Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Langkah di Atas Tanah Basah
Malam terus merambat naik menuju puncaknya, membawa serta hawa dingin yang menusuk hingga ke balik kain gaun hitam Arini yang lembab. Di sudut bangku kayu toko kelontong tua yang sudah tutup, Arini meringkuk memeluk kedua lututnya. Sebungkus kertas nasi kotor tergeletak tak jauh dari kakinya, menyimpan sisa-sisa remah makanan yang tak sanggup lagi ia telan.
Di bawah remang-remang lampu jalanan yang berkedip suram, Arini memandangi sepasang telapak kakinya. Kulit mulus yang biasanya selalu terawat di salon-salon ber-AC kini dipenuhi goresan kotor, lecet kemerahan, dan noda lumpur hitam yang mengering. Sepatu hak tinggi bermerek internasional yang tadi pagi ia pamerkan dengan penuh keangkuhan di koridor Pengadilan Agama kini hanya menjadi beban berat di dalam koper kainnya yang lusuh.
Setiap kali embusan angin malam berembus kencang, tubuh Arini menggigil hebat. Namun rasa dingin yang menggigit fisiknya sama sekali tak sebanding dengan rasa hampa yang membakar rongga dadanya. Di dalam kegelapan malam yang senyap, ingatan-ingatan masa lalu menyerbunya tanpa ampun bagaikan gelombang pasang yang menghancurkan benteng pertahanannya.
Ia teringat betapa dulu, di dalam rumah kontrakan empat kali enam meter yang selalu ia caci-maki, ia tidak pernah sekalipun dibiarkan kelaparan atau kedinginan. Dimas selalu menjadi benteng kokoh yang berdiri paling depan menahan segala badai kehidupan. Ketika atap rumah mereka bocor diterpa hujan deras, Dimas yang akan memanjat dalam kegelapan malam dengan tubuh basah kuyup demi memastikan Arini bisa tidur dengan nyenyak di atas kasur tipis mereka. Ketika uang belanja menipis di akhir bulan, Dimas yang akan memilih menahan lapar di bengkel, menyembunyikan perutnya yang berbunyi di balik senyuman hangat saat membawa pulang sebungkus lauk sederhana untuk istrinya.
"Kenapa aku begitu buta...?" bisik Arini pada malam yang bisu, air matanya menetes pelan menimpa tanah basah di antara jemari kakinya. "Kenapa aku membuang emas murni hanya demi mengejar kilau kaca beracun yang menghancurkan hidupku...?"
Tidak ada jawaban yang terdengar. Yang ada hanyalah deru mesin satu dua kendaraan yang melintas cepat di jalan raya, meninggalkan genangan air yang memercik ke tepi trotoar.
Arini menyadari satu hal dengan sangat jelas: ia tidak bisa terus-terusan meringkuk di tepi jalan ini bagaikan pengemis tanpa arah. Keangkuhannya telah hancur lebur, egonya telah mati, dan rasa malunya telah sirnah digantikan oleh kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul di dalam tubuhnya yang gemetar, Arini bangkit berdiri.
Ia meraih gagang dua koper kainnya, lalu mulai melangkah kembali. Setiap kali roda koper berderit menampar aspal, rasa sakit di telapak kakinya menjalar hingga ke pinggul. Namun ia terus berjalan, membelah kegelapan malam menuju satu-satunya tempat yang mungkin masih mau menerimanya di dunia ini—rumah ibunya.
Jauh di pinggiran kota, di balik pemukiman padat yang tenang, sebuah rumah kecil beratap genting tua berdiri di antara jajaran pohon pisang dan semak belukar. Lampu teras rumah itu menyala redup, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyirami pelataran tanah yang bersih disapu.
Di dalam rumah sederhana itu, Bu Ratna baru saja menyelesaikan ibadah malamnya. Wanita paruh baya itu masih terduduk bersila di atas sajadah kain kusamnya, menangkupkan kedua telapak tangannya dalam doa yang panjang. Wajahnya yang dipenuhi keriput tampak tenang, namun di balik ketenangan itu, tersimpan guratan kepedihan yang teramat mendalam.
Sejak hari di mana ia menampar Arini di rumah kontrakan dan melangkah pergi membawa kekecewaan yang pecah, hati Bu Ratna tidak pernah benar-benar tenang. Sebagai seorang ibu, meskipun hatinya terluka parah oleh kata-kata kasar dan keangkuhan putrinya, naluri keibuannya tidak pernah sanggup menghapus nama Arini dari setiap helai napas doanya.
"Ya Allah..." bisik Bu Ratna dengan suara parau bergetar, air mata menetes perlahan menelusuri pipinya yang layu. "Ampunilah dosa anakku, Arini... Bukalah mata hatinya yang tertutup oleh kemilau duniawi. Jika ia sedang berada dalam kesesatan, tuntunlah ia kembali... Jika ia sedang ditimpa penderitaan atas kesalahannya, berilah ia kekuatan untuk bertobat dan menyadari kekhilafannya..."
Usai mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, Bu Ratna merapikan mukenanya. Ia berdiri perlahan, merasakan persendian lututnya yang mulai kaku karena usia. Saat ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat, tiba-tiba dari arah luar rumah, terdengar suara ketukan pelan di pintu depan.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan itu begitu lemah, ragu-ragu, dan tersendat-sendat, seolah sang pemukul pintu tidak memiliki cukup keberanian untuk memanggil sang pemilik rumah.
Bu Ratna menghentikan langkahnya. Dahi tua itu berkerut heran. Jam di dinding ruang tengah sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak biasanya ada tetangga atau tamu yang bertandang di jam selarut ini.
Tok... tok...
Ketukan itu terdengar sekali lagi, diikuti oleh suara isak tangis lirih yang tertahan di balik daun pintu kayu yang lapuk.
Naluri seorang ibu mendadak berdesir kencang di dalam dada Bu Ratna. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan langkah tergesa-gesa yang agak pincang, Bu Ratna melangkah menuju pintu depan. Ia memutar kunci selot, lalu menarik daun pintu kayu itu perlahan-lahan.
Pintu terbuka.
Cahaya lampu teras yang temaram langsung menyirami sosok wanita yang berdiri di ambang pintu.
Bu Ratna tertegun kaku. Matanya membelalak lebar, tangan tuanya menutup mulutnya sendiri demi menahan jeritan kaget yang nyaris meluncur dari tenggorokannya.
Di hadapannya, berdiri Arini.
Namun wanita yang berdiri di sana sama sekali tidak menyerupai putri cantiknya yang biasanya selalu tampil rapi, angkuh, dan penuh percaya diri. Arini berdiri dengan tubuh yang kurus gemetar, gaun hitam mewahnya basah kuyup dan ternoda kotoran lumpur di bagian bawahnya. Rambut panjangnya yang biasanya terurai indah kini lepek bertaut berantakan menempel di leher dan pipinya. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, sepasang matanya sembab, merah, dan bengkak akibat tangisan yang tak henti-hentinya, sementara kedua telapak kakinya yang bertelanjang tampak dipenuhi luka lecet dan darah kering yang memudar tersapu air hujan.
Di samping kanan dan kirinya, dua koper kain tergeletak berdebu.
"A-Arini...?" bisik Bu Ratna dengan suara yang pecah, matanya berkaca-kaca menatap pemandangan tragis di hadapannya.
Melihat wajah ibunya yang teduh dan penuh kasih sayang, benteng terakhir rasa malu di dalam jiwa Arini runtuh seketika. Lututnya yang melemah tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Arini jatuh berlutut di atas tanah teras yang dingin, memeluk erat kedua kaki ibunya dengan telapak tangannya yang gemetar hebat.
"Ibu... Ibu..." ratap Arini histeris, menenggelamkan wajahnya yang basah oleh air mata dan kotoran di atas kain sarung yang dikenakan ibunya. "Ampuni Arini, Bu... Ampuni anakmu yang berdosa ini... Hiks... Arini hancur, Bu... Arini kena batunya..."
Bu Ratna terpaku di tempatnya berdiri. Hatinya bagaikan diiris-iris sembilu tajam melihat putrinya tersungkur di bawah kakinya dalam keadaan begitu mengenaskan. Tidak ada rasa puas di hati wanita tua itu karena prediksinya terbukti benar; yang ada hanyalah duka yang teramat dalam melihat anak kandungnya sendiri hancur berantakan diinjak-injak oleh roda takdir.
Bu Ratna membongkokkan tubuhnya yang renta. Tangan tuanya yang keriput dan gemetar merengkuh kedua pundak Arini, mencoba menegakkan tubuh putrinya.
"Bangun, Nak... Bangun, Arini..." bisik Bu Ratna dengan pencerat isak tangis yang tak sanggup lagi ditahannya. Air mata Bu Ratna menetes bertubi-tubi menimpa kepala putrinya. "Jangan berlutut di tanah seperti ini, Nak..."
"Arini salah, Bu!" jerit Arini mendongak, menatap mata ibunya dengan wajah yang hancur oleh penyesalan. "Arini sudah durhaka sama Ibu! Arini sudah menginjak-injak Mas Dimas! Arini silau sama harta haram Rian... dan sekarang... sekarang semuanya hilang, Bu! Arini diusir, Arini dikejar-kejar penagih utang, Arini tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, Bu!"
Bu Ratna merengkuh tubuh Arini ke dalam pelukannya. Ia memeluk rapat putri tunggalnya itu di atas lantai teras, membiarkan gaun basah dan kotoran lumpur Arini mengotori kain sarung bersihnya. Di bawah naungan malam yang dingin, ibu dan anak itu tenggelam dalam pelukan tangis yang menyayat hati.
"Sudah, Nak... Sudah..." bisik Bu Ratna lembut, membelai rambut Arini yang basah dengan penuh kasih sayang seorang ibu yang tak terbatas. "Pintu rumah ini tidak pernah terkunci untukmu, Arini. Walaupun kamu sudah melukai hati Ibumu, walaupun kamu sudah menolak nasehat orang tua... Ibu akan selalu ada untuk memelukmu saat seluruh dunia membuangmu."
"Ibu..." ratap Arini semakin keras, mendekap pinggang ibunya erat-erat seolah takut wanita tua itu akan mendadak lenyap dari pandangannya. "Mas Dimas... Mas Dimas sudah ceraikan Arini, Bu... Mas Dimas sudah menutup pintunya rapat-rapat buat Arini..."
Bu Ratna menghela napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Ia mengusap air mata di pipi Arini dengan telapak tangannya yang hangat.
"Itu adalah buah dari benih yang kamu tanam sendiri, Arini," tutur Bu Ratna dengan suara lembut namun mengandung kebenaran yang mutlak. "Dimas adalah lelaki yang baik dan tulus. Dia sudah memberikan seluruh kehormatan dan pengorbanannya untukmu, tapi kamu memilih untuk membuangnya demi ilusi yang palsu. Jika sekarang dia memilih untuk menutup pintunya dan melangkah pergi, kamu tidak bisa menyalahkannya. Itu adalah haknya untuk menyelamatkan harga dirinya yang sudah kamu injak-injak."
Bu Ratna memegang kedua pipi Arini, memaksa putrinya untuk menatap matanya secara langsung.
"Sekarang, bangunlah. Masuk ke dalam rumah," lanjut Bu Ratna tegas namun penuh kehangatan. "Malam ini, bertobatlah di hadapan Allah. Bersihkan tubuhmu dari kotoran jalanan, dan bersihkan hatimu dari sisa-sisa kesombongan yang merusak jiwamu. Esok hari, kamu harus belajar berdiri kembali sebagai wanita baru—wanita yang tahu cara menghargai kejujuran dan menerima kenyataan hidup."
Dengan dibantu oleh ibunya, Arini berdiri dengan kaki yang masih lemah. Ia menyeret langkahnya masuk ke dalam rumah kecil yang bersahaja itu—rumah yang dulu selalu ia hina sebagai tempat yang miskin dan tak berharga, namun kini menjadi satu-satunya tempat perlindungan yang mau menerima sisa-sisa kehancuran hidupnya.
Saat pintu kayu ditutup rapat dan dikunci dari dalam, Arini berdiri di tengah ruang tamu kecil yang diterangi lampu kuning redup. Di atas meja kayu tua di sudut ruangan, tergeletak sebuah foto lama dalam bingkai kayu kusam—foto pernikahan dirinya bersama Dimas tiga tahun lalu, di mana keduanya tersenyum tulus di hadapan penghulu.
Arini berjalan mendekati meja itu dengan langkah terseret. Ia merengkuh bingkai foto itu dengan kedua tangannya, menempelkan kaca dinginnya ke dadanya, lalu kembali tergugu dalam tangis penyesalan yang terlambat di bawah naungan kasih sayang ibunya yang tak pernah padam.