Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 4
Sementara sampai besok pagi, Nadia dan Rio akan menginap di rumah peninggalan orang tuanya ini. Mereka berdua beristirahat dikamar bawah. Sementara di lantai dua,1 kamar ditempati Rara.
Rara keluar dari kamarnya. Ia nampak sudah bersiap untuk pergi ke kelab malam seperti biasa. Mengenakan bodycon dress dengan potongan diatas lutut. Tampilan itu menonjolkan siluet tubuhnya yang memikat. Sepatu high heels menambah memukaunya penampilanya.
Ia lalu turun kebawah sambil meninggalkan aroma harum dari parfum yang ia semprotkan. Aroma itu terasa wangi namun memikat dan cocok dengan auranya. Suara sepatunya terdengar disetiap langkah.
"wangi banget mau kemana ?" tanya Nadia yang terbangun untuk menyempatkan minum ke dapur karena tenggorokannya terasa kering. "jam berapa ini ?" tambahnya sambil berdiri didekat meja makan dan memegang sebuah gelas.
Seketika Rara menghentikan langkahnya tepat setelah ia baru saja menapak ke lantai bawah. Sejujurnya ia malas menanggapi kakaknya. Ia tahu, pasti ia akan dimarahi lagi atau dilarang lagi. Ia memilih menghela napas lalu memalingkan wajahnya.
Nadia meletakkan gelas keatas meja. Kemudian melangkah mendekat ke adiknya. "Ra bisa nggak sih, sekali aja berhenti dulu. Ibu kita ini baru aja meninggal," ucap Nadia berharap adiknya mengerti.
"Terus aku harus gimana kak," jawab Rara dengan kesal. "aku harus diam dirumah, merenung dikamar, terus nangis sepanjang malam kak. Iya kak, itu yang kakak mau. Kalau aku nglakuin itu semua, apa ibu akan hidup lagi ?, enggak kan kak ?"
Nadia sangat heran dengan sikap adiknya. Kenapa ia sangat keras kepala dan dengan cara apalagi agar ia mau berubah. Nadia pun menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang benar-benar tak habis pikir.
"Ra, bisa nggak sih, sekali aja nurut. Ngerti gitu apa yang kakak mau. Kamu itu udah dewasa, ra," kata Nadia.
"dari dulu kakak itu heran banget sama kamu. Kamu itu benar-benar keras kepala ra. Nasehat dari aku nggak pernah kamu dengar. Nasehat mama juga nggak ada yang masuk ke telingamu. Kamu itu kenapa sih ra ?," kata Nadia sambil melangkah menuju kursi di meja makan. "sekali aja ra, mengerti," tambahnya sambil duduk dikursi.
"kakak itu nggak tahu apa yang aku rasakan. Kakak ingat nggak pas kakak ulang tahun dulu pas masih kecil," mata Rara mulai berkaca-kaca.
"kakak diberi hadiah sama papa dan mama sesuai yang kakak mau. Tapi aku hanya diberi satu hadiah yang sama setiap aku ulang tahun. Seharusnya kakak yang ngertiin aku," Rara tak mampu membendung air matanya. Akhirnya buliran air mata keluar, mengalir turun.
"kakak itu nggak tahu rasanya dipilih kasih sama papa dan mama. Karena kakak memang nggak pernah mengerti adiknya sendiri," Rara berhenti berucap sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
Nadia tertunduk. Menurutnya, apa yang dilakukan orang tuanya, berdasarkan dari perkataan adiknya bukan berarti tidak sayang. Pasti ada maksud lain yang hanya bisa dimengerti oleh kedua orang tuanya. Namun, ia juga mulai menanyakan kedalam hatinya apakah ia salah selalu memberikan nasehat untuk adiknya ?.
"Ra dengarin kakak. Pas waktu kamu pergi ninggalin rumah, mama merasa bersalah banget. Tapi apa kamu mengerti perasaan mama waktu itu ?," Nadia menatap Rara.
"mama itu sedih ra. Mama itu merasa kesepian. Tapi kamu malah tega ninggalin mama gitu aja," Nadia rasanya ingin menangis.
"seminggu kamu nggak respon mama, mama telpon kakak. Mama cerita kalau dirinya menyesal setelah kamu pergi. Apa kamu masih nggak ngerti perasaan mama ?. Perasaan mama dan kakak itu sama ra. Kita ingin kamu jadi lebih baik dan memiliki masa depan yang baik. Tapi sedetik pun kamu nggak pernah ngerti, " Nadia mulai terbawa perasaan.
"sekali aja ra, mengerti," kata Nadia dengan penuh harapan.
Rara hanya terdiam sambil terus mengusap air matanya. Tak ada satu kalimat yang langsung keluar dari mulut. Ia lebih memilih melangkah pergi. Langkahnya lebih cepat untuk sampai ke pintu depan. Lalu ia bergegas masuk ke mobil.
Ia menumpahkan semua kesedihannya. Tangisannya ia keluarkan didalam mobil. Namun, ia tak mau terlarut dalam kesedihan. Perlahan ia berusaha menangkan dirinya. Setelah lebih tenang dan mampu mengontrol emosinya, ia langsung mengenakan jaket jeans yang ada dimobil. Kemudian ia pergi menggunakan mobilnya.
Sementara didalam rumah, Nadia menangis. Tangisannya mampu membangunkan Rio. Pria itu lalu melangkah keluar kamar dan mendekat ke Nadia yang menangis di kursi meja makan. Ia mencoba menenangkannya dan bertanya apa yang menyebabkan ia bisa menangis. Tak ada jawaban, hanya tangisan yang ia terima.
Rio pun memeluk Nadia, berharap apa yang ia lakukan ini mampu menenangkan istrinya.