Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24. Rekaman yang Dihapus
Dua hari kemudian, Ellea datang ke apartemen Elden membawa sebuah flashdisk.
“Kak, White Scalpel berhasil memulihkan rekaman CCTV yang sengaja dihapus dari sistem rumah sakit.”
Elden segera berdiri. “Berikan kepadaku.”
Ellea menyerahkan flashdisk itu. Mereka langsung duduk di depan laptop dan membuka rekaman yang berhasil dipulihkan.
“Mulai dari beberapa menit sebelum Linjaryani masuk IGD,” perintah Elden.
Ellea mengatur waktu rekaman.
Gambar pertama memperlihatkan Stella berada di sebuah ruangan yang tampak seperti ruang persiapan obat. Perempuan itu membuka kotak berukuran sedang, lalu memeriksa beberapa ampul obat di dalamnya.
Elden mendekatkan wajahnya ke layar.
“Itu apa?”
Ellea memperbesar gambar. Label pada salah satu kemasan terlihat samar, tetapi cukup untuk menunjukkan tulisan digoksin.
Stella kemudian menyerahkan kemasan tersebut kepada seseorang di luar jangkauan kamera. Mereka tidak bisa mendengar percakapan keduanya, tetapi gerakan Stella terlihat jelas ketika ia menunjuk ke arah lorong IGD sebelum orang itu pergi membawa obat.
“Putar lagi,” ujar Elden.
Rekaman diulang.
Stella tampak memastikan kotak itu telah dibawa keluar. Setelah itu, ia merapikan barang-barang yang ada di meja, menoleh ke arah pintu, lalu dengan segera meninggalkan ruangan.
Elden menahan napas. “Lanjutkan.”
Rekaman berikutnya memperlihatkan Dea sedang bertugas di IGD.
Beberapa saat kemudian, seorang petugas menyerahkan sebuah wadah obat kepadanya. Dea memeriksa isinya sebelum membawanya ke area tempat Linjaryani dirawat.
Wajah Elden menegang.
“Dea yang menerima obat itu?”
Ellea mengangguk pelan. “Dari rekaman ini, iya. Tapi kita belum tahu apakah dia mengetahui asal-usul obat tersebut atau apakah obat itu benar-benar diberikan kepada Linjaryani.”
Elden tidak menjawab.
Di layar, Dea terlihat sibuk menangani pasien. Ia tidak menunjukkan kecurigaan apa pun ketika menerima wadah tersebut. Baginya, itu tampak seperti bagian tugas medis yang harus diselesaikannya.
Lalu, rekaman beralih ke lorong lain.
Stella terlihat berjalan menjauh dari area IGD. Ia memasuki sebuah ruangan, keluar beberapa saat kemudian tanpa membawa kotak yang sebelumnya terlihat di tangannya, lalu meninggalkan area itu melalui jalur berbeda.
Elden mengernyit. “Kenapa dia langsung pergi?”
Ellea memeriksa penanda waktu pada rekaman. “Waktunya berdekatan dengan saat kondisi Linjaryani mulai memburuk.”
Elden menatap layar tanpa berkedip.
Selama ini, ia mengira Dea adalah orang yang paling patut dicurigai. Padahal, Stella justru terlihat meninggalkan area tersebut pada saat yang begitu penting.
“Cari kamera lainnya,” katanya.
Ellea membuka berkas berikutnya.
Kali ini, gambar memperlihatkan ruang monitor CCTV rumah sakit.
Stella muncul di depan pintu. Ia masuk setelah memastikan ruangan itu kosong, lalu duduk di hadapan deretan layar pemantau.
Elden mengernyitkan dahi. “Itu Stella?”
“Ya.”
Mereka menyaksikan Stella memeriksa beberapa layar, kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Setelah panggilan berakhir, ia kembali memperhatikan monitor.
Beberapa menit kemudian, Stella berdiri dan melihat ke arah pintu.
Dua petugas yang sebelumnya bertugas di ruangan itu tidak terlihat di mana pun.
Ellea membuka rekaman dari kamera lorong yang mengarah ke ruang monitor. Di sana, kedua petugas terlihat meninggalkan ruangan secara terpisah setelah menerima sesuatu dari Stella. Rekaman itu tidak memperlihatkan isi obrolan mereka, tetapi setelah mereka pergi, Stella masuk dan tetap berada di ruang monitor seorang diri.
Elden mengepalkan tangan. “Dia sengaja memastikan tidak ada orang di sana.”
“Kemungkinan besar,” jawab Ellea. “Tapi kita masih perlu memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan apakah kedua petugas itu memang menerima bayaran darinya.”
Di layar, Stella duduk menghadap monitor. Sesekali, ia memindahkan pandangan dari satu layar ke layar lainnya. Ia tampak mengawasi aktivitas di sekitar IGD, termasuk jalur yang dilalui Dea.
Kemudian, pada salah satu bagian rekaman, Stella bangkit dan mengoperasikan konsol pemantau.
Tak lama setelah itu, gambar dari kamera di dalam ruang gawat darurat tidak lagi tersedia.
Elden terdiam.
Rekaman itu tidak memperlihatkan secara langsung siapa yang menghapus berkas dari sistem utama. Namun, urutan kejadian yang terekam membuat kecurigaannya terhadap Stella semakin kuat.
Stella menyiapkan obat.
Obat itu kemudian sampai ke tangan Dea.
Stella meninggalkan area IGD saat kejadian berlangsung, lalu terlihat berada di ruang monitor ketika rekaman dari ruang gawat darurat menghilang.
Semuanya tampak saling berkaitan.
Namun, masih ada satu hal yang belum mereka ketahui: apakah Dea benar-benar memberikan obat itu kepada Linjaryani, dan apakah obat tersebut yang menyebabkan kondisinya memburuk.
Elden menatap layar yang kini membeku pada wajah Dea.
Perempuan itu terlihat sedang bekerja, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang mungkin telah menjadikannya bagian dari sebuah rencana.
“Sebenarnya, ada banyak hal yang tidak kalian ketahui antara aku dan Dea. Aku menyalahkan Dea,” gumamnya.
Ellea tidak menyela.
Elden menunduk, menatap kedua tangannya sendiri.
“Aku menyakitinya,” bisiknya.
Masih jelas dalam ingatannya ketakutan besar Dea saat melihat dirinya.
"Dan sepertinya Dea melihatku bagai monster yang mengerikan."
Ellea mengangkat wajah menoleh pada saudaranya itu. "Katakan padaku, apa yang kamu lakukan kepadanya?"
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella