Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Wanita itu berbalik menatap Mateo dan Alisya. Tanpa banyak bicara, ia melangkah cepat menghampiri Mateo.
"Jadi, kamu bocah sialan yang melukai anakku?" tatapannya tajam setajam silet seakan ingin menguliti Mateo saat itu juga.
Belum sempat Mateo menjawab, wanita itu langsung menjewer telinga Mateo dengan keras.
"Akh!" Mateo meringis kesakitan.
"Kamu harus bertanggung jawab!" bentak wanita itu.
"Lepaskan!" seru Mateo sambil mencoba melepaskan tangannya.
"Berani-beraninya kamu melukai anakku! Kamu nggak tau siapa aku, hah?! Sekarang juga minta maaf sama Raka!" Suara bentakan wanita itu menggema di halaman sekolah.
Alisya yang melihat kakaknya dijewer langsung panik.
"Jangan! Jangan syakiti Kak Mateo!"
Namun, tubuh kecil Alisya tidak mampu menghentikan wanita itu. Pada saat yang bersamaan, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah gedung sekolah.
"Ada apa ini?" Seorang guru perempuan yang baru kembali dari toilet berlari mendekat. Begitu melihat kerumunan besar di area penjemputan, wajahnya berubah terkejut.
"Mateo? Alisya?" Dia segera menghampiri mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Miss pada salah satu guru yang ada di sana. Belum sempat guru itu mendapat jawaban, wanita itu langsung menoleh dengan wajah penuh emosi.
"Jangan ikut campur!" Suara wanita itu terdengar nyaring.
"Ini urusanku dengan bocah sialan ini!"
Salah seorang guru lain segera mendekat dan berkata pelan,
"Nyonya Disti, Miss ini wali kelas Mateo dan Alisya."
Bukannya mereda, Disti justru semakin kesal.
"Wali kelas? Kalau begitu, Anda juga bertanggung jawab!" Disti menunjuk ke arah guru tersebut.
"Lihat didikan murid Anda! Anakku sampai berdarah seperti ini!"
Miss itu tetap berusaha tenang.
"Bu, mohon tenang dulu. Saya ingin mendengar penjelasan dari semua pihak agar tau apa yang sebenarnya terjadi."
"Penjelasan apa lagi?" Disti memotong dengan nada tinggi.
"Faktanya anakku berdarah! Semua orang melihat anak itu yang melakukannya!"
Mateo yang masih memegangi telinganya yang memerah akhirnya maju selangkah.
"Jangan marahi Miss,!"
Semua orang menoleh kepadanya.
"Miss nggak ada hubungannya." Tatapan Mateo tetap berani meski wajahnya masih menahan sakit.
"Miss bahkan baru datang. Kalau mau marah..." Ia menatap lurus ke arah Disti.
"Marahi aku saja."
Ucapan bocah lima tahun itu membuat beberapa guru saling berpandangan. Di satu sisi mereka melihat keberanian Mateo membela wali kelasnya, tetapi di sisi lain situasi semakin sulit dikendalikan karena emosi semua pihak masih memuncak.
Disti semakin murka setelah mendengar ucapan Mateo, baginya, sikap Mateo yang tetap berdiri tegak bukanlah keberanian, melainkan pembangkangan.
"Masih berani menatap ku seperti itu?" Ia melangkah mendekati Mateo.
"Kamu benar-benar tidak tau sopan santun, ya!" Bentak Disti lagi.
Tanpa meminta izin kepada siapa pun, Disti meraih lengan Mateo dan berusaha memaksanya berlutut.
"Lutut! Kamu harus minta maaf sama Raka sekarang juga!"
Mateo mengeraskan tubuhnya.
"Nggak! Aku nggak mau! Aku nggak salah jadi aku nggak mau minta maaf,"
Meski tenaganya kalah jauh, bocah itu tetap berusaha berdiri. Melihat itu, Miss segera maju.
"Bu, tolong jangan seperti ini. Anak-anak sebaiknya dipisahkan dulu, lalu kita cari tau apa yang sebenarnya terjadi."
Namun, sebelum Miss sempat mendekat, salah seorang guru lain menahan lengannya.
"Miss, jangan ikut campur."
Miss menoleh bingung. "Kenapa?"
Guru itu berbisik pelan agar tidak terdengar Disti.
"Kamu belum tahu. Nyonya Disti itu istri seorang pengacara terkenal. Kalau beliau marah dan menuntut sekolah, kita semua bisa kena masalah."
Guru lain ikut mengangguk, "iya jangan cari perkara sama Bu Disti,"
Miss menarik napas panjang. Ia menatap kedua rekannya dengan kecewa.
"Justru karena kita guru, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan adil. Ini bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan. Kalau sejak awal kita mau mendengar penjelasan semua anak, situasinya tidak akan semakin besar. Tapi kalau kita membiarkan orang tua memperlakukan murid seperti ini..."
Miss menggeleng pelan.
"Bukankah kita sendiri yang memperburuk keadaan?" Ucapan itu membuat beberapa guru terdiam.
Di sisi lain, Disti masih berusaha memaksa Mateo.
"Saya bilang berlutut!"
"Tidak!" Mateo tetap bertahan.
Alisya yang melihat kakaknya diperlakukan seperti itu mulai menangis.
"Jangan syakiti Kak Mateo..."
Suasana halaman sekolah kembali ricuh. Tepat saat itu, zebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah.
Pintunya terbuka.
"Bibi datang!" seru Maya dengan riang, sembari membuka pintu mobilnya. Maya turun dengan langkah cepat. Semula ia tersenyum, tetapi senyumnya langsung lenyap ketika melihat kerumunan guru dan orang tua. Matanya segera menangkap sosok Mateo yang lengannya sedang dicengkeram Disti.
Wajah Maya seketika berubah, "apa yang kalian lakukan?!" Suaranya terdengar tegas, semua orang spontan menoleh. Maya berjalan cepat menghampiri mereka.
Begitu melihat telinga Mateo memerah dan Alisya menangis sambil memeluk kakaknya, amarahnya memuncak. Tanpa ragu, Maya menepis tangan Disti dari lengan Mateo.
"Cukup!"
Disti terkejut. "Siapa kamu berani menyentuh tangan ku?!""
Maya langsung berdiri di depan Mateo dan Alisya, melindungi keduanya.
"Aku bibinya." Tatapannya tajam menatap Disti.
"Dan aku ingin tau, sejak kapan orang tua murid boleh menghukum anak orang lain di lingkungan sekolah?"
Halaman sekolah langsung sunyi, para guru saling berpandangan. Mereka tahu kedatangan Maya membuat situasi yang sudah tegang itu akan semakin memburuk.
"Oh, kamu bibinya! Pantes aja anak-anak sialan ini bersikap kasar pada anakku," cibir Disti.
"Oho... liat! Orang dari kebun binatang mana ini nyasar ke sekolah anak-anak? Nggak punya etika," balas Maya sembari berkacak pinggang.
"Kamu ngatain aku?" Disti tak terima, "kalian semua akan dapat akibat kalau anak ini nggak berlutut hari ini dan minta maaf sama anakku, aku akan buat sekolah ini mendapat masalah," ujar Disti mengancam.
"Lakukan aja aku nggak takut! Aku juga bisa nuntut kamu karena karena kamu sudah menyakiti anak di bawah umur," Maya balik mengancam Disti, mendengar itu wanita itu sedikit gugup, mau tak mau dia terpaksa menghubungi suaminya.
Namun, di waktu yang sama kepala sekolah pun ikut keluar dan melihat kerumunan itu.
"Apa yang terjadi di sini?"
Melihat kepala sekolah Disti langsung berkata dengan tegas, "minta bocah itu untuk berlutut di depan anakku, kalau nggak aku akan meminta suamiku untuk mencabut semua akses donatur untuk sekolah ini!" ancam Disti, kepala sekolah langsung takut, karena bagaimana pun dia masih membutuhkan donatur untuk sekolahnya.
"Bu, jangan begitu..." Miss mencoba berbicara tetapi kepala sekolah langsung memotong.
"Miss, berhenti! Apa kamu mau sekolah kita tidak punya donatur lagi, kamu liat pembangunan ini kita masih sangat membutuhkan itu," lalu pria itu berjalan ke arah Disti yang berdiri sembari melipatkan kedua tangannya di dada.
"Saya minta maaf, Nyonya. Saya janji hal ini tidak akan terjadi lagi. Saya akan meminta anak ini untuk meminta maaf pada anak Anda," ucap kepala sekolah itu.
"Meskipun aku tidak tau apa yang terjadi di sini. Bisakah, kita meleraikan masalah ini secara baik-baik? Kalau Mateo bersalah, aku yang akan meminta dia untuk meminta maaf," Ujar Maya.
"Bibi Maya, aku nggak salah." ucap Mateo yang enggan meminta maaf.
"Kalian liat?! Anak ini nggak punya sopan santun!" kesal Disti menatap Mateo, tatapan Mateo membuat Disti mengingat seseorang yang sangat dibenci olehnya.
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
aku suka keributan ini
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍