Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
"Hmmpp—!"
Alina terkejut, matanya membelalak lebar. Tubuhnya tersentak hebat, kedua tangannya langsung menekan dada bidang Revan dengan kuat, mencoba mendorongnya menjauh.
"Le—lepaskan! Lepaskan aku, Revan!" serunya begitu bibirnya sempat terpisah, napasnya memburu antara kaget dan marah. "Kau gila?! Rafael baru saja menelepon! Kalau dia tahu..."
"Biarkan dia tahu..." bisik Revan serak, tidak melepaskan, malah mempererat pelukan di pinggangnya. Wajahnya kembali mendekat, dahi mereka hampir bersentuhan. "Aku sudah lelah berbohong. Dan aku tahu kau juga sudah lelah berpura-pura tidak merasakan apa-apa saat bersamaku."
"Aku tidak! Kau salah paham!" Alina masih berusaha mendorongnya, dadanya naik turun hebat, pipinya merah padam. "Aku adalah istri Rafael! Kau... kau ini asistennya! Ini salah, Revan! Sangat salah!"
"Salah?" Revan tersenyum getir, satu tangannya menyisir lembut rambut di samping telinga Alina. "Lalu apa yang benar? Menunggu pria yang tidak pernah pulang? Menjadi hiasan di rumah besar ini?"
Alina terdiam, rontaannya melemah. "Kau memanfaatkan keadaanku... kau memanfaatkan kesepianku!"
"Mungkin," akui Revan jujur, suaranya turun menjadi bisik. "Tapi perasaan ini bukan buatan, Alina. Dan ciuman tadi... kau juga membalasnya, bukan?"
Wajah Alina kembali memerah, ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di dada Revan.
"Itu... itu karena aku kaget..." gumamnya lemah.
Revan terkekeh pelan di atas ubun-ubunnya, lalu mengangkat dagunya kembali.
"Kalau begitu buktikan. Dorong aku sekarang dan naik kembali ke kamarmu. Dan aku janji malam ini aku tidak akan mengejarmu lagi. Tapi kalau kau tidak pergi... maka kau mengakui apa yang terjadi di antara kita ini nyata."
Alina mendorongnya kuat-kuat hingga terlepas, melepaskan diri secepat mungkin tanpa menoleh lagi. Wajahnya masih panas, napasnya berantakan, namun ia berusaha menata kesadarannya yang sempat nyaris runtuh.
"Cukup, Revan. Jangan ikut aku!" ucapnya tegas namun bergetar. Ia langsung keluar dari kamar tamu itu, menutup pintu rapat dengan sedikit keras, lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar terkunci rapat, punggungnya merosot pelan menempel pada pintu itu. Napasnya masih memburu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sejenak.
Beberapa detik kemudian, ia memaksakan diri berdiri, langkahnya gontai melintasi karpet tebal menuju sisi ranjang yang jaraknya beberapa meter dari pintu. Ia terduduk di tepi ranjang.
Ia melirik jam dinding, jarumnya sudah menunjuk pukul sebelas malam. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia meraih ponsel di atas nakas.
"Halo? Kenapa kamu belum tidur, Alina?" tanya Rafael duluan, tanpa sapaan hangat.
Alina menggigit bibir bawahnya. "Ini sudah jam sebelas malam, Rafael. Kapan kamu akan pulang?"
Hening sejenak.
"Malam ini aku tidak akan pulang. Masih ada pekerjaan penting. Besok pagi langsung rapat, jadi menginap di sini saja lebih praktis."
Hati Alina mencelos.
"Begitu ya..." gumamnya pelan. "Baiklah."
"Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja pada Revan," lanjut Rafael. "Dia ada di kamar tamu bawah. Aku menyuruhnya menginap untuk menjagamu."
Alina tertegun, matanya melirik ke arah pintu yang baru saja ia kunci.
"Revan... jadi kau yang menyuruhnya tinggal di kamar tamu?" tanyanya hampir berbisik.
"Tentu saja. Ada masalah?"
"Tidak... tidak ada masalah," jawab Alina buru-buru. "Selamat bekerja, Rafael."
"Ya. Jangan tunggu aku, tidurlah."
Panggilan diputus sepihak. Layar ponselnya mati, meninggalkan Alina sendirian dalam kamar yang terasa begitu luas dan dingin.
-
-
-
Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai. Dapur di lantai bawah sudah tercium aroma kopi, roti panggang, dan telur dadar.
Revan berdiri di dekat meja dapur, mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya sedikit dibuka, rambutnya tertata rapi seakan tidak ada satu pun hal yang mengganggunya semalam.
Langkah kaki terdengar pelan menuruni tangga. Alina muncul di ambang pintu dapur, mengenakan dress biru muda, wajahnya terlihat segar meski di balik senyum tipisnya tersembunyi sisa lelah semalam.
"Selamat pagi, Nyonya Alina." Revan membuka suara, nadanya sopan dan formal, seakan tidak pernah ada momen mendebarkan di antara mereka. "Sarapan sudah siap. Ada roti panggang, telur dadar, dan kopi susu hangat sesuai selera Nyonya. Atau... ada yang perlu saya tambahkan?"
Alina menarik napas pelan, berusaha menenangkan debar yang selalu muncul setiap kali melihat pria itu. Ia duduk di kursi yang sudah disiapkan.
"Selamat pagi. Tidak perlu ditambahkan apa-apa, ini sudah lebih dari cukup."
Revan menuangkan kopi susu ke cangkir, lalu meletakkannya tepat di sebelah piring Alina.
"Apakah Tuan Rafael sudah memberi kabar kapan beliau akan pulang, Nyonya?" tanyanya sekenanya.
"Belum," jawab Alina singkat. "Sepertinya pekerjaannya memang banyak. Kau bisa pergi ke kantor untuk membantunya. Tidak perlu mengkhawatirkan aku."
Revan berhenti sejenak, sudut bibirnya tersenyum tipis.
"Pergi ke kantor begitu saja... meninggalkan Nyonya sendirian di rumah besar ini?" tanyanya lembut, nada sopan namun ada getaran halus yang membuat bulu kuduk Alina meremang. "Bagaimana kalau nanti Nyonya kembali merasa kesepian di tengah malam?"
Alina tersentak, tangannya yang memegang sendok terhenti di udara.
"Kau... kau ini bicara apa, Revan?" jawabnya berusaha tegas.
Revan terkekeh pelan, lalu melangkah memutar kursi hingga berdiri tepat di sisi meja tempat Alina duduk. Tangannya menyandar di tepi meja, wajahnya cukup dekat hingga Alina bisa mencium aroma sabunnya yang segar pagi itu.
"Saya juga serius, Nyonya. Lagipula... Tuan Rafael sendiri yang menyuruh saya tetap di sini untuk menemani Nyonya, bukan? Dan saya orang yang sangat patuh pada perintah... terutama kalau Nyonya memang butuh ditemani."
Dada Alina naik turun tak beraturan. Ia menatapnya tajam.
"Kau... kau berani sekali menindas aku saat tidak ada suamiku di rumah!"
Revan tersenyum makin lebar, jari telunjuknya menyentuh ringan ujung jari Alina yang tergeletak di tepi meja, sentuhan yang sangat ringan namun membuat seluruh tubuh wanita itu tersengat.
"Bukan menindas, Nyonya... melainkan memberikan perhatian yang seharusnya didapatkan wanita seperti Nyonya," bisiknya tepat di telinganya. "...siapa yang semalam terlihat begitu kesepian dan butuh ditemani, hah?"
Alina langsung menarik tangannya, wajahnya merah padam hingga ke telinga, ia buru-buru berdiri.
"Revan! Cukup! Kalau kau terus bersikap begitu... aku akan melaporkan sikapmu ini pada suamiku!"
Revan menegakkan badan, merasa tertantang.
"Silakan, Nyonya. Laporkan saja kalau sentuhan saya salah."
Alina mendengus kesal.
"Kau... kau memang sengaja ya? Menjadikan perintah itu sebagai alasan untuk bersikap seperti ini padaku?!" ketusnya, lalu membalikkan badan, gaun biru mudanya melambai mengikuti langkah cepatnya. "Sudahlah, aku tidak mau bicara denganmu lagi!"
Langkah kakinya terdengar cepat di lantai keramik, baru saja menginjak tangga kedua, suara bel pintu depan terdengar nyaring.
Ting... Tong...
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰