan masa lalunya yang kelam.
"Ibu jangan terlalu capek, ya," tutur Elsa penuh perhatian.
"Kalau ingat tentang suaminya di Kanada, didoakan saja Bu. Apalagi usaha kafe ini sudah seberhasil ini berkat kerja keras Bu Gladys."
Gladys menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, menganggukkan kepala pelan.
"Iya, Sa. Terima kasih ya."
"Nah, yuk! Sedikit lagi pengemasannya selesai," timpal Bima dari balik meja adonan dengan ceria, berusaha mencairkan suasana.
"Tinggal menggoreng kloter terakhir donat ini, lalu kita kemas rapi kotak-kotaknya buat diantar besok pagi!"
Ketiganya pun kembali menyatukan fokus dan tenaga.
Jemari mereka bergerak cepat namun penuh ketelitian—menggoreng donat hingga berwarna cokelat keemasan, menaburkan gula halus yang manis melimpah, serta menyusun kantung-kantung kopi espresso beraroma khas ke dalam dus pengiriman khusus.
Ratusan pesanan donat gula dan paket kopi espresso itu akhirnya selesai dikemas dengan rapi dan steril, siap untuk dikirimkan ke hotel bintang lima besok pagi.
Sementara itu, di tempat lain, di pekarangan rumah miliknya sendiri yang asri namun sunyi, Raka berdiri termenung di samping mobil sedan hitam kesayangannya.
Menolak tawaran Sari maupun staf kepercayaannya untuk mendampingi, ia memutuskan untuk menyetir mobilnya sendiri menuju Jawa Tengah tanpa pengawalan asisten atau pengawal pribadi.
Bagi Raka, perjalanan ini bukan sekadar urusan bisnis untuk membuka cabang baru perusahaan.
Ia ingin perjalanan ratusan kilometer ini menjadi momen perenungan dan pembuktian bahwa dirinya kini benar-benar berdiri tegak di atas kakinya sendiri—murni dari keringat dan usahanya, tanpa secuil pun bantuan dari bayang-bayang nama besar Devandra.
Sebelum memasukkan koper terakhir ke dalam bagasi mobil, Raka berhenti sejenak.
Tangannya terulur meraba dada, meraih sebuah rantai perak tipis yang tersembunyi di balik kemejanya.
Di ujung rantai itu menggantung cincin pernikahan Gladys—cincin yang dulu ditinggalkan sang istri di lobi bandara.
Raka menggenggam cincin itu erat-erat di telapak tangannya, memejamkan mata sejenak untuk merasakan sisa kehangatan yang seolah masih terpancar dari benda tersebut.
"Gladys, di mana pun kamu berada, tunggu aku," bisik Raka lirih ke udara kosong.
Ia lalu memasukkan kembali cincin itu ke balik kemejanya, menutup bagasi mobil, dan melangkah masuk ke ruang pengemudi.
Saat ia menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukannya meninggalkan pekarangan rumah, hatinya berdegup kencang dengan aneh.
Perjalanan panjang menuju Jawa Tengah kali ini terasa begitu berbeda—seolah angin malam dan detak jantungnya membisikkan keyakinan bahwa jawaban atas pencariannya selama satu tahun penuh penantian ini sudah berada di ambang mata.
Suasana di dalam kabin mobil sedan mewah ber-AC dingin itu terasa begitu pekat dan menyesakkan.
Di kursi belakang, Praduta duduk dengan angkuh, mengenakan setelan jas bermerek dan kacamata hitam berbingkai perak yang kian menonjolkan aura dingin di wajahnya.
Di balik kemudi, Pak Minto—sopir senior yang sudah puluhan tahun mengabdi pada keluarga Devandra—mencengkeram setir dengan jemari yang sedikit gemetar.
Dulu, pria paruh baya itu dengan tulus setia melayani Raka dan keluarga besar Devandra.
Namun kini, di bawah ancaman dan kuasa mutlak Praduta yang telah merusak keharmonisan keluarga, ia tak punya pilihan selain menuruti setiap perintah tuan muda baru yang kejam itu.
Praduta melirik sekilas ke arah spion tengah, menangkap bayangan wajah Pak Minto yang tampak tegang.
Seringai tipis terukir di bibirnya, sengaja melempar racun untuk menguji mental sopirnya.
"Bagaimana, Pak Minto?" suara Praduta memecah keheningan kabin dengan nada merendahkan.
"Dibandingkan melayani tuan muda kesayanganmu si Raka itu, melayaniku jauh lebih bergengsi, kan? Atau, hati tua Bapak masih tertinggal Raka?
Pak Minto menelan ludahnya yang terasa kelat. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Dengan suara tercekat dan penuh kehati-hatian, ia menjawab, "S-saya hanya menjalankan tugas sebagai pengemudi, Tuan Praduta."
"Baguslah kalau sadar posisi," potong Praduta dingin.
Di balik kacamata hitamnya, mata Praduta menyipit penuh ambisi.
Perjalanan menuju Jawa Tengah ini bukan sekadar urusan bisnis memperebutkan proyek besar di hotel bintang lima.
Ia tahu persis Raka akan datang. Dan kali ini, ia bertekad tidak hanya akan menginjak-injak harga diri kakaknya di hadapan para kolega, tetapi juga menghancurkan Raka sepenuhnya jika pria itu berani muncul di hadapannya.
Lima jam perjalanan darat yang melelahkan akhirnya terlewati.
Di pelataran parkir VVIP hotel bintang lima berarsitektur megah di Jawa Tengah, dua mobil mewah dari arah berlawanan tiba hampir bersamaan. Suasana pagi itu langsung berubah tegang.
Raka mematikan mesin mobil sedan hitamnya. Dengan langkah tegap namun sarat akan kelelahan emosional, ia keluar dari balik kemudi.
Ia mengenakan kemeja gelap berbalut jas rapi, dan di balik kerah kemejanya, rantai perak yang menggantungkan cincin Gladys berdenyut hangat di dadanya.
Nyaris bersamaan dengan itu, pintu mobil sedan mewah di jalur sebelah terbuka.
Pak Minto segera bergegas keluar untuk membukakan pintu bagi majikannya.
Praduta melangkah keluar dengan gaya angkuhnya yang khas.
Ia merapikan jasnya, lalu mendongak perlahan sambil membenarkan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
Di bawah terik matahari pagi, senyuman sinis dan mematikan tersungging di bibirnya saat netranya menangkap sosok Raka berdiri beberapa meter darinya.
Praduta melangkah mendekat dengan santai, menebar aura permusuhan yang kentara.
Ia melepas kacamata hitamnya perlahan, menatap sang kakak tiri dengan tatapan mengejek.
"Halo, Kakak." sapa Praduta dengan nada suara yang beracun, menikmati setiap detik ketegangan di wajah Raka.