Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.
Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.
Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.
"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Risa segera mengangkat kedua tangannya, menahan dada bidang Raga dengan gerakan lembut namun tegas, menolak agar pria itu tidak semakin mendekat dan menindihnya.
"Maaf ya, Mas… jangan malam ini," ucapnya pelan, nada suaranya sedikit lemah sambil memegangi perutnya dengan satu tangan. "Perutku tiba-tiba terasa sangat mual, rasanya ingin sekali muntah. Entah kenapa dari tadi sore rasanya tidak enak, mungkin aku salah makan tadi siang."
Raga seketika menghentikan semua gerakannya, pandangannya yang tadinya penuh hasrat seketika berubah menjadi khawatir. Ia segera melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut punggung tangan Risa dengan wajah cemas.
"Ya ampun, Sayang… Kamu sakit? Kenapa tidak bilang dari tadi?" serunya pelan, nada suaranya penuh perhatian. "Apakah rasanya sangat sakit? Mau aku ambilkan air hangat, atau mau aku antarkan ke dokter saja?"
Risa menggeleng pelan, napasnya keluar sedikit pendek, seolah benar-benar sedang menahan rasa mual yang hebat. Padahal rasa mual itu bukan karena salah makan, melainkan rasa jijik yang meledak-ledak di dalam dadanya setiap kali disentuh dan diucapkan kata-kata manis oleh pria yang sudah mengkhianatinya itu.
"Sudah tidak apa-apa, Mas. Cuma sedikit mual saja, tidak sampai sakit parah. Cuma rasanya tidak nyaman sekali, rasanya ingin muntah," jawab Risa, kata-kata itu sebenarnya memiliki makna ganda yang dalam di hatinya - ia benar-benar ingin muntah, ingin membuang semua rasa jijik, semua kepura-puraan, dan semua rasa sakit yang selama ini ia simpan.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu," ucap Raga pelan, nada suaranya jelas terdengar sedikit kecewa namun ia berusaha menyembunyikannya di balik sikap perhatiannya. Ia sebenarnya sudah sangat mendambakan kehangatan tubuh istrinya malam ini, ingin menghabiskan waktu intim bersama sebelum pergi lama, tapi ia tidak tega memaksanya saat Risa sedang merasa tidak enak badan.
Ia kembali mengusap lembut rambut Risa sekali lagi, senyumnya masih tergambar meski agak pudar.
"Istirahat ya, Sayang. Jangan dipaksa bergerak banyak. Kalau rasanya semakin parah, segera bilang sama aku, oke?"
"Iya, Mas. Terimakasih sudah mengerti," jawab Risa dengan senyum tipis.
Raga mengangguk pelan, lalu perlahan berdiri. Ia melirik Risa sekali lagi dengan pandangan yang masih menyisakan rasa kecewa, sebelum akhirnya berbicara dengan nada santai.
"Kalau begitu aku masuk ke kamar duluan ya, mau bersih-bersih dan bersiap untuk besok pagi. Kamu duduk saja dulu disini sampai rasa mualmu hilang, nanti baru masuk ke kamar untuk istirahat."
"Baik, Mas. Pergilah dulu," jawab Risa lembut.
Raga pun berjalan pergi menuju kamar dengan langkah yang agak lambat. Punggungnya terlihat sedikit lesu, jelas sekali ia masih merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan malam ini.
Setelah sosok Raga benar-benar menghilang di balik tembok yang memisahkan ruangan tersebut dengan ruang tengah, senyum lembut di wajah Risa seketika lenyap. Malam ini ia bertahan, besok ia akan berjuang, dan saat Raga pulang nanti, ia akan menghadapi akhir dari segalanya.
-
-
-
Sinar matahari pagi yang lembut mulai menyinari halaman rumah, Raga sudah siap dengan pakaian kerja rapi, kopernya juga sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh sopir.
Risa berdiri di sampingnya, wajahnya tenang dan lembut. Tidak ada satu pun tanda amarah, kebencian, atau kecurigaan yang terlihat di wajahnya. Semua rasa itu tersimpan rapat didalam hatinya.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju teras rumah.
"Sudah semua barangnya, Mas? Tidak ada yang tertinggal kan?" tanya Risa, tangannya merapikan sedikit kerah kemeja suaminya dengan gerakan halus.
Raga mengangguk dengan senyum lebar, lalu mengusap lembut puncak kepala Risa.
"Sudah semua, Sayang. Tidak ada yang tertinggal," jawabnya manis, lalu ia menunduk sedikit, mencium lembut dahi Risa sekali lagi sebagai perpisahan. "Ingat apa yang aku bilang ya, makan teratur, jaga kesehatan, kunci pintu dan jendela dengan rapat setiap kali sendirian di rumah. Aku akan telepon kamu setiap sore, oke?"
"Siap, Mas. Aku akan ingat semuanya," jawab Risa dengan senyum tipis yang manis. "Kamu juga hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut, jaga diri baik-baik disana. Aku akan menunggu kamu pulang dengan selamat disini."
Kata-kata itu keluar dengan begitu alami, seolah-olah benar-benar berasal dari hati yang tulus. Padahal di dalam batinnya, Risa hanya bisa tertawa dingin.
Raga memeluk Risa sebentar, sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu dan melangkah menuju mobilnya.
"Baiklah, aku berangkat dulu ya, Sayang. Sampai jumpa seminggu lagi!" serunya, lalu masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan menurunkan kaca jendela.
Risa berdiri tegak di teras rumah, tangan diangkat sedikit melambai sebagai tanda perpisahan, senyum manis masih tetap terpasang di wajahnya.
Begitu mobil Raga benar-benar lenyap dari pandangan, senyum manis di wajah Risa seketika hilang tanpa sisa. Ia menurunkan tangan yang tadi melambai, lalu segera mengangkat ponsel yang sudah siap di tangannya, jari-jarinya bergerak cepat menekan nomor kontak Sella.
Hanya berdering dua kali, panggilan itu segera diangkat.
"Mobil Mas Raga sudah keluar dari halaman rumah, Sel. Pastikan dia sangat berhati-hati, jangan sampai Mas Raga atau wanita itu curiga jika ada yang mengikuti."
-
-
Sementara itu, Amelia sudah berdiri menunggu dengan tas kecil di tangannya, wajahnya cerah dan penuh senyum manis begitu melihat mobil Raga datang. Begitu pintu mobil terbuka, Amelia segera melangkah masuk dengan cepat, lalu duduk di kursi penumpang depan.
"Kamu lama sekali, Mas… Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit," bisik Amelia manja, begitu duduk ia langsung mendekatkan tubuhnya, tangannya langsung meraih lengan Raga dengan mesra.
Raga tertawa pelan, tangannya terulur mengusap lembut pipi wanita itu, pandangannya penuh gairah.
"Maaf ya, Sayang. Aku harus berhati-hati, tidak boleh terlihat mencurigakan di depan Risa." jawab Raga lembut, lalu segera menyalakan kembali mesin mobil dan melaju pergi dengan cepat. "Sekarang sudah aman, tidak ada siapa-siapa yang melihat. Kita bebas berdua selama tujuh hari penuh, tidak ada gangguan,"
Amelia tersenyum lebar, kepalanya bersandar nyaman di bahu Raga, matanya berbinar bahagia.
"Aku sudah tidak sabar, Mas… Akhirnya kita bisa pergi berdua seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya, bukan lagi harus bersembunyi di balik pintu ruangan kantor atau tempat sepi saja," ucapnya lembut, nada suaranya penuh kepuasan.
Raga hanya tersenyum puas dan semakin mempercepat laju mobilnya. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari, tepat sekitar tiga puluh meter di belakang mereka, ada sebuah mobil hitam polos yang melaju dengan kecepatan yang sama, menjaga jarak yang aman dan tidak mencurigakan.
-
-
-
Bersambung...
secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭