NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:283
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NOTIF DI JAM 3 PAGI

Kipas angin gantung berdecit pelan, berputar enggan menembus udara kamar kontrakan yang pengap dan lembap. Suara gerimis tipis menyapu atap seng, menimpa keheningan malam yang merayap dingin di gang sempit kawasan pinggiran kota. Di atas kasur busa yang sudah menipis dan melengkung di bagian tengah, Enzo menggeliat gelisah. Bahunya terasa pegal luar biasa akibat pekerjaan kasar mengangkut kardus logistik kemarin siang, tetapi pikirannya enggan beristirahat. Bayangan tenggat waktu pekerjaan lepas yang berantakan, sisa saldo di rekening yang tak mencapai lima puluh ribu rupiah, dan wajah Bu Salmah, pemilik kontrakan yang kemarin sore menggetok pintunya dengan nada mengancam terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang tak bisa dimatikan.

Di usianya yang baru saja menginjak dua puluh lima tahun, Enzo merasa hidupnya benar-benar berjalan di tempat. Rekan-rekan seangkatannya di kampus dulu sudah mulai meniti karier mapan di perusahaan besar, mengunggah foto liburan akhir pekan, atau mencicil kendaraan pertama mereka. Sementara dirinya masih terjebak sebagai pekerja lepas serabutan tanpa keahlian khusus kadang menjadi petugas kebersihan panggilan, kadang membantu urusan bongkar muat barang tanpa jaminan atau kepastian masa depan.

Tepat saat jarum jam dinding plastik murah di sudut ruangan menunjukkan angka tiga pagi, ponsel bekas berlayar retak di samping bantalnya bergetar hebat. Bukan sekadar getaran singkat pesan masuk biasa, melainkan dengung panjang yang berulang-ulang tanpa henti di atas lantai semen yang dingin.

"Siapa sih jam segini..." gumam Enzo seraya meraba-raba lantai dalam kegelapan.

Tangannya menyenggol kabel pengisi daya yang terkelupas isolasinya sebelum akhirnya menemukan benda persegi itu. Ia mengusap wajahnya yang kusam dan memicingkan mata, silau oleh pancaran layar ponsel yang mendadak menyala terang benderang. Enzo mengusap kelopak matanya yang berat, berusaha memfokuskan pandangan pada notifikasi asing yang bertengger di bar bagian atas layarnya.

[Aplikasi "Sistem Penakluk Dewi" berhasil dipasang.]

"Hah? Kapan gue unduh aplikasi begini?" cetus Enzo setengah sadar.

Ia yakin betul tidak pernah menekan tautan iklan apa pun saat berselancar di internet tadi malam. Ponsel murahan milik Enzo bahkan biasanya langsung mati total atau mengalami kemacetan parah jika mengunduh aplikasi secara otomatis. Jempolnya refleks menekan lama ikon berwarna hitam pekat dengan simbol lingkaran sederhana yang kini muncul di halaman utama layarnya. Menu standar pilihan 'Hapus' atau 'Copot Pemasangan' bermunculan. Tanpa ragu sedikit pun, Enzo menekan opsi hapus.

Layar berkedip sekali. Namun bukannya hilang, muncul pop-up pesan sistem berwarna merah pudar di tengah layar:

[Aplikasi sistem bawaan tidak dapat dihapus dari perangkat ini.]

"Pemasangan bawaan dari mana? Dasar hp murahan, makin lama makin ngawur," umpat Enzo kesal.

Ia mencoba mematikan paksa perangkatnya dengan menekan tombol daya selama beberapa detik. Namun, tombol fisik itu sama sekali tidak merespons. Ponsel tua itu seolah terkunci dalam sebuah proses tunggal yang memaksa aplikasi tersebut terbuka secara otomatis. Layar yang semula silau perlahan berubah menjadi latar belakang hitam kelam dengan teks berwarna putih netral yang muncul baris demi baris, bergerak mulus tanpa hambatan sedikit pun.

[Menghubungkan ke Pengguna...]

[Inisialisasi Data Subjek: Enzo (25 Tahun).]

[Status Pekerjaan: Pekerja Lepas / Asisten Logistik Magang.]

[Kondisi Finansial: Kritis — Tunggakan Sewa Kontrakan 1 Bulan.]

[Evaluasi Kepribadian Awal: Memiliki tingkat empati alami dan kemampuan mendengar yang baik, tetapi tertutup oleh sifat penakut, sering ragu-ragu mengambil keputusan besar, dan cenderung memendam rasa iri pada keberhasilan orang lain.]

Darah Enzo mendadak terasa dingin. Kantuk yang tadi menggelayuti kelopak matanya menguap seketika, berganti dengan rasa terkejut yang menghantam dadanya secara bertubi-tubi.

"Ini... bercandaan siapapun gila banget," bisik Enzo seraya terduduk tegak di atas kasur busanya.

Ia menatap berkeliling ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu dengan napas tertahan. Pintu kayu kamar kontrakannya terkunci rapat dari dalam menggunakan slot besi tua, jendela berbingkai kayu lapuk juga tertutup rapi dari dalam. Tidak ada siapapun di sini selain dirinya. Bagaimana mungkin ada aplikasi gila yang tahu pasti status sewa kontrakannya yang baru ditagih kemarin sore? Apakah ponselnya telah diretas oleh seseorang yang ingin mengerjainya secara brutal? Namun, Enzo tahu betul tidak ada satu pun temannya yang memiliki kemampuan pemograman canggih seperti ini.

Belum sempat rasa bingungnya terurai, baris-baris kalimat di layar kembali berganti dengan kecepatan konstan.

[Catatan Sistem: Ini bukan perangkat peretas, bukan pula hadiah keberuntungan instan. Anda tidak akan mendapatkan uang gaib, kekuatan super, atau kemudahan tanpa usaha.]

[Tujuan Sistem: Menelanjangi persepsi keliru Anda tentang diri sendiri dan orang-orang di sekitar Anda. Memandu Anda menghadapi kenyataan hidup tanpa kebohongan.]

"Sistem Penakluk Dewi? Nama konyol seperti ini mau mengajari gue cara hidup?" kekeh Enzo sumbang. Suaranya terdengar gemetar di tengah keheningan kamar yang makin mencekam.

Ia merasa sangat konyol berbicara sendirian pada layar ponsel dingin di tengah malam. Namun, kejujuran brutal dari baris kalimat analisis itu terasa seperti tamparan keras yang tepat mengenai wajahnya. Selama ini, Enzo memang tahu betul apa kekurangannya. Ia selalu ragu-ragu saat kesempatan datang menghampiri, takut gagal sebelum melangkah, dan memilih bersembunyi di balik alasan bahwa dunia tidak pernah berpihak adil padanya.

Layar ponselnya kembali berkedip halus, menampilkan antarmuka baru yang sangat bersih dan teratur. Hanya ada satu tab aktif berlabel 'Misi Aktif' serta sebuah indikator berupa angka kecil di sudut atas bertuliskan: [Poin Keberanian: 0].

Melihat angka nol itu, ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya. Sebuah angka yang secara tidak langsung mengonfirmasi betapa tidak berdayanya ia selama ini.

[Misi Pertama akan diberikan saat matahari terbit.]

[Instruksi Pertama: Buka mata Anda, dengarkan tanpa menghakimi, dan hentikan kebiasaan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.]

Setelah kalimat terakhir itu muncul, layar ponselnya mendadak meredup dan kembali ke Tampilan Utama seolah tidak terjadi apa-apa. Enzo mencoba menekan ikon aplikasi berwarna hitam itu lagi, tetapi kali ini hanya muncul baris pesan singkat di bagian bawah layar: [Tunggu instruksi selanjutnya saat Anda melangkah keluar rumah].

Enzo menarik napas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dadanya yang berdegup kencang seperti habis berlari maraton. Ia menyandarkan punggungnya yang pegal pada dinding semen yang dingin dan lembap. Di luar kamar, suara gerimis hujan perlahan-lahan mereda, menyisakan suara tetesan air dari talang yang bocor dan keheningan malam yang makin pekat.

"Sistem gila," gumam Enzo pelan seraya melemparkan ponselnya ke atas kasur.

Ia memeluk kedua lututnya di dalam kegelapan kamar. Aplikasi misterius itu mungkin cuma bentuk peretasan canggih atau eksperimen psikologis aneh, tetapi pesan-pesan singkat di layarnya telah berhasil merobek kenyamanan palsu yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Enzo menatap langit-langit kamarnya yang bernoda rembesan air hujan. Ia tahu persis, begitu pagi datang dan ia melangkah keluar menembus pintu kamar ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!