Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Dini hari yang dingin membungkus mansion empat lantai itu dalam kegelapan yang pekat. Suara gemericik air kolam renang di halaman belakang menjadi satu-satunya bunyi yang memecah hening. Di dalam dapur utama yang temaram, Lyn terkulai lemas di atas meja marmer, napasnya memburu pelan dengan kedua mata yang terpejam pasrah. Puncak pelepasan yang intens di bawah dominasi Wiliam benar-benar menguras sisa tenaga dan daya tahannya.
Wiliam tidak membiarkan wanitanya terkapar begitu saja. Pria paruh baya itu merapikan pakaiannya yang kusut dengan ketenangan yang dingin, lalu merengkuh tubuh mungil Lyn ke dalam pelukan dada bidangnya yang kokoh. Tanpa mengeluarkan suara, Wiliam membawa Lyn melangkah menyusuri lorong privat, menaiki tangga melingkar menuju lantai tiga—area kamar tamu VVIP yang terisolasi dan jarang sekali disentuh oleh penghuni rumah.
Dengan gerakan yang teramat telaten, Wiliam membaringkan Lyn di atas ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei sutra dingin. Tangannya yang besar membelai lembut pipi Lyn yang masih merona hangat, menarik selimut tebal hingga menutupi dada gadis 21 tahun itu.
"Istirahatlah, Little Lady," bisik Wiliam serak tepat di telinga Lyn, mendaratkan ciuman dalam di dahinya sebelum melangkah keluar dan mengunci pintu kamar itu secara senyap.
Pukul enam pagi, pendar sinar fajar mulai menembus jendela-jendela kaca berukuran raksasa. Bi Siti, kepala pelayan senior yang telah bekerja di mansion keluarga Wiliam selama lebih dari lima belas tahun, melangkah turun menuju dapur utama untuk memeriksa persiapan sarapan.
Langkah kaki Bi Siti mendadak terhenti di ambang pintu dapur. Matanya yang jeli menyipit tajam saat menangkap pemandangan yang tidak biasa. Mangkuk kompres berisi air dingin dan kain kasa tertinggal begitu saja di atas meja marmer hitam, bersama nampan bekas makanan yang bergeser dari posisi semula. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah beberapa tetesan air di lantai yang mengering tidak wajar serta aroma sandalwood pekat—parfum khusus Tuan Wiliam—yang masih mengudara sangat tebal di ruangan tersebut.
"Aneh... Tuan Wiliam tadi malam ke dapur?" gumam Bi Siti pelan seraya memegangi nampan tersebut. "Tapi kenapa aroma parfumnya semencolok ini di area meja tengah...?"
Belum sempat Bi Siti menyelesaikan pikirannya, derap langkah kaki yang pelan dan agak terseret terdengar dari arah tangga lorong VVIP. Bi Siti menoleh dan terkejut melihat Lyn melangkah keluar dengan raut wajah pucat, lingkaran hitam di bawah mata, serta gaun kasualnya yang tampak sedikit kusut. Cara berjalan Lyn terlihat lambat dan canggung, menahan rasa tidak nyaman yang jelas terpancar dari gesture tubuhnya.
"Nona Evelyn...?" panggil Bi Siti seraya menghampiri Lyn dengan kening berkerut halus. "Astaga, Nona menginap di sini? Saya tidak melihat Nona naik ke kamar atas tadi malam."
Lyn tersentak kaget, langkahnya terhenti kaku. Jantungnya berdebar gila-gilaan saat mendapati tatapan menyelidik dari wanita paruh baya di hadapannya.
"A-ah... Bi Siti..." suara Lyn serak dan gemetar. Ia refleks menarik ujung gaunnya untuk memastikan area lehernya tertutup rapat. "Iya, Bi... semalam Clara demamnya tinggi sekali, jadi saya memutuskan untuk menginap di kamar tamu lantai tiga agar bisa memantaunya."
Bi Siti mengamati Lyn dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cermat. Pengalaman puluhan tahun mengabdi di rumah elite membuat instingnya menangkap gelagat yang sangat janggal—kemarahan dan rona memerah yang tersembunyi di balik leher mulus Lyn, aroma sandalwood Tuan Besar yang melekat samar di tubuh gadis itu, serta gestur tubuh yang menahan pegal di panggul.
"Di kamar lantai tiga, Nona?" tanya Bi Siti dengan nada yang sengaja ditekan halus, namun sarat akan kejanggalan. "Kunci area itu biasanya dibawa langsung oleh Tuan Wiliam... Saya pikir Tuan belum pulang dari luar kota."
Wajah Lyn seketika memucat bagaikan kertas. Keringat dingin menetes di tengkuknya. "P-pintu kamarnya... tidak terkunci semalam, Bi... Saya hanya cari kamar terdekat karena lelah sekali."
"Begitu ya..." sahut Bi Siti lambat, mengangguk pelan seraya menyimpan misteri itu di dalam benaknya. "Ya sudah, Nona Evelyn ke kamar Nona Clara saja. Saya buatkan teh hangat dan sarapan untuk Nona sekalian."
"T-terima kasih, Bi Siti..." cicit Lyn pasrah, berburu-buru melangkah pergi dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Ia tahu betul, pandangan curiga kepala pelayan itu adalah awal dari retaknya benteng rahasia di rumah ini.
Di kamar utama lantai dua, pendar matahari pagi menyinari wajah Clara yang mulai kembali berwarna. Suhu tubuhnya telah meluruh turun, menandakan demamnya mulai mereda. Begitu matanya terbuka, ia mendapati Lyn sedang menyusun cangkir teh hangat di atas meja nakas.
"Lyn...?" panggil Clara serak, mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan senyum haru yang merekah. "Kamu... kamu menginap di rumahku?"
Lyn menoleh dan memaksakan senyum tipis di wajahnya yang letih. Ia melangkah mendekat dan mendudukkan diri di tepi kasur. "Iya, Clara. Semalam demammu tinggi sekali. Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di rumah sebesar ini."
Mata Clara berkaca-kaca. Ia langsung merangkul lengan Lyn dan menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya itu dengan penuh rasa sayang. "Terima kasih banyak ya, Ev... Kamu memang sahabat terbaikku. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu di sini. Rumah ini rasanya dingin sekali kalau Papa sibuk dan Mami tidak ada."
Gumpalan rasa bersalah yang amat dahsyat seketika menghantam dada Lyn bagaikan hantaman godam. Pelukan tulus dari Clara terasa bagaikan sembilu yang menyayat nuraninya. Jika kamu tahu apa yang terjadi di lantai bawah tadi malam, Clara... kamu tidak akan pernah mau menyentuhku lagi, batin Lyn menjerit pilu dalam kepasrahan yang teramat dalam.
"S-sudah, tidak apa-apa... Yang penting kamu sudah sembuh sekarang," bisik Lyn serak, mengelus rambut Clara dengan jemari yang dingin dan gemetar.
Sementara itu, ribuan kilometer di batas wilayah perbatasan, dinamika lain tengah bergerak secara liar.
Meskipun Wiliam telah menggunakan kekuatan korporasi old money-nya untuk memblokir seluruh rute penerbangan langsung dan membebukan paspor utama mantan istrinya dari Eropa menuju Jakarta, wanita itu bukanlah sosok yang mudah menyerah. Didorong oleh rasa frustrasi, kehancuran finansial di Eropa, serta ambisi nekat untuk merebut kembali posisinya di sisi Wiliam dan Clara, wanita itu mengambil jalur ilegal yang berisiko tinggi.
Ia menyelinap menyeberang melalui penerbangan negara tetangga menggunakan paspor sekundernya yang tak terdeteksi, lalu menyewa kapal cepat swasta untuk menembus perbatasan darat dan laut Indonesia secara diam-diam.
Di dalam sebuah mobil sedan hitam bermukim gelap yang membelah jalanan tol utama Jakarta menuju kawasan pemukiman elite, wanita itu duduk bersedekap dada. Riasan mewahnya yang tegas memancarkan kemurkaan dan keputusasaan yang menyatu pekat.
"Wiliam... kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja dan memblokir jalanku?" bisik wanita itu dingin seraya menatap kerlip gedung-gedung pencakar langit Jakarta di luar jendela. "Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu di balik sikap dinginmu itu. Dan aku akan memastikan aku mendapatkan kembali apa yang menjadi hakku di rumah itu... tidak peduli siapa pun yang harus kubinasakan."
Mobil sedan itu terus melaju kencang, membawa ancaman nyata yang kian mendekati gerbang mansion mewah keluarga Wiliam—tempat di mana Lyn sedang tersudut dalam jeratan sangkar emas sang tuan.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻