NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:82.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

"Pakek otakmu Nai, disekolahin tinggi, tapi bego!" Selama ini, Bu Wiwik yang terkesan sangat menyayangi Naina pun, sampai mengeluarkan kata kasar. Ia sungguh tak habis fikir kenapa putrinya bisa seperti ini. "Kamu kerja di bank, setiap hari ketemu banyak orang ganteng, orang kaya, orang pintar, kenapa harus Sandi?"

"Karena aku ingin semua orang tahu, kalau aku bisa ngalahin Mbak Nisa." ujar Naina dalam hati.

Naina dan Nisa bersekolah di SD dan SMP yang sama, jarak usia yang hanya setahun, membuat mereka selalu jadi bahan perbandingan. Selama ini, orang-orang selalu bilang kalau Nisa lebih cantik, lebih pintar, hatinya sakit karena itu. Ia ingin semua orang tahu, kalau dia bisa lebih sukses dari Nisa, dan ia juga lebih cantik, terbukti dengan ia bisa mendapatkan laki-laki yang tidak bisa didapatkan Nisa.

"Sudahlah Bu, jangan sebut nama itu lagi," pungkas Pak Bambang sambil memijat pelipis. "Diantara kedua putri kita, tidak akan ada yang menikah dengan Sandi, baik Nisa maupun Naina."

"Ayah egois!" Naina yang duduk di kursi ruang tamu, menatap ayahnya tajam. "Ayah gak mikirin perasaanku."

"Perasaan, perasaan, dari tadi itu mulu yang kamu bahas," sentak Bu Wiwik. "Sekarang Ibu tanya, sejak kapan kamu pacaran sama Sandi? Jawab yang jujur!"

"Sejak dia dan Mbak Nisa putus."

"Ya itu sejak kapan?" Bu Wiwik butuh waktu yang pasti.

"Sebulan lebih."

"Nai, Nai," Pak Bambang geleng-geleng. "Baru sebulan, dan Sandi sudah ngajakin nikah." Ia tersenyum kecut. "Sama Nisa aja 8 tahun gak ngajak nikah. Kamu yakin, dia benar-benar cinta sama kamu, atau jangan-jangan, kamu hanya pelarian karena dia tidak bisa menikah dengan Nisa karena terhalang restu?"

"Mas Sandi itu cinta sama aku. Dia sudah lama pengen mutusin Mbak Nisa, tapi kasihan aja."

"Jangan mudah percaya sama mulut laki-laki, terutama mulut Sandi." Bu Wiwik menjewer telinga Naina. "8 tahun ini, dia cuma ngobral janji sama Nisa. Dia laki-laki bermulut manis, jangan langsung dipercaya omongannya."

"Ibu selalu saja belain Mbak Nisa." Naina menatap Ibunya tajam.

"Ya Allah Nai, bisa kamu ngomong gitu. Apa selama ini, Ibu masih kurang sayangin kamu, belain kamu." Kali ini Bu Wiwik sampai tak bisa menahan air mata. "Ibu yang mohon sama Nisa buat bantuin kuliah kamu, bahkan sampai sekarang, Ibu masih sering meras bersalah, karena demi kamu, dia gak bisa kuliah. Kamu bisa kuliah, sementara Mbak mu tidak, itu sering bikin Ibu merasa bersalah."

Pak Bambang yang duduk di kursi single, menoleh ke arah lain, air matanya menetes. Ia sering merasa gagal sebagai kepala keluarga saat hanya 1 anaknya saja yang bisa kuliah. Nisa diputuskan Sandi karena dianggap tak setara, membuat dia berhari-hari tak bisa tidur karena rasa bersalah.

"Nai, apa kamu gak mikir, keluarga Sandi mau menerima kamu karena kamu sarjana, tak mau menerima Nisa yang hanya lulusan SMA. Apa hal itu tidak membuat kamu sakit hati, Nai?" Bu Wiwik mengelus dada sambil geleng-geleng.

"Apa kamu tidak sakit hati Mbak mu diremehkan keluarga mereka seperti itu?" lanjutnya. "Keluarga mereka itu memandang gelar, lalu bagaimana dengan ibu dan ayah?" Menunjuk dirinya sendiri dan Pak Bambang. "Menurutmu, jika besan-besan mereka berasal dari keluarga dengan status pendidikan dan ekonomi tinggi, apa mereka bisa menghormati ibu dan ayah? Jangan-jangan nanti setiap ada acara keluarga, kami ini di skip, gak diundang, gak dianggap. Hidup mereka terlalu berpatokan sama gelar, lupa kalau nanti, semua orang akan mempunyai gelar yang sama, yakni almarhum dan almarhumah."

Jika di luar situasi masih panas, di dalam kamar, Nisa malah rebahan sambil sibuk ngetawain Ojan yang kalang kabut. Seharian ini, dia tak membalas pesan Ojan, tak juga mengangkat teleponnya yang sudah puluhan kali. Tapi bukan berarti, ia melewatkan kejadian saat Sandi datang tadi. Ia diam-diam menyimak dari kamar, dan rasanya puas cowok itu diusir Ayahnya.

[ Mbak, kamu marah ya gara-gara aku cium kemarin? ]

[ Mbak, aku minta maaf ]

[ Angkat telepon aku dong ]

[ Tega kamu diemin aku, Mbak! Mataku bengkak gara-gara nangisin kamu seharian. VC Mbak, biar kamu bisa lihat betapa dahsyat efek sengatan kamu, bahkan ratu lebah pun kalah ]

Nisa tertawa cekikikan membaca WA Ojan yang dikirim sejak pagi tadi. Ada puluhan WA yang masuk, dan baru ia baca sekarang. Sengaja ia mendiamkan Ojan agar cowok itu lain kali kalau mau melakukan apapun, dipikir dulu, gak main cium aja seperti kemarin.

Ojan kembali telepon, tapi Nisa masih terus mengabaikan.

[ Mbak, aku lemes loh ini. Ibarat baterai, tinggal 1 persen, butuh dicas. Aku butuh lihat muka kamu Mbak, biar semangat lagi, biar 100 persen lagi. ]

Bodo amat! Nisa meletakkan ponsel di sebelahnya. Di luar masih terdengar perdebatan antara Naina, Ibu dan Ayah, entah sampai kapan akan berakhir.

Kling

Nisa mengambil ponsel mendengar suara notif. Matanya membulat melihat foto yang dikirim Ojan. Cowok itu ada di depan pagar rumahnya, membawa martabak. Dasar si paling nekat.

[ Mbak, aku masuk ya. Aku bawa martabak buat ngelamar kamu ]

Tawa Nisa seketika meledak. Ah, tapi Ojan itu tipe cowok nekat, bagaimana kalau beneran masuk. Ia langsung menelepon. Bukan apa, situasi di rumah sedang panas, jangan sampai Ojan malah masuk dan bikin situasi canggung nantinya.

"Aku keluar, tunggu bentar!" Nisa mematikan telepon setelah mengatakan itu.

Nisa mengambil cardigan di gantungan, lalu menyisir rambut dan memoles sedikit bedak di wajah juga lipstik di bibir. Di luar sudah tak terdengar lagi suara orang bertengkar, mungkin sudah masuk kamar masing-masing. Baguslah, ia jadi tak perlu melewati mereka saat keluar.

[ Mbak, kok lama. Kamu bohong ya? ]

Nisa geleng-geleng membaca pesan Ojan. Setelah memakai parfum, ia langsung keluar kamar.

Kling

Ia melihat pesan dari Ojan. Tawanya tak bisa ditahan melihat foto yang dikirim. Ojan menangis darah, foto hasil editan AI.

"Bahagia kamu, Mbak?"

Tawa Nisa langsung reda mendengar suara Naina. Ia mengalihkan pandangan dari ponsel, ternyata adiknya itu masih ada di sofa ruang tamu, sendirian.

"Kamu lagi ngetawain aku?" Naina mendelik tajam, kedua tangannya meremat pinggiran sofa, geram. "Bahagiakan kamu karena Ayah dan Ibu gak ngerestuin aku dan Mas Sandi?"

"Gak jelas banget sih. Aku lagi baca WA."

"Halah, gak usah ngelak." Naina berdiri, menghampiri Nisa. "Jangan-jangan, kamu yang udah menghasut Ayah dan Ibu supaya gak ngasih restu? Kamu gak terimakan, aku yang dapat Mas Sandi?" mendorong bahu Nisa. "Kamu gak ikhlas kalau aku menang."

"Hah!" Nisa melongo.

"Udahlah Mbak, kalah ya kalah aja. Mau kamu masih cinta mati pun, yang di pilih Mas Sandi itu aku. Legowo dong jadi orang."

Nisa melipat kedua lengan di dada sambil tersenyum miring. "Heh, Nai!" Ia ganti mendorong bahu Naina. "Mau kamu nikah sama Sandi atau enggak, bukan urusanku. Kamu bilang tadi apa, aku gak ikhlas? Aku cinta mati sama Sandi? Hello! " Matanya melotot sambil mencondongkan badan ke arah Naina. "Asal kamu tahu ya, buat aku, Sandi itu gak lebih daripada sampah! Dan asal kamu tahu adikku sayang, aku justru berterima kasih karena kamu telah memungut sampah di kantong celanaku, jadi aku gak perlu susah-susah untuk membuangnya ke tempat sampah."

Kedua telapak tangan Naina mengepal kuat, nafasnya naik turun.

1
Della Nuri delima
thorrrrr banyakin uppp
Nessa
nisa 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
bisa aja kau jaannnnn 🙄🤣
Nessa
hahahaha🤣🤣🤣🤣🤣
Nessa
iyuh dasar kau adik g tau di untung
Ayila Ella
dasar adik ga tau malu
Hikayah Rahman
sadar adek laknat sudah bagus bagus di sekolahin tinggi tinggi biar otaknya encer malah oon jadi jin Dhasim
Sari Kumala
hahaha.. entar klu udah nikah baru bilang nyesel nai
Sari Kumala
hahaha.. entar klu udah nikah baru bilang nyesel nai
lyani
gmn mau lama syedihh...nohhh penjaga hati Nisa dah standby dipagar 😂
lyani
dasar ojan😅
lyani
ngacaaaaaaa..... dasar serakah......sampai kapanpun kau akan kalah .... apalagi sandi vs Ojan ....jauhhhhh
BundaneAyaFitri
good job mbak Nisa....hempaskan para sampah ga guna,kalo perlu tendang kelaut,buang yg jauh ke planet mars hehehe 😂😂🤣🤣 puas aku ma jawaban kamu mbak Nisa....sikat biar nyahok .....ayo Thor up yg buanyak kalo boleh 🙏 hehe 🤣🤣😘😘😘❤️❤️❤️
Sari Kumala
adik kandung adalah maut 😄😄
Elvia Rusdi
Thor .boleh Maruk ga sih... tambah lagi up nya donk..
Elvia Rusdi
kerren dan serru ceritanya
Rahmawati
kita tunggu nanti si naina juga bakal di buang sama sandi😂😂😂
dyah EkaPratiwi
bener2 ya nai nggak tau terimakasih, masih belum paham juga dinasehati kayak gitu
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Nah ini baru Nisanya Ojan.
Jangan Sandi aja yg masuk.tong sampah sekalian si Nai dimasukin tong sampah tutup buang kelaut.
Terima kasih ibu udah belain Nisa🤗
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagus Nisa😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!