Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.
Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Event time
"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."
Beberapa saat kemudian, Dewi akhirnya tiba di area event yang sudah dipadati oleh lautan manusia berbalut kostum warna-warni. Setelah menunjukkan tiket masuk dan melewati gerbang utama (gate), ia melangkah masuk ke dalam gedung, menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan temannya.
Di tengah langkahnya yang terburu-buru, tanpa sengaja ia berpapasan dengan seorang fotografer pria yang sedang menenteng kamera DSLR besar melingkar di lehernya. Pria itu menoleh sekilas ke arahnya. Seketika itu juga, ingatan Dewi tersentak kembali pada bayang-bayang kejadian tidak menyenangkan di masa lalu—sosok fotografer itu mengingatkannya pada oknum-oknum meresahkan yang sering bertindak melewati batas di berbagai acara.
Napas Dewi seketika tercekat. Tanpa membuang waktu atau berpikir dua kali, ia langsung membuang muka, mempercepat langkahnya, dan buru-buru menjauh dari area tersebut.
"Duh, kenapa harus ketemu orang model begitu sih di sini..." gumam Dewi dengan suara bergetar pelan, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang mendadak tidak karuan sambil terus berjalan cepat menembus kerumunan.
Di tengah kerumunan pengunjung yang lalu-lalang, sebuah suara familiar tiba-tiba memanggil nama akun atau nama panggilannya di dunia maya.
"Dewi! Lessyani! Di sini, woy!" teriak seorang gadis dari arah sudut dekat koridor lorong tenant.
Mendengar panggilan itu, kepala Dewi menoleh cepat. Menyadari sosok yang memanggilnya adalah Fani—temannya yang sudah menunggunya sedari tadi—raut wajah Dewi yang tadinya tegang dan cemas seketika melunak. Tanpa membuang waktu lagi, ia mempercepat langkahnya, setengah berlari menghampiri Fani yang berdiri melambai-lambaikan tangan.
Begitu sampai di hadapan Fani, Dewi langsung merangkul erat lengan temannya itu seolah mencari pegangan dan perlindungan dari keramaian.
"Fani! Syukurlah aku ketemu kamu..." ujar Dewi dengan napas sedikit terengah-engah dan nada bicara yang masih menyisakan sisa-sisa kegelisahan.
Fani yang merasa dirangkul erat langsung menoleh, menatap sahabatnya itu dengan sebelah alis terangkat heran. "Eh? Kamu kenapa kelihatan pucat begitu, Dewi? Kayak habis kejar-kejaran sama hantu saja. Datang-datang langsung meluk tangan aku erat banget."
"Ah, nanti saja aku ceritain. Pokoknya sekarang ayo kita buru-buru ke ruang ganti dulu, aku pengen cepat-cepat ganti kostum dan tenangin diri di sana," ajak Dewi sambil menarik pelan lengan Fani, melangkah cepat menjauhi area lobi utama menuju ruang ganti khusus peserta.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat Dewi berlalu, sang fotografer yang baru saja berpapasan dengannya melangkah pelan menghampiri sekumpulan pria yang berdiri menggerombol di dekat pilar besar pembatas lobi. Mereka saling merangkul bahu dan melemparkan tawa kecil, tampak menguasai sudut strategis ruangan tersebut.
"Hei, lama banget. Dari mana saja kamu?" tanya salah seorang temannya sambil menepuk bahu sang fotografer.
Fotografer itu menurunkan kameranya sambil tersenyum sinis, lalu mulai menoleh ke sekeliling, mengedarkan pandangan tajam ke setiap sudut kerumunan seolah sedang memindai mangsa. "Tadi sempat berpapasan sama beberapa cosplayer baru yang masuk. Eh, kalian sudah dapat target shot yang bagus buat 'projek' kita hari ini?" tanyanya balik berbisik.
Teman di sebelah kirinya mendekatkan wajah, menyeringai lebar sambil melirik ke arah lorong sebelah kanan yang agak sepi pengunjung. Suaranya direndahkan agar tidak menarik perhatian orang lain di sekitar mereka.
"Belum dapat yang pas di area utama, tapi tadi aku lihat ada beberapa yang jalan sendiri atau kelihatan linglung dan gampang diintimidasi," bisik teman itu dengan nada licik. "Coba cari yang sendirian atau yang kelihatan lemah mentalnya. Jangan yang bergerombol atau ditemenin cowoknya, susah nanti kalau mereka ngelapor atau bikin keributan."
Sang fotografer mengangguk pelan, kembali mengangkat lensanya, lalu mulai melangkah mengikuti arah pandangan teman-temannya ke tengah keramaian pengunjung event.
Salah satu dari teman fotografer itu tiba-tiba melambaikan tangan, berniat melepaskan diri dari gerombolan. "Ah, kalian lanjut saja cari di sini. Aku mau jalan sendirian ke arah panggung utama," ujarnya santai.
Teman di sebelah kanannya menaikkan sebelah alis, melirik penuh selidik. "Mau ke mana sendirian? Jangan bilang mau cari mangsa sendiri lagi?"
Pria itu menyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya. "Hehe, tahu saja kalian. Aku mau mutar-mutar ke sudut sebelah sana, mau cari loli atau cosplayer petite yang gampang diajak ngobrol buat dimintain pose aneh atau difoto close-up tanpa izin."
Mendengar itu, teman yang lain terkekeh sinis, sama sekali tidak berniat mencegah atau menegur tindakan tidak senonoh tersebut. "Hahaha, dasar buronan mata keranjang! Ya sudah, terserah kamu deh mau ke mana, nikmati saja sendiri. Jangan lupa hasilnya nanti dibagi-bagi di grup."
"Beres itu gampang!" balas sang fotografer dengan riang. Ia lantas berbalik meninggalkan kelompok kecil tersebut dan mulai melangkah sendiri menyusup ke tengah kerumunan pengunjung, sementara sisa teman-temannya kembali mengedarkan pandangan tajam untuk mencari target sasaran yang lain.
Di sudut lain gedung event yang dipadati oleh stan-stan penjualan pernak-pernik, dua gadis berbalut kostum karakter yang kontras tampak berjalan berdampingan dengan penuh antusias. Airin, yang mengenakan kostum berkerudung khas dengan aksesori pita besar, tak henti-hentinya menarik lengan sahabatnya, Erina, setiap kali melihat figur atau gantungan kunci edisi terbatas dipajang di atas meja stan.
"Erina, lihat deh! Stand yang di sebelah sana jualan acrylic standee karakter game favorit aku yang versi limited edition!" seru Airin dengan mata berbinar-binar, menggoyang-goyangkan lengan Erina karena terlalu bersemangat. "Kita harus ke sana sekarang sebelum kehabisan sama pembeli lain!"
Erina, yang tampil anggun dengan kostum penyihir bergaya gotik, terkekeh pelan melihat antusiasme luar biasa dari temannya itu. Ia membiarkan dirinya ditarik mendekati meja stan merchandise yang dipadati pengunjung.
"Iya, Airin, iya... sabar dulu, jangan ditarik-tarik begitu, nanti kostumku malah nyangkut di pinggiran meja," jawab Erina lembut sambil merapikan rok lapis bajunya. "Barang incaranmu itu kan dipajang banyak di rak, jadi nggak bakal lari ke mana-mana. Ayo, kita cek harganya dulu bareng-bareng."
Kedua gadis itu pun langsung menyusup di antara kerumunan pembeli, memilih-milih pernak-pernik impian mereka sambil terus berceloteh riang di tengah bisingnya suasana acara.
Sambil memilah-milah berbagai macam merchandise yang berjajar rapi di atas meja stan, Erina mengambil sebuah acrylic standee berukuran sedang dan mengamatinya dari dekat di bawah pantulan lampu pameran. Ia mendekatkan benda tersebut ke arah Airin untuk memperlihatkan detail cetakannya.
"Airin, coba deh kamu perhatikan cetakan warna pada bagian jubah karakternya ini," ujar Erina sambil menunjuk permukaan akrilik tersebut dengan ujung jarinya. "Menurutku kualitas potongan pinggirannya lumayan rapi dan halus, tapi gradasi warnanya agak sedikit pudar kalau dibandingkan dengan official merch gelombang pertama tahun lalu."
Airin ikut mendekatkan wajahnya, mengernyitkan dahi sejenak untuk meneliti detail karakter yang dimaksud sebelum menggelengkan kepalanya pelan. "Iya juga ya... Kalau dari jauh sih kelihatan bagus dan lumayan menggiurkan buat dikoleksi, tapi pas dilihat dari dekat ternyata detail ornamen di bagian senjatanya jadi kurang tajam. Padahal harga yang dipatok di stan ini lumayan bikin dompet menjerit."
"Makanya itu, kita harus jeli sebelum kalap belanja," balas Erina sambil terkekeh pelan seraya meletakkan kembali barang tersebut ke tempat semula. "Apalagi karakter utama dari seri game ini biasanya punya desain baju yang rumit, jadi kalau kualitas cetakan merchandise-nya setengah-setengah begini, rasanya kurang worth it buat dibeli dengan harga mahal."
"Hmm, benar juga kata kamu, Erina. Kalau kualitasnya begini, lebih baik aku mikir dua kali atau cari stan lain yang jual merchandise impor langsung dari Jepang," timpal Airin sambil melangkah menyusuri deretan meja stan berikutnya bersama sahabatnya itu.
Di tengah kesibukan mereka memilih merchandise, bayangan seseorang tiba-tiba mendekat dan berdiri tepat di samping meja stan tempat mereka berdiri. Pria yang tadi memisahkan diri dari kelompok fotografer—yang mengincar cosplayer muda—menyeringai tipis seraya melirik tajam ke arah Erina dan Airin dari atas hingga bawah.
"Wah, kostum kalian totalitas banget hari ini. Lagi sibuk ngeliatin apa nih, Dek? Mau cari merchandise karakter apa, Kakak bantu pilihin mau?" sapa pria itu dengan nada sok akrab, sengaja memanggil mereka dengan sebutan formal untuk mencairkan suasana.
Erina dan Airin sontak menghentikan aktivitas mereka. Keduanya menoleh secara bersamaan, mengamati sosok pria asing berkalung kamera DSLR yang berdiri terlalu dekat dengan gerak-gerik yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Airin mengerjap kaku, berusaha memasang senyum canggung sambil menjawab, "Ah... iya, Kak... kami cuma lagi lihat-lihat acrylic standee sebentar kok, ini mau lanjut keliling lagi..."
Belum sempat Airin menyelesaikan kalimatnya untuk mengalihkan pembicaraan, pria itu justru semakin mendekatkan posisinya dan terkekeh pelan. "Keliling sendirian atau berdua saja nih? Kalau mau foto-foto bareng dengan angle yang bagus dan dramatis, Kakak bisa bantu loh. Jarang-jarang kan ketemu cosplayer petite selucu kalian di event ramai begini."
Erina langsung melirik tajam ke arah pria tersebut, lalu dengan cepat menyiku lengan Airin secara sembunyi-sembunyi sebagai kode agar mereka segera menjauh. Suasana hati kedua gadis yang tadinya antusias berbelanja kini berubah drastis menjadi sangat tidak nyaman.
"Makasih banyak tawarannya, Kak... tapi kami buru-buru karena sudah ditungguin sama teman-teman kami di dekat panggung utama," jawab Erina dengan nada kaku, berusaha menutupi rasa risihnya. "Ayo, Airin, kita ke kasir sekarang."
Meskipun Erina dan Airin telah buru-buru menyelesaikan transaksi pembayaran dan bergegas melangkah pergi dari stan tersebut, bayangan pria berkalung kamera itu tidak kunjung hilang. Ia terus mengekori langkah kedua gadis di bawah umur tersebut dari jarak yang sangat dekat, berjalan tepat di samping mereka seolah-olah mereka adalah rombongan teman karib yang sudah lama saling mengenal.
Airin menelan ludahnya dengan susah payah, mencengkeram erat kantong belanjaan di tangannya sementara langkah kakinya semakin dipercepat. Ia melirik sekilas ke arah Erina, mengirimkan sinyal kepanikan lewat tatapan matanya.
"Duh, dia masih ngikutin kita dari belakang..." bisik Airin dengan suara bergetar pelan di samping telinga Erina, berusaha tidak menoleh secara terang-terangan. "Kenapa dia nggak mau pergi sih? Seram banget..."
Erina mencoba tetap tenang di luar, meski jantungnya sendiri berdegup kencang karena rasa tidak nyaman yang kian menghimpit. "Sudah, jangan dilawan atau ditatap balik, abaikan saja," balas Erina dengan suara tertahan, berusaha terdengar setegar mungkin. "Kita jalan terus ke arah kerumunan yang ramai di dekat panggung utama. Nanti kalau dia masih nempel juga, kita langsung cari satpam event atau teriak panggil orang."
Keduanya kompak memilih untuk pura-pura tidak peduli, terus melangkah cepat menembus padatnya lautan pengunjung, berharap sosok pria bermata keranjang itu lelah dan mengurungkan niat buruknya.
Saat Erina dan Airin berusaha mempercepat langkah untuk menyelamatkan diri di tengah kerumunan, langkah mereka mendadak terhenti. Pria tadi tiba-tiba memotong jalur mereka dan bergabung kembali dengan gerombolan teman-temannya yang lain—termasuk sang fotografer utama yang tadi sempat berpapasan dengan Dewi.
Dalam sekejap, gerombolan pria dewasa berkalung kamera itu bergerak secara terkoordinasi, berdiri melingkar dan menutup jalur pelarian Airin dan Erina. Mereka seolah sengaja mengepung kedua gadis minor tersebut, memaksa mereka terdorong mundur ke arah deretan bangku penonton kosong di pinggir area panggung.
Airin dan Erina langsung terperangkap. Mereka berdiri mematung di dekat bangku penonton, bingung harus melarikan diri ke mana karena jalur di depan, kanan, dan kiri mereka telah sepenuhnya diblokade oleh tubuh-tubuh pria tersebut.
"Wah, kok jalannya cepat banget sih, Dek? Padahal kita kan masih asyik ngobrol," ujar salah satu teman sang fotografer dengan senyum menyeringai lebar, sengaja merendahkan badan untuk menghalangi pandangan mereka ke arah jalan keluar.
Pria yang tadi membuntuti mereka turut terkekeh, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam kedua gadis yang mulai ketakutan itu. "Iya, jangan buru-buru begitu dong. Duduk dulu sebentar di bangku penonton sini sambil kita temenin foto-foto gratis. Kapan lagi kan kalian bisa dapat sesi eksklusif sama fotografer pro?"
Erina meremas erat kantong belanjaannya, napasnya mulai memburu karena panik. Dengan suara bergetar namun berusaha ditegaskan, ia menolak, "Maaf, Kak... Kami benar-benar harus pergi sekarang. Teman-teman kami sudah menunggu di seberang, jangan dihalangi begini!"
"Ah, jangan bohong gitu. Teman kalian kan nggak ada di sini. Sudah, nurut saja duduk di bangku itu sebentar, biar kita ambil beberapa angle foto yang bagus dari dekat," desak sang fotografer utama sambil mulai mengangkat kamera DSLR-nya, mengarahkan lensa secara agresif tepat ke arah wajah Airin dan Erina tanpa persetujuan mereka.
Di tengah rasa panik yang kian mencekam dan lensa kamera yang terus mengarah tajam ke wajah mereka, Erina dan Airin sama-sama melempar pandangan putus asa ke sekeliling, berharap ada seseorang yang menyadari situasi tidak beres ini dan memberikan pertolongan.
Tiba-tiba, mata Erina menangkap sesosok figur familiar yang berdiri tidak jauh dari batas kerumunan, berjalan dengan gestur tubuh yang khas di antara ramainya pengunjung. Sontak, binar penuh pengharapan muncul di mata kedua gadis itu.
"I-itu...!" bisik Erina tercekat, menyenggol lengan Airin pelan sambil mengarahkan pandangannya secara diam-diam.
Airin ikut menoleh cepat ke arah yang dimaksud. Meski napas mereka masih tertahan karena takut, secercah kelegaan seketika menyelimuti hati keduanya saat menyadari siapa sosok yang baru saja mereka lihat di tengah lautan manusia tersebut.
Melihat target incaran mereka mulai teralihkan perhatiannya dan berbisik-bisik satu sama lain, salah satu dari pria fotografer itu menyipitkan mata dengan curiga. "Heh, ngeliat apa kalian? Fokus ke sini saja, nggak usah meleng ke mana-mana!" gertak pria itu dengan nada tidak suka, mencoba kembali menarik perhatian mereka sambil melangkah semakin mendekat.