Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan makan malam
Kediaman utama keluarga Mahendra berdiri megah di kawasan elit yang jauh lebih luas daripada mansion pribadi Adrian. Rumah itu tampak seperti istana kerajaan dengan pilar-pilar putih raksasa dan penjagaan yang sangat ketat di gerbang depan. Ketika mobil sedan mewah yang mereka naikin berhenti di depan lobi utama, belasan pelayan langsung membungkuk hormat.
Adrian turun terlebih dahulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Naura. Dia mengulurkan tangannya yang terbalut lengan jas mahal dengan gestur yang sangat jentelmen.
Naura menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila, lalu menyambut uluran tangan itu.
Begitu kaki Naura memijak lantai lobi, Adrian langsung melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Naura, menarik gadis itu hingga menempel erat di sisinya. Sentuhan mendadak itu membuat Naura menegang, namun dia teringat akan janjinya untuk bersandiwara dengan baik di depan keluarga besar pria ini. Dia pun memaksakan sebuah senyuman manis di wajahnya yang cantik.
"Rilekslah. Tubuhmu keras seperti batu," bisik Adrian sangat lirih di dekat telinga Naura, seolah-olah dia sedang membisikkan kalimat mesra kepada istrinya.
"Baik, Tuan," balas Naura lewat sudut bibirnya yang tetap tersenyum.
Mereka berjalan beriringan memasuki aula perjamuan makan malam. Di dalam ruangan, lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang mewah. Sebuah meja makan panjang sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan kelas atas. Beberapa pasang mata yang berada di dalam ruangan itu seketika menoleh ke arah pintu masuk saat kedatangan sang CEO Mahendra Group diumumkan.
Di ujung meja makan, duduk seorang pria tua berambut putih perak dengan tatapan mata yang tajam. meskipun sudah renta, tatapannya tetap memancarkan aura ketegasan yang luar biasa. Dia adalah Tirta Mahendra, kakek Adrian sekaligus pendiri tunggal gurita bisnis Mahendra Group. Di sebelah kanan dan kirinya, duduk paman dan bibi Adrian, serta beberapa anggota keluarga besar lainnya yang menatap kedatangan Naura dengan pandangan menilai dan penuh selidik.
"Adrian, kau akhirnya datang," suara Tirta bergaung berat, namun ada nada kehangatan yang jarang terdengar saat dia menatap cucu kesayangannya itu. Pandangan pria itu kemudian beralih dan terkunci pada Naura yang berdiri anggun di samping Adrian. "Dan ini... istri yang kau ceritakan itu?"
Adrian menuntun Naura mendekati sang kakek. Pria dingin itu membungkuk sedikit penuh hormat, sebuah pemandangan yang langka bagi seorang Adrian Mahendra yang terkenal angkuh.
"Benar, Kakek. Ini Naura Ayu, istriku," ucap Adrian dengan nada suara yang sengaja dibuat lebih lembut dari biasanya. Dia menatap Naura dengan pandangan yang seolah penuh cinta, membuat siapa pun yang melihatnya akan percaya bahwa mereka adalah pasangan yang di mabuk asmara.
"Naura, beri salam pada Kakek."
Naura melangkah maju satu langkah, membungkuk dengan sangat anggun dan sopan. "Selamat malam, Kek. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda malam ini."
Tirta Mahendra memperhatikan gerak-gerik Naura dengan cermat. Meskipun pakaian yang dikenakan Naura mewah, pembawaan gadis itu tetap sopan, dan tidak memancarkan ketamakan seperti wanita-wanita sosialita yang biasanya mendekati Adrian. Sebuah senyuman puas akhirnya terukir di wajah keriput sang kakek.
"Bagus, bagus sekali. Pilihanmu tidak salah, Adrian. Dia gadis yang sangat anggun," puji Tirta sambil mengetukkan tongkat jalannya ke lantai dengan puas. "Duduklah, mari kita mulai makan malamnya."
Sandiwara awal mereka berjalan sukses. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat mereka baru saja menduduki kursi yang telah disediakan. di sebelah kiri Tirta, pintu aula kembali terbuka. Langkah kaki yang terdengar santai dan terkesan meremehkan memasuki ruangan.
"Ah, maaf saya terlambat, Kakek. Jalanan ibu kota malam ini sangat padat," ucap sebuah suara yang terdengar sarkastik.
Naura menoleh dan melihat seorang pria muda yang usianya tidak jauh berbeda dari Adrian melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan jas dengan potongan yang agak santai, rambutnya ditata sedikit berantakan namun modis, dan seulas senyuman tipis yang licik terpatri di wajah tampannya.
Dia adalah Gavin Mahendra, sepupu tiri Adrian sekaligus orang yang paling berambisi untuk merebut posisi CEO Mahendra Group dari tangan Adrian.
Mata Gavin langsung menyapu ruangan dan langsung terkunci pada sosok Naura. Kilat ketertarikan yang vulgar dan penuh intrik seketika terpancar dari sepasang matanya. Dia berjalan mendekati meja makan, namun alih-alih langsung menyapa sang kakek, Gavin justru melangkah memutari meja dan berhenti tepat di belakang kursi Naura.
"Jadi... ini dia Nyonya Mahendra yang baru?" Gavin menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Naura hingga membuat Naura merasa sangat tidak nyaman dan refleks memundurkan kepalanya. Gavin mengulurkan tangan kanannya ke depan Naura dengan senyum manis yang terasa beracun.
"Perkenalkan, sepupu ipar yang cantik. Aku Gavin. Senang sekali akhirnya kakak sepupuku yang dingin seperti es ini bisa menemukan wanita seindah dirimu."
Naura melirik ke arah Adrian yang duduk di sebelahnya. Dia bisa merasakan atmosfer di sekitar mereka mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Rahang Adrian tampak mengeras, dan cengkeraman tangan Adrian pada garpu di atas meja memutih karena tekanan emosi yang kuat. Kilat membunuh seketika terpancar dari mata elang sang CEO.
Sebelum Naura sempat membalas uluran tangan Gavin, Adrian sudah bergerak lebih cepat. Pria itu berdiri dari duduknya, merebut perhatian seluruh ruangan. Dengan gerakan yang sangat protektif, Adrian meraih tangan Naura, menarik gadis itu agar berdiri di belakang tubuh besarnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng yang menghalangi pandangan Gavin dari Naura.
"Jaga batasanmu, Gavin," ucap Adrian, suaranya sangat rendah, berat, dan dipenuhi dengan nada ancaman yang membuat bulu kuduk merinding. "Dia adalah kakak iparmu. Dan kau tidak punya hak untuk menatap atau menyentuhnya seujung jari pun."
Gavin menarik kembali tangannya yang menggantung di udara sambil terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa takut dengan gertakan Adrian. Dia justru merasa puas karena berhasil memancing emosi sepupunya yang biasanya selalu tenang terkendali itu.
"Wow, santai saja, Kak Adrian. Aku hanya ingin bersikap ramah pada anggota keluarga baru kita," ujar Gavin dengan nada polos yang dibuat-buat, namun matanya tetap melirik licik ke arah Naura yang bersembunyi di balik punggung Adrian.
"Lagipula... pernikahan yang mendadak ini sangat mengejutkan, bukan? Aku hanya penasaran, pesona apa yang dimiliki wanita secantik ini sampai bisa menaklukkan hati seorang CEO berdarah dingin sepertimu dalam waktu semalam."
Suasana di aula makan malam seketika berubah menjadi sangat tegang. Para paman dan bibi Adrian hanya diam menonton, sementara Kakek Tirta mengerutkan dahinya melihat persaingan kedua cucunya yang langsung memanas di awal pertemuan.
Naura yang berdiri di belakang punggung lebar Adrian bisa merasakan bagaimana tubuh pria itu bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Keposesifan Adrian yang awalnya Naura kira hanya bagian dari sandiwara kontrak, malam ini terasa sangat nyata dan berbahaya.
Adrian benar-benar bertingkah seperti seekor singa yang siap mencabik siapa saja yang berani menyentuh wilayah kekuasaannya.