Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kilat di Lembah Sunyi
Detik waktu terasa melambat, bertransformasi menjadi untaian teror yang mencekik leher.
Di dalam bus yang terkunci rapat dari luar, atmosfer berubah total menjadi ruang keputusasaan.
Puluhan tim medis—para dokter senior yang biasanya tenang di meja operasi, hingga perawat muda yang baru saja memulai kariernya—kini kehilangan seluruh logika kemanusiaan mereka.
Mereka terperangkap, menjadi domba persembahan di dalam kotak besi yang siap berubah menjadi peti mati membara.
"Buka pintunya! Tolong buka! Kami tidak tahu siapa Sean! Kami hanya tim medis!" jerit seorang perawat perempuan sambil memukul-mukul kaca jendela dengan kepalan tangannya yang mulai berdarah.
Di luar, seorang anggota Klan Hitam Viper hanya menatapnya dingin. Pria bermasker itu mengangkat senapan otomatisnya, mengetukkan moncong besi yang dingin ke kaca, tepat di depan wajah sang perawat.
Tok! Tok!
Suara ketukan itu seketika membungkam jeritan sang perawat, membuatnya jatuh terduduk di lantai bus sambil terisak hebat.
"Dua menit lima puluh detik!" teriak salah satu komandan lapangan Klan Viper dari luar. Suaranya yang berat memantul di dinding-dinding tebing Lembah Sunyi, menjadi hitungan mundur menuju kematian.
"Dokter, lakukan sesuatu! Kita tidak bisa mati konyol di sini!" seru salah satu dokter muda ke dokter senior, salah satu dokter spesialis bedah yang mendadak pucat pasi.
Keringat dingin membasahi seluruh seragam medisnya. "Mereka mencari Tuan Sean, apa Tuan Sean ada di Bus kita?!"
Dokter senior yang tadi mencoba menenangkan massa, bersandar pada sandaran kursi dengan napas memburu. Matanya menatap liar ke sekeliling kabin.
"Aku tidak tahu! Data rombongan ini hanya berisi staf rumah sakit kita! Tidak ada yang bernama Sean Eagle Nugraha, atau Tuan Sean!"
"Mereka salah sasaran, Tuan Sean tidak ada bersama kita!" potong perawat lain dengan nada histeris, suaranya naik satu oktav.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, tolong bilang pada mereka, tidak ada Tuan Sean disini, kita tidak bersama beliau harus ini!"
Tangisan, doa yang dipanjatkan dengan tergesa-gesa, dan caci maki atas ketidakadilan situasi bercampur menjadi satu di dalam kabin bus yang pengap. Bau mesiu dan debu dari pintu yang hancur membuat udara semakin terasa menyesakkan.
Sementara itu, di atas tanah berkerikil yang tajam dan dingin, Lentera—atau yang akrab disapa Tera—merasakan sakit yang luar biasa menjalar dari lutut dan telapak tangannya.
Darah segar mulai merembes dari luka gores akibat hantaman kerikil tajam saat ia dilempar tadi. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan gemuruh yang berkecamuk di dalam dadanya.
Tuan Sean, nama itu terus berputar di kepalanya, pria yang sering kali menjahilinya.Pria itu kini menjadi target utama pembunuhan berskala besar.
Si Wajah Retak melangkah perlahan di sekitarnya. Ketukan tongkat komando besinya di atas tanah terdengar seirama dengan detak jantung Tera yang kian berpacu kencang.
"Dua menit tiga puluh detik," gumam Si Wajah Retak dengan seringai kejam di balik maskernya. Ia menunduk, menatap Tera yang masih berlutut.
"Tampaknya si cacat itu benar-benar seorang pengecut. Dia membiarkan dokter pribadinya yang cantik ini menjadi abu bersama para amatir di dalam bus."
Tera memejamkan matanya sejenak. Otak cerdasnya berputar cepat. Ia mengingat bagaimana Sean selalu mencari kehangatan dari tangannya setiap kali penyakit anehnya kambuh.
Ia mengingat tatapan mata Sean yang, meskipun sering kali terlihat sayu, menyimpan kedalaman misteri yang tak terduga.
Tera tahu, jika Sean benar-benar ada di sekitar tempat ini dan maju menghadapi puluhan pria bersenjata api ini, itu sama saja dengan bunuh diri.
Tidak.
Dia tidak boleh keluar, pikir Tera bersiap dengan segala risiko.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Tera mencoba meronta.
Ia menyentakkan kedua lengannya yang dipegang erat oleh dua penjaga berbadan kekar di belakangnya.
"Lepaskan!" bentak Tera.
Gerakan tiba-tiba itu membuat salah satu penjaga sedikit kehilangan keseimbangan di atas tanah berkerikil.
Menggunakan momentum tersebut, Tera menarik tangan kanannya dengan paksa, mengabaikan rasa perih luar biasa akibat gesekan kasar pada kulit pergelangan tangannya.
Begitu satu tangannya bebas, ia langsung mengayunkan sikutnya ke belakang, menghantam ulu hati penjaga di sebelah kanannya.
"Argh!"
penjaga itu mengaduh, terhuyung mundur dua langkah.
Tera tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan menarik napas sedalam-dalamnya. Mengabaikan moncong senjata yang langsung diarahkan kepadanya oleh penjaga yang lain, Tera berteriak ke arah rimbunnya hutan pinus di sekeliling tebing dengan seluruh kekuatan suaranya.
"TUAN SEAN! JANGAN KELUAR! PERGI DARI SINI!"
Suara Tera melengking tinggi, memecah kesunyian lembah dan meredam gemuruh kepanikan dari dalam bus untuk sesaat.
"JANGAN DATANG, TUAN SEAN! MEREKA MEMBAWA SENJATA API! PERGI DAN SELAMATKAN DIRI ANDA! SAYA TIDAK APA-APA!" air mata Tera akhirnya runtuh, bukan karena rasa takut akan kematiannya sendiri, melainkan karena bayangan mengerikan jika pria yang selalu merepotkannya itu harus meregang nyawa di tempat terkutuk ini.
Brak!
Sebuah hantaman keras dari tongkat besi Si Wajah Retak mengenai pundak kiri Tera, membuat dokter muda itu kembali tersungkur ke tanah berkerikil dengan rintihan kesakitan.
"Mulut yang terlalu berisik untuk seorang tawanan," desis Si Wajah Retak dengan pandangan berkilat murka. "Pegang dia lebih kuat! Jika dia bersuara lagi, potong lidahnya!"
Dua penjaga itu kembali mencengkeram Tera dengan jauh lebih kasar, mengunci kedua tangannya ke belakang hingga Tera tidak mampu bergerak sedikit pun.
Namun, mata Tera tetap menatap tajam ke arah kegelapan hutan, berharap dengan sangat agar pria bernama Sean itu mendengar peringatannya dan tetap bersembunyi.
"Dua menit!" teriak komandan lapangan lagi. "Siapkan jeriken bahan bakar!"
Beberapa pria berbaju hitam mulai bergerak mendekati badan bus, membawa beberapa jeriken besar berisi bensin. Pemandangan itu memicu gelombang kepanikan baru yang jauh lebih dahsyat di dalam bus.
"Mereka benar-benar akan membakar kita!" teriak petugas medis yang ada di dalam bus, air matanya kini mengalir deras. Ia berlutut di koridor bus, menjambak rambutnya sendiri dalam frustrasi yang mendalam.
"Demi Tuhan, siapa pun kalian, jangan lakukan ini, Aku punya anak dan istri yang menungguku di rumah!"
"Tolong! Buka pintunya! Kami mohon!" ratap para perawat muda, saling berpelukan erat di barisan kursi belakang, menutup mata mereka dari bayangan kematian yang mengerikan.
"Satu menit lima puluh detik!"
Si Wajah Retak mengangkat pengeras suaranya kembali, bersiap memberikan ancaman terakhir.
Namun, tepat sebelum ia membuka mulutnya, sebuah fenomena ganjil terjadi di Lembah Sunyi.
Angin lembah yang semula berembus perlahan, mendadak berhenti secara aneh.
Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan biasa, melainkan sebuah tekanan atmosfer yang luar biasa berat, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di tempat itu mendadak disedot oleh kekuatan yang tak kasat mata. Daun-daun pohon pinus yang rimbun di atas tebing berhenti bergoyang.
Kreeek... Kreeek...
Suara retakan halus terdengar dari permukaan jalan berkerikil. Tera, yang posisinya paling dekat dengan tanah, membelalakkan mata saat melihat kerikil-kerikil kecil di sekitarnya perlahan-lahan mulai bergetar dan terangkat beberapa milimeter dari permukaan tanah, menentang hukum gravitasi.
"Apa yang terjadi?" gumam salah satu penjaga yang memegang Tera, suaranya mendadak bergetar. Ia melirik ke arah arlojinya, taktis tak bermerek di pergelangan tangannya. Jarum jam mekanik itu berputar liar tak terkendali.
Dari arah kegelapan bayang-bayang pohon beringin raksasa yang tumbang di depan bus, terdengar suara langkah kaki yang santai.
Langkah kaki itu terdengar sangat berirama, tap-tap-tap, tanpa ada nada ketergesaan sedikit pun.
Setiap kali kaki itu menginjak tanah, sebuah getaran tak kasat mata merambat melalui permukaan bumi, membuat lutut para anggota Klan Hitam yang berdiri di sana mendadak lemas.
Sesosok pria berjalan keluar dari balik kabut tipis lembah.
Tera menahan napasnya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Yuk like dan komennya ya.
sean anaknya siapa ini?