NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Hari yang Semakin Dekat

Pagi itu, suasana kantor Mahendra Group terlihat lebih sibuk daripada biasanya.

Sejumlah karyawan berlalu-lalang membawa dokumen, sementara beberapa kepala divisi terlihat memasuki ruang rapat dengan membawa laporan masing-masing. Di lantai paling atas, Adrian Mahendra sudah duduk di balik meja kerjanya sejak satu jam lalu.

Matanya terpaku pada layar laptop.

Di hadapannya terdapat laporan keuangan, dokumen kerja sama dengan perusahaan lain, serta beberapa berkas yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan.

Ponselnya bergetar.

Daniel mengirimkan pesan mengenai jadwal persiapan pernikahan yang sudah diperbarui.

Adrian membaca pesan itu sekilas, kemudian membalas singkat.

Atur sesuai jadwal yang sudah dibuat. Pastikan tidak mengganggu agenda perusahaan.

Setelah mengirim pesan, dia kembali meletakkan ponselnya.

Bagi Adrian, persiapan pernikahan bukan sesuatu yang perlu menyita terlalu banyak waktunya. Dia sudah menyerahkan sebagian besar urusan kepada Daniel, orang yang selama ini dipercaya untuk mengatur berbagai keperluan pribadinya.

Selama semuanya berjalan sesuai rencana, Adrian tidak merasa perlu ikut campur dalam setiap detail.

Ketukan terdengar dari pintu ruangannya.

"Masuk."

Daniel muncul sambil membawa sebuah map.

"Selamat pagi, Pak. Saya ingin menyampaikan perkembangan terbaru."

Adrian mengangkat wajah.

"Silakan."

"Jadwal persiapan sudah saya sesuaikan. Saya juga sudah menghubungi Nona Alisha untuk menginformasikan beberapa hal yang perlu diselesaikan."

"Bagus. Kalau ada dokumen yang harus saya periksa, letakkan di meja."

"Baik, Pak."

Daniel meletakkan map tersebut, tetapi sebelum pergi, dia kembali berbicara.

"Pak, untuk beberapa keputusan mengenai acara pernikahan, apakah Bapak ingin memeriksanya sendiri atau saya yang menentukan berdasarkan kebutuhan?"

Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Kalau hanya urusan teknis, kamu yang atur. Saya tidak punya waktu untuk memeriksa setiap hal kecil."

"Baik, Pak."

"Pastikan saja semuanya berjalan dengan baik."

Daniel mengangguk.

Setelah asistennya meninggalkan ruangan, Adrian kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Tidak ada ekspresi antusias di wajahnya ketika memikirkan pernikahan yang semakin dekat.

Baginya, pernikahan itu merupakan keputusan yang harus dijalani, bukan sesuatu yang perlu dirayakan secara berlebihan.

---

Sementara itu, Alisha Amanda sedang membantu menyelesaikan beberapa pesanan di tempat kerjanya.

Sejak pagi, dia sudah sibuk memeriksa daftar pesanan, memastikan jumlahnya sesuai, dan membantu rekan-rekannya menyiapkan produk yang harus diselesaikan hari itu.

"Alisha, pesanan yang tadi sudah selesai?" tanya salah seorang rekan kerjanya.

Alisha memeriksa daftar di tangannya.

"Sebentar lagi. Tinggal beberapa yang harus diperiksa ulang."

"Kalau begitu, nanti kabari aku, ya."

"Iya."

Alisha kembali bekerja.

Dia tidak ingin membuat kesalahan, terutama karena pekerjaannya merupakan salah satu sumber penghasilan yang penting baginya.

Di tengah kesibukan itu, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Daniel muncul di layar.

Daniel:

Selamat pagi, Nona Alisha. Saya ingin menginformasikan bahwa beberapa persiapan pernikahan akan dilanjutkan minggu ini. Apakah Anda memiliki waktu luang pada hari Sabtu untuk membahas keperluan yang masih tersisa?

Alisha membaca pesan itu dengan saksama.

Hari Sabtu sebenarnya merupakan hari yang cukup sibuk baginya. Namun, dia perlu mengetahui apa saja yang harus diselesaikan sebelum pernikahan.

Dia pun membalas.

Alisha:

Selamat pagi, Pak Daniel. Saya akan memeriksa jadwal pekerjaan saya terlebih dahulu. Nanti saya kabari kembali.

Tidak lama kemudian, Daniel menjawab.

Daniel:

Baik, Nona. Silakan sesuaikan dengan waktu Anda. Saya akan mengatur jadwal pertemuannya.

Alisha menyimpan ponselnya.

Dia kembali melanjutkan pekerjaan, tetapi pikirannya sempat tertuju pada satu hal.

Pernikahan itu semakin dekat.

Akan tetapi, dia bahkan belum memiliki cukup waktu untuk memikirkan bagaimana kehidupannya setelah menjadi istri Adrian Mahendra.

Bukan karena dia berharap banyak dari pria itu.

Justru sebaliknya.

Alisha tidak mengharapkan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi perhatian atau kata-kata manis. Dia memahami bahwa Adrian memiliki kesibukan sendiri dan menerima pernikahan tersebut karena alasan yang tidak sederhana.

Alisha pun memiliki alasannya sendiri.

Dia hanya ingin keadaan ibunya membaik dan kehidupannya menjadi lebih stabil.

Untuk sekarang, itu sudah cukup.

---

Siang hari, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Alisha meminta izin untuk beristirahat sebentar.

Dia duduk di tempat yang biasa digunakan karyawan untuk beristirahat, kemudian mengeluarkan ponselnya.

Ada pesan dari rumah sakit.

Alisha segera membukanya.

Pesan itu berisi informasi mengenai jadwal pemeriksaan Ratih Amanda berikutnya.

Dia membaca setiap baris dengan teliti sebelum menyimpan pesan tersebut.

Setelah itu, dia membuka daftar pengeluarannya.

Uang untuk kebutuhan sehari-hari, biaya perjalanan, dan beberapa keperluan ibunya masih harus diatur dengan baik.

Alisha mengembuskan napas pelan.

Dia berharap keadaan segera membaik agar dirinya tidak perlu terus-menerus memikirkan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, ibunya yang menelepon.

"Halo, Bu?"

"Alisha, kamu sedang bekerja?"

"Iya, Bu. Tapi sekarang sedang istirahat. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa, Nak. Ibu hanya ingin mendengar suaramu."

Alisha tersenyum kecil.

"Ibu sudah makan?"

"Sudah. Kamu sendiri jangan sampai lupa makan, ya."

"Iya, Bu. Alisha sudah makan tadi."

Mereka berbicara beberapa menit mengenai keadaan Ratih dan pekerjaan Alisha.

Ratih kemudian bertanya, "Persiapan yang kamu ceritakan kemarin bagaimana?"

Alisha terdiam sesaat.

"Masih berjalan, Bu. Beberapa hal sedang diurus."

Ratih tidak langsung menjawab.

"Kalau begitu, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga harus memikirkan keadaanmu sendiri."

Alisha memandangi lantai di hadapannya.

"Iya, Bu. Alisha akan baik-baik saja."

Setelah menutup telepon, dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.

Senyumnya perlahan menghilang.

Dia berharap ibunya tidak perlu memikirkan masalah lain selain kesembuhannya sendiri.

Apa pun yang terjadi dengan pernikahannya nanti, Alisha ingin memastikan bahwa ibunya mendapatkan kesempatan untuk kembali sehat.

Itulah alasan yang membuatnya tetap bertahan.

---

Sore harinya, Adrian baru saja menyelesaikan rapat bersama beberapa anggota direksi ketika Daniel kembali masuk ke ruangannya.

"Pak, ada beberapa dokumen yang perlu Bapak periksa."

Adrian menerima map yang disodorkan kepadanya.

"Ada hal lain?"

"Untuk sementara tidak ada. Saya hanya ingin memastikan jadwal pertemuan dengan Nona Alisha."

"Bagaimana?"

"Saya sudah menghubunginya. Dia sedang menyesuaikan jadwal pekerjaannya."

Adrian mengangguk.

"Kalau begitu, atur saja pada waktu yang sesuai untuk kalian berdua."

Daniel sempat memperhatikan atasannya sebelum bertanya, "Apakah Bapak ingin hadir dalam pertemuan tersebut?"

Adrian memeriksa salah satu dokumen.

"Kalau ada keputusan penting yang membutuhkan persetujuan saya, beri tahu. Kalau tidak, kamu bisa menangani persiapannya."

"Baik, Pak."

Adrian kemudian mengembalikan satu dokumen yang sudah diperiksanya.

"Dan Daniel?"

"Ya, Pak?"

"Jangan sampai urusan ini mengganggu pekerjaan utama kita."

"Saya mengerti."

Daniel meninggalkan ruangan setelah menerima instruksi tambahan mengenai agenda perusahaan.

Adrian kembali bekerja.

Bahkan ketika matahari mulai tenggelam, dia masih belum berniat pulang.

Ada laporan yang harus diselesaikan, beberapa surel yang perlu dibalas, dan pertemuan lain yang harus dipersiapkan untuk keesokan harinya.

Dia tidak merasa perlu menghentikan pekerjaannya hanya untuk memikirkan pernikahan yang belum berlangsung.

Satu hal yang ingin dipastikannya hanyalah bahwa semua persiapan berjalan sesuai rencana.

---

Malam itu, Alisha akhirnya tiba di rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Dia meletakkan tas di atas kursi, mengganti pakaian, lalu duduk sebentar untuk memeriksa pesan-pesan di ponselnya.

Setelah memastikan tidak ada urusan mendesak, dia menghubungi Daniel untuk memberi tahu jadwal kosongnya.

Alisha:

Pak Daniel, saya bisa meluangkan waktu pada hari Sabtu. Silakan kabari saya mengenai tempat dan jam pertemuannya.

Daniel membalas beberapa menit kemudian.

Daniel:

Baik, Nona. Pertemuan akan dilaksanakan pada pukul sepuluh pagi. Saya akan mengirimkan alamatnya setelah semua persiapan selesai.

Alisha menjawab singkat sebelum meletakkan ponselnya.

Dia kemudian membuka kalender kecil yang disimpannya di meja.

Beberapa tanggal sudah diberi tanda untuk pekerjaan dan kunjungan ke rumah sakit. Kini, dia menambahkan jadwal pertemuan dengan Daniel.

Setelah selesai, Alisha menutup kalender tersebut.

Dia tidak ingin memikirkan terlalu jauh tentang hari pernikahannya.

Masih ada beberapa hari yang harus dijalani, pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan ibunya yang ingin terus dia temani.

Alisha berdiri, mengambil segelas air, lalu duduk kembali.

Dalam keheningan malam, dia menyadari bahwa hidupnya sedang bergerak menuju perubahan besar.

Namun, dia tidak tahu apakah perubahan itu akan membuat kehidupannya lebih mudah atau justru menghadirkan masalah baru.

Untuk sekarang, dia memilih tidak memikirkannya.

Dia hanya akan menjalani apa yang ada di hadapannya.

---

Di rumahnya, Adrian baru pulang ketika malam sudah semakin larut.

Dia meletakkan tas kerja di ruang kerja, melonggarkan dasi, kemudian memeriksa beberapa pesan yang masuk selama perjalanan.

Daniel mengirimkan jadwal pertemuan hari Sabtu.

Adrian membacanya sekilas.

Tidak ada hal mendesak yang memerlukan keputusannya malam itu.

Dia menutup pesan tersebut, meletakkan ponselnya di meja, lalu kembali membuka laptop.

Besok, pekerjaannya akan dimulai lagi sejak pagi.

Dan seperti hari-hari sebelumnya, Adrian tidak berniat mengubah rutinitasnya hanya karena pernikahan yang semakin dekat.

Dia akan tetap bekerja.

Dia akan tetap mengurus perusahaan.

Sementara urusan pernikahan akan diselesaikan oleh Daniel sesuai tanggung jawabnya.

Adrian tidak memikirkan apakah pernikahan itu akan memberinya kebahagiaan atau tidak.

Dia hanya ingin mempertahankan posisinya dan memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, Alisha juga sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi hari-hari berikutnya.

Mereka belum menjadi suami istri, tetapi keputusan yang diambil masing-masing sudah membawa mereka semakin dekat pada hari tersebut.

Tidak ada yang benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan mereka setelah pernikahan berlangsung.

Untuk saat ini, Adrian masih menjadi pria yang mengutamakan pekerjaan, sedangkan Alisha tetap berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan mendampingi ibunya.

Mereka menjalani kehidupan masing-masing.

Tanpa banyak percakapan.

Tanpa janji yang berlebihan.

Dan tanpa menyadari bahwa keputusan yang mereka anggap sekadar kebutuhan itu kelak akan membawa mereka menghadapi berbagai hal yang tidak pernah direncanakan.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!