Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 03
Part 03
"He, kembalikan bekalku! Kenapa kamu suka sekali mencuri milikku?" Amanda berteriak sebal sembari mendirikan tubuhnya, menatap geram ke arah Cio yang justru dengan seenaknya duduk di sampingnya.
"Aku kan sudah bilang, bila aku akan meminta jatah sarapan setiap pagi ke kamu." Cio menjawab tanpa bersalah dengan membuka kotak bekal makanan milik Amanda, di mana empunya sudah terlihat sangat marah kali ini.
"Memangnya kapan kamu mengatakannya, ha?" teriaknya sebal dengan berusaha mengambil kotak makanan itu sebelum disantap lelaki menyebalkan itu.
"Kembalikan! Itu milikku." Amanda berteriak kian sebal karena tak kunjung berhasil mendapatkan kotak bekal makanannya karena Cio terlalu pintar menghindarinya.
"Sekarang makanan ini untukku." Cio menjawab seenaknya yang kian membuat Amanda marah dan tidak akan membiarkan lelaki itu memakan masakannya lagi pagi ini.
"Aku tidak mau memberikannya. Cepat, kembalikan!" Amanda menarik lengan jaket Cio, namun lelaki itu justru tidak mengkhiaraukannya, lelaki itu tetap membuka kotak itu tanpa mau Amanda bisa menjangkaunya.
"Hai, kalian ini bisa diam tidak? Kalau tidak, kalian bisa keluar dari sini dan biarkan aku yang duduk di sana." Seorang lelaki berperawakan tinggi tengah berdiri di samping mereka itu menyahut malas, yang seketika membuat Amanda terdiam setelah menatap wajahnya yang cukup menakutkan.
"Maaf, Pak," cicitnya lirih, meski di dalam hati Amanda merasa sangat kesal karena lelaki yang tidak dikenalnya itu membuatnya mendapatkan masalah setelah berhasil mengambil makanannya. Ngomong-ngomong soal makanan, Amanda baru ingat bila ia tadi ingin mengambilnya dari lelaki itu. Namun semua itu seolah dibuat hancur, setelah tahu lelaki yang duduk di sampingnya itu sudah memakan masakannya begitu lahap dan itu artinya Amanda harus merelakannya lagi kali ini.
"Dasar, Babi." Amanda menggerutu sebal sembari melirik tak suka ke arah lelaki itu.
"Aku mendengarnya," jawabnya tanpa mau menatap ke arah Amanda dan masih fokus dengan aktivitas makannya.
"Aku tidak peduli, BA-BI." Amanda kian menekan kalimatnya bahkan ke arah lelaki itu, namun yang terjadi justru jauh dari ekspetasinya, lelaki itu tak bergeming di tempatnya dan masih asyik dengan makanan yang sudah dirampasnya.
"Untuk hari ini, masakanmu cukup enak." Entah siapa yang mengajaknya berbicara, lelaki itu justru berbalik dan menatap ke arah Amanda yang tengah mengalihkan tatapannya ke arah jendela.
"He, kamu tidak mendengarku? Aku sedang memujimu, seharusnya kamu sujud syukur." Lelaki itu kembali berujar dan itu berhasil membuat Amanda tak percaya terlihat dari bibirnya yang menganga.
"Aku tidak butuh pujianmu. Kenapa kamu tidak mati saja setelah makan masakanku," gerutu Amanda sebal setelah berbalik dan menatap tak terima ke arah lelaki itu.
"Jahat sekali kamu? Sebagai wanita, tidak seharusnya kamu berbicara sekasar itu."
"Sebagai lelaki, tidak seharusnya kamu mengambil makanan seorang wanita. Apa kamu juga akan seperti ini setiap bertemu dengan wanita yang sedang membawa kotak bekal? Tidak bisa dipercaya ada manusia sepertimu di muka bumi ini." Amanda menggerutu di akhir kalimatnya dengan kembali menatap ke arah luar jendela, di mana banyak orang-orang berlalu lalang dengan kendaraan masing-masing.
Sampai saat matanya tertuju ke arah sebuah mobil yang terbuka kaca jendelanya, menampilkan pemiliknya yang tengah menyetir bersama dengan seorang wanita cantik di sampingnya.
"Farel," gumamnya lirih, berusaha menahan hatinya yang terasa amat perih.
"Apa selama ini Farel berangkat pagi untuk menjemput Vanessa?" Amanda bergumam ragu karena yang ia tahu, akhir-akhir ini Farel sering berangkat lebih pagi dari biasanya, mungkin semua itu berhubungan dengan wanita yang berada di sisinya. Dan itu cukup meyakinkan, karena yang Amanda dengar, rumah Vanessa itu cukup jauh dari kampus. Entahlah, kenapa Vanessa kuliah di tempat yang jauh dari rumahnya bahkan tidak berniat tinggal di kos yang lebih dekat, tapi yang pasti itu akan merepotkan Farel. Dan Amanda merasa kasihan, karena Farel sampai tidak sarapan hanya karena hal itu.
"Hei, kamu kenapa cuma diam? Apa kamu tidak mendengarkan aku berbicara?" Amanda seketika menghembuskan nafas gusarnya, merasa tidak percaya bila ia lupa dengan lelaki menyebalkan yang masih duduk tepat di sampingnya.
"Ada apa lagi?" tanyanya tanpa minat, seolah semangatnya yang tadi ingin menghajar lelaki itu seketika hilang setelah melihat Farel dengan wanita lain.
"Lupakan saja! Tapi aku boleh tahu namamu kan?"
"Tidak. Kamu tidak perlu tahu." Amanda menjawab malas, yang langsung ditatap keraguan oleh lelaki itu.
"Kenapa? Kamu kan sudah tahu namaku, sekarang kamu juga harus memberitahukan namamu."
"Aku tidak tahu namamu dan bahkan aku tidak peduli." Amanda menjawab tak acuh tanpa mau repot-repot menatap ke arah lelaki itu.
"Apa kamu lupa? Namaku kan Cio, aku sudah mengatakannya padamu. Sekarang, kamu beritahu namamu."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin mengenalmu." Amanda menjawab kian malas lalu mendirikan tubuhnya saat ia sadar hampir sampai di tempat tujuannya.
"Hai, tunggu aku!" Cio juga melakukan hal yang sama, mendirikan tubuhnya lalu menyusul langkah Amanda.
"Berhenti, Pak!" Amanda menurunkan tubuhnya setelah bis yang ditumpanginya benar-benar berhenti di sisi jalan, begitupun dengan Cio yang juga melakukan hal sama.
"Kenapa kamu juga berhenti di sini?" Amanda bertanya heran setelah menyadari Cio juga turun di tempat yang sama.
"Aku akan kuliah di kampus baruku." Cio menjawab bangga sembari tersenyum bak model yang justru terlihat memuakkan untuk Amanda yang melihatnya.
"Kuliah di mana?" Meskipun muak, Amanda justru merasa penasaran dengan kampus yang Cio maksud.
"Di kampus yang sama denganmu lah." Cio merangkul pundak Amanda dengan tiba-tiba, lalu menarik wanita itu untuk berjalan bersamanya.
"He, lepaskan tanganmu!" sungutnya tidak terima dengan berusaha melepaskan diri dari lengan lelaki itu.
"Oke, tapi kamu harus beritahu dulu namamu? Karena aku juga harus tahu, siapa nama dari calon istri dan ibu dari anak-anakku ini." Cio menjadi bangga dan itu cukup membuat Amanda menatap tak percaya ke arah wajahnya yang terlihat kian memuakkan.
"Apa kamu bilang?" Amanda bertanya geram sembari menatap ke arah Cio yang menyengir kuda di hadapannya.
"Kenapa? Kamu menyukainya ya?" goda Cio sembari tersenyum dengan tatapan menyipitnya.
"Tentu saja tidak, dasar Babi." Amanda menjawab kesal sampai saat tatapannya lagi-lagi jatuh pada sosok Farel yang tengah merengkuh lengan Vanessa begitu mesra setelah turun dari mobil, keduanya terlihat begitu serasi saat bersama.
Sakit, lagi-lagi rasa itu kembali datang ke hatinya, memberinya rasa sesak yang teramat menyiksa hingga Amanda harus kuat menahan air matanya agar tidak jatuh di pipi. Sahabatnya yang selalu bersamanya dan menjaganya kini sudah memiliki wanita yang dicintainya, bahkan terlihat begitu bahagia. Namun kenapa, Amanda merasa tidak bisa menyukainya, seharusnya ia juga bisa turut merasa bahagia.