**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Warung Bambu
Aina tidak tahu berapa lama ia berdiri mematung di ambang warung. Mungkin beberapa detik, mungkin satu menit penuh. Yang ia tahu, kakinya tiba-tiba bergerak sendiri, mundur perlahan, lalu bersembunyi di balik tiang bambu yang dipenuhi gantungan kerupuk dan kantong plastik berisi kacang.
Ia tidak sanggup melangkah maju. Tidak sanggup memanggil nama itu lebih keras.
Dari celah gantungan kerupuk, ia masih bisa melihat posisi sudut meja. Raka, Sang suami yang bersama Aina selama sepuluh tahun sedang menyuapi bocah itu dengan sesendok es campur. Bocah itu membuka mulut lebar-lebar, lalu tertawa ketika sirup merah menetes di dagunya.
"Arsya, pelan-pelan. Nanti bajumu kotor lagi," kata wanita berkerudung krem itu, lembut, sambil menyeka dagu si bocah dengan tisu.
"Biarin, Dinda. Namanya juga anak-anak," sahut Raka.
Dinda.
Aina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Panggilan itu menusuk lebih dalam daripada apa pun yang baru saja ia lihat. Selama sepuluh tahun, Raka hanya memanggilnya "Na". Singkat, sederhana, tanpa hiasan. Ia tidak pernah keberatan. Ia pikir memang begitulah cara Raka menyayangi.
Ternyata Raka tahu cara memanggil seseorang dengan mesra. Hanya saja, bukan dirinya.
"Bu? Mau beli apa?"
Aina tersentak. Seorang gadis remaja penjaga warung menatapnya dengan heran. Aina buru-buru menunduk, menutupi separuh wajahnya dengan ujung kerudung.
"Air… air mineral satu," jawabnya, suaranya serak.
Gadis itu mengambil sebotol air dari lemari pendingin. Aina menyodorkan uang lima ribuan dengan tangan gemetar, lalu tidak menunggu kembalian. Ia hanya ingin menghilang dari tempat itu sebelum Raka menoleh.
Namun langkahnya terhenti ketika suara wanita itu kembali terdengar.
"Abang jadi nginap di rumah malam ini, kan? Inaq bilang mau datang besok pagi, mau bahas acara ulang tahun Arsya."
"Jadi Dinda, Abang sudah bilang ke orang rumah kalau masih ada kerjaan di proyek sampai lusa."
Orang rumah.
Aina memejamkan mata. Begitu rupanya dirinya disebut. Bukan istri, Bukan nama tetapi hanya orang rumah, sesuatu yang harus diberi alasan.
Ibu mertuanya, Perempuan yang setiap Lebaran memeluknya yang dulu menghadiri akad nikahnya dengan senyum lebar setiap kali bertemu selalu menepuk perutnya sambil berkata, "Sabar ya Nak, Allah tahu waktu terbaik."
Perempuan itu tahu. Selama ini, ia tahu.
Aina tidak ingat bagaimana ia sampai ke motornya. Tahu-tahu ia sudah duduk di jok, Bahkan kotak kue masih di pangkuan, helm belum terpasang. Dari tempatnya parkir di bawah pohon waru, ia melihat Raka keluar dari warung sambil menggendong Arsya di pundak. Wanita itu berjalan di sampingnya, menggandeng lengan Raka dengan santai, seolah dunia memang selalu begitu.
Mereka masuk ke sebuah mobil putih. Bukan motor bebek tua yang biasa dipakai Raka ke mana-mana. Mobil itu mengilap, dengan stiker kecil berbentuk hati di kaca belakang dan tulisan Arsya's Family.
Mobil itu melaju pelan, lalu berbelok ke arah perbukitan di timur Kuta.
Sesuatu dalam diri Aina ingin mengejar. Ingin tahu ke mana mereka pergi, rumah seperti apa yang mereka tinggali, seberapa jauh kebohongan ini terbentang. Tangannya bahkan sudah memutar kunci motor.
Tetapi kemudian ia teringat perutnya, Ingat nyawa kecil yang baru saja hadir. Ia tidak boleh mengebut di jalanan berbukit dengan pikiran sekacau ini.
Aina mematikan mesin. Lalu, untuk pertama kalinya sejak tiba di pantai itu, ia menangis. Tanpa suara, dengan bahu terguncang, di bawah pohon waru, di tengah keramaian wisatawan yang tidak peduli.
Perjalanan pulang ke Sengkol terasa jauh lebih panjang daripada saat berangkat. Matahari sudah tenggelam ketika Aina akhirnya memarkir motor di halaman rumah. Lampu teras belum menyala. Rumah itu gelap dan sunyi, persis seperti hatinya.
Ia masuk, meletakkan kotak kue di meja makan, lalu duduk lama memandanginya. Krim hijau bertuliskan "Selamat Mamik" sudah sedikit meleleh karena panas sepanjang jalan. Hurufnya miring, nyaris tak terbaca.
Aina tertawa kecil. Getir, Panggilan itu ternyata sudah lebih dulu dimiliki orang lain.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Mas Raka ❤: Maaf baru balas sayang, Tadi seharian rapat sama orang Jakarta di lokasi proyek. Capek banget, Mas belum bisa pulang sampai lusa ya. Jaga diri baik-baik.
Aina membaca pesan itu berulang-ulang. Rapat, Lokasi proyek, Sayang, Setiap kata itu terasa seperti pisau kecil yang diiris pelan-pelan.
Berapa banyak pesan seperti ini yang sudah ia terima selama sepuluh tahun? Berapa banyak malam ia tidur sendirian, mendoakan suaminya yang katanya sedang lembur, sementara suaminya justru sedang menidurkan anak lelakinya di rumah lain.
Jarinya bergerak cepat di layar. "Aku tadi ke Kuta, Mas. Aku lihat semuanya".
Ia menatap kalimat itu lama. Lalu menghapusnya huruf demi huruf.
Bukan begini caranya. Jika ia mengirim pesan itu sekarang, Raka punya waktu semalaman untuk menyusun cerita. Raka pandai bicara. Raka selalu punya penjelasan untuk segalanya. Aina tahu itu lebih baik dari siapa pun.
Akhirnya ia hanya mengetik: Iya, Mas. Hati-hati.
Terkirim. Dibaca. Lalu muncul stiker hati kecil sebagai balasan.
Aina meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia berbaring miring di ranjang mereka, menatap sisi kasur yang kosong. Bantal Raka masih menyimpan aroma minyak rambutnya.
Kenangan bermunculan seperti potongan film yang diputar acak. Raka yang dulu melamarnya di berugak rumah orang tuanya di Praya. Raka yang menangis haru saat ijab kabul. Raka yang menemaninya ke dokter kandungan, menggenggam tangannya erat ketika dokter mengatakan rahimnya sehat dan mereka hanya perlu bersabar.
"Apakah semua itu sandiwara? Atau ada bagian yang tulus?"
Lalu potongan lain muncul, potongan yang dulu tak pernah ia pikirkan. Raka yang selalu menolak jika Aina ingin ikut ke acara keluarga besarnya di Kuta. Raka yang tidak pernah mau Aina mengurus berkas kependudukan mereka sendiri, padahal Aina bekerja di kantor kecamatan. "Biar Mas saja, kamu sudah capek kerja," katanya waktu itu. Raka yang menyimpan dompet dan ponselnya dengan sangat rapi, tidak pernah tergeletak sembarangan.
Dulu Aina menganggapnya perhatian. Sekarang semuanya tampak seperti pagar yang sengaja dibangun.
Aina bangkit, membuka lemari, dan mengeluarkan map plastik biru tempat mereka menyimpan dokumen penting. Buku nikah ada di sana. Ia membukanya. Nama mereka tertulis rapi, tanggal akad sepuluh tahun lalu, cap KUA Kecamatan Pujut.
Tapi kartu keluarga mereka tidak ada. Hanya fotokopi lama yang sudah buram, dengan nomor yang nyaris tak terbaca.
Aina menatap fotokopi itu lama sekali.
Besok pagi, ia akan berangkat ke kantor seperti biasa. Ia akan duduk di mejanya, menyalakan komputer, Lalu membuka aplikasi data kependudukan yang setiap hari ia gunakan untuk melayani warga.
Kali ini, untuk pertama kalinya, ia akan mencari satu nama untuk dirinya sendiri.
Lalu Raka.
Aina mengusap perutnya pelan, seolah meminta kekuatan dari makhluk kecil di dalam sana.
"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya dalam gelap. "Besok Ibu harus tahu siapa sebenarnya ayahmu."