Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pedang Kayu
Tiga hari sebelum pertemuan itu, Jian Chen berlatih seperti orang yang dikejar waktu. Setiap subuh ia berdiri di belakang gudang kayu dengan dahan lurus di tangan dan menahan sikap pertama Pedang Tanpa Bayangan sampai lengannya gemetar. Setiap sore ia memutar roda penghembus untuk Dao sampai bahunya berdenyut. Malamnya Lin Xue memeriksa nadinya dan hanya berkata, "Jangan berlebihan," dengan nada yang jelas-jelas tidak berharap ia akan menurut.
Pada subuh terakhir, Shen Yu muncul di belakang gudang dengan jubah putih biru yang masih berembun. Ia menyelinap lewat celah pagar, seperti yang ia janjikan beberapa bulan lalu.
"Kau akan melawan Zhao Feng," kata Shen Yu sambil bersandar di dinding gudang. "Seluruh sekte dalam membicarakannya."
"Bukan melawan. Latihan."
"Itu istilah murid dalam untuk dipukuli di depan penonton." Shen Yu menyeringai. "Berapa jurus yang bisa kau lakukan?"
"Satu sikap. Dan beberapa gerakan dasar."
"Kau berani menghadapi Pembentuk Fondasi dengan satu sikap?"
"Aku tidak punya pilihan."
"Kau punya. Kau bisa menolak." Shen Yu mengangkat bahu. "Tapi aku mengerti. Zhao Feng memang begitu. Kalau dia menantang, dia tidak membiarkan orang pergi."
"Kau kenal dia?"
"Cukup untuk tahu satu hal." Shen Yu berjalan mendekat dan mengetuk ujung dahan Jian Chen dengan jarinya. "Dia selalu membuka dengan tebasan miring dari kiri atas. Sudah bertahun-tahun begitu. Dia pikir itu membuat lawan lengah."
Jian Chen menatapnya. Ia sudah tahu hal itu sejak dua puluh tahun yang lalu, dan ia tidak menyangka orang lain juga memperhatikannya. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Aku cuma tidak ingin sahabatku kalah terlalu parah." Shen Yu tersenyum, dan senyum itu hangat seperti biasa. "Kalau kau jatuh, jatuhlah dengan elegan."
"Aku akan berusaha."
"Berusaha tidak cukup," kata Shen Yu, meniru nada Lin Xue dengan sempurna, dan Jian Chen tertawa tanpa bisa menahan.
Pagi hari yang ditentukan, lapangan latihan murid dalam dipenuhi lebih banyak orang daripada yang Jian Chen duga. Sekitar tiga puluh murid dalam berbaris di tepi lapangan, sebagian membawa pedang, sebagian hanya penonton. Di sisi lain, Lin Xue, Dao, dan Qiu Bo berdiri berdesakan di belakang pagar bambu, diizinkan masuk karena Lu Gang meminjamkan surat jalan. Shen Yu berdiri di antara murid dalam, tersenyum tipis.
Zhao Feng sudah menunggu di tengah lapangan. Jubah putih birunya rapi dan pedang kayu berlapis besi tipis tergenggam di tangan kanannya. Ia tidak membawa pedang asli.
"Aturannya sederhana," katanya. "Pedang kayu. Tiga sentuhan menentukan pemenang. Tidak ada qi yang dilepaskan keluar tubuh. Kau boleh menyerah kapan saja."
"Aku mengerti."
"Aku tidak akan menahan diri."
"Aku tidak berharap begitu."
Zhao Feng menatapnya sebentar, lalu mengangkat pedangnya ke posisi siaga. "Mulai."
Jian Chen mengangkat dahan kayu yang telah ia ganti dengan pedang latihan dari bengkel Dao, ringan dan lurus. Ia menggeser berat badan ke kaki belakang dan menunggu. Tiga langkah di depannya, Zhao Feng menegakkan bahu dan menarik napas.
Tebasan miring dari kiri atas.
Jian Chen melangkah ke kanan satu jengkal dan memiringkan tubuh. Pedang Zhao Feng meluncur lewat di depan dadanya dengan bunyi mendesing. Ia memutar pergelangan tangan dan menyentuhkan ujung pedangnya ke rusuk Zhao Feng, ringan tetapi jelas.
"Satu sentuhan," seru seorang murid dalam dari tepi lapangan.
Zhao Feng mundur selangkah. Matanya menyipit.
"Kebetulan," gumamnya.
"Mungkin," kata Jian Chen.
Mereka bergerak lagi. Kali ini Zhao Feng menyerang dengan tusukan lurus, cepat, dan Jian Chen menahannya dengan bilah pedangnya sendiri. Benturan dua pedang kayu menimbulkan bunyi tajam. Lengan Jian Chen tergetar sampai bahu. Zhao Feng menarik pedangnya dan menebas rendah ke kaki. Jian Chen melompat mundur, mendarat dengan lutut goyah, dan menahan serangan berikutnya dengan susah payah.
Ia tahu semua gerakan itu. Tusukan lurus, tebasan rendah, putaran pinggang. Zhao Feng memakai pola yang sama dengan dua puluh tahun lalu, hanya lebih cepat dan lebih tajam. Tubuhnya yang tahu, tubuh Jian Chen yang tidak sanggup.
Pada pertukaran keenam, napas Jian Chen mulai berat. Lengan kirinya yang dulu kebas kini terasa terbakar, dan setiap gerakan pedangnya sedikit terlambat dari yang dimaksudkan. Zhao Feng menyadarinya. Ia menyerang lebih cepat, tidak memberi ruang bernapas.
Sentuhan pertama untuk Zhao Feng datang dari kiri, mengenai bahu Jian Chen dengan keras. "Satu-satu," seru murid dalam itu.
Jian Chen menggertakkan gigi. Ia mengatur ulang sikap, memusatkan pandangan pada bahu Zhao Feng, dan menunggu. Zhao Feng membuka dengan tebasan miring dari kanan. Jian Chen tahu gerakan itu juga. Ia menunduk, membiarkan pedang itu lewat, lalu menusukkan ujung dahannya ke perut lawan. Zhao Feng memutar tubuh tepat waktu dan tusukan itu hanya menyerempet pinggang.
"Tidak masuk," kata Zhao Feng datar. "Tidak dihitung."
"Aku tahu."
"Kau tahu terlalu banyak."
Zhao Feng menyerang lagi, dua tebasan berturut-turut yang tidak ada dalam ingatan Jian Chen. Ia berhasil menahan yang pertama dengan bilah, tetapi yang kedua menghantam sisi kanan lehernya dengan bunyi tumpul. Ia terhuyung dan jatuh dengan satu lutut di tanah.
"Dua-satu," seru murid dalam itu.
Jian Chen bangkit. Dadanya naik turun. Dari ujung matanya ia melihat Lin Xue mencengkeram pagar bambu, mulutnya terkatup rapat. Dao berdiri tegang di sampingnya. Qiu Bo berseru sesuatu yang tidak terdengar.
"Menyerah?" tanya Zhao Feng.
"Belum."
"Kau tidak bisa memenangkan ini."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tetap berdiri?"
"Karena kau belum menyentuhku untuk yang ketiga kali," jawab Jian Chen.
Zhao Feng menatapnya sebentar, lalu mengangkat pedangnya lagi. Tidak ada tebasan pembuka kali ini. Ia menyerang langsung dengan tusukan lurus yang sangat cepat, dan Jian Chen, yang tidak sanggup mengelak, hanya sempat memiringkan pedangnya. Ujung kayu Zhao Feng menyentuh dadanya, tepat di tengah. Tidak keras, tetapi cukup.
"Tiga-satu," seru murid dalam itu. "Pemenang, Zhao Feng!"
Jian Chen menurunkan pedangnya. Napasnya tersengal. Di tepi lapangan terdengar tepuk tangan terpencar dan gumaman. Zhao Feng menyarungkan pedang kayunya di ikat pinggang dan berjalan mendekat.
"Aku hanya akan mengatakan ini sekali," katanya pelan, supaya hanya Jian Chen yang mendengar. "Kau tahu gerakanku sebelum aku bergerak. Tebasan pembuka, tusukan lurus, putaran pinggang. Orang yang hanya mengamati tidak bisa membaca sebegitu jelas. Kau bertindak terlalu seolah-olah sudah tahu."
Jian Chen tidak menjawab.
"Tapi tubuhmu tidak mampu mengikuti pengetahuanmu." Zhao Feng menatapnya lurus. "Itu kelemahanmu. Dan itu satu-satunya alasan kau kalah."
"Aku mengerti."
"Aku belum menagih hutang jawabanmu." Zhao Feng berbalik, tetapi sebelum pergi ia menambahkan, "Tapi aku makin yakin pertanyaannya."
Ia pergi. Jian Chen berdiri diam. Lin Xue sudah berlari ke arahnya, diikuti Dao, tanpa memedulikan murid dalam yang menegur karena melintasi pagar. Di belakang mereka, Shen Yu berdiri di tepi lapangan dan menatap Jian Chen lama dengan senyum yang tidak bergeser.