NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:717k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Ponsel Jena yang berada di atas bantal berbunyi untuk kesekian kalinya.

Ting!

Suara notif itu datang beruntun, hingga rasa penasaran, membuat Jena yang sedang sibuk mempersiapkan proyek baru untuk pekerjaan, memilih berhenti sejenak, mengecek ponsel.

Jena mengernyit, ada puluhan chat di grup WA alumni SMA. Grup yang biasanya sepi kayak kuburan itu, mendadak ramai. Ia membuka room chat grup alumni untuk mengobati rasa penasaran

[ Guys, jangan lupa hadir ya! Aku mau mengundang kalian semua ke pernikahanku. Minggu depan.]

Di bawah pesan itu terlampir sebuah foto undangan digital.

Raka Pratama & Citra Maharani.

Jena terdiam, cukup lama, memperhatikan foto tersebut. Bukan apa-apa, Raka adalah mantan pacarnya saat SMA. Entah itu cinta pertama, atau cinta monyet.

Grup alumni mendadak ramai karena undangan tersebut. Banyak yang langsung menanggapi.

Winda: ASTAGA! RAKA AKHIRNYA NIKAH JUGA!

Dimas: Jena, jangan sedih ya. WKWKWK.

Tari: Jena datang kan? Biar reuni sekalian sama mantan.

Fajar: Kalau Jena datang, jangan-jangan langsung menyusul nih.

Winda: Eh, Jena kapan nyusul? Umur kita udah pada mau kepala tiga, lho.

Dimas: Yang belum nikah tinggal beberapa orang. Jena salah satunya.

Aleta: Gue kira yang paling cantik, bakalan paling cepat nikah, ternyata gak juga. Ternyata, gue lebih laku guys.

Jena membaca semuanya, satu per satu, meski muak.

"Lucu banget ya?" Ia tertawa hambar. Mematikan ponsel, melempar kembali ke atas bantal.

Tentu saja mereka menganggapnya lucu. Bagi mereka, menikah adalah perlombaan. Siapa yang duluan menikah, siapa yang sudah punya anak, adalah pemenang. Bahkan mungkin siapa yang jadi janda dan duda duluan, juga sebuah prestasi.

Tiga kali Jena menjalin kasih, endingnya selalu di selingkuhi. Maria, teman terbaiknya, sudah menjanda di usia 25 tahun. Dan yang lebih gong nya lagi, Papanya. Laki-laki yang selama ini ia anggap sebagai kepala keluarga yang sempurna. Ternyata diam-diam memiliki istri kedua.

Jena mengetahui semuanya ketika usianya dua puluh tahun. Rumah yang selama ini ia pikir penuh cinta ternyata menyimpan kebohongan bertahun-tahun. Ibunya menangis setiap malam, dan ia menyaksikan itu.

Lalu, laki-laki seperti apa yang bisa ia percaya? Apa sebenarnya arti pernikahan? Kalau sendiri bisa bahagia, apa urgensinya hingga harus berpasangan? Kalau punya pasangan beresiko sakit hati, bukankah sendiri adalah pilihan paling tepat. Setidaknya, kita tidak sedang menunggu waktu untuk disakiti.

"Jena!"

Suara Mama Asri dari luar kamar membuatnya tersentak.

"Ya, Ma?"

Ceklek

Pintu kamar Jena terbuka, Mama Astri melongokkan kepala ke dalam. "Gak lupa kan, besok sore ada acara di rumah Tante Sekar. Acara lamarannya Melisa."

Jena mendesah pelan. "Males ah, Mah. Aku gak ikut, Mama aja sendiri."

"Ini acara keluarga loh, masa kamu gak dateng. Temeni Mama, gak enak Mama dateng sendiri."

"Papa?"

Asri hanya mengedikkan bahu. Ia sudah tak terlalu peduli dengan suaminya itu. Sudah ada perempuan lain yang mengurusnya, jadi lebih baik, ia mengurus diri sendiri saja.

...----------------...

Keesokan harinya, baru juga tiba di rumah Tantenya dan salaman sama keluarga yang lain, Jena sudah langsung di bikin muak.

"Jena, kapan kamu nyusul Melisa?" Tanya Tante Yuli, adik Mamanya.

"Emang Melisa kemana Tante, pakai harus aku susulin segala." Jena memutar kedua bola matanya sambil bersedekap.

Asri menyenggol lengan putrinya, memberi isyarat agar lebih sopan.

"Kamu udah mau 30 kan, masih nunggu apa lagi?" seseorang tiba-tiba menyahut. "Makanya jangan kelamaan pilih-pilih."

Jena tersenyum kecut.

Pertanyaan berikutnya datang tanpa ampun.

"Memangnya kamu mau nyari yang kek gimana sih, Jen? Kalau standar kamu ketinggian, takutnya laki-laki pada minder. Kamu gak takut, jadi perawan tua?" Cindy, sepupu Jena itu tersenyum kecut.

Perawan tua? Kali ini, dia kata itu bikin Jena lumayan tersinggung. Raut wajahnya berubah tegang.

"Jen, ayo kesana yuk!" Asri menggenggam tangan putrinya, tahu situasi sudah mulai tak kondusif.

"As, sini!" Panggil Tante Sekar, melambaikan tangan pada Bu Asri.

"Jen, kita ke Tante Sekar dulu yuk!" ajak Asri.

"Mama duluan aja, bentar lagi aku nyusul. Masih mau ke toilet bentar."

Astri tampak ragu, namun akhirnya mengangguk, melangkah menghampiri Kakak perempuannya.

"Saranku sih Jen, yang penting gak kayak Papa kamu, udahlah, terima aja." Cindy melipat kedua lengan di dada, senyumannya seperti sedang mengejek.

"Emang kenapa Papaku?"

"Doyan kawin." Cindy dan Laura yang ada disampingnya, kompak tertawa.

"Tapi seenggaknya, Papaku kaya raya!" Jena tersenyum sinis. "Daripada bokap kaliankan?" Puas melihat wajah kesal dua sepupunya yang sejak remaja memang selalu iri padanya.

Jena menyentuh bahu Cindy dengan telunjuk. "Gak usah khawatir aku jadi perawan tua. Meski jadi perawan tua pun, aku masih bisa hidup enak, bisa keliling dunia, bahkan membeli harga diri kalian berdua. Lebih baik, khawatir sama nasib kamu sendiri. Takutnya bentar lagi udah jadi janda aja." Mendekatkan wajah ke telinga Cindy. "Suami kamu dari tadi ngeliatin aku mulu. Tipe-tipe mata keranjang kayak gitu, biasanya doyan selingkuh. Yakin deh dia pengen kawin lagi kayak Papaku, sayangnya gak ada modal. Mokondo." Tertawa puas, lalu melenggang pergi.

Cindy mengepalkan telapak tangan, wajahnya memerah, menatap Jena kesal.

Jena masuk ke dalam toilet, menatap pantulan wajahnya di cermin.

Wajah perempuan berusia dua puluh sembilan tahun menatap balik. Cantik. Mandiri. Punya karier bagus. Punya uang banyak. Tapi ada satu hal yang sulit ia miliki. Kepercayaan.

Jena mengusap wajahnya.

"Menjadi single seumur hidup, itu bukan dosa Jena. Bukan juga merugikan orang lain. Kamu hanya sedang melindungi diri sendiri." Suaranya bergetar.

Dari toilet, bukanya menemui Mamanya, Jena malah keluar dari rumah tersebut. Rumah yang hari ini di dekor indah untuk acara lamaran, tapi kesan yang ia rasakan, malah horor, terlalu banyak orang yang sibuk dengan hidupnya disini.

Ia berjalan menuju halaman. Baru beberapa langkah, ia berhenti. Mobilnya tidak ada.

Ah iya, dia lupa, kesini tadi diantar supir. Dan sekarang supirnya pergi membawa mobil mereka karena tak ada ruang buat parkir tadi.

"Astaga!" Jena mengacak rambutnya.

Ia mengeluarkan ponsel, mau menelepon sopir, namun batal saat melihat sesuatu. Motor di dekat pos satpam.

Jena berjalan mendekat.

"Pak..."

Satpam yang sedang duduk langsung berdiri.

"Iya, Mbak?"

"Motor itu boleh saya pinjam?"

Satpam mengerjapkan mata. "Motor saya?"

"Iya."

"Mau ke mana, Mbak?" Ia sudah bekerja lama disini, dan sudah kenal Jena.

"Keluar sebentar."

Satpam terlihat ragu.

"Bentar doang, nanti balik kesini lagi. Lagian Mama masih di dalam, acaranya kan nanti habis magrib. Pak Jono bawa mobilnya pergi, kan tadi Bapak yang ngelarang pakir di tepi jalan, katanya nanti untuk parkir keluarga calon mempelai laki-laki. Tenang, nanti kalau ada apa-apa, saya tanggung jawab."

Akhirnya, setelah beberapa kali meyakinkan, satpam menyerahkan kunci.

Jena mengenakan helm. "Terima kasih, Pak."

Motor melaju meninggalkan rumah, rasanya lega sekali. Jena tidak tahu hendak ke mana, hanya ingin muter-muter, dan kembali lagi nanti saat acara hampir selesai.

Ia muak dengan keluarga besar Mamanya. Ia muak dengan teman alumni SMA. Ia muak pada semua orang yang menganggap hidup perempuan harus memiliki batas waktu.

Dua puluh lima belum menikah.

Dua puluh tujuh mulai ditanya.

Dua puluh sembilan dianggap terlambat.

Tiga puluh seolah-olah sudah gagal.

"Muak!" Jena menggerutu di atas motor. "Kenapa sih semua orang peduli banget sama status pernikahan gue, padahal gue makan gak minta mereka."

Lampu merah, Jena berhenti. Ia menatap kendaraan di depannya dengan wajah kusut.

"Ketemu saudara, ditanya nikah. Ketemu teman sekolah, ditanya nikah. Ketemu tetangga ditanya nikah." Ia mendengus.

Lampu kembali hijau, Jena melanjutkan menyusuri jalan tanpa tujuan.

"Emang kenapa kalau 29 tahun belum nikah? Tidak bisakah mereka menilai, jika itu adalah pilihan, bukan gak laku." Ia tertawa miris, sekaligus pengen nangis saat ingat ucapan orang-orang yang terkesan menganggap dia tak laku.

Tanpa sadar, pandangannya tidak lagi fokus ke jalan. Sampai_

BRUUUK!

"AAAA!"

Motor oleng, Jena terlempar ke samping. Tubuhnya jatuh ke aspal. Dan sesuatu yang jauh lebih keras terdengar.

GEDUBRAK!

Sebuah gerobak roti bakar terguling.

Roti, margarin, selai, botol saus, dan berbagai bahan dagangan berhamburan ke jalan.

Orang-orang yang semula berjalan santai langsung berdatangan.

Laki-laki muda pemilik gerobak, langsung syok mendapati gerobaknya setengah hancur, semua kacanya pecah.

1
Eli Rahma
astagaaaaa....
Eli Rahma
Aamiin
Eli Rahma
bener bgt jen..
Hani Ekawati
Calon bapak lebih posesif dari calon ibu 😁🤭
Hani Ekawati
Makanya jangan main main sama yang namanya perempuan ,😂
Hani Ekawati
Di ungkit terusss....😁
Hani Ekawati
Ya ampun Bud, kayanya janin tidak selemah itu ☺️ asal jangan Jena makan yang sekiranya bikin perut jadi kram.
Hani Ekawati
Mending dikamar 🤭
Hani Ekawati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Pengen apa Jen 🤭
Hani Ekawati
Iya bener Jen, jangan seolah olah kehadirannya sebagai alat tukar supaya kamu dapat warisan.
Aidil Kenzie Zie
alah dasar jantan 😝😝 kalo nggak liat si jalang lagi main kuda-kudaan sama dukun palingan y belum cerai 😝😝😝
Nurul Boed
kasih kesempatan kak buat Pak Andika, biarkan mereka menikmati mass tua bersama 😍😍😍
Kar Genjreng
Jena namanya juga rezeki jadi bagi Budi laki laki atau perempuan pasti akan di sayang. nanti kalau punya Anak Budi protektif jangan cemburu ya sama Pak Su
pasti akan sayang banget ,,, apapun jenis kelamin nya karena Budi tipe sayang dengan Anak Anak buktinya dengan Alena kan malah panggil nya Ayah. orang mengira sudah punya Anak termasuk Kamu kan 🤣 ternyata keponakan. mama nya mau nikah lagi tetap saja mau tinggal dengan Nenek dari Budi,,, selamat ya Jena pelan pelan Bu Mil cemburu an ya 😂😂
achi
dia menyesal dan bercerai karena tau kelakuan juwita kalo nggak kayanya tetap begitu terus kan jadi alasan andika mau hidup sama asri ya sebagai ban serep karena sama juwita dah ancur😢
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
pingin di plock2 apa pingin di puk2 jen 😂 bumil satu ini sudah mulai berani minta duluan yaa 😂 sudah tahu ternyata buat anak nikmat yaa jen, jadinya mau lagi dan lagi 😂 sekarang baru tahu kan jen? ternyata menikah tidak semenakutkan dalam bayangan kamu, menikah itu enak pas bagian Buat anaknya 😆🤭
lyani
tenang Bud nanti dapat twins sepasang
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mau anak kamu laki2 atau perempuan, pada akhirnya semua yang di miliki papa kamu, tetap jatuh ke tangan kamu jen. papa kamu sudah mau pensiun, sudah mau menikmati hari tua dengan momomg cucu 😂 dan masalah Dara tak usah kamu takut dan khawatir jen, Dara bukan seperti Naura. Apalagi Dara sudah berfikir kalau mau masuk pesantren. jadi, belajar lah menerima Dara berdamai lah dengan keadaan, punya saudara cewek itu asyik lhoo jen. Kamu boleh membenci juwita, tapi jangan benci Dara. karena kalian sama, sama2 korban Andika.
Asih Rahmadhani Bohara
kox pengen endingnya Jena baikan ama Dara ya. kayak Yumi sama sani.. lama2 kn mereka akur juga.. bisa d panjangin g Thor. sampai anak mereka besar 😁😁
Turwaty suketi
Nah gini kan enak nurut apa kata mas suami.😍
mimief
mantab..warisan aman🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!