Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Demi cinta
Raya mendongak menatap punggung Aris yang tegap. Hatinya teriris melihat Aris disudutkan oleh orang tuanya sendiri gara-gara dirinya.
"Aris..." panggil Raya pelan, air matanya pun makin deras. "Maafkan aku... Aku tidak bermaksud membuat orang tuamu marah..."
Mendengar suara lembut Raya, Aris memutar tubuhnya sejenak. Ia berlutut di depan Raya, meraih kedua tangan wanita itu yang gemetar, lalu menatap matanya dengan kelembutan yang sangat dalam.
"Ini bukan salahmu, Raya. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun," bisik Aris tulus, seraya mengusap air mata di pipi Raya. "Suster Santi, tolong bawa Raya dan Cyla ke kamar atas sekarang. Biarkan aku bicara dengan orang tuaku."
Suster Santi segera mengangguk dan membantu Raya berdiri. Raya menatap Aris dengan cemas sebelum akhirnya melangkah naik ke lantai dua dengan hati yang dipenuhi keraguan dan kesedihan.
Setelah bayangan Raya dan Cyla menghilang di balik pintu kamar lantai dua, suasana di ruang tamu makin mencekam dan dingin.
Aris memutar tubuhnya kembali menghadap Pak Baskoro dan Bu Lidya. Tatapan Aris kini berubah menjadi sangat tegas, matang, dan tidak tergoyahkan, sebuah tatapan dari seorang pria yang siap mempertaruhkan segalanya demi melindungi rahasianya.
"Duduklah, Pa, Ma," kata Aris dingin. "Aku akan jelaskan semuanya."
Pak Baskoro dan Bu Lidya kembali duduk di sofa, dan menatap putra tunggal mereka dengan raut menuntut jawaban jujur.
Aris memposisikan dirinya duduk di hadapan mereka. Ia menarik napas dalam-dalam, dan bersiap menyusun kebohongan baru yang sangat rapi untuk mengunci rasa ingin tahu orang tuanya.
"Raya memang kekasihku," buka Aris dengan suara rendah dan mantap. "Kami sudah menjalin hubungan secara rahasia selama hampir satu tahun tanpa sepengetahuan media atau siapapun, karena aku ingin menjaga privasinya dari sorotan publik."
Bu Lidya mengerutkan dahinya. "Lalu kenapa kamu tidak pernah mengenalkannya pada kami?!"
"Karena latar belakangnya yang sederhana, Ma," potong Aris cepat. "Aku tahu bagaimana Mama dan Papa selalu menuntut kriteria pasangan yang setara untuk konsorsium keluarga kita. Aku takut kalian akan menolaknya sebelum sempat mengenalnya."
Pak Baskoro menyilangkan tangannya di dada. "Lalu bagaimana dengan kecelakaan dan anak itu?"
Aris menatap ayahnya tanpa kedipan mata. "Beberapa bulan lalu, saat aku dan Raya sedang bepergian, kami mengalami kecelakaan mobil. Raya mengalami benturan hebat di kepala hingga amnesia total. Dia kehilangan seluruh ingatannya. Dan Cyla..." Aris menjeda sejenak, dan menelan ludahnya yang pahit. "... Cyla adalah anak dari sahabat dekatku yang meninggal dalam kecelakaan yang sama. Sebelum meninggal, sahabatku meminta aku untuk merawat putrinya. Maka aku dan Raya memutuskan untuk mengadopsi Cyla dan membesarkannya bersama-sama."
Kebohongan yang dirangkai Aris terdengar begitu masuk akal, begitu runtut, dan begitu menyentuh rasa kemanusiaan.
Bu Lidya dan Pak Baskoro saling bertukar pandang. Kemarahan di wajah Bu Lidya perlahan-lahan luruh, berganti dengan rasa prihatin dan keterkejutan mendalam atas beban berat yang ternyata dipikul oleh putra mereka selama ini.
"Aris..." bisik Bu Lidya dengan suara yang melunak. "Kenapa kamu tidak cerita pada kami tentang kecelakaan itu? Kenapa kamu menanggung semuanya sendiri, Nak?"
Aris menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa bersalah yang kembali membakar jiwanya karena harus membohongi orang tua kandungnya sendiri.
"Aku hanya ingin melindungi Raya dan Cyla, Ma..." jawab Aris parau. "Kondisi psikologis Raya sangat rapuh setelah kecelakaan itu. Dokter melarang keras adanya guncangan emosional. Itulah alasan kenapa aku fokus merawatnya di rumah ini dan belum sempat menemui Mama dan Papa di kediaman utama."
Pak Baskoro mendesah panjang. Ia berdiri dari sofanya, melangkah mendekati Aris, lalu menepuk bahu tegap putranya dengan rasa bangga sekaligus prihatin.
"Kamu sudah dewasa, Aris. Kamu bertanggung jawab atas wanita dan anak yang kamu pilih," kata Pak Baskoro mantap. "Tapi tindakanmu menyembunyikan hal sebesar ini dari keluarga tetaplah salah. Bagaimanapun, kami adalah orang tuamu."
"Maafkan aku, Pa... Maafkan aku, Ma," bisik Aris tulus atas dosa-dosa kebohongannya.
Bu Lidya ikut berdiri, lalu menggenggam tangan Aris dengan kehangatan seorang ibu. "Baiklah... Mama mengerti. Tapi Aris, kamu tidak bisa terus-menerus menyembunyikan Raya dan anak itu. Jika kamu benar-benar mencintainya dan ingin menjadikannya bagian dari keluarga Prakasa, kita harus mengatur masa depannya dengan benar."
Setelah orang tuanya berpamitan pulang dengan janji akan kembali berkunjung minggu depan secara resmi, mansion tersebut kembali diselimuti oleh hening.
Aris melangkah naik menyusuri anak tangga lantai dua dengan langkah yang sangat berat. Baju kemejanya terasa basah oleh keringat dingin, namun dadanya terasa sedikit lebih ringan karena berhasil melewati badai konfrontasi dari orang tuanya tanpa membocorkan identitas asli Ardiansyah.
Aris membuka pintu kamar utama pelan-pelan.
Di dalam kamar, Raya sedang duduk di tepi ranjang seraya memeluk lututnya. Wajahnya pucat dan matanya sembab oleh bekas air mata. Begitu mendengar suara pintu dibuka, Raya segera mendongak dan berdiri dari ranjang.
"Aris...!" panggil Raya tergesa-gesa. Ia berlari kecil menghampiri Aris, dan menatap pria itu dengan rasa bersalah yang amat sangat. "Bagaimana...? Apakah... apakah orang tuamu sangat marah padaku? Apakah karena keberadaanku kamu jadi bertengkar dengan mereka...?"
Melihat kecemasan dan ketulusan di mata Raya, seluruh benteng pertahanan emosional Aris runtuh seketika.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Aris maju satu langkah dan merengkuh tubuh Raya ke dalam pelukannya yang sangat erat. Ia menenggelamkan wajahnya di leher hangat Raya, dan menghirup aroma harum wanita itu yang selalu menjadi penenang jiwanya.
Raya tertegun sejenak, namun kemudian ia membalas pelukan Aris, dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap pria itu seraya mengusap punggungnya dengan lembut.
"Aris... ada apa...?" bisik Raya halus.
"Tidak ada yang marah padamu, Raya..." suara Aris terdengar parau dan pecah di balik leher Raya. "Aku sudah menjelaskan semuanya pada Papa dan Mama. Mereka... mereka bisa menerima keberadaanmu dan Cyla."
Raya menarik napas lega luar biasa, air mata kebahagiaan pun kembali menetes di pipinya. "Benarkah, Aris...? Mereka tidak membenciku...?"
Aris melepaskan pelukannya perlahan, lalu memegang kedua pipi Raya dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Raya dengan kejujuran rasa cinta terbesarnya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa membencimu, Raya," tegas Aris dengan nada yang begitu dalam. "Aku yang salah karena tidak menceritakan tentangmu pada mereka lebih awal. Tapi sekarang... semuanya sudah baik-baik saja."
Raya tersenyum manis, lalu memegang pergelangan tangan Aris yang berada di pipinya. "Terima kasih, Aris... Terima kasih karena selalu melindungiku..."
Aris menatap bibir manis Raya yang berada tepat di hadapannya. Terbawa oleh rasa cinta yang meluap-luap, rasa syukur karena ancaman orang tuanya mereda, serta kehangatan yang mengalir di dalam dadanya, Aris perlahan memejamkan mata dan mulai menundukkan kepalanya, berniat mendaratkan kecupan penuh rasa cinta di bibir wanita itu. Dan...
Bersambung...