Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya papa main sama papa!?
Bab 22: Pengawal Kecil dan Kejutan di Pekarangan
Sore itu, suasana rumah keluarga Arka mendadak sibuk begitu mereka melangkah masuk dari pintu depan. Arka bergerak secepat kilat membawa dua tas besar berisi pakaian dan perlengkapan rumah sakit, lalu langsung menatanya di ruang tengah.
Aira, yang tangannya sudah bebas dari selang infus, melangkah anggun sambil memeluk erat boneka kelincinya. Bocah kecil itu berjalan mengelilingi ruang tengah, menginspeksi setiap sudut rumah seolah memastikan tidak ada yang berubah selama ia dirawat.
"Aira, jangan lari-lari dulu ya, Nak," panggil Arka sigap dari arah meja makan, tangannya sibuk menyiapkan segelas air hangat. "Langkah kakinya dipelanin, Bos Kecil."
Aira menghentikan langkahnya, menoleh pada Papanya lalu berkacak pinggang kecil. "Aila gak lali-lali, Papa ! Aila cuma lagi patroli rumah!"
Nala yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa empuk langsung terkekeh geli. "Tuh kan, Mas. Anak kamu aja bilang lagi patroli. Kamu paniknya jangan kebangetan, deh."
Arka berjalan mendekati sofa, meletakkan gelas air hangat di atas meja lalu berlutut di samping Nala dengan raut wajah sangat serius. "Gak ada yang kebangetan kalau urusan kesehatan kalian, Nala. Kamu juga dari tadi mukanya masih agak pucat. Pokoknya sore ini kamu tinggal duduk manis, biar Mas sama Bi Minah yang urus makan malam."
Aira melangkah mendekati Papanya, menyikut lengan kekar Arka dengan gaya sok dewasa. "Papa !"
"Iya, bos kecil?" sahut Arka sambil mendongak.
"Tadi di rumah sakit Papa janji apa sama Aila?" tanya Aira menuntut jawaban, mata bulatnya menatap lurus ke arah Papanya.
Arka menyunggingkan senyum hangat, lalu mengacak rambut halus putrinya. "Papa janji mau bayar utang main gelembung sabun sepuluh kali lipat!"
"Sama berenang di kolam plastik juga!" tambah Aira pantang menyerah.
"Sip! Besok pagi Papa wujudkan semuanya," jawab Arka mantap sambil mengacungkan ibu jarinya.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi memancar hangat menyinari jendela kamar Aira. Bocah balita itu mengucek matanya pelan, menggeliat di atas kasur empuknya, lalu buru-buru duduk.
Pikiran pertama yang melintas di kepala Aira adalah Papanya. Dengan langkah kaki kecil yang agak tergesa-gesa, Aira melangkah keluar kamar menuju ruang tengah.
"Papa ...?" panggil Aira pelan, suaranya masih agak serak khas bangun tidur.
Suasana ruang tengah tampak sepi. Aira berjalan menuju meja kerja Arka di sudut ruangan, tempat Papanya biasa memeriksa dokumen kantor. Kosong. Laptop dan tas kerja Arka juga tidak ada di sana.
Aira menggigit bibir bawahnya. Perasaan cemas yang familiar mendadak menyelinap di dadanya. Apakah Papa Alka pergi ke kantor lagi subuh-subuh? Apakah Papa ingkar janji lagi?
Aira melangkah ke dapur, melihat Nala yang sedang memotong buah di meja pantry.
"Mama ..." panggil Aira dengan suara yang mulai berkaca-kaca.
Nala menoleh, tersenyum hangat melihat putrinya. "Eh, Bos Kecil Mama udah bangun! Kenapa mukanya cemberut gitu, Sayang?"
"Papa ... pergi kelja lagi ya?" bisik Aira, matanya mulai berair. "Papa bohong lagi... Kata Papa hari ini mau libur..."
Nala meletakkan pisau buahnya, lalu tertawa kecil dan berlutut di depan Aira. "Siapa yang bilang Papa pergi kerja? Coba Aira tengok ke pintu belakang yang arah ke pekarangan."
Aira mengerutkan dahinya bingung. Dengan ragu-ragu, ia berjalan mendekati pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan pekarangan samping rumah.
Begitu Aira menyingkap gorden putih tipis di pintu kaca, matanya seketika terbelalak lebar!
Di atas rumput hijau yang segar, sudah terpajang sebuah kolam renang plastik berukuran sedang yang sudah terisi air jernih dengan beberapa mainan bebek karet mengapung di atasnya. Di samping kolam, berdiri Arka yang hanya mengenakan kaos oblong santai dan celana pendek. Pria tegap itu sedang sibuk memompa wadah gelembung sabun raksasa, sementara topi pantai berbahan jerami bertengger kocak di atas kepalanya.
Arka yang melihat Aira dari balik kaca langsung melambaikan tangannya heboh.
"Selamat pagi, Bos Kecil! Kolam renang dan armada gelembung sabun Papa sudah siap tempur!" seru Arka nyaring dari luar.
Aira langsung membuka pintu kaca lebar-lebar dan berlari keluar dengan raut wajah berbinar-binar luar biasa.
"PAPA ! PAPA GAK KELJA?!" jerit Aira gembira.
Arka langsung berlutut dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Aira menubruk Papanya, melingkarkan lengan kecilnya di leher kekar Arka. Arka menggendong putrinya tinggi-tinggi sambil memutarnya pelan di udara.
"Gak dong! Hari ini Papa udah izin cuti khusus buat mengawal dan melayani Kakak Aira seharian penuh!" tegas Arka sambil mencium pipi kenyal putrinya bertubi-tubi hingga Aira tertawa kegelian.
"Hahaha! Papa geli!" pening Aira sambil memegangi pipinya. "Aila kira Papa sembunyi di kantor lagi!"
"Nggak akan pernah lagi, Sayang," ujar Arka lembut, mendudukkan Aira di pinggir kolam plastik. "Yuk, kita tiup gelembung sabunnya sekarang!"
Arka mencelupkan tangkai peniup gelembung berukuran besar ke dalam wadah sabun, lalu meniupnya perlahan. Seketika, puluhan gelembung sabun berwarna-warni tercipta dan terbang berhamburan di udara, diterpa sinar matahari pagi yang hangat.
"Wahhh! Gelembungnya gede banget!" jerit Aira riang sambil melompat-lompat kecil berusaha menangkap gelembung sabun dengan tangan mungilnya. "Papa! Tiup yang lebih gede lagi!"
"Siap, Bos Kecil! Perhatikan ketepatan tiupan seorang Lead Engineer ini!" gurau Arka sambil menarik napas dalam-dalam dan meniup gelembung raksasa.
Nala berdiri di ambang pintu kaca sambil memegangi cangkir teh hangatnya. Matanya berbinar haru menatap suami dan putrinya yang tertawa lepas di atas rumput hijau. Suara tawa Aira yang ceria dan kehebohan Arka yang bertindak konyol demi menyenangkan sang anak seolah membayar tuntas seluruh kerinduan dan kepanikan beberapa hari kemarin.
(Hari ini Papa gak bohong! Papa gak pergi ke kantor, tapi malah pakai topi aneh dan pompa kolam renang di halaman. Papa jago banget tiup gelembung sabun gede! Aila senang banget... Papa emang Papa paling keren di dunia!)
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga