NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Lastri menurunkan kaca mobil setengah, dan udara siang masuk membawa bau aspal yang dipanaskan matahari, gorengan dari penjual di pertigaan, dan tanah yang baru disiram. Ia memejamkan mata sebentar sampai Elang di sebelahnya melirik.

"Kenapa?" tanya Elang, satu alisnya terangkat. "Kau tidak mual, kan?"

Lastri membuka mata dan menggeleng.

"Tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum. "Aku hanya lupa kalau di luar ternyata seramai ini."

Tujuan pertama mereka taman kota. Elang bilang ia tidak tahu harus membawa orang yang enam bulan tidak keluar rumah ke mana lagi, jadi taman itu pilihan paling aman. Rumputnya luas dan hijau, penuh keluarga yang menggelar tikar, anak-anak yang mengejar balon, dan penjual es krim yang membunyikan lonceng setiap beberapa menit.

Lastri berdiri di tepi rumput dan tidak tahu harus melangkah ke arah mana, sampai Elang menaruh dua cone es krim di tangannya, vanila dan cokelat, lalu mengambil yang cokelat untuk dirinya sendiri.

"Kau kira ini pesta?" tanya Elang ketika Lastri menjilat es krimnya dengan mata berbinar. "Ini cuma es krim."

Lastri tertawa sambil menunjuk cone di tangannya. "Ini pesta, Elang. Pesta pertamaku setelah enam bulan."

Elang mengangkat bahu dan tidak membantah lagi. Mereka berjalan pelan menyusuri jalan setapak, dan seorang ibu yang menggendong bayi menatap Elang cukup lama lalu berbisik pada suaminya. Tidak jauh dari situ, seorang remaja berseragam sekolah berhenti di tengah jalan dengan ponsel yang sudah setengah terangkat.

"Kak Elang?" Suara remaja itu agak pecah. "Kakak yang di televisi itu, kan? Boleh foto, Kak?"

Lastri menahan tawa dengan punggung tangan sambil memperhatikan Elang, yang menimbang beberapa detik dengan wajah serius.

"Satu saja," katanya akhirnya. Remaja itu mengangguk cepat, berdiri di sampingnya dengan bahu kaku, dan mengambil foto. Dua temannya muncul dari balik pohon seperti sudah menunggu sejak tadi.

"Kami juga, Kak," kata salah satunya sambil mengangkat ponsel, hampir berlari mendekat. "Cuma sebentar."

Elang menggeleng tanpa menoleh.

"Aku bilang satu," katanya. "Sisanya lihat saja di televisi."

Ketiga remaja itu mundur sambil tertawa gugup. Lastri sampai harus bersandar di lengan Elang karena tidak sanggup berdiri tegak, dan setelah napasnya teratur ia mendongak.

"Kamu kejam sekali," katanya.

"Aku hanya adil," jawab Elang, tanpa melepaskan lengannya dari pegangan Lastri.

Sore harinya mereka masuk ke sebuah toko kecil di sudut jalan yang menjual pita dan jepit rambut. Lastri memilih pita biru dengan warna yang hampir sama dengan yang ia pakai, lalu menggantinya di depan cermin dan menoleh ke arah Elang.

"Bagaimana?" tanyanya sambil memiringkan kepala.

Elang melirik rak sepatu di sebelahnya lebih dulu. "Sama saja dengan yang tadi, tapi yang ini lebih cocok."

Lastri tersenyum begitu lebar sampai penjaga toko di belakang kasir ikut tersenyum tanpa tahu sebabnya. Ia membayar dengan kartunya, dan Elang tidak berkomentar sampai mereka keluar dari toko.

"Besok aku yang bayar," katanya sambil memasukkan tangan ke saku.

"Kamu tidak perlu begitu," kata Lastri, sedikit terkejut.

Elang menatap jalan di depan mereka. "Aku mau begitu"

Malamnya mereka makan di restoran lantai atas sebuah gedung, tempat kaca-kaca besar memperlihatkan kota yang mulai menyalakan lampunya. Lilin kecil menyala di meja, dan pelayan menuangkan air tanpa suara. Lastri membuka daftar menu dan tidak menemukan satu pun harga di sana.

"Ini milik Wijaya?" tanya Elang sambil menunjuk logo di sudut halaman. "Kau tidak akan mengeluarkan uang sama sekali, kan?"

Lastri menutup daftar menu.

"Milik Ayah," jawabnya. "Kamu juga tidak akan dapat tagihan."

"Aku tidak khawatir soal tagihan," kata Elang sambil membuka serbetnya.

Lastri memiringkan kepala. "Aku tahu, dan itu yang membuatku penasaran. Kamu sepertinya tidak pernah khawatir soal apa pun."

Makanan datang, dan mereka makan dengan tenang. Di tengah-tengah, Lastri meletakkan garpunya.

"Keluargamu bagaimana?" tanyanya pelan.

Gerakan sendok Elang berhenti sebentar. "Aku tidak punya keluarga yang perlu dibicarakan."

Lastri menatapnya sebentar, lalu mengangguk dan tidak bertanya lagi.

"Baiklah," katanya sambil mengambil garpunya kembali. "Kalau begitu aku yang bercerita."

Ia bercerita tentang rumah besar yang selama enam bulan hanya berisi langkah para perawat, tentang ayahnya yang setiap malam duduk di samping ranjang dan membacakan koran meski ia tahu Lastri tidak mendengar, dan tentang pita biru pemberian ibunya sebelum pergi, saat ia masih terlalu kecil untuk mengingat wajahnya.

Elang mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mengangguk atau mengambil gelas airnya, tetapi pandangannya tetap pada Lastri. Ketika cerita itu selesai, es krim di piring pencuci mulut Lastri sudah meleleh sepenuhnya, dan ia tertawa kecil karena tidak sadar kapan itu terjadi.

Mobil berhenti di depan gerbang rumah keluarga Wijaya pukul sembilan lewat sedikit. Lampu teras menyala, dan Pak Wijaya berdiri di bawahnya dengan tangan terlipat di dada, jasnya sudah dilepas. Lastri melihatnya dari balik kaca dan merasa gugup seperti anak yang pulang melewati jam malam.

"Ayah," sapanya sambil turun dan menghampiri ayahnya dengan langkah pelan. "Aku pulang."

Pak Wijaya memperhatikannya dari atas ke bawah: rambutnya, pita barunya, pipinya yang memerah, dan kantong kertas kecil di tangannya.

"Kau pulang lebih lambat dari janji," katanya. Lalu senyum itu muncul pelan, tanpa bisa ia tahan.

"Maaf, Ayah," kata Lastri sambil menunduk, tetapi ia ikut tersenyum.

Pak Wijaya menyentuh puncak kepalanya. "Tidak apa-apa. Sudah lama sekali Ayah tidak melihatmu sebahagia ini."

Lastri menoleh sebentar ke arah mobil. Di balik kaca, Elang menatap lurus ke depan dengan satu lengan bersandar di jok, dan wajahnya tidak menoleh, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Pintu mobil menutup, dan lampu belakangnya perlahan menjauh di ujung jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!